IKPM KAIRO

Jumat, 27 Desember 2019

Keikutsertaan Rasulullah Saw dalam membangun Ka’bah serta Rahasia di Baliknya
10.52.000 Comments
Doc. Google

Ka’bah merupkan rumah pertama pertama yang
dibangun atas nama Allah Swt untuk beribadah kepada-Nya, dan bertauhid di dalamnya. Dibangun oleh Nabi Ibrahim As Abu al-Anbiya’ setelah peristiwa penghancuran berhala dan tempat tempat penyembahan yang dibangun pada masa itu. Ka’bah dibangun dengan wahyu dari Allah Swt dalam firman-Nya sebagai berikut :

وإذ يرفع إبراهيم القواعيد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم (البقرة : 127)

Rasulullah Saw. turut ikut serta dalam pembangunan Ka’bah dan pengulangan renovasinya sebelum waktu diutusnya menjadi nabi dan rasul.  Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ‘Abbas Ra. mengangkut bebatuan, Abbas Ra. berkata kepada Nabi Muhammad Saw: “Ikatlah kain sarungmu pada lehermu."
Tiba-tiba Beliau tersungkur ke tanah lalu kedua matanya terbelalak menengadah ke arah langit. Lalu berkata: “Berikanlah kain sarungku.” Kemudian mengikatnya kembali dengan kuat.

Rasulullah Saw juga mempunyai pengaruh yang besar dalam memecahkan masalah yang disebabkan oleh pertentangan kabilah-kabilah untuk mendapatkan kemuliaan dalam menempatkan Hajar Aswad di tempatnya.
Rasulullah Saw. diminta untuk mengeluarkan pendapat dalam memecahkan masalah yang ada diantara mereka, karena mereka tahu bahwa Rasulullah Saw adalah orang yang terpercaya dan dicintai dari khalayak umum.

Maka dari itu, ada sebagian ulasan yang diambil dari sebagian Sirah Nabi Muhammad Saw. terkait perbaikan Ka'bah:

1. Arti penting Ka’bah
Allah Swt. menjadikan Ka’bah sesuatu yang suci serta mulia di bumi, dan dengan perintah Allah Swt kepada Nabi Ibrahim As untuk membangun dan mendirikannya, serta menjadikan sebagai rumah untuk beribadah kepada Nya serta tempat berkumpul yang aman bagi manusia. Ka'bah merupakan sesuatu yang suci dan agung bagi Allah Swt, yang menjadi simbol dari keesaan-Nya, dan yang menjadi tanda serta syiar nya dalam menghapus semua kebatilan, syirik, serta penyembahan berhala yang ada sebelumnya pada masa Nab Ibrahim.

2. Rangkaian peristiwa penting yang terjadi pada Ka’bah baik dalam pembangunan, renovasi, dan kerusakannya.
Ka’bah dibangun serta direnovasi empat kali sepanjang masa menurut riwayat yang paling pasti, tetapi masih ada keraguan dan perbedaan antara empat sebelum dan setelahnya.

Pertama : Nabi Ibrahim As untuk membangun Ka’bah yang dibantu oleh anaknya Nabi Ismail As. sebagai jawaban dari perintah Tuhan yang Maha Agung. Sebagaimana yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Berikut ini yang dari Al-Qur’an:

وإذ يرفع إبراهيم القواعيد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم -البقرة : 127
Sedangkan dalam Sunnah yang diriwatkan oleh Imam Bukhari dengan sanad Ibnu Abbas yang artinya : Ibrahim berkata: “wahai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkanku dengan sebuah perintah”, maka Nabi Ismail menjawab: “maka lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Tuhanmu," kemudian Nabi Ibrahim berkata: “apakah kamu dapat membantuku?” Nabi Ismail menjawab: “aku akan membantumu”. Nabi Ibrahim berkata: “sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membangun rumah (Ka'bah) disini”, lalu ia menunjuk ke arah bukit yang tinggi serta daerah di sekitarnya, maka ketika itu ditinggikan pondasi Baitullah, Nabi Ismail membawa batu dan Nabi Ibrahim membangunnya.

Kedua : Ketika dibangun oleh Kaum Quraisy sebelum datangnya Islam, dan Nabi Muhammad Saw ikut serta di dalamnya.
Mereka menjadikan Ka'bah dengan tinggi 18 hasta,
dan mengurangi enam hasta dari lebar sebelumnya serta membiarkan batu yang lainnya.

Ketiga : Ka'bah terbakar pada masa khalifah Yazid bin Muawiyah saat diserang oleh tentara dari Syam dibawah pimpinan Husain bin Namir Assakuni yang kala itu sedang mengepung Abdullah bin Zubair. Mereka melempari Ka'bah dengan batu ketapel, sehingga Ka'bah menjadi rapuh dan terbakar, ini merupakan siasat dari Yazid untuk menghentikan pemberontakan yang dilakukan oleh Ibnu Zubair.

Kemudian datanglah kabar kematian Yazid yang menjadikan tentara Syam yang di Mekkah menghentikan pengepungannya. Kesempatan itu digunakan oleh Ibnu Zubair (Abdullah bin Zubair) untuk berbicara di depan khalayak umum dan membangun kembali Ka'bah dan mengembalikan yang seharusnya ada padanya.

Maka Ibnu Zubair segera menegakkan tiang-tiang disekitarnya, dan menutupnya. Kemudian, mulailah mereka membangun dan meninggikan bangunan Ka’bah secara bersama-sama, serta menambah enam hasta yang telah dikurangi sebelumnya, menambah tinggi Ka’bah sepuluh hasta, lalu membuat dua pintu untuk pintu masuk dan pintu keluar.

Keempat : Ibnu Zubair pernah meletakkan dasar Ka’bah yang disaksikan oleh penduduk Makkah sebelum kematiannya, maka Hajjaj memberitahukan Abdul Malik bin Marwan tentang itu setelah kematiannya. Lalu Abdul Malik mengembalikan batu kembali ke tempatnya sebelum terjadinya perubahan, menutup pintu Ka'bah, serta mengembalikan Ka'bah seperti sedia kala.

Juga diriwayatkan bahwa, Khalifah Harun ar Rasyid berencana untuk menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan ‘Abdullah bin Zubair, akan tetapi Imam Malik bin Anas berkata kepadanya: “Aku bersumpah, demi Allah, wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau menjadikan Ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau, sehingga tidaklah seseorang dari mereka yang ingin merubahnya, kecuali dia pun akan merubahnya, dan kemudian hilanglah kewibawaan Ka’bah dari hati kaum Muslimin,” lalu Khalifah Harun ar Rasyid pun menggagalkan rencana tersebut.

Kelima : yang terjadi keraguan serta perselisihan pendapat di dalamnya, yaitu sebelum masa Nabi Ibrahim As. Ada beberapa riwayat yang mengatakan bahwa Ka'bah dibangun pertama kali oleh Nabi Adam As menurut hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi bahwa Allah Swt mengutus Malaikat Jibril kepada Adam dan Hawa untuk membangunkan sebuah rumah untuk-Nya, maka setelah mereka berdua membangunnya, Allah Swt. mewayuhkan untuk berthawaf disekelilingnya. Dikatakan kepadanya bahwa kamu (Nabi Adam As) adalah manusia pertama dan inilah rumah pertama bagi manusia (Ka'bah), namum hadist ini dhaif.

Ada juga riwayat hadits yang menyatakan bahwa orang yang pertama kali membangun Ka'bah adalah Nabi Syit.
Maka dari itu total keseluruhan dari pembangunan serta renovasi Ka'bah ada 5 kali jika dijumlah dengan pendapat yang paling akhir.

3. Kebijaksanaan Rasulullah Saw. dalam mengatasi suatu perkara dan menyelesaikan perselisihan.

4. Martabat tinggi yang dimiliki oleh Rasulullah Saw.di antara para pemuka Quraisy, dan diberi nama panggilan Al-Amin yang artinya terpercaya diantara mereka.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo
Sumber: Fiqhu Sirah karya Syekh Ramadhan al-Buthi
Reading Time:

Jumat, 20 Desember 2019

Pernikahan Rasulullah Saw. dengan Khadijah Ra. dan Bantahan Terhadap Orientalis
12.19.000 Comments
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Atsir dan Ibnu Hisyam, Khadijah ra. adalah seorang saudagar wanita yang kaya raya dan terpandang. Sebagian pedagang Arab ketika itu yang meniagakan hartanya, dan Khadijah memberi sebagian keuntungan sebagai imbalan.

Doc. Google

Mendengar kejujuran dan keluhuran akhlak Rasulullah Saw. Khadijah pun langsung mengirim pembantunya untuk meminta Muhammad berdagang ke Syam. Singkat cerita, jumlah harta (dagangan)  yang dititipkan Kahdijah ra. Kepada Rasulullah Saw. melebihi jumlah yang biasa dititipkan kepada pedagang lain. Belum lagi yang dititipkan kepada Maisarah, sealah seorang pembantu Khadijah yang diminta untuk menemani Rasulullah Saw.

Dengan senang hati, Rasulullah menerima tawaran Khadijah. Ditemani Maisarah, beliau pun berangkat ke Syam untuk memperdagangkan harta Khadijah. Seperti yang sudah diduga, Rasulullah berhasil menjual dagangan Khadijah dengan baik dan kembali ke Makkah membawa keuntungan yang berlipta ganda.

Setibanya di Makkah, Maisarah menceritakan semua kelebihan Muhammad Saw. di hadapan majikannya, Khadijah. Khadijah sangat mengagumi keamanahan Rasulullah Saw. dan dia merasa bahwa Rasulullah membawa keberkahan bagi dirinya (hartanya). Maka Khadijah mengutus Nafisah binti Maniyyah untuk menyampaikan pesan kepada keluarga Muhammad Saw, bahwa ia menawarkan diri untuk diperistri olehnya. Singkat cerita, Rasulullah pun menerima. Ketersedian beliau disampaikan melalui paman beliau, maka paman Rasulullah yang bernama Amru bin Asad menkhitbah Khadijah untuk Rasulullah Saw. Lantas menikahlah Rasullulah Saw. dengan Sayyidah Khadijah dalam usia beliau 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Khadijah sudah pernah menikah. Suami pertamanya bernama Atiq bin Aidz At-Tamimi, dan setelahnya Abu Halah At-Tamimi atau Hind bin Zararah.

Renungan:
Perdagangan Rasulullah dengan harta Khadijah adalah rangkaian pencarian nafkah, melanjutkan pengembalaan domba yang pernah dimulai oleh beliau. Adapun hikmah di balik itu semua sudah dijelaskan  kedudukan yang sangat istimewa di artikel sebelumnya (Hikmah di balik pengembalaan domba Rasulullah Saw) http://www.ikpmkairo.com/2019/12/hikmah-di-balik-pengembalaan-domba.html?m=1

Kedudukan Khadijah di kehidupan RasulullahSaw.

Doc. Google

Dalam Shahihaini, Khadijah ditetapkan sebagai wanita terbaik sepanjang sejarah/zaman. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Ali pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Sebaik-baik perempuannya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik permepuannya adalah Khadijah binti Khuawailid.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah ra. Bahwa ia berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada isteri-isteri Nabi Saw. Melebihi cemburuku kepada Khadijah ra. Padahal, aku tidak pernah melihatnya. Dan dia berkata, jika Rasulullah menyembelih seekor kambing, beliau berkata, ‘Bagikan dagingnya kepada saudara-saudara Khadijah.’ Aisyah berkata lagi, suatu hari aku pernah marah (kesal) kepada Rasulullah, ‘Khadijah!?’ Maka Rasulullah menjawab ‘Sesungguhnya aku telah diberi karunia berupa cinta kepadanya.’” (Muttafaqun alaihi)

Imam Ahmad dan Al-Thabrani meriwayatkan dari jalur Masruq dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Saw. Hampir tidak pernah keluar meninggalkan rumah kecuali setelah menyebut nama Khadijah sambil memuji-mujinya. Suatu hari aku pernah menyebut nama Khadijah. Karena cemburu, aku langsung menukas, ‘Bukankah dia hanya seorang wanita tua, dan Allah telah telah menggantinya dengan orang lebih baik darinya? Rasulullah Saw. Marah. Beliau bersabda, ‘Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika semua orang kufur. Dia mempercayaiku ketika semua orang dusta. Dia membantuku dengan hartanya ketika semua orang menolak untuk membantuku. Dan Allah telah menganugerahiku keturunan melalui dia, bukan dari isteriku yang lain.’"

Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah menegaskan beberapa hal penting. Utamanya, Rasulullah Saw. bukanlah pemuja kesenangan jasmani maupun harta. Andaikata Rasulullah seperti itu, sebagaimana para pemuda Quraisy kala itu, tentu beliau akan mencari istri yang lebih muda dari Khadijah atau setidaknya bukan perempuan yang lebih tua dari beliau.

Rasulullah begitu mencintai Khadijah bukan karena penampilan fisik atau hartanya, melainkan karena kemuliaannya sebagai seorang perempuan Quraisy dan kedudukannya yang terpandang di kalangan kaumnya.

Tidaklah keliru jika Khdijah diijuluki Al-Afifah Al-Thahirah. Pernikahan Rasulullah dan Khadijah langgeng sampai Khadijah dijemput ajal dalam usia 65 tahun. Adapun Rasulullah kala itu berusia 50 tahun. Sepanjang hidup berumah tangga dengan Khadijah, tak sedikit pun terbesit niat Rasulullah Saw. untuk menikahi perempuan lain. Padahal dalam rentang waktu usia 20 samapi 50 tahun, seorang laki-laki memilki kecenderungan menyukai wanita dan beristeri lebih dari satu.

Tetapi Rasulullah mempu melampaui kecenderungan teresebut. Tak ada pikiran untuk memadu Khadijah dengan wanita lain, baik dari kelangan mereka maupun dari hamba sahaya. Kalau saja Rasulullah berkeinginan, bisa saja dengan mudah mendapatan istri. Tak perlu merasa aneh karena pada saat itu, laki-laki dewasa banyak yang beristri lebih dari satu. Lebih hebat lagi, Rasulullah justru lebih memilih menikah dengan Khadiah, seorang janda.

Kenyataan ini mematahkan semu tuduhan palsu yang dilontarkan mereka yang membenci Islam, baik dari kalangan orientalis maupun antek-anteknya. Sebagaimana difirmankan Allah Swt, mereka adalah orang-orang yang “berteriak-teriak kepada binatang hanya akan mendengar penggilan dan seruan belaka.”

Telah diketahui bahwa, oreintalis selalu berusaha membengkokkan ajaran Islam. Dari waktu ke waktu, mereka menghina Islam sambil meraup dolar. Begitupula Antek-anteknya yang juga menyerang Islam dangan membabibuta. Apapun yang mereka lakukan akan sia-sia; serangan yang mereka lancarkan hanyalah seperti sebuah lebel yang direkatkan di dada agar semua orang mengetahui di pihak siapa mereka sesungguhnya berada, dengan melihat lebel itu saja, sebenarnya semua orang mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak pantas angkat bicara soal sejarah Islam. Hal tu disebabkan, mereka menghamba pada pemikiran penjajah dari kalangan orientalis.

Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah merupakan salah satu bagian paling mudah untuk dijadikan bukti kebenaran Rasulullah bagi siapapun yang mengaku muslim dan memahami agamanya dengan benar, dan mau mempelajari sirah nabawiyah dengan tulus, bukan seperti yang dilakukan para musuh muslim.

Mereka selalu berusaha mengggambarkan Rasulullah sebagai laki-laki yang haus akan seks dan pemuja kenikmatan jasmani belaka. Padahal, pernikahan Rasulullah Saw. dengan Khadijah ra. berbanding terbalik dengan hal yang dituduhkan para musuh Allah itu. Seorang pelaku seks tidak akan sanggup menjaga kehormatan diri sampai usia 25 tahun di tengah segala bentuk kajahatan dan kebejatan moral kaum Jahiliyah Arab pada saat itu.

Di lingkungan yang tidak kondusif seperti itu, pasti seorang pelaku seks akan langsung tenggelam dalam kubangan dekadesi moral yang mengelilinginya. Laki-laki pemuja seks tidak akan mau menikahi janda, apalagi usia sang istri hampir dua kali lebih tua. Kalaupun ada, mungkin ia masih melirik pintu untuk melakukan perselingkuhan terbuka sangat lebar, tetapi itu tidak dilakukan Rasulullah Saw.

Adapun pernikahan Rasulullah setelah ditinggal Khadijah, baik dengan Aisyah maupun dengan istri-istri yang lain, memiliki latar belakang sendiri-sendiri. Dengan memahami hikmah di balik itu semua, kepercayaan umat Islam akan keagungan pribadi Rasulullah dan keluhuran budi pekerti beliau akan semakin bertambah. Yang jelas, pernikahan beliau itu bukanlah ajang melampiaskan nafsu belaka karena jika hal itu yang menjadi alasan beliau untuk melakukan poligami, seharusnya itu dilakukan ketika masih muda. Apalagi ketika masih muda nan perkasa, Rasulullah belum disibukkan dengan urusan dakwah.

Menurut kami, pembelaan terhadap niat baik pernikahan Rasulullah tak perlu dibuat berkepanjangan, sebab umat Islam sediri tidak pernah menganggap pernikahan beliau sebagai masalah besar yang harus dicari-cari aibnya. Semua perdebatan dalam masalah ini sebenarnya memuat berbagai tuduhan musuh-musuh Islam saja. Berapa banyak usaha musuh-musuh Islam untuk menyangkal kebenaran agama ini. Strateginya menjadikan kita bersilang pendapat dan menghabiskan energi untuk berdebat.

Tim Kajian Arrazi IKPM Cabang Kairo
Sumber: Fiqhu Sirah Karya Syekh Ramadhan al-Buthi
Reading Time:

Jumat, 13 Desember 2019

Hikmah di Balik Pengembalaan Domba Rasulullah Saw.
17.45.000 Comments
Selain perniagaan Rasulullah Saw. ke Syam yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup,  Rasulullah Saw. juga mengembala domba sebelum itu. Adapun penggembalaan domba Rasulullah Saw. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terdapat tiga hikmah yang terkait:

Doc. Google

1. Allah Swt. menghiasi Rasulullah Saw. dengan nurani dan naluri yang kuat. Abu Thalib menjaganya dengan penjagaan yang sempurna, ia menyayangi Nabi Muhammad saw. seperti ayah kandungnya. Namun Nabi Muhammad Saw. berusaha untuk meringankan semampunya beban ekonomi pamannya dengan membantunya berniaga dan menggembala domba.

Mungkin saja dengan membantu pamannya berniaga dan menggembala domba yang Allah pilihkan untuk Nabi Muhammad Saw. hanya berbuah sedikit saja daripada apa yang Abu Thalib lakukan. Namun dalam segi akhlak, merupakan usaha meningkatkan kesyukuran, berusaha keras, dan berbakti dalam muamalah.

2. Menggembala domba dikategorikan dengan penjelasan suatu bidang kehidupan yang Allah ta’ala ridhoi bagi hamba-Nya yang shaleh di dunia. Merupakan hal yang mudah atas kuasa Allah menyediakannya untuk Nabi Saw, Namun hikmah Ilahiyyah bagi kita agar mengetahui bahwa sebaik-baiknya harta seseorang yang dia raup dengan tangan kanannya dan mendapatkan hasilnya dari pekerjaannya untuk masyarakat dan kaumnya, dan seburuk-buruknya harta seseorang adalah yang ia dapatkan dari orang lain tanpa melakukan usaha dan jerih payah, juga tanpa pengorbanan dan manfaat bagi masyarakatnya.

3. Sesungguhnya seorang pendakwah tidak ada nilainya dalam masyarakat jika pekerjaan dan hartanya dari hasil dakwah atau hasil dari pemberian orang lain dan sedekah mereka. Begitupun seorang pendakwah Islam menyuruh manusia agar mendapatkan kehidupannya dari hasil usaha pribadi, sehingga tidak terjadi saling keterbalasan karena dunia. Karena pendakwah menyampaikan kebenaran bukan untuk mendapatkan bagian dari dunia.

Maknanya, selain apa yang Rasulullah Saw. khawatirkan akan hal ini, Allah telah menyiapkan hikmah dan sudah dijelaskan bahwa Allah tidak menginginkan sesuatu dari kehidupan Rasululah Saw. sebelum diutus menjadi Rasul yang berpengaruh negatif terhadap dakwahnya setelah diutus. Dalam kisah yang diceritakan Nabi Saw. tentang dirinya bahwa Allah menjaganya dari segala keburukan sejak ia kecil dan remaja, yang menerangkan kepada kita dua hakikat yang sangat penting:

Pertama, Sesungguhnya Rasulullah Saw. menjalani kehidupan seperti manusia biasa lainnya. Kedua, Allah menjaga Rasulullah Saw. dari segala bentuk penyimpangan.

Tim Kajian Sirah, Arrazi IKPM Cabang Kairo
Sumber: Kitab Fiqhu Sirah karya Syekh Ramadhan al-Buthi
Reading Time:

Senin, 09 Desember 2019

Hadapi Ujian Termin Satu, IKPM Resmi Tutup Sementara Kegiatan
20.52.000 Comments

Doc. Suasana Penutupan Kegiatan IKPM Cabang Kairo jelang ujian termin satu di Aula KEMASS, Hayy Asyir (8/12)


IKPM Kairo - Menjelang ujian termin 1, IKPM Cabang Kairo menutup sementara setiap rentetan kegiatan. Penutupan ini diadakan di aula KEMASS, Hay Asyir (8/12).

Acara yang dipandu oleh Ibnu Farhan Istiqlal ini tepat dibuka seusai sholat isya' pada 18.30 clt dengan khidmat. Dalam acara ini, pihak IKPM mengundang salah satu Ulama Azhar, Syaikh Ahmad Mahmud untuk menyampaikan beberapa pesan teruntuk warga IKPM Cab. Kairo.
Syaikh Ahmad Mahmud sedang menyampaikan pesan menjelang ujian termin satu


Diantara kalimat yang disampaikan oleh Syaikh Ahmad, "Ilmu adalah yang mendekatkanmu dengan Allah." Beliau berpesan agar disaat perjuangan dan jihad menuntut ilmu, kita senantiasa tidak melupakan Sang Pemilik Ilmu.

Di penghujung acara, Abdurrahman Rasyid Ihsanuddin membacakan surat keputusan penutupan kegiatan IKPM pada pukul 20.55 sekaligus menutup acara.

Rep. Farrah ND
Red. Rahmadi P
Reading Time:

Jumat, 06 Desember 2019

Perniagaan Pertama Rasulullah Saw. ke Syam dan Pertemuannya dengan Bahira
11.35.000 Comments
Ketika berusia 12 tahun, Nabi Muhammad Saw. (Saat itu belum menjadi Nabi) diajak oleh pamannya, Abu Thalib untuk berdagang ke Syam. Dalam sebagian riwayat, Nabi Muhammad Saw. lah yang berkeinginan untuk ikut pergi bersama pamannya. Abu Thalib tak kuasa meninggalkannya dan berkata, “Demi Allah aku harus membawanya pergi bersamaku. Jangan sampai ia berpisah denganku.” Ia lalu mengangkat tubuh Nabi Muhammad Saw. dan mendudukkannya di atas hewan tunggangan.

Doc. Google

Kafilah dagang dari Quraisy pun menempuh perjalanan darat menuju Syam. Ketika kafilah mereka sampai di Bushra, sebuah kawasan antara Syam dan Hijaz, mereka bertemu dengan seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah orang yang paling tahu tentang Nasrani. 
Pada tahun itu kafilah dagang Abu Thalib melewati Bahira seperti biasanya. Tapi tak seperti tahun-tahun sebelumnya—dimana Bahira enggan berbicara pada mereka-. Tahun ini amat jauh berbeda, ia menjamu kafilah dagang Quraisy dengan makanan yang banyak. Menurut sebagian ulama, Bahira melakukan itu lantaran ia melihat Nabi Muhammad bersama kafilah dagang Abu Thalib, dan awan menaungi beliau diantara mereka. Mereka berhenti di bawah pohon rindang dekat Bahira. Ia melihat ranting-ranting pohon merunduk luluh menaungi Rasulullah Saw.

Bahira berkata,”Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua ikut hadir.” Lalu mereka hadir ke rumah ibadah Bahira, kecuali mereka tinggalkan Rasulullah Saw. Tetapi Bahira kembali berkata-mengingatkan, ”Aku ingatkan untuk semua orang hadir dalam jamuan ini.” Setelah itu Bahira datang menemui Rasulullah Saw, mendekapnya dan menundukannya bersama rombongan. Bahira memperhatikan Rasulullah Saw. dengan teliti untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kita-kitab suci terdahulu.

Dari hasil penglihatannya, ia dapatkan sifat kenabian pada Rasulullah Saw. ketika itu. Tatkala mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar. Sementara Bahira mendekati Rasulullah Saw (pada saat itu belum menjadi Nabi) dan bertanya, “Wahai anak muda, dengan menyebut al-Lata dan Uzza aku menanyakan pada engkau dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku." Bahira mengatakan demikian karena Bahira mendengar bahwa kaum Quraisy bersumpah dengan Latta dan Uzza.

Ada yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. menjawab “Janganlah sekali-kali engkau bertanya dengan menyebut nama mereka. Demi Allah tak ada yang aku benci selain mereka.” Lalu Bahira bersumpah dengan nama Allah, “Demi Allah…” dan beliau Saw. mempersilahkan Bahira bertanya. Satu persatu pertanyaan Bahira beliau jawab, dan setiap jawabannya sesuai dengan pengetahuan Bahira perihal kenabian. Kemudian Bahira melihat punggung Rasulullah Saw. dan ia melihat tanda kenabian diantara kedua pundaknya (tanda kenabian Rasulullah Saw. seperti bekas bekam), lalu ia mencium tanda itu.

Setelah itu, Bahira bertanya kepada Abu Thalib, “Apakah anak muda ini anakmu?”
“Ya, Benar” jawab Abu Thalib (Abu Thalib menganggap Nabi Muhammad Saw. anaknya karena besarnya cintanya dengan Nabi Muhammad).
“Tidak!” Bahira melanjutkan, “dia bukanlah anakmu. Anak muda ini sepatutnya tidak memiliki ayah yang masih hidup.”
“Ia dia adalah anak saudaraku.” kata Abu Thalib
“Katakan padaku apa yang dilakukan ayahnya?” tanya Bahira.
“Dia telah meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya.” Bahira berkata, “Anda benar, pulang ke negerimu dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya disini, pasti akan dijahatinya Sesungguhnya anak saudaramu akan menjadi orang besar. Kemudian Abu Thalib dengan cepat membawa Nabi Muhammad remaja kembali ke Makkah, dan menjaganya.

Keterangan:
QS. Al-Baqarah [2] : 146

“Orang-orang yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”

Perkataan Bahira tentang Rasulullah Saw. adalah hadits yang diriwayatkan oleh ulama sirah pada umumnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadits Abu Musa al-Asy’ari bahwasannya para ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani mempunyai pengetahuan atas diutusnya Nabi Saw dan pengetahuan tentang tanda-tanda kenabian. Itu telah tertulis di dalam kitab Taurat dan Injil dengan kabar diutusnya Rasulullah Saw. penjelasan bukti-buktinya, dan sifat-sifatnya.


Tim Kajian Sirah, Arrazi IKPM Cabang Kairo
Sumber: Kitab Fiqhu Sirah karya Syekh Ramadhan al-Buthi
Reading Time: