IKPM KAIRO

Jumat, 03 April 2020

Permulaan Hijrah Kaum Muslimin ke Habasyah
17.34.000 Comments

Pada riwayat Musa bin Uqbah, menunjukkan bahwa peristiwa embargo terjadi sebelum perintah Nabi Muhammad SAW kepada sahabat sahabatnya untuk Hijrah ke Habasyah, akan tetapi perintah tersebut datang pada masa pemboikotan ini. Namun pada riwayat Ibn Ishaq menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah perintah Nabi untuk hijrah ke Habasyah dan juga setelah islamnya Umar bin Khatab. Sebagaimana tertuliskan dalam kitab Ar.Rahiq Al-Makhtum

Kekejaman yang dilakukan oleh orang orang kafir Quraisy tidak berhenti dengan berhentinya embargo ekonomi kepada kaum muslimin. Bahkan, mereka semakin menambahkan kepedihan-kepedihan fisik dan mental terhadap orang-orang mukmin. Rasulullah SAW melihat perlakuan Quraisy terhadapnya dan pengikutnya yang amat sangat menyiksa, dan kala itu beliau merasa tidak sanggup lagi dalam melindungi kaumnya, dan Rasulullah pun mengemukakan kepada umatnya untuk berhijrah ke Habsyah (Ethiopia) untuk sementara waktu.

Faktor yang menjadikan Habasyah sebagai kota pilihan untuk berhijah adalah:

1. Dikenalnya seorang raja yang memimpin di sana ialah raja yang adil dan tak pernah menzalimi penduduknya.

2. Negeri tersebut dikatakan oleh Rasulullah Saw sebagai Negeri yang benar dan jaya.

Jumlah kaum muslmin yang beangkat menuju kota tersebut berjumlah 80 orang.

Ketika Quraisy melihat kejadian ini mereka mengirimkan utusan kepada Najasyi (Raja Habasyah) yaitu Abdullah bin Abi Rabi'ah dan Amru bin Al-'Ash (mereka belum memeluk agama Islam) dan mereka membawa hadiah yang banyak untuk diberikan kepada raja habasyah dengan tujuan untuk menawan hati Najasyi. Dengan itu beliau akan menolak dan menyerahkan kepada mereka orang Islam yang hijrah ke sana. Akan tetapi Najasyi enggan menyerahkannya ke siapapun melainkan beliau mengetahui dengan jelas tentang Agama baru yang mereka anuti itu.

Orang Islampun masuk kehadapan Najasyi dimana dua orang utusan Quraisy berada disamping Najasyi. Raja Habsyah pun meminta dua orang Islam supaya menerangkan tentang diri mereka dan Agama yang mereka anut.

Ja'far bin Abi Thalib pun berkata “Wahai Raja, sebenarnya kami ini di masa-masa dahulu yaitu di zaman Jahiliyyah menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kejahatan, berperang, berkelahi, yang kuat menganiaya yang lemah sehingga Allah SWT mengutus seorang Rasul dari kalangan kami juga. Beliau itu memang terkenal dengan kejujuran, amanah, budi pekerti, dan utusan Allah itu selalu menyeru kami supaya berperilaku baik dan benar, bersifat dengan sifat yang terpuji, jujur, ikhlas dan beramanah, menyeru kami untuk menyembah Tuhan yang maha Esa dan meninggalkan penyembahan berhala, berlaku baik dengan tetangga, meniggalkan kejahatan dan peperangan yang berlarutan serta segala sesuatu yang terkeji. Seruannya kami terima dengan baik, segala sesuatu yang dibawanya kami percaya sepenuhnya. Tetapi kaum kami, termasuk dua orang utusan ini, menyiksa dan menekan kami supaya kami kembali kepada agama yang lama yaitu menyembah berhala. Setelah kami merasakan kesulitan dan penyiksaan yang tidak dapat kami menanggungnya maka kami keluar. Dan ke negara tuan lah yang kami pilih. Dengan harapan kami berlindung disini jauh dari penyiksaan dan kedzhaliman”

Lalu Najasyi meminta dari mereka untuk menunjukkan sesuatu antara apa yang dibawa oleh utusan Allah (Muhammad SAW). Kemudian Ja'far bin Abi Thalib membacakan Surat Maryam.

Setelah Najasyi mendengarnya beliau menangis sehingga air mata mengalir membasahi pipi dan janggutnya dan kemudian beliau berkata “Sesungguhnya apa yang kau baca tadi dengan apa yang dibawa Isa Alaihissalam adalah sumber yang sama. Setelah itu Raja menoleh kepada dua utusan Quraisy dan berkata : Pergilah dari sini dan aku tidak akan menyerahkan mereka ini (islam). Begitulah bentuk keadilan yang selalu sang raja terapkan dalam kepemimpinannya di Negeri Habasyah ini.

Dapat kita simpulkan tiga point penting dari hijrah pertama Islam ke Habasyah:

1. Berpegang teguh dengan Agama serta menegakkan Rukunnya merupakan asas segala kekuatan dan perisai yang wajib mempertahankan hak seseorang. Harta benda negara, kebebasan dan kemuliaan diri yang demikian adalah kewajiban tiap-tiap pembawa dakwah Islamiyah dan para mujahid hendaknya mengeluarkan segala tenaga dan kekuatannya demi mempertahankan kesucian agama ini.

Negara juga menjadi tapak untuk menegakkan agama dan harta kekayaan hidup, begitu pula sebagai senjata untuk mempertahankan kedaulatan dan kesucian agama. Andaikata keadaan terpaksa menggadaikan segala sesuatu demi kesucian agama maka di masa itu mestilah dilakukan apa saja bagi membolehkannya membela agama.  Tidak ada arti hidup tanpa agama, tidak ada arti hidup sekiranya agama sudah hancur, malah penghidupan tanpa agama lambat laun akan musnah dan binasa.

2. Menunjukkan titik percantuman dan integrasi di antara dua agama yaitu, agama yang dibawa oleh Muhammad SAW dan agama yang dibawa oleh Isa AS. Najasyi yang menjadi maharaja Habsyah negeri tempat orang-orang Islam berhijrah dan tempat berlindung adalah pemeluk agama Nasrani yang sejatinya penuh kepercayaan dan keikhlasan terhadap Nasraninya.

Sebagai bukti keikhlasan dan kepercayaan yang penuh beliau tidak memihak kepada pihak yang bertentangan dengan Aqidah pegangannya yang dibawa oleh Isa AS. Kalaulah benar seperti yang disebutkan oleh segolongan manusia yang mendakwa diri mereka adalah pengikut Isa sejati, dan percaya pada kitab injil dan bahawasanya Isa ialah anak Tuhan dan dia adalah salah satu dari uknum yang tiga, maka sudah tentu maharaja Najasyi juga seperti mereka ini, kerana setahu kita Maharaja Najasyi adalah seorang yang paling ikhlas kepada agama Nasrani.

Seperti yang kita lihat bahawa Najasyi satu pandangan dengan pandangan Islam dan beliau sendiri yang menegaskan, “Bahwa apa yang dibawa oleh Isa dan Muhammad itu dari sumber yang sama.” Penegasan ini diucapnya ketika pembesar-pembesar agama Kristian ada di sampingnya. Semua ini membuktikan kepada kita bahwa apa yang dibawa oleh para Anbiya seluruhnya adalah Aqidah yang satu, tidak benlainan. Adapun pendapat ahli kitab yang berbeda tentang Islam itu disebabkan hasad dengki mereka terhadap Islam seperti yang mereka katakan dulu.

3. Apabila terjadi sesuatu keadaan yang memaksa maka diharuskan kepada Islam untuk bernaung dan berlindung diri kepada ahli kitab seperti Najasyi maharaja Habsyah yang menganut agama Nashrani dan setelah itu akhirnya ia telah memeluk agama Islam. Perlindungan boleh didapati dari orang-orang yang belum masuk Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Thalib (Paman Nabi) ketika mereka pulang dari Habsyah dan seperti Mut'am ibn 'Ady yang melindungi Rasulullah SAW di Makkah ketika beliau pulang dari Ta'if, itu pun jika keadaan memaksa. Perkara ini dibolehkan asalkan ia tidak menjelaskan dakwah Islamiyyah dengan tidak melenceng dari hukum-hukum Islam.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo
Reading Time:

Jumat, 27 Maret 2020

Akhir Masa Embargo dan Pencabutan Perjanjian Oleh Pembesar Quraisy
17.06.000 Comments

Kekejaman kaum musyrikin dalam peristiwa embargo ini menimbulkan beberapa fenomena yang tidak ber-peri kemanusian, diantaranya:

1. Kaum muslimin meninggalkan perumahan mereka dan hanya bertempat tinggal di syi’ab (lorong) milik Bani Muthallib.

2. Kenaikan harga sandang dan pangan di berbagai macam tempat jual-beli. Sehingga orang muslim hanya akan pulang ke rumahnya dengan tangan kosong tanpa bisa membeli apapun, sementara mereka dalam keadaan yang dilanda kelaparan.

3. Kekurangan makanan yang sangat, mengakibatkan kaum muslimin sampai memakan kayu dan daun-daun pohon.

Tiga tahun berjalan, embargo ini dikecam oleh beberapa orang dari kalangan bani Qushayy. Mereka menyatukan sepakat untuk membatalkan perjanjian embargo yang mereka sepakati sebelumnya. Sementara itu, Allah SWT mengirimkan pasukan rayap untuk memakan habis lembaran perjanjian embargo yang kejam itu. Hanya bagian yang bertuliskan lafal “Allah” yang tersisa. Rasulullah SAW menyampaikan berita itu kepada pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib berkata, “Apakah Tuhanmu telah mengabarimu tentang hal itu?”
“Ya,” jawab Rasulullah Saw. Abu Thalib pun segera menemui orang orang Quraisy. Ia meminta meeka untuk menunjukkan lembaran perjanjian embargo. Sesaat kemudian, lembaran itu diambil dari dinding Ka’bah dan ditunjukkan kepada Abu Thalib dalam keadaan tergulung.

Abu Thalib Berkta, “Sesungguhnya keponakanku tidak pernah berdusta padaku. Ia berkata bahwa Allah SWT telah mengirimkan rayap untuk memakan lembaran perjanjian yang berisi kebusukan dan pemutusan silaturahmi ini. Jika yang dikatakan benar, sadarlah kalian dan tinggalkanlah pikiran buruk yang kalian pendam. Demi Allah, kami tidak akan menyerahkannya sampai orang terakhir dari kami pun kehilangan nyawa. Akan tetapi, jika yang dikatakannya tidak terbukti, kami akan langsung menyerahkannya kepada kalian. Kalian boleh melakukan apa saja kepadanya.”

Orang-orang Quraisy berkata, “Baiklah, kami setuju.” Mereka lalu membuka lembaran yang masih tergulung itu. Semua mata tertuju padanya. Ternyata, setelah dibuka, semua tulisan suku Quraisy itu sudah hancur, kecuali lafal Allah, sebagaimana diberitakan Rasulullah SAW.

Tetapi, alih-alih mempercayai ucapan Rasulullah SAW, orang-orang kafir itu justru berkata ketus kepada Abu Thalib, “Ah, ini semua adalah sihir keponakanmu itu.” Kekufuran mereka semakin bertambah. Beberapa waktu kemudian, lima orang pemuka Quraisy tampil untuk menarik kembali embargo yang mereka berlakukan, yaitu Hisyam ibn Amr ibn Harits, Zuhair ibn Umayyah, Muthim ibn ‘adi, Abul Bukhtari ibn Hisyam, dan Zam,ah ibn Aswad.

Orang pertama yang secara terang-terangan menarik embargo itu adalah Zuhair ibn Umayyah. Di dekat Ka’bah, di hadapan orang banyak ia berseru lantang, “Wahai penduduk Makkah, relakah kalian menyantap makanan dan mengenakan pakaian, sementara Bani Hasyim dan Bani Muthallib binasa karena tidak dapat berjual-beli? Demi Allah aku tidak akan duduk sampai lembaran pemutus (silaturahmi) yang zalim ini dikoyak-koyak.”

Lalu, keempat tokoh yang lain mengamini pernyataan Zuhair. Setelah itu, Muth’im ibn ‘Adi berjalan mendekati lembaran kesepakatan, lalu merobeknya. Dari Ka’bah, kelima orang tokoh Quraisy diikuti sejumlah orang, bergerak menemui Bani Hasyim, Bani Muthallib, dan masyarakat muslim lainnya yang masih berada di Syi’ab Bani Muthallib. Mereka datang untuk meminta mereka kembali ke rumah masing masing.

Dengan ini berakhirlah masa embargo ekonomi yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Mereka sebagai para penentang dakwah Nabi Muhammad Saw belum mapu mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu membunuh Nabi Muhammad Saw. Sungguh perbuatan yang keji.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Kairo
Reading Time:

Minggu, 22 Maret 2020

Gagas Proyek Buku, IKPM Cabang Kairo Rangkul IKPM Lintas Negara
19.56.000 Comments
Pamflet proyek kepenulisan buku IKPM Luar Negeri


IKPM Cabang Kairo luncurkan gagasan Proyek Buku IKPM Lintas Negara, sebuah inovasi dalam menciptakan media informasi bagi alumni dan santri seputar kiprah alumni di berbagai negara dan informasi perkuliahan. Gagasan ini segera ditindaklanjuti dengan koordinasi tim bentukan yang diadakan pada Selasa (10/03) lalu.

Menggandeng 19 cabang lainnya, proyek ini diharapkan mampu mempererat hubungan antara IKPM luar negeri. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Bana Fatahillah selaku pembimbing.
Tim penyusun buku IKPM Luar Negeri yang diketuai Adrian Calvin (tengah)


"Tujuannya ya kita pertama sebagai ajang silaturrahim antar IKPM Luar negeri. Karena dulu pernah dengar, orang Gontor ini kalo udah keluar, maka dia kayak butiran tasbih, yang butiran-butirannya lepas kemana-mana. Nah tugasnya IKPM, untuk menyatukan butir-butir tasbih ini," jelasnya.

Ia menilai, bahwa IKPM cabang luar negeri memiliki semangat yang tinggi. Terlihat dari beragamnya pergerakan yang ada, seperti konten-konten yang dikembangkan di media sosial. Dengan menyatukan semangat antar cabang inilah, Bana optimis proyek ini akan berhasil kelak.

"Ibarat main bola kita itu satu tim, udah gak main kerja sendiri-sendiri gitu. Kita bakal mengenalkan tim kita, IKPM luar negeri ini, kepada alumni dan juga santri," imbuhnya.

Adam Huda Haqiqi, Ketua IKPM Cabang Kairo, menanggapi proyek ini dengan positif. Ia menyatakan bahwa proyek ini selaras dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) IKPM Pusat.

Di samping itu, ia juga memandang proyek ini sebagai salah satu wujud pengabdian alumni kepada pondok.

"Kita sebagai alumni, cara-cara mengabdi kan banyak tidak hanya mengajar. Ketika kita menerbitkan sebuah karya itu juga bisa dibilang kita mengabdi pada pondok," ujarnya.

Beranggotakan 18 orang, tim bentukan IKPM Kairo terdiri dari berbagai komposisi angkatan. Dinahkodai oleh Adrian Calvin, tim ini nantinya akan bertugas untuk memproses tulisan-tulisan yang masuk dari cabang-cabang lainnya. Mulai dari penyuntingan hingga pengaturan tata letak. Adapun percetakan, buku ini rencananya akan dicetak dan didistribusikan oleh Darussalam Press.

Calvin mengaku bahwa proyek ini memiliki tantangan tersendiri baginya sebagai ketua. Namun meski begitu, ia menilai bahwa tujuan besar yang diusung proyek ini layak diperjuangkan bersama.

"Hal yang tak terduga sebelumnya memang, namun harus disikapi dengan baik. Ini bukan perihal pribadi, namun lebih kepada tanggungjawab besar. Kemauan dan kemampuan saya dalam mengemban amanah ini harus selaras dengan tujuan bersama," ungkapnya.

Proyek buku ini diharap bisa jadi langkah awal untuk sinergitas alumni Gontor di luar negeri. Maka, sebuah keharusan bagi tiap individu untuk memberikan kontribusi terbaiknya, agar jejak alumni Gontor di seluruh dunia semakin terlihat, dan bisa menebar manfaat lebih luas.

Naya

Reading Time:

Jumat, 20 Maret 2020

Sejarah IKPM Cabang Kairo
22.59.000 Comments
Pendahuluan (sejarah singkat IKPM)
Doc. Shilaturahmi Akbar IKPM Cabang Kairo Bersama Bapak Pimpinan PMDG

Pada tahun 1949, Kongres Muslimin Indonesia diadakan di Yogyakarta. KH. Imam Zarkasyi turut hadir pada kesempatan itu. Beliau berangkat  menggunakan kereta uap, melewati Surabaya. Demi keamanan, beliau berangkat ditemani Mukari.

Dalam kongres Muslimin, banyak alumni Gontor yang menjadi wakil daerah dan organisasi. Pada kesempatan tersebut, Pak Zar bertemu dengan beberapa alumni Gontor, diantaranya adalah H. Idham Cholid. Pada pertemuan itu, terjadi jalinan keluarga yang sangat erat dan rasa tunggal guru yang kuat, apalagi banyak diantara alumni Pondok Modern yang sudah beberapa lama saling tidak bertemu.

Melihat betapa eratnya Pak Zar dengan beberapa alumni itu, Mukari yang menyertai beliau merasa heran, betapa eratnya hubungan antara guru dan muridnya tatkala bertemu. Melihat kenyataan itu, ia berkata: Begini pak, saya yakin cita-cita bapak akan tercapai, Pondok Modern akan abadi. Masa depannya cerah.

Kata-kata yang dilontarkan Mukari di atas merupakan cita-cita Pak Zar untuk membina ukhuwah Islamiyah. Cita-cita untuk membuat suatu organisasi kekeluargaan bagi alumni Pondok Modern yang tercetus sejak Tarbiyatul Athfal kelihatan berjalan dengan lancar dan pengaruhnya yang semakin luas di kalangan masyarakat.

Setelah Kongres Muslimin Indonesia I itu selesai, para alumni yang hadir ketika itu sepakat untuk mengadakan pertemuan, membicarakan terbentuknya organisasi kekeluargaan bagi segenap alumni. Akhirnya pertemuan yang berlangsung di rumah salah seorang alumni Gontor bernama Pak Dukhan di Ngasem, Yogyakarta, berhasil membentuk organisasi alumni yang disebut dengan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) pada tanggal 17 Desember 1949 yang kemdian diresmikan tahun 1951, dengan tujuan agar hubungan batin alumni dengan pondoknya tetap terpelihara.

Setelah terbentuknya IKPM, disusunlah AD/ART yang kemudian disahkan pada Kongres I atau Mubes I IKPM di Pondok Modern Gontor, pada 31 oktober 1951 yang bertepatan dengan Peringatan Seperempat Abad berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor, yang berlangsung pada tanggal 27 Oktober sampai dengan 4 November 1951.

Pada peringatan tersebut, IKPM mendapat amanat yang sangat berat. Sebab pada saat itu KH. Ahmad Sahal dalam pidatonya mengungkapkan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor sejak saat itu bukan lagi milik para pendiri pondok, tetapi diwakafkan kepada umat islam dan pertanggung jawaban maju mundurnya pondok diserahkan kepada para alumninya.

Sejarah IKPM Cabang Kairo

Doc. Peresmian Sekretariat IKPM Cabang Kairo

Sebagai salah satu universitas tertua di dunia, al-Azhar menjadi tujuan utama para mahasiswa muslim dari seluruh dunia. Wakafnya yang sangat luas membuatnya mampu untuk mengutus para ulama ke seluruh penjuru dunia dan memberikan beasiswa bagi ribuan pelajar untuk belajar di universitas tersebut.

Gontor menjadikan universitas al-Azhar sebagai salah satu dari empat sintesanya (al-Azhar, Aligarh, Syanggit dan Santiniketan). Pada saat itu, para pendiri gontor memandang bahwa pesantren salaf di indonesia telah mempunyai banyak  kelebihan dan keunggulan dalam membina kader umat. Tetapi  banyak yang bisa di tingatkan dari sistemnya, terutama dalam sistem wakaf untuk tetap berdiri tegak. Sehingga pemikiran ini dijadikan dasar cita-cita pendiri Gontor, kelak membuat pesantren yang tetap mengambil nilai-nilai keluhuran dari pesantren lama dan meniru al-Azhar dalam hal keabadiannya. Azhar berfokus pada pendidikannya dan tidak berpolitik praktis, serta memiliki basis wakaf  sehingga mampu memberikan beasiswa kepada seluruh pelajarnya. Maka tidak heran jika para alumni Gontor banyak yang selepas KMI meneruskan studinya di universitas al-Azhar Kairo.

Berdirinya IKPM cabang Kairo tidak dapat dipisahkan dari kunjungan KH. Imam Zarkasyi ke Kairo sebagai utusan Indonesia untuk mengikuti Muktamar Umat Islam se-Dunia (Mutamar Majma Buhuts al-Islamiyah) pada tahun 1972 bersama Menteri Agama RI ketika itu, Prof. DR. H.A. Mukti Ali. Pada saat itu sudah ada alumni Gontor yang meneruskan studinya di Universitas al-Azhar Kairo, termasuk KH. Abdullah Syukri Zarkasyi yang mendapatkan gelar Lc pada tahun 1976, kemudian meneruskan studinya di lembaga yang sama dan mendapat gelar MA pada tahun 1978.

Melihat banyaknya alumni Gontor yang meneruskan studinya di Kairo khususnya di Universitas al-Azhar, maka dibentuklah Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) cabang Kairo yang diresmikan pada tanggal 10 Juli 1979.
Tujuan didirikannya IKPM Kairo adalah untuk membantu pondok sekaligus sebagai wadah silaturrahim para alumni yang meneruskan studinya di Kairo, serta berkewajiban untuk menjaga dan menjunjung nama baik Pondok Modern Gontor dan menaati AD & ART IKPM dan segala kebijaksanaan Pengurus Pusat IKPM. Sehingga hubungan antara kyai, guru-guru, pondok serta alumninya tidak hanya berhenti di pondok saja. Sehingga ketika terjun di masyarakat, mereka tetap dibimbing dan dimonitor untuk menjalankan misinya sebagai alumni. Untuk bermanfaat, berjihad dan berjuang di masyarakat. IKPM  Kairo juga berusaha membantu pondok dalam menjalin hubungan antara pondok dengan universitas al-Azhar, sehingga hubungan antara dua lembaga tetap terjalin dengan baik dan harmonis.

Di antara bukti baiknya hubungan antara pondok dengan al-Azhar adalah kunjungan beberapa Grand Syekh al-Azhar ke Gontor, antara lain: Syekh Mahmud Syaltut dan Syekh Abdul Halim Mahmud pada tahun 70an, Syekh Jadul Haq Ali Jadul Haq pada tahun 90an, Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi saat peringatan 80 tahun Gontor pada tahun 2006, Syekh Ahmad Thayyib saat peringatan 90 tahun Gontor pada tahun 2016 dan kunjungan kedua beliau ke Gontor Putri pada tahun 2018. Bukti lain baiknya hubungan adalah pemberian beasiswa dari al-Azhar kepada santri Gontor untuk meneruskan studinya ke al-Azhar yang berjumlah 80 beasiswa. Semoga Allah SWT tetap menjaga hubungan baik antara Gontor dengan al-Azhar.

IKPM Kairo tercatat sebagai salah satu almamater yang ada di Mesir. Tidak hanya sebagai wadah silaturrahim dan perekat ukhuwah saja, tetap IKPM Kairo juga aktif dalam beberapa kegiatan yang berbasis sosial dan keilmuan. Tak lain seluruh kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengalaman anggota IKPM Kairo, agar kelak mampu mengemban amanah pondok untuk berkiprah di masyarakat.

Dalam perjalanannya, IKPM Kairo telah beberapa kali melakukan perpindahan sekretariat yang pernah berlokasi di kawasan Rabah, Abbas Akkad, dan Nasr City. Sehingga pada akhirnya, dengan nikmat Allah SWT, IKPM Kairo berhasil membeli sebuah sekretariat permanen di kawasan Gamiek, Hay Asyir.

Adapun pergantian pengurus IKPM Kairo dilaksanakan pada Musyawarah Cabang (Mucab) setiap tahun sekali. Sampai saat ini Mucab terakhir yang dilaksanakan adalah Mucab yang ke-35 pada tanggal 13 Juli 2019, bertempat di aula KEMASS (Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan).

Dinukil dari Modul IKPM Cabang Kairo 2020

Reading Time:
Awal Embargo Ekonomi dan Masa Kelam Kaum Muslim
15.25.000 Comments

“Termaktub dalam beberapa riwayat yang berbeda dari Musa bin Aqabah dari Ibn Ishaq dan selain dari mereka berdua menyebutkan bahwa pihak kafir Quraisy telah menyatukan kesepakatan untuk membunuh Rasulullah Saw."
Tentunya, dengan berbagai macam cara salah satunya embargo ekonomi yang diakukan oleh orang-orang kafir Quraisy yang menyebabkan penederitaan kaum muslimin semakin berat. Bahkan, dampak dari pada peristiwa itu juga terasa oleh kalangan orang-orang musyrik dari kalangan bani Hasyim dan Bani Muthallib.

Sementara penyebab yang memicu terjadinya peristwa ini adalah orang-orang muslim dan musyrik dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib menghalangi perencanaan pembunuhan Nabi Muhammad Saw, yang dimana orang-orang muslim menjaga Nabi Muhammad dengan penuh ketaqwaan kepada Allah Swt. Sementara orang-orang Musyrik dari kalangan mereka, menjaga dengan ketakutan akan hinaan daripada suku-suku lain.

Setelah pupus dari harapan untuk membujuk kedua Suku yang se-darah dengan Nabi Muhammad Saw itu, akhirnya kaum Quraisy mengemukakan perang dingin dengan mendzahirkan perjanjian akan “Embargo Ekonomi” terhadap orang orang muslim dan Bani Hasyim juga Bani Muthallib, dengan tidak akan menikahkan anak–anak mereka dan menghalangi perniagaan jula-beli untuk masuk ke daerah orang-orang muslim, Bani Muthallib dan Bani Hasyim.

Tiga tahun lamanya, hingga peristiwa kezaliman itu menuju pada puncak yang begitu mengenaskan. Bahkan, dalam sebuah riwayat yang sahih dalam bukunya, Al-Imam Al-Allamah Asy-Syahid Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengatakan bahwa tidak ada makanan yang datang kepada kaum muslimin hingga mereka hanya memakan kayu dan dedaunan pohon.

Menarik sebuah perhatian penulis, adalah peran orang-orang musyrik dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muthallib yang juga turut menjaga dan tertimpa kekejaman suku-suku arab lainnya di Makkah untuk menentang dakwah Rasulullah.

Jadi, sebenarnya orang-orang musyrik Bani Hasyim dan Bani Muthallib itu memadukan dua hal. Pertama, tetap berada dalam kemusyrikan dan kesombongan terhadap kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw.
Kedua, melestarikan tradisi saling melindungi antar sesama karib-kerabat dari kejahatan dan kezaliman orang asing, kendati kerabat sendiri yang bersalah.

Adapun bagi kaum muslimin, dengan meneladani kepribadian Nabi Muhammad Saw sebagai yang terdepan, ketabahan mereka untuk saling membela satu sama lain dibangun berdasarkan perintah Allah Swt, sikap lebih mengutamakan ahirat dibandingkan dunia, dan sikap lebih meremehkan dunia dibandingkan keridhaan Allah Swt.

Beberapa pelaku ghazw al-fikr berkata, “Sebenarnya fanatisme Bani Hasyim dan Bani Muthalliblah yang ikut serta berada di balik dakwah Rasulullah Saw. Fanatisme itulah yang selalu menjadi pelindung. Buktinya, ketika orang-orang musrik Quraisy menjatuhkan embargo terhadap kaum muslimin, mereka bersifat pasif.”

Dalam pendapat ini Al-Imam Al-Allamah Asy-Syahid Sa’id Ramadhan Al-Buthi menolak keras dengan mengatakan bahwa pernyataan di atas jelas-jelas dusta. Alasannya, adalah wajar jika tradisi saling melindungi masih dipegang teguh oleh Bani Muthallib dan Bani Hasyim. Itulah Yang menjadikan kedua pihak ini bersedia menjaga keselamatan Muhammad Saw ketika “Tangan-tangan asing” berniat menyakiti keponakan mereka.

Sebagaimana diketahui, tradisi saling melindungi yang sudah ada sejak zaman Jahiliyyah (al-hamiyyah al-jahiliyyah) ini menekankan betapa pentingnya membela keluarga dan kerabat tanpa memandang perinsip, bahkan tanpa memdulikan anggota keluarga yang dibela benar ataupun salah. Jadi, fanatisme yang ditunjukan kedua pihak ini betul-betul fanatisme dalam arti sesungguhnya, bukan yang lain.

Jadi, untuk apa sebenarnya mereka membela Nabi Muhammad Saw ? Mereka ikut merasakan penderitaan Rasulullah Saw dan para sahabat. Namun dalam menghadapi kaum Quraisy yang selalu memperlakukan umat islam dengan buruk, orang-orang musyrik Bani Hasyim dan Bani Muthallib sebenarnya tidak pernah beharap perlakuan buruk itu akan mereda.


Nantikan kisah selanjutnya!
Reading Time: