IKPM KAIRO

Kamis, 07 November 2019

Esensi Historikal Ulum al-Quran
00.20.000 Comments

Al-Quran adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril dan merupakan sumber utama ajaran Islam. Al-Quran tidak hanya memuat petunjuk dan pedoman hubungan manusia dengan Tuhannya, akan tetapi juga memuat tentang keselarasan manusia dengan alam dan lingkungannya.

Doc. Google

Seperti yang kita ketahui, al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab dalam lafal dan uslubnya. Sebagai seorang pelajar muslim yang baik, kita dianjurkan untuk mempelajari dan memahami kandungan al-Quran untuk kemudian mengamalkannya dalam kehidupan kita. Untuk memahami al-Quran, sudah sepatutnya kita mendalami ilmu-ilmu yang bisa mengantarkan kita kepada inti pemahaman isi dan kandungan al-Quran. Ilmu-ilmu itulah yang disebut dengan Ulum al-Quran.

Sebelum mengetahui lebih dalam tentang Ulum al-Quran, seyogyanya kita mengetahui apa itu arti dan maksud dari Ulum al-Quran. Menurut bahasa, kata Ulum al-Quran berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Ulum dan al-Quran.

Kata Ulum menurut bahasa merupakan bentuk jamak dari ilm yang berarti ilmu-ilmu atau sejumlah ilmu. Ilmu juga dapat diartikan sebagai pengetahuan dan pemahaman akan suatu hal. Dengan demikian, kata ilm semakna dengan kata ma’rifah yang berarti pengetahuan dan ulum berarti sejumlah pengetahuan.

Tentang ilmu, banyak ulama yang berpendapat secara istilah. Menurut para hukama (filsuf dalam Ilmu Mantik), ilmu adalah hasil gambaran sesuatu yang dihasilkan dari akal, atau keterikatan jiwa dengan sesuatu menurut cara pengungkapannya. Sedangkan menurut Imam Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin: Ilmu adalah pengetahuan tentang Allah SWT dengan ayat-ayat Nya dan dengan perintah-perintahnya kepada hamba dan ciptaan-Nya yang memiliki suatu kekhususan sehingga banyak diketahui dalam berbagai perdebatan beserta kewajiban dalam masalah-masalah fikih dan lain sebagainya.

Sedangkan al-Quran adalah bentuk masdar dari kata kerja (fiil) qoroa yang berarti bacaan.
Menurut ulama Ushul Fiqh, lafal al-Quran adalah isim alam yang menunjukkan bahwa itu adalah lafal dari Allah SWT yang sedari awal memang digunakan sebagai nama kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan al-Quran menurut istilah antara lain merupakan firman Allah SWT yang yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang tertulis di dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan membacanya bernilai ibadah.

Setelah melalui banyak pembahasan diatas, dapat kita ketahui bahwa definisi Ulum al-Quran menurut bahasa adalah ilmu-ilmu yang memiliki hubungan dengan al-Quran dan membahas tentang segala yang bersangkutan dengannya. Sedangkan dari segi istilah, Ulum al-Quran merupakan pembahasan-pembahasan yang membahas segala hal yang bersangkutan dengan al-Quran secara umum dan menyeluruh; baik dari segi turunnya ayat, penertiban dan pengumpulannya, penulisan dan penafsirannya, kemujizatannya, serta nasikh dan mansukhnya.
Maka, bisa kita simpulkan bahwa Ulum al-Quran itu tidak hanya terdiri dari satu ilmu saja, melainkan banyak macam beserta cabang-cabangnya, seperti: Ilmu Rasm Ustmani, Ilmu Qiraat, Ilmu ghorib al-Quran, Ilmu I’jaz al-Quran, Ilmu Nasikh wa al-Mansukh, Ilmu Muhkam wa Mutasyabih, Ilmu Irab al-Quran, dan masih banyak lagi.

Syekh Abdul Azhim al-Zurqani dalam bukunya mengatakan bahwa Ulum al-Quran adalah pembahasan yang berkaitan dengan al-Quran dari segi urutan, pengumpulan, penulisan, qiraah, tafsir, kemukjizatan, nasikh dan mansukh, upaya dalam menepis segala hal yang menimbulkan keraguan terhadapnya, dan lain sebagainya.

Sedangkan pokok pembahasan pada Ulum al-Quran adalah al-Quran itu sendiri dari segala sisi yang ada padanya. Sebagai contoh, Ilmu Qiraat yang memiliki pokok bahasan dari segi lafal al-Quran dan bacaannya, dan Ilmu Tafsir yang memiliki pokok bahasan dari segi penjelasan dan makna yang terkandung pada al-Quran.

Fungsi dari Ulum al-Quran adalah mengetahui secara rinci tentang segala pembahasan yang terkandung dalam al-Quran, sebagai alat untuk menjaga dan mempertahankan al-Quran dari segala hal yang dapat menimbulkan keraguan terhadapnya, dan juga sebagai senjata utama para mufasir untuk menafsirkan al-Quran.
Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, Ulum al-Quran tidak lahir sekaligus, akan tetapi tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu, mengikuti pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta ide dan gagasan para ulama dalam ilmu ini.

Pada zaman Rasulullah SAW, Ulum al-Quran belum dikenal sebagai ilmu yang berdiri sendiri, yang tertulis dengan segala pembahasannya. Namun, itu tidak menghalangi para sahabat untuk memiliki pemahaman lebih terhadap Ulum al-Quran daripada ulama-ulama setelahnya. Mereka dapat memahami al-Quran dengan baik karena al-Quran turun dengan bahasa ibu mereka. Mereka pun dapat merujuk langsung kepada sumbernya, Rasulullah SAW.

Pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, banyak para penghafal al-Quran yang wafat. Melihat ini, umat Islam khawatir akan hilangnya para penghafal al-Quran dari dunia ini. Maka, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Quran yang masih tertulis dalam pelepah kurma, batang kayu, dan lain-lain dalam bentuk shuhuf. Pada saat itu belum ada penulisan nama surah, tanda ayat sajdah, dan tanda-tanda lainnya.

Kemudian pada zaman Khalifah Ustman bin Affan, pada saat agama Islam sudah menyebar luas di seantero negeri Syam dan Mesir, banyak ditemukan sengketa antar kaum muslim dikarenakan adanya ikhtilaf dalam standar bacaan al-Quran yang benar bagi mereka. Ustman bin Affan pun berinisiatif untuk membentuk panitia pengumpulan al-Quran dan membagikan mushaf induk yang berhasil dikodifikasi pada masa itu ke berbagai daerah kekuasaan Islam. Beliau memerintahkan kepada seluruh umat Islam agar berpegang pada mushaf tersebut. Dengan ini Khalifah Ustman bin Affan meletakkan dasar-dasar ilmu al-Quran dalam segi rasm, yang kemudian dikenal dengan Ilmu Rasm Ustmani.

Kemudian pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, banyak umat Islam dari bangsa non-Arab yang kurang benar dalam membaca al-Quran karena mereka sulit membedakan huruf-huruf hijaiyah yang mirip satu sama lain. Khalifah Ali bin Abi Thalib pun memerintahkan kepada Abu Aswad ad-Duali untuk menyusun kaidah-kaidah dalam bahasa Arab dan menaruh titik di huruf untuk membedakan huruf-huruf yang memiliki kemiripan dalam bentuknya. Ini merupakan peletakkan dasar Ilmu I’rab al-Quran.

Masa abad ke-2 Hijriyah bisa kita sebut sebagai masa penulisan Ulum al-Quran, sebagaimana mulai muncul banyak buku tentang ilmu-ilmu al-Quran. Para ulama lebih memprioritaskan Ilmu Tafsir karena fungsinya sebagai Umm Ulum al-Quran (Induk ilmu-ilmu al-Quran). Diantara ulama yang pertama menulis tentang tafsir adalah: Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, dan Waki bin Jarah. Mereka mengumpulkan perkataan-perkataan sahabat dan tabiin tentang tafsir al-Quran.

Pada abad ke-3 Hijriah, muncul seorang ulama yang sangat terkenal yaitu Ibnu Jarir at-Thobari (Wafat 310 H), mufasir pertama yang menentukan berbagai pendapat dan mentarjih antara ayat satu dengan yang lainnya. Beliau juga yang pertama mengemukakan i’rab dan istinbat (penggalian hukum dari al-Quran). Selain beliau, ada beberapa ulama yang mulai menulis dan membukukan ilmu-ilmu tentang al-Quran, antara lain: Ali al-Madini yang merupakan guru dari Imam Bukhari yang menulis tentang Asbab an-Nuzul, Abu Ubaid al-Qasim bin Salam yang menulis tentang Nasikh wa al-Mansukh, Abu Ja’far bin Zubair al-Andalusi yang menulis kitab dengan judul al-Burhan Fî Tartîbi Suwar al-Quran.

Pada abad ke-4 Hijriah, banyak ulama yang menulis dan meletakkan ilmu-ilmu tentang al-Quran, diantaranya adalah Abu bakar al-Sijistani yang menulis tentang Ilmu Gharib al-Quran, Abu Bakar Muhammad bin al-Qasim al-Anbari yang menulis tentang Ajaib Ulum al-Quran, Abu Hasan al-Asyari yang menulis kitab Al-Mukhtazan fi Ulum al-Quran, dan Muhammad Ibnu Ali al-Adfawi yang menulis kitab Al-Istighna Fî Ulum al-Quran.

Kemudian pada abad ke-5 Hijriah, muncul banyak ulama yang mencetuskan ilmu-ilmu baru tentang al-Quran. Diantaranya adalah: Ali bin Ibrahim bin Said al-Haufi yang menulis kitab dengan judul Al-Burhan Fî Ulum al-Quran dan Irab al-Quran.

Lalu pada abad ke-6 Hijriah, lahir Ilmu Mubhamat al-Quran yang ditulis oleh Imam Abu al-Qasim Abdurrahman as-Suhaili (wafat 581 H), dan ada juga Ulama Ibnu Jauzy (wafat 597 H) yang menulis kitab dengan judul Funun al-Afnan Fî Ulum al-Quran danAl-Mujtabâ Fî Ulum Tataalaqu bi al-Quran.

Pada abad ke-7 Hijriah, ada juga beberapa ulama yang menulis kitab yang berkenaan dengan Ulum al-Quran. Diantaranya adalah: Alamuddin al-Sakhawi (wafat 641 H) yang menulis kitab dengan judul Jamâl al-Qurâ, kemudian Ibn Abdussalam (wafat 660 H) yang menulis kitab dengan judul al-Isyarah ila al-îjâz Fî badhi Anwaal-Majâz, dan ada juga Abu Syamah (wafat 665 H) yang menulis kitab dengan judul al-Mursyid al-Wajîz Fîma Yataalaqu bi al-Quran al-Aziz.

Lalu pada abad ke-8 Hijriah, muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu al-Quran yang belum pernah ada pada zaman sebelum mereka tanpa meninggalkan ilmu-ilmu terdahulu. Diantaranya adalah Badruddin az-Zarkasyi (wafat 794 H) yang menulis kitab al-Burhan Fî Ulum al-Quran, dan ada juga Ibnu al-Qayim al-Jauziyyah (wafat 751 H) yang menulis kitab dengan judul At-Tibyan Fî Aqsâm al-Quran.

Dan pada abad ke-9 Hijriah, muncul beberapa ulama yang melanjutkan perkembangan ilmu-ilmu al-Quran, antara lain: Abu Abdillah Muhyiddin al-Kafiaji (wafat 879 H) yang menulis kitab dengan judul At-Tafsir Fî Qawâid al-Tafsir yang membahas tentang makna tafsir, takwil, al-Quran, surat, dan ayat. Juga membahas tentang persyaratan ayat-ayat al-Quran. Ada juga Imam Alamuddin al-Bulqini (wafat 824 H) yang menulis kitab dengan judul Mawaqi al-Ulum min Mawâqi al-Nujum. Menurut Imam Suyuthi, Imam al-Bulqini merupakan pelopor dalam mempersiapkan Ulum al-Quran dengan lengkap karena dalam kitab beliau mencakup 50 macam ilmu al-Quran.

Kita telah membahas panjang lebar perkembangan Ulum al-Quran di setiap masanya, lantas kapan Ulum al-Quran dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu yang tertulis dan terkodifikasikan dalam satu kitab? Dan siapakah peletak Ilmu tersebut?

Banyak ikhtilaf tentang kapan dan siapa yang menegaskan bahwa Ulum al-Quran menjadi sebuah disiplin ilmu seperti ilmu-ilmu lainnya. Kita akan meringkasnya dalam beberapa kalimat. Abad ke-3 Hijriah merupakan awal mula titik terang Ilmu Tafsir, lewat kitab yang dikarang oleh Imam Ibnu Jarir at-Thabari. Sedangkan istilah Ulum al-Quran sebagai disiplin ilmu telah ada sejak abad ke-5 Hijriah yang ditandai terbitnya kitab al-Burhan fî Ulum al-Quran karangan Imam al-Haufi. Lalu pengesahan Ulum al-Quran sebagai suatu disiplin ilmu yang sudah terkodifikasikan menjadi satu kitab yang diringkas dan mencakup segala ilmu yang ada pada al-Quran ada pada awal abad ke-10 Hijriah, ditandai dengan munculnya kitab Al-Itqan fî Ulum al-Quran karangan Imam Jalaluddin al-Suyuthi. Kitab tersebut merupakan ringkasan dari tiga guru Imam Suyuthi; Syekh Badruddin Muhyiddin Abdullah al-Zarkasyi, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kafiaji, dan Syekh Abdurrahman bin Umar al-Bulqini. Kitab milik al-Suyuthi ini pun menjadi kitab yang paling mencakup keseluruhan dari Ulum al-Quran dan belum pernah ditemukan sebelumnya.

Sepeninggal Imam Suyuthi, belum ditemukan buku yang membahas tentang Ulum al-Quran hingga abad ke 14, yaitu Syekh Thahir al-Jazairy menulis buku dengan judul at-Tibyan Fî Ulum al-Quran. Tidak berhenti sampai disana, penulisan Ulum al-Quran masih berlanjut hingga abad-abad selanjutnya. Ada Syekh Muhammad Ali Salamah yang menulis kitab dengan judul Manhaj al-Furqân Fî Ulum al-Quran, Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi dengan kitab al-Kalimât al-Hisan, Syekh Muhammad Hasanain Makhluf al-Adawi dengan kitab Unwân al-Bayân Fî Ulum al-Tibyan, dan lain-lain.

Di antara karangan terbesar ulama al-Azhar terkait Ulum al-Quran adalah kitab Manâhil Irfan fî Ulum al-Quran yang ditulis oleh Syekh Muhammad Abdul Azhim al-Zurqani. Dan pada tahun 1934 M pelajaran Ulum al-Quran menjadi pelajaran pokok bagi Fakultas Ushuluddin di Universitas al-Azhar, Kairo.


Reno Kuncoro
Reading Time:
Keberagaman Isi dan Kandungan al-Quran
00.16.000 Comments

Secara etimologi kata al-Quran adalah bentuk masdar dari kata kerja (fiil); qoroa yang artinya membaca. Dengan perubahan bentuk kata atau tasrif qoroa-yaqrou-qurânan. Kata al-Quran dalam bentuk masdar berarti bacaan yang bermakna ism maful; dibaca. Kata tersebut selanjutnya digunakan untuk kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Doc. Google

Secara terminologi al-Quran merupakan kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ditulis di mushaf-mushaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.

Al-Quran turun dalam tiga tahap: tahap pertama, al-Quran diturunkan dan ditetapkan di  lauhul mahfudz. Kedua, dari lauhul mahfudz itu, al-Quran diturunkan ke baitul izzah di langit dunia secara sekaligus. Ketiga, al-Quran diturunkan dari baitul izzah kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur.

Al-Quran turun kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur sesuai kejadian dan kebutuhan yang ada. Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya yang mererima kitab samawi secara keseluruhan dalam satu waktu. Ulama berselisih pendapat tentang jangka waktu turunnya al-Quran. Namun, pendapat yang paling rajih adalah al-Quran diturunkan selama 23 tahun; 13 tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Diturunkan pertama kali pada awal kenabian, yakni tatkala Rasulullah SAW berusia 40 tahun, dan berakhir saat mendekati akhir hidup beliau.

Turunnya al-Quran secara berangsur-angsur memiliki banyak hikmah, diantaranya untuk meneguhkan hati Rasulullah SAW, memudahkan Rasulullah SAW dan umatnya dalam menghafal, memahami, menyampaikan, dan menyebarkan al-Quran. Turunnya al-Quran secara berangsur-angsur juga memudahkan umat islam dalam menjalankan syariat. Apabila perintah untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi kemungkaran dilakukan dalam satu waktu dengan jumlah yang banyak, tanpa adanya tahapan, tentu akan sulit bagi umat islam untuk menerima dan mengerjakannya.

Walaupun al-Quran turun secara berangsur-angsur, ia memiliki kesinambungan dan keterkaitan kuat satu sama lain baik dalam uslub ataupun makna. Ini menjadi bukti bahwa al-Quran merupakan kalam Allah. Sifat turunnya yang berangsur-angsur juga berperan dalam perwujudan nasakh dalam al-Quran. Seperti hukum yang maju secara bertahap dari mudah menjadi sulit; agar bisa sampai ke derajat sempurna. Atau dari sulit menjadi mudah; sebagai keringanan bagi umat islam. Semua tidak bisa terwujud jika al-Quran turun sekaligus dalam satu waktu.

Al-Quran memiliki banyak sekali nama, baik yang tertulis di dalam al-Quran itu sendiri atau sunah. Bahkan, para ulama tertarik untuk menulis kitab yang membahas nama-nama tersebut secara khusus. Seperti kitab Syarh Asmâ al-Kitâbil al-Azîz karya Ibnu al-Qayyim dan Asmâ al-Qurân fi al-Qurân karya Muhammad Jamil. Empat yang termasyhur dari banyaknya nama al-Quran adalah al-Kitab, al-Tanzil, al-Dzikr, dan al-Furqon.

Adapun sifat-sifat al-Quran adalah sebagai nasihat, obat dari segala penyakit hati, petunjuk, dan rahmat bagi alam semesta.

Selain al-Quran, umat Islam juga merujuk pada hadis nabawi dan hadis qudsi dalam berbagai permasalahan. Disini kami akan memaparkan perbedaan di antara ketiganya. 

Perbedaan al-Quran dengan hadis nabawi:
Al-Quran lafal dan maknanya bersumber dari Allah SWT, sedangkan hadis nabawi maknanya bersumber dari Allah dan lafalnya bersumber dari Rasulullah SAW.
Al-Quran merupakan mukjizat, sedangkan hadis nabawi bukan merupakan mukjizat.
Al-Quran terpelihara dari berbagai kesalahan dan tidak ada campur tangan manusia di dalamnya, sedangkan hadis nabawi tidak terpelihara penuh sebagaimana al-Quran.

Perbedaan al-Quran dengan hadis qudsi:
Al-Quran dan hadis qudsi maknanya sama-sama bersumber dari Allah SWT, akan tetapi lafal hadis qudsi bersumber dari Rasulullah SAW dan bukan merupakan mukjizat. (Ada banyak khilaf mengenai definisi hadis qudsi).
Seluruh isi al-Quran dinukil secara mutawatir sehingga kepastiannya mutlak. Sedangkan hadis qudsi kebanyakan adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan.

Adapun perbedaan antara hadis nabawi dan hadis qudsi, syekh Manna al-Qaththan mengatakan dalam kitab Mabahits fî ulûm al-Qurân bahwa hadis berdasarkan sifatnya ada dua macam:

Pertama, hadis yang bersifat tauqifi. Kandungan hadis tauqifi ini diterima oleh Rasulullah SAW melalui wahyu. Lalu beliau menjelaskannya kepada umatnya dengan kata-kata atau redaksi kalimat dari beliau sendiri. Hadis seperti ini disebut dengan hadis qudsi. Meski kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi dari sisi perkataan lebih layak dinisbahkan kepada Rasulullah SAW. Karena itu ia dinamakan dengan hadis, bukan kalamullah. Adapun disebut hadis qudsi atau hadis suci karena maknanya bersumber dari Allah.

Kedua, hadis yang bersifat taufiqi; hadis yang disimpulkan oleh Rasulullah berdasarkan pemahamannya terhadap al-Quran. Karena fungsi hadis ini untuk menjelaskan, menerangkan, dan mengambil kesimpulan dari al-Quran tentang berbagai permasalahan dengan perenungan dan ijtihad. Hadis ini disebut dengan hadis nabawi; maknanya dari Allah, lafalnya dari Rasulullah SAW.

Selanjutnya, kita juga mengenal kata sunah. Sunah secara bahasa bermakna tradisi, sedangkan hadis bermakna kalam. Biasanya ulama menggunakan term sunah untuk membahasakan suatu kebiasaan atau tradisi yang dilakukan banyak orang, baik Rasulullah SAW maupun para sahabat. Sedangkan hadis memiliki ruang definisi yang lebih spesifik. Ia adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perilaku, taqrir, dan lain sebagainya.

Al-Quran dan sunah berada dalam kedudukan yang sama jika ditinjau dari segi keberadaannya sebagai hujjah dalam syariat. Ketika kita mendapati teks dan makna yang kelihatannya bertentangan di antara keduanya, kita tidak boleh langsung meninggalkan sunah dengan alasan ia tidak lebih kuat kedudukannya. Namun, keduanya harus digabungkan kemudian dicari jalan keluarnya.

Berbicara tentang sunah, ia memiliki beberapa fungsi terhadap al-Quran. Fungsi yang pertama adalah sebagai bayan al-taqrir; menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam al-Quran. Fungsi selanjutnya adalah sebagai bayan al-tafsir; memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat al-Quran yang masih bersifat global, memberi batasan terhadap ayat yang bersifat mutlak, dan mengkhususkan ayat yang bersifat umum. Fungsi lainnya adalah sebagai bayan al-tasyri; mewujudkan suatu hukum atau ajaran yang tidak didapati dalam al-Quran. Bayan ini disebut juga dengan zaid ala al-kitab al-karim yang artinya tambahan atas al-Quran al-Karim.

Apabila kita ingin menguak petunjuk dan kemukjizatan al-Quran, maka kita tidak akan menemukan ujung dari pembahasan tersebut. Pasalnya, ilmu dan cakupan di dalamnya sangat dalam dan tidak dapat diraih seutuhnya oleh akal manusia. Berangkat dari sini, kami akan mencoba mengupas beberapa sisi kemukjizatan al-Quran:

Pertama, gaya bahasa, retorika, dan susunan kata dalam al-Quran yang tidak dapat kita temukan dalam kitab-kitab lainnya. Bahasa yang digunakan sangat indah dan tak ada tandingannya. Segala keunggulan dan kemuliaan menjadi bukti bahwasanya al-Quran merupakan kalam ilahi yang tidak ada campur tangan siapapun di dalamnya.

Kedua, pengumpulan rangkaiannya tidak cukup dalam satu waktu. Butuh waktu hingga puluhan tahun sampai ia menjadi sebuah kitab suci yang dinamakan al-Quran. Di dalamnya tertulis berbagai unsur yang dirangkai secara apik, rapi, dan nyaman dibaca seperti yang kita jumpai sekarang ini. Segala konflik, perdebatan, kekhawatiran, dapat merujuk kepada pedoman yang tidak diragukan kebenarannya ini.

Ketiga, membaca dan mendengarnya dapat membuat hati tenang. Butuh keahlian dan seni dalam membaca dan mendengar al-Quran untuk dapat meresapi dengan baik ayat-ayat yang mampu menembus relung hati. Makna-makna di dalamnya sangat dalam, pembaca dan pendengarnya akan selalu merasa cemas dengan azab-Nya, dan merasa tamak akan rahmat-Nya.

Al-Quran ibarat berlian yang mempunyai banyak sisi. Jika dipandang dari satu sisi, ia akan menampakkan keindahan tersendiri. Dilihat dari sisi yang lain, akan tampak keindahan yang lain. Berlian itu sendiri selalu berkelipan sepanjang zaman. Al-Quran akan selalu terjaga keindahannya dan relevan di segala tempat dan zaman. Ia akan selalu menjadi pedoman utama umat Islam di seluruh dunia. Semoga kita dapat bersanding dengan al-Quran di setiap langkah, dan mendapatkan syafaatnya kelak di hari akhir. Âmîn.

Wallahu alam bi al-shawâb.

Fathullah az Zuhdi
Reading Time:

Senin, 04 November 2019

Majalah La Tansa Kupas Tuntas Toleransi di Edisi X
20.27.000 Comments
IKPM Kairo - "Andaikan muridku tinggal satu, akan tetap kuajar. Yang satu ini sama dengan seribu. Kalaupun satu ini tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena" -K. H. Imam Zarkasyi-

Urgensi menulis tertuang dalam bentuk pengajaran melalui pena seperti yang dikatakan oleh salah satu trimurti, K. H. Imam Zarkasyi di atas. Bentuk pengajaran melalui pena pun beragam macamnya, salah satunya media majalah seperti yang ditekuni oleh La Tansa -salah satu media kepenulisan IKPM Cabang Kairo-

Doc. Majalah La Tansa Edisi X

Urgensi menulis tertuang dalam bentuk pengajaran melalui pena seperti yang dikatakan oleh salah satu trimurti, K. H. Imam Zarkasyi di atas. Bentuk pengajaran melalui pena pun beragam macamnya, salah satunya media majalah seperti yang ditekuni oleh La Tansa -salah satu media kepenulisan IKPM Cabang Kairo-

Majalah La Tansa kembali hadir dengan pembahasan hangat seputar toleransi pada bulan di mana Rasulullah Saw. dilahirkan, Rabi'ul Anwar. Edisi yang sudah terbilang ke-10 ini dibungkus secara apik dan menarik hingga membacanya pun tak bosan dan terus mengalir hingga akhir halaman. Dengan majalah ini pula, La Tansa kupas tuntas toleransi. 

Sebelum memasuki pembahasan pokok, pembaca disajikan dengan pemahaman terkait Revitalisasi Esensi Toleransi dalam Islam, lalu disusul dengan Kilas balik Intoleransi dalam sejarah yang ada. Sebagai sumber penguat terlebih untuk menyelami al-Azhar dan kiprahnya dalam menjaga toleransi, terdapat pula hasil wawancara eksklusif bersama Dekan Fakultas Ushuluddin Dr. Abdul Fattah Abdul Ghony al-Awary.

Ahmad Kholil Hasbi, kandidat doktor Akidah Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor pun turut menyumbangkan tulisanya terkait toleransi tanpa pluralisme, moderat tanpa liberalisme di majalah La Tansa kali ini. Disusul pula oleh Pengasuh Pondok Pesantren at-Taqwa Depok dan peneliti INSIST, Muhammad Ardiansyah yang menjelaskan tentang beragama dengan beradab. Antara kedua tulisan tersebut terbilang erat kaitannya.

Kajian Utama pada edisi kali ini pun hadir dengan toleransi yang tetap cantik, sebagaimana yang dimaksudkan agar hijab ketidakpahaman toleransi disingkap hingga kita mampu memahaminya terlebih melalui kaca mata al-Azhar.

Segera pastikan majalah La Tansa ada di tangan anda dengan menghubungi kontak di bawah ini:
+201554761330 atau +201094908435

Rep: La Tansa
Red: Ummu

Reading Time:

Minggu, 27 Oktober 2019

Yusuf Al-Amin: Terjemah adalah Jembatan Dua Bahasa
04.15.000 Comments
IKPM Cabang Kairo -Dinamika kegiatan IKPM Cabang Kairo kembali diwarnai dengan seminar terjemah yang diadakan oleh Forter IKPM pada Sabtu (26/10) di Aula KM-NTB. Terjemah yang merupakan jembatan antara 2 bahasa ditekankan oleh al-Ustadz M. S. Yusuf al-Amin dalam seminar tersebut dilanjutkan dengan peluncuran buku perdana Forter IKPM.

Doc. Seminar Terjemah IKPM bersama al-Usatdz Yusuf al-Amin

Sambutan ketua panitia, Fakhri Abdul Ghaffar mengawali pembicaraan ringan mengenai urgensi penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Bahasa Indonesia termasuk bahasa yang miskin ilmu pengetahuannya dibanding bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Arab pun dulu demikian, mulai kaya akan ilmu pengetahuan dengan adanya pergerakan penerjemahan kitab-kitab pada masa khalifah al-Manshur.

Terjemah yang merupakan sebuah jembatan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran menjadi sarana dalam komunikasi baik secara individu atau masyarakat secara luas. Dapat diambil contoh saat penyebaran Islam ke Indonesia, yaitu transformasi nilai keislaman melalui proses penerjemahan dari bahasa arab ke bahasa pribumi hingga Islam tersebar luas saat ini di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu contoh peran terjemah dan pentingnya kita memiliki kemampuan tersebut.

Lebih jauh dari itu, proses penerjemahan sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Dilihat dalam diplomasi Rasulullah Saw. melalui surat kepada para penguasa, salah satunya Kaisar Persia Heraklius. Pesan yang disampaikan melalui lisan Rasulullah berbahasa Arab lalu dituliskan oleh sahabat yang menjadi utusan dalam bentuk surat dengan bahasa wilayah yang dituju. Bukankah terdapat perbedaan bahasa pada tiap wilayah saat Islam disebarkan? Dari situlah sang utusan dituntut untuk menjadi penyambung maksud bahasa sumber ke bahasa sasaran agar mampu dipahami.

Demikianlah pentingnya terjemah sudah terlihat sejak dulu dan memiliki pengaruh besar. Setelah pembukaan renyah seputar terjemah tersebut, narasumber yang merupakan salah satu penerjemah resmi al-Azhar di bawah naungan masyikhoh, al-Ustadz Yusuf al-Amin melanjutkan 4 pembahasan utama dalam waktu kurang lebih 3 jam, lalu dilanjutkan dengan sedikit praktek.
"Terjemah adalah jembatan yang menghubungkan bahasa sumber dan bahasa sasaran," Tutur Yusuf al-Amin menekankan pentingnya terjemah. Untuk itu, adanya Forum Terjemah (Forter) IKPM menjadi sarana belajar dalam mengaplikasikan penerjemahan, khususnya dalam bentuk tulisan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.

Doc. Penyerahan Buku Untuk Anakku kepada al-Ustadz Yusuf al-Amin selaku pembimbing Forter IKPM

Akhir acara, Bana Fatahillah -founder Forter IKPM- memaparkan secara singkat mengenai buku pertama Forter IKPM, "Untuk Anakku" yang ditulis oleh Sastrawan Mesir Ahmad Amin. Buku yang berjudul 'Ila Waladi' ini telah diterjemahkan oleh Forter IKPM sebagai buah karya dan bukti kesungguhan teman-teman Forter IKPM dalam belajar menerjemahkan.

Rep: Ummu
Red: Fakhri



Reading Time:

Jumat, 25 Oktober 2019

Maksimalkan Peran Dai Muslimah Inspiratif, Keputrian IKPM Gelar Seminar Dakwah
19.40.000 Comments
Ustadzah Tsani Liziah sedanv mengisi seminar di sekretariat IKPM Cab. Kairo (22-23/10)


IKPMKairo- Keputrian IKPM Cabang Kairo gelar seminar dakwah yang bertajuk “Memaksimalkan Peran Diri di Jalan Dakwah Khususnya Bagi Seorang Muslimah” di aula sekretariat IKPM Cabang Kairo, Hay Asyir.

Acara ini diisi langsung oleh salah satu Dai Muda ANTV tahun 2012, al-ustadzah Tsani Liziah -alumni Gontor Putri 2009. Seminar ini diadakan dua kali pertemuan. Hari pertama (22/10) yaitu pembekalan materi, dan hari kedua(23/10) yaitu praktek yang dihadiri oleh 22 peserta dengan konsep berkelompok. Tiap-tiap kelompok membuat karya teks pidato dan mengutus satu orang untuk maju mempresentasikannya.
Suasana seminar dakwah bersama DP Keputrian IKPM

Sebelum praktik dimulai Tsani menambahkan, "Di antara rahasia publik speaking, yang pertama mempunyai niat yang lurus dan kuat, yang kedua ada teori dan ilmunya yang ketiga praktek, pengulangan dan evaluasi. Kita disini melatih percaya diri dan melatih berbicara walaupun masi kaku."

Acara semakin menarik ketika salah satu dari peserta yang bernama Qurrotul Aini, angkatan Kenzo (Tahun keberangkatan 2015), mempresentasikan dengan tema yang menarik yaitu tentang pengetahuan seputar 'Stifin' jelas dengan gambar pada slide. Presentasi ini cukup membuat peserta yang lain terpukau dan mendapatkan pengetahuan yang baru.

Aini mengungkapkan, "Apabila kita mendatangkan energi positif, maka akan datang kepada kita dua energy positif. Ketika apa yang kita pikirkan baik dan ketika yang di otak kita baik, maka perbuatan, perkataan semuanya akan menjadi positif."

"Memang untuk menjadi orang yang hebat itu butuh perjuangan, perlu kesabaran, dan perlu waktu yang lama”, tambah penulis buku 'Lentera Surga' ini.

Sebelum acara ditutup, Indriani Rusmadi selaku ketua panitia mengucapkan, "Kita bersyukur atas nikmat Allah yang luar biasa, semoga ini menjadi jariah ke teteh dan keluarga.”
Doc. Peserta dan pemateri melakukan foto bersama usai acara

Acara berjalan dengan lancar, rapi, dan seru. Ditutup dengan pemberian sertifikat oleh ketua keputrian, Anggi Diah Putri kemudian perfotoan bersama.

Rep. Sri Ayu M
Red. Rahmadi P
Reading Time: