IKPM KAIRO

Senin, 09 Desember 2019

Hadapi Ujian Termin Satu, IKPM Resmi Tutup Sementara Kegiatan
20.52.000 Comments

Doc. Suasana Penutupan Kegiatan IKPM Cabang Kairo jelang ujian termin satu di Aula KEMASS, Hayy Asyir (8/12)


IKPM Kairo - Menjelang ujian termin 1, IKPM Cabang Kairo menutup sementara setiap rentetan kegiatan. Penutupan ini diadakan di aula KEMASS, Hay Asyir (8/12).

Acara yang dipandu oleh Ibnu Farhan Istiqlal ini tepat dibuka seusai sholat isya' pada 18.30 clt dengan khidmat. Dalam acara ini, pihak IKPM mengundang salah satu Ulama Azhar, Syaikh Ahmad Mahmud untuk menyampaikan beberapa pesan teruntuk warga IKPM Cab. Kairo.
Syaikh Ahmad Mahmud sedang menyampaikan pesan menjelang ujian termin satu


Diantara kalimat yang disampaikan oleh Syaikh Ahmad, "Ilmu adalah yang mendekatkanmu dengan Allah." Beliau berpesan agar disaat perjuangan dan jihad menuntut ilmu, kita senantiasa tidak melupakan Sang Pemilik Ilmu.

Di penghujung acara, Abdurrahman Rasyid Ihsanuddin membacakan surat keputusan penutupan kegiatan IKPM pada pukul 20.55 sekaligus menutup acara.

Rep. Farrah ND
Red. Rahmadi P
Reading Time:

Jumat, 06 Desember 2019

Perniagaan Pertama Rasulullah Saw. ke Syam dan Pertemuannya dengan Bahira
11.35.000 Comments
Ketika berusia 12 tahun, Nabi Muhammad Saw. (Saat itu belum menjadi Nabi) diajak oleh pamannya, Abu Thalib untuk berdagang ke Syam. Dalam sebagian riwayat, Nabi Muhammad Saw. lah yang berkeinginan untuk ikut pergi bersama pamannya. Abu Thalib tak kuasa meninggalkannya dan berkata, “Demi Allah aku harus membawanya pergi bersamaku. Jangan sampai ia berpisah denganku.” Ia lalu mengangkat tubuh Nabi Muhammad Saw. dan mendudukkannya di atas hewan tunggangan.

Doc. Google

Kafilah dagang dari Quraisy pun menempuh perjalanan darat menuju Syam. Ketika kafilah mereka sampai di Bushra, sebuah kawasan antara Syam dan Hijaz, mereka bertemu dengan seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah orang yang paling tahu tentang Nasrani. 
Pada tahun itu kafilah dagang Abu Thalib melewati Bahira seperti biasanya. Tapi tak seperti tahun-tahun sebelumnya—dimana Bahira enggan berbicara pada mereka-. Tahun ini amat jauh berbeda, ia menjamu kafilah dagang Quraisy dengan makanan yang banyak. Menurut sebagian ulama, Bahira melakukan itu lantaran ia melihat Nabi Muhammad bersama kafilah dagang Abu Thalib, dan awan menaungi beliau diantara mereka. Mereka berhenti di bawah pohon rindang dekat Bahira. Ia melihat ranting-ranting pohon merunduk luluh menaungi Rasulullah Saw.

Bahira berkata,”Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua ikut hadir.” Lalu mereka hadir ke rumah ibadah Bahira, kecuali mereka tinggalkan Rasulullah Saw. Tetapi Bahira kembali berkata-mengingatkan, ”Aku ingatkan untuk semua orang hadir dalam jamuan ini.” Setelah itu Bahira datang menemui Rasulullah Saw, mendekapnya dan menundukannya bersama rombongan. Bahira memperhatikan Rasulullah Saw. dengan teliti untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kita-kitab suci terdahulu.

Dari hasil penglihatannya, ia dapatkan sifat kenabian pada Rasulullah Saw. ketika itu. Tatkala mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar. Sementara Bahira mendekati Rasulullah Saw (pada saat itu belum menjadi Nabi) dan bertanya, “Wahai anak muda, dengan menyebut al-Lata dan Uzza aku menanyakan pada engkau dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku." Bahira mengatakan demikian karena Bahira mendengar bahwa kaum Quraisy bersumpah dengan Latta dan Uzza.

Ada yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. menjawab “Janganlah sekali-kali engkau bertanya dengan menyebut nama mereka. Demi Allah tak ada yang aku benci selain mereka.” Lalu Bahira bersumpah dengan nama Allah, “Demi Allah…” dan beliau Saw. mempersilahkan Bahira bertanya. Satu persatu pertanyaan Bahira beliau jawab, dan setiap jawabannya sesuai dengan pengetahuan Bahira perihal kenabian. Kemudian Bahira melihat punggung Rasulullah Saw. dan ia melihat tanda kenabian diantara kedua pundaknya (tanda kenabian Rasulullah Saw. seperti bekas bekam), lalu ia mencium tanda itu.

Setelah itu, Bahira bertanya kepada Abu Thalib, “Apakah anak muda ini anakmu?”
“Ya, Benar” jawab Abu Thalib (Abu Thalib menganggap Nabi Muhammad Saw. anaknya karena besarnya cintanya dengan Nabi Muhammad).
“Tidak!” Bahira melanjutkan, “dia bukanlah anakmu. Anak muda ini sepatutnya tidak memiliki ayah yang masih hidup.”
“Ia dia adalah anak saudaraku.” kata Abu Thalib
“Katakan padaku apa yang dilakukan ayahnya?” tanya Bahira.
“Dia telah meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya.” Bahira berkata, “Anda benar, pulang ke negerimu dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya disini, pasti akan dijahatinya Sesungguhnya anak saudaramu akan menjadi orang besar. Kemudian Abu Thalib dengan cepat membawa Nabi Muhammad remaja kembali ke Makkah, dan menjaganya.

Keterangan:
QS. Al-Baqarah [2] : 146

“Orang-orang yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”

Perkataan Bahira tentang Rasulullah Saw. adalah hadits yang diriwayatkan oleh ulama sirah pada umumnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadits Abu Musa al-Asy’ari bahwasannya para ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani mempunyai pengetahuan atas diutusnya Nabi Saw dan pengetahuan tentang tanda-tanda kenabian. Itu telah tertulis di dalam kitab Taurat dan Injil dengan kabar diutusnya Rasulullah Saw. penjelasan bukti-buktinya, dan sifat-sifatnya.


Tim Kajian Sirah, Arrazi IKPM Cabang Kairo
Sumber: Kitab Fiqhu Sirah karya Syekh Ramadhan al-Buthi
Reading Time:

Rabu, 04 Desember 2019

Sistem Pendidikan Sekolah Kedokteran Bimaristan di Abad 8-13  (Pembelajaran Anatomi sebagai contoh)
11.12.000 Comments

Pendahuluan
Sistem pendidikan yang baik merupakan sebuah keniscayaan bagi sebuah bangsa yang berperadaban unggul. Dengannya pula, kebahagiaan, kejayaan dan kemakmuran suatu komunitas masyarakat dapat diukur dengan penelitian lapangan yang kredibel. Faktanya menunjukkan bahwa suatu bangsa yang memiliki sistem pendidikan yang baik berbanding lurus dengan tingkat kebahagian yang tinggi dan baik pula seperti yang ada di negara Finlandia.

Sebelum dikenal sebagai sekolah kedokteran, Bimaristan berfungsi sebagai rumah sakit pada masa dinasti Abbasiyah dan sekitarnya (800-1258). Sebagai salah satu pusat pendidikan yang melahirkan mayoritas pakar kedokteran di wilayah dinasti Abbasiyah, maka bukanlah suatu yang mengherankan jika seorang sejarawan yang ingin mengulas tentang perkembangan ilmu kedokteran di timur menganbil istilah Bimaristan-lah yang paling banyak disebutkan.

Berdasarkan fakta tersebut, muncul beberapa pertanyaan yang penulis coba untuk menjawabnya seperti: bagaiamana latar belakang pendirian bimaristan sehingga menjadi sekolah kedokteran? mengapa bisa menjadi pusat pendidikan? Apa peranan dan fungsinya? Apakah ilmu kedokteran tetap dapat berkembang tanpa kehadiran bimaristan? Apakah ada konvergensi antara sistem pendidikan yang diterapkan di bimaristan dengan sistem yang telah umum diterapkan di institusi pendidikan kedokteran abad 20 M?

Dr. Sharif Kaf Al-Ghazzal dalam bukunya “the origin of Bimaristans in Islamic medical history”, adalah salah satu contoh buku yang mengulas Bimaristan  secara umum. Namun, dari sekian banyak akademisi yang membahas tentang Bimaristan, mereka hanya menambah sedikit keterangan terkait sistem pendidikan yang di praktikkan di sekolah kedokteran tersebut, penulis akan menuliskan dan memaparkan kajian yang lebih dalam terhadap sistem pendidikan Bimaristan  sebagai sekolah kedokteran.



Definisi pendidikan
Pengertian pendidikan menurut UUD 1945 No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional. Dalam pasal pertama dan keempat, disebutkan bahwa pendidikan adalah unsur sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.

Img. Bimaristan Doc. Google

Bimaristan sebagai sekolah kedokteran
Perlu diketahui sebelumnya bahwa hakikat dan fungsi utama dari Bimaristan adalah sebagai rumah sakit umum yang difasilitasi secara cuma-cuma oleh khalifah bagi para warganya yang membutuhkan pelayanan kesehatan.  Bimaristan juga diambil dari Bahasa Persia, yaitu “Bimar” yang berarti “orang sakit” dan “satan” yang berarti “tempat atau rumah”.

Sehingga bisa dimaknai dengan “Rumah sakit”. Bimaristan berubah nama menjadi “Mustasyfa” semenjak didirikan Mustasyfa Abi Za’bal di Kairo 1825 M hingga menjadi sebagai pusat pendidikan kedokteran yang paling diminati di Dinasti Abasiyah.

Menurut keterangan Taqiyuddin al-Maqrizi menjelaskan bahwasnya Khalifah Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Abasiyah (705-715) adalah khalifah pertama yang memprakarsai adanya Bimaristan pada tahun 706M.

Namun Kamal as-Samura’i dalam kitabnya menjelaskan bahwa Bimaristaan tersebut merupakan tiruan dari Bimaristan yang terdapat di judishapur dan Iskandariah. Tetapi penulis lebih mempercayai Walid bin Abdul Malik sebagai pendiri pertama Bimaristan.

Bimaristan memiliki sistem yang sangat rapi dan sistematis sebagaimana yang telah umum diterapkan pada rumah sakit yang umum kita jumpai saat ini. Seperti halnya penyediaan ruang ruang kusus untuk setiap penanganan penyakit dan spesialisasi tertentu. Salah satu hal yang menjadi ciri khas bimaristan adalah tersedianya bangunan khusus bagi setiap pasien laki-laki dan perempuan. Para perawat perempuan pun hanya ditugaskan untuk para pasien perempuan saja atau sebaliknya.

Para dokter bukan hanya bekerja untuk pelayaanan kesehatan saja, tapi juga menjadi guru bagi murid murid yang datang ke bimaristan untuk belajar ilmu kedokteran. Setelah murid bimaristan menyelesaikan studinya, mereka diwajibkan untuk mendatangai pimpinan asosiasi bimaristan pusat dia belajar di wilayahnya masing-masing untuk mendapatkan ijazah legalitas dalam melakukan praktik kedokteran.

Secara umum, beberapa poin penting yang menjadi keunggulan dari sistem pendidikan Bimaristan antara lain:

-Penggunaan diskusi sebagai metode belajar
Menulis ulang kitab karangan para gurunya.
-Kewajiban para murid unruk menguasai Bahasa arab sebagai Bahasa utama suatu ilmu
-Kewajiban para murid untuk mengarang suatu kitab yang berisikan tentang pengetahuan dan pengalaman di bidang kedokteran.
-Pendalaman materi yang disertai dengan penelitian dan observasi.
-Penggunaan metode observasi kualitatif dan komparatif.
-Kewajiban para murid untuk melakukan eksperimen.

Pembelajaran anatomi di bimaristan
Ilmu anatomi diangga sebagai sebuah pintu masuk dalam mempelajari ilmu kedokteran, Anatomi: attasyrih, dalam Bahasa yunani artinya memotong,  Abu Qosim Az-Zahrowi pembedahan adalah metode terakhir dalam pengobatan

Pembelajaran anatomi di bimaristan ada 2 metode:
-literatur klasik
-praktik pembedahan

Bimaristan memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu kedokteran, karena Bimaristan adalah pondasi ilmu pengetahuan saat ini, dan juga merupakan replika rumah sakit modern.  Urgensi ilmu anatomi dalam kedokteran menjadikan ilmu ini sangat penting dipelajari. Begitupun di Bimaristan, ilmu ini dipelajari oleh para muridnya. Anatomi penting kaitannya dengan prosedur yang dilakukan oleh para dokter dalam melakukan prakteknya.

Metode pengajaran anatomi di Bimaristan:

1. Merujuk pada literature klasik:
-Taqdimah al-Ma’rifah (Hippocrates)
-Hippocratic Corpus (Galenus)
-Al Hawi fi al-Tib (ar Razi)
-Kitab al Manshuri (Ibnu Abbas)
-Al Qanun fi al Tib (Ibnu Sina)

2. Praktik pembedahan langsung
Beberapa rujukan yang dipakai menjadi bukti bahwa pembedahan bukan hanya dilakukan di tunuh hewan, tapi juga manusia. Pembedahan tubuh manusia dalam Islam dianggap oleh pakar kedokteran Timur untuk membuktikan keagungan ciptaan Allah, berhubungan dengan tidak adanya larangan atas legalitas tentang pembedahan jasad manusia.

Ibnu Nafis berpendapat bahwa struktur anatomi manusia dan hewan tidaklah sama, hal ini juga yang menjadi kesalahan Hippocrates dan Galenus pada masanya. Ibnu Nafis mendapatkan gelar sebagai penemu sistem sirkulasi darah kecil yang menggunakan teknik mutakhir pada zamannya.  Pengajaran anatomi semakin gencar setelah kitab al Tashrif liman ‘ajaza ‘an al Ta’lif karya az Zahrowi pada awawl abad 11 M.

Pengajaran ilmu Anatomi di Bimaristan mencapai puncak pada akhir Dinasti Abbasiyah dengan disebarluaskannya kitab anatomi berwarna karya Mansyur Ibn Ilyas berjudul Tasyrih al Manshuri  yang dipublikasikan full color pada 2010.

Penutup
Bimaristan sebagai institusi Kedokteran pada abad pertengahan  merupakan replika awal dari institusi pendidikan abad 21. Bimaristan menjadi pondasi awal peradaban unggul dan perkembangan ilmu yang signifikan. Hal ini perlu mendapat timbal balik dari generasi sekarang dengan menimba ilmu dan khazanah seluas-luasnya.




Reading Time:

Jumat, 29 November 2019

Nasab dan Kelahiran Rasulullah Saw. serta Peristiwa Pembelahan Dada
18.02.000 Comments
Doc. Google

Nasab Rasulullah
Rasullah Saw. berkata: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail dan memilih keturunan Ismail bani Kinanah dan memilh dari Bani Kinanah Quraisy dan memilih dari Quraisy Bani Hasyim dan memilihku dari Bani Hasyim."

Adapun silsilah keturunan Rasulullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (yang biasa di panggil syaibatul hamdi dikarenakan kemuliaan beliau yang terpuji) bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qushoy bin Kilab bin Murroh bin Ka'ab bin Luay bin Gholib bin Fakhir bin Malik bin Nadzir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Madrokah bin Ilyas bin Mudhor bin Nazar bin Mua'ad bin Adnan. Dan mereka inilah yang mempuyai kedudukan dan akhlak mulia ketika masa itu yang akan meswarisi ke Rasulullah Saw.

Kelahiran Rasulullah
Rasulullah lahir pada hari Senin 12 Robiul Awal yang bertetapan dengan Ammul Fil (pasukan raja Abraha yang ingin menghancurkan Ka’bah) dan Allah menghancurkan mereka sebagai peringatan kelahiran Rasulullah yang agung.

Ketika melahirkan Rasulullah, sayyidah Aminah dibantu oleh sayyidah Syifa’ yang merupakan ibu dari Abdurrahman bin Auf. Momen kelahiran beliau ini adalah saat-saat membahagiakan bagi seluruh umat manusia, namun sayangnya ketika kelahirannya, ayah beliau telah wafat sejak beliau masih di dalam kandungan.

Sebagaimana kebiasaan bangsa Arab, setiap ada anak laki laki yang baru lahir setelah disusui ibunya, dilanjutkan disusui orang lain yang jauh dari kota Mekkah dengan alasan agar menjadi kuat dan bisa di ajarkan bahasa Arab yang baik. Maka Abdul Mutholib yang kala itu mengasuh Rasulullah mencari ibu susuan bagi Rasulullah Saw. hingga bertemu dengan sayyidah Halimah Assa’diyah dari bani Sa’ad.

Adapun berkah melimpah yang didapatkan Halimah Assa'diyah selama mengasuh Rasulullah Saw. yaitu: Keledai yang ditumpangi Halimah sangat kurus tapi ketika beliau membawa Rasulullah, jarak yang ditempuh jauh lebih cepat daripada keledai yang lain. Begitupula ketika Halimah dan suaminya merasa haus dan lapar, mereka melihat unta yang dulunya tidak terisi seketika susunya menjadi penuh hingga mereka puas dan kenyang lalu tertidur di malam yang sangat baik itu. Tempat yang dulunya kering nan tandus berubah menjadi hijau dan subur. Semua ini merupakan barakah Rasulullah Saw. yang diperlihatkan kepada orang-orang yang tinggal bersamanya.

Peristiwa Pembelahan Dada
Setelah menyusuinya selama 2 tahun, Halimah harus membawanya kembali pulang kepangkuan ibu kandungnya. Kemudian ketika Rasulullah berumur empat tahun, Halimah meminta izin kembali untuk mengasuh Rasulullah.

Demikianlah yang telah dipaparkan sederhana merupakan sebagian peristiwa kehidupan Rasulullah Saw. di tengah-tengah bani Sa'ad, hingga akhirnya terjadi peristiwa pembelahan dada. Setelah kejadian teesebut, Halimah merasa takut dan mengembalikannya kembali kepada ibunya, Aminah.

Ketika umur Rasulullah menginjak enam tahun, ibunya meninggal dan diasuh oleh kakeknya sampai beliau meninggal dua tahun setelah itu, saat itu usia Rasulullah genap delapan tahun, kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Tholib.


Hikmah dari Kehidupan Rasulullah
Adapun poin terpenting dari kisah Rasulullah di atas yaitu:

1. Nasab Rasulullah Saw. yang agung menunjukan bahwa Allah memilih bangsa Arab sebagai bangsa yang diutusnya Nabi terakhir, serta menjadikan kaum Quraisy sebaik-baiknya kaum dan menjadikan Bani Hasyim keluarga yang agung dikarenakan membawa Nutfah Rasulullah.
2. Lahirnya Rasulullah Saw. dalam keadaan yatim menunjukan bahwa Risalah yang dibawa Rasulullah bukan dari ayahnya, dan agar dirinya tidak mencintai kedudukan, harta hingga memilih zuhud dalam kehidupan dunia karena Allah sendirilah yang memeliharanya.
3. Berkah yang melimpah ketika Halimah menyusui Rasulullah menunjukan kedudukan Nabi yang agung di hadapan Rabbnya yang merupakan Rahmatan lil'alamin.
4. Kejadian pembelahan dada Rasulullah bukan karena segumpal daging yang diambil dari dadanya, tetapi menunjukan bahwa beliau sudah terjaga kesuciannya dari kecil serta menjadikan manusia percaya dengan risalah yang dibawanya.

Tim Kajian Arrazi IKPM Cabang Kairo
Reading Time:

Selasa, 26 November 2019

Studi Ayat dan Surah Serta Keserasiannya
10.50.000 Comments
Ayat dan surah dalam adalah bagian penting dalam al-Quran. Maka dari sini para ulama salaf menjadikan ayat dan surah sebagai salah satu ilmu yang independen dari berbagai macam ilmu dari ulum al-Quran yang didalamnya derdapat sebagaian dari sepuluh mabadi’ ilm. Ayat secara bahasa adalah tanda kekuasaan Allah SWT sedangkan secara istilah ayat adalah bagian yang memiliki awal dan akhir yang terkandung dalam surah.

Doc. Google

Adapun jumlah ayat dalam al-Quran berjumlah 6200 lebih dan selebihnya berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebabkan karena ketika rasul melantunkan ayat al-Quran dan berhenti diakhir ayat untuk mengajarkan kepada sahabat bahwa itu adalah akhir dari ayat, ketika para sahabat telah mengetahuinya maka rasulullah melanjutkan ayat tersebut agar maknanya sempurna. Maka dari sini sebagaian orang mengira ketika nabi berhenti di akhir ayat bukanlah akhir dari ayat itu karena rasul melanjutkan ayat tersebut agar sempurna maknanya dan sebagaian orang mengira bahwa ayat tersebut terpisah sehingga tidak dilanjutkan.

Adapun urutan ayat dalam al-Quran merupakan tauqifi (dari sisi Allah SWT) melalui malaikat Jibril AS mengantarkan wahyu kepada Rasul serta menunjukkan letak setiap ayatnya kapada rasul SAW kemudian rasulullah SAW melantunkannya kepada para sahabat serta memilih penulis wahyu untuk menuliskannya, begitu juga ketika shalat, ceramah dan dalam menerapkan hukum nabi Muhammad SAW sering mengulanginya sehingga para sahabat selalu mendengar urutan ayat tersebut. Setiap tahunnya nabi juga memperlihatkan hafalannya kepada malaikat Jibril AS dan ditahun terakhir kewafatannya nabi Muhammad SAW memperlihatkannya kepada malaikat Jibril. Tidak berhenti disitu, para sahabat ketika menghafalkan al-Quran harus dengan urutan tersebut hingga ketika ada generasi selanjutnya ketika menghafal al-Quran harus berdasarkan urutan tersebut.

Salah satu faktor yang juga menjadikan urutan tersebut terjaga sampai sekarang yakni keempat khulafaur rasyidin tidak ada yang merubah urutan tersebut seperi yang terdapat dalam mashahif yang dibuat pada masa sayidina Abu bakar dan mushaf milik sayidina Usman keduanya sesuai urutan tersebut. Surah menurut istilah berarti tingkatan dari sebuah bangunan dan secara Bahasa bermakna kedudukan. Dalam al-Quran terdapat 114 surah dan jumlah ini telah disepakati mayoritas ulama, adapun yang mengatakan 113 surah, yakni dengan menjadikan surah al-Anfal dan al-Bara’ah menjadi satu surah berdasarkan syubhat tidak ada basmallah diantara keduanya. Surah dalam al-Quran terbagi menjadi empat berdasarkan panjang dan pendeknya yang pertama Sab’u Thiwal, dari surah baqarah sampai surah al-Bara’ah. Kedua, al-Mi’un urutannya setelah al-Thiwal, dinamakan al-mi’un karna panjang ayatnya diatas serratus ayat atau yang mendekatinya. Ketiga, al-Matsani, dinamakan al-Matsani karena ayatnya diulang-ulang lebih banyak dari pada sebelumnya. Keempat, al-Mufashal dinamakan al-Mufashal, karena banyaknya pemisah dengan basmallah yang menjadikan banyaknya surah pada bagian ini.

Adapun penamaan surah dalam al-Quran merupakan tauqifi melalui nabi Muhammad yang mengajarkan kepada para sahabat sampai tabi’in. Dalam pengurutan surah dalam al-Quran terdapat banyak ikhtilaf antara ulama dan pendapat yang paling rajih adalah pendapat milik Imam baihaqi, yang berpendapat bahwa pengurutan surah dalam al-Quran sebagaian besar dari nabi Muhammad SAW dan sebagaiannya ijtihad dari para sahabat.
Adanya al-Quran terdiri dari surah-surahpun memiliki hikmah-hikmah tertentu. Pertama, agar para penghafal al-Quran mudah menghafalnya. Kedua, jumlah banyak sedikitnya ayat dalam satu surah bukanlah syaratt dari mukjizat karena satu ayat pun merupakan sebuah mukjizat. Ketiga, setiap surah dalam al-Quran mempunyai urgensi pembahasan masing-masing.

Dalam pembahasan surah kita tidak bisa lepas dari pembahasan mengenai huruf muqaatta’ah atau yang bisa disebut fawatih al-Suwar yakni huruf hijaiah yang terdapat disebagaian awal surah. hurufnya berjumlah 14 yang terdapat dalam 29 surah dalam al-Quran. Seperi yang kita tahu bahwa setiap ayat dalam al-Quran memiliki sebuah makna tapi dalam huruf muqatta’ah ulama berbeda pendapat dalam mentakwilkannya, sehingga terbagi menjadi dua mazhab. Pertama, mazhab yang bertawakkal kepada Allah SWT, dan lebih mengutamakan keselamatan daripada perpecahan dalam mentakwilkannya. Kedua, mazhab yang mentawilkannya dan dari mazhab ini terjadi banyak perbedaan dalam mentakwilkannya.

Begitu juga ilmu munasabah antara ayat dan surah dalam al-Quran adalah pembahasan penting mengenai ayat dan surah. secara Bahasa munasabah bermakna persamaan atau pendekatan antara ayat dan secara istilah adalah sisi keterikaatan ayat satu dan ayat yang lainnya dan surah satu dengan surah yang lainnya dan antara awal surah dan akhir surah. Adapun faidah dari ilmu mumasabat adalah menghubungkan bagian-bagian al-Quran sehingga dapat memperkuat keterikatan diantara ayat yang memunculkan sebuah penyampaian makna atau hukum tertentu. Kedua, menghilangkan keraguan dalam hati tentang kesinambungan antara ayat. Ketiga, membantu memahami makna ayat dan penetapan batasan antara ayat. Keempat, mengungkap hikmah pengulangan sebagian Qashash dalam al-Quran.

Sisi munasabah dalam al-Quran memiliki empat macam. Pertama, penelitian, melalui penelitian kita dapat mengetahui sisi munasabat antara ayat tapi, penelitian ini hanya bagi orang yang memiliki dasar ilmunya. Kedua, perbedaan, dengan mengetahui perbedaan antara ayat kita dapat mengetahui sisi munasabat tersebut. Ketiga, contoh penyimpangan, ketika kita mengetahui adanya contoh penyimpangan suatu kaum atau seseorang kita dapat mengetahui sisi munasabahnya. Keempat, perpindahan. Tapi ilmu ini juga terdapat ikhtilaf didalamnya antara ulama tentang pembolehannya hingga terbagi menjadi dua golongan. Pertama, yang membolehkan disini mayoritas ulama membolehkannya. Kedua, yang melarangnya, salah satunya syekh Iz bin Abdussalam yang bependapat bahwa dalam ilmu munasabah disyaratkan harus dengan keterikatan yang bagus dan memang memiliki sisi keterikatan.

Reading Time: