IKPM KAIRO

Jumat, 09 April 2021

Pembebasan Makkah (5): Abu Sufyan dan Upaya Negoisasi
17.40.000 Comments

 


Lewat sepuluh hari tepatnya setelah Ashar pada hari Rabu di bulan Ramadhan pada tahun 8 H. Rasulullah Saw. meninggalkan Madinah, beranjak pergi ke Mekah bersama sepuluh ribu sahabat yang siap untuk perang melawan kaum Quraisy. Rasulullah Saw. mengirim surat ke beberapa kabilah-kabilah Arab disekitar Madinah seperti kabilah Aslam, Ghifari, Mazinah, Juhainah dan sebagainya. Mereka semua bertemu di Zhahran, sebuah tempat yang terletak antara Madinah dan Mekah. Berita mengenai hal itu belum sampai di telinga para pembesar Quraisy.


Setelah gagalnya Abu Sufyan untuk mendapatkan informasi. Quraisy kembali mengirim Abu Sufyan, Hakim bin Hazam, Budail bin Warqa, untuk mencari informasi mengenai  Rasulullah Saw.. Ketika rombongan Rasulullah Saw. sampai di Zhahran, Abu Sufyan melihat sekelompok orang sedang menyalakan api unggun yang besar. Mereka pun bertanya-tanya apa yang terjadi mengapa mereka menyalakan api begitu besar. Pada saat itulah Abu Sufyan pun ketahuan oleh kelompok para sahabat dan pada saat itu Abu Sufyan menyatakan keislamannya


Riwayat Ibnu Ishaq mengatakan secara terperinci tentang keislaman Abu Sufyan. Rasulullah Saw. berkata kepada Abu Sufyan, Celakalah engkau, wahai Abu Sufyan. Belumkah datang waktumu untuk mengakui tidak ada sesembahan selain Allah Swt.?


Abu Sufyan menjawab, Demi ayah dan ibuku, alangkah penyantunnya engkau.  Alangkah pemurahnya engkau. Dan engkau adalah makhluk yang paling giat menyambung tali silahturahmi. Demi Allah, kukira jika tuhan selain Allah, Dia saja yang akan mencukupi segala keperluanku.


Rasulullah Saw. bersabda, Celakalah engkau, wahai Abu Sufyan. Belumkah datang waktumu mengakui bahwa diriku adalah utusan Allah?


Abu Sufyan menjawab, Demi ayah dan ibuku, alangkah penyantunnya engkau. Alangkah pemurahnya engkau. Dan engkau adalah makhluk yang paling giat menyambung tali silahturahmi. Demi Allah, dalam diri ini masih ada sesuatu yang membuatku ragu.


Abbas pun menukas, Celakalah engkau! Masuklah engkau ke dalam Islam dan bersaksilah bahwa tidak ada sesembahan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, sebelum lehermu dipenggal.


Maka Abu Sufyan mengucapkan dua kalimat syahdat yang menandakan bahwa dia memeluk Islam. Abbas pun berkata, Aku mengusulkan kepada Rasulullah Saw., bahwa Abu Sufyan adalah orang yang senang sekali disanjung-sanjung maka berilah dia kedudukan.


Rasulullah Saw. mengiyakan, Baiklah, barang siapa masuk rumah Abu Sufyan, maka dia aman. Barang siapa yang menutup pintu, maka dia aman. Barang siapa memasuki masjidi-l- haram, maka dia pun aman.


Islamnya Abu Sufyan memberikan pengaruh besar terhadap keislaman orang Mekah karena Abu Sufyan dikenal sebagai pria yang tangguh dan membela tanah kelahiran. Maka banyak dari penduduk Mekah yang memeluk Islam. Dan Rasulullah Saw. pun menyatakan barangsiapa yang berlindung di dalam rumah Abu Sufyan maka dia akan aman. Karena, banyaknya orang yang masuk islam membuat perang tidak jadi dilakukan. Ini salah satu hikmah dari islamnya Abu Sufyan.


Satu riwayat menyatakan bahwa kaum Anshar ramai memperbincangkan keislaman Abu Sufyan, Aku tahu betul lelaki itu begitu mencintai kampung halamannya dan keluarganya. Banyak yang menyatakan Islamnya, juga banyak yang mencemooh Islamnya apalagi sebelumnya Abu Sufyan masih ada keraguan atas kenabian Muhammad Saw., namun berita ini segera sirna dimakan zaman karena pada hakikatnya Abu Sufyan Islam atas kemauannya sendiri.


Tim Kajian Arrazi IKPM Cabang Kairo
Reading Time:
Pembebasan Makkah (4): Strategi Mobilisasi Pembebasan Makkah
17.36.000 Comments

 

Setelah kejadian sebelumnya Rasulullah  bersiap-siap untuk perang pada suatu malam. Aisyah binti Abu Bakar bertanya akan kemanakah target perang Rasullulah Saw., Rasul menjawab akan berperang menuju Mekah dan meminta untuk merahasiakan target peperangan ini. Patuhnya Aisyah Ra. kepada perintah Rasulullah Saw. sebagai suaminya menunjukan kita bagaimana kewajiban seorang istri untuk mematuhi segala perintah suami karena pada hakikatnya setelah menikah maka surga istri berada di telapak kaki suami maka sepatutnya bagi seorang istri untuk mematuhi perintah suami.


Sampai Abu Bakar bertanya kepada Aisyah Ra., tidak dijawab, yang notabene Abu Bakar adalah ayah kandung Aisyah Ra. Hingga Abu Bakar bertanya langsung pada Rasulullah Saw., Wahai Rasul Allah apakah engkau akan berperang? Rasulullah Saw. menjawab, Iya. lalu Abu Bakar Ra. bertanya lagi, Kemanakah target perang kali ini? Rasulullah Saw. menjawab, Target perang kali ini adalah Mekah. Dan ada beberapa  dari sahabat Badr yang mendengar pernyataan ini.


Rasulullah Saw. menyuruh untuk bersiap-siap dan ketika itu langsung terkumpul 7500 pasukan perang. Rasulullah Saw. pun bersabda Ya Allah buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar ini, sehingga aku seperti datang di sana secara tiba- tiba.


Perkara Pembocoran Kabar

Namun salah satu dari sahabat Badr yang mendengar pernyataan ini, Hathib bin Abi Baltaah ingin memberi tahu kabar persiapan Rasul ke Mekah untuk perang melalui wanita yang di utus Hathib bin Abi Baltaah. Mendengar kabar ini Rasulullah Saw. mengutus Ali bin Abi Thalib dan Zubair mengejar wanita yang diutus Hathib bin Abi Baltaah. Segeralah pergi hingga kalian tiba di Rudhah Khakh. Di sana ada seorang wanita yang membawa selembar surat yang di tujukan kepada Quraisy.


Maka keduanya berangkat memacu kudanya hingga tiba di Rudhah Khakh. Mereka akhirnnya berhasil mengejar wanita tersebut dan mereka memintanya berhenti.


Mereka memeriksa hewan tunggangannya, namun tidak mendapatkan apa yang dicari. Ali berkata, Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah Saw. tak mungkin berbohong, begitu pula kami. Demi Allah engkau keluarkan surat itu.


Setelah tahu kesunggguhan Ali Ra., maka wanita itu berkata Kalau begitu berpalinglah dariku!


Mereka berdua memalingkan pandangan mereka, lalu wanita itu melepaskan gelungan rambutnya dan mengeluarkan sepucuk surat, kemudian menyerahkannya kepada mereka berdua. Dan langsung memberikanya kepada Rasulullah Saw., lalu Rasulullah Saw. memanggil Hathib bin Abi Baltaah seraya bertanya, Wahai Hathib! Apa yang telah engkau lakukan?


Jangan terburu menuduhku ya Rasulullah. Demi Allah, aku adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah seorang anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku mempunyai keluarga, kerabat, dan anak. Sementara itu tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Karena itu aku ingin sedikit berjasa pada Quraisy, sehingga ada yang bisa melindungi keluargaku di sana.


Rasulullah Saw. bersabda, Sungguh dia sudah berkata jujur, dan Umar berkata, Wahai Rasulullah biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasulnya serta bersikap munafik.


Rasulullah Saw. menjawab, Sesungguhya dia pernah ikut dalam perang Badr. Lalu bagaimana engkau bisa mengetahui hal itu wahai Umar? Boleh jadi Allah telah mengetahui isi hati orang-orang yang ikut dalam perang Badr. Lalu beliau kembali bersabda, Berbuatlah sesuka kalian, karena kesalahan kalian sudah diampuni.


Dari kisah Hathib bin Abi Baltaah ini turunlah wahyu Allah SWT yang berbunyi: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku danm sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita- berita  Muhammad),  karena  rasa  kasih  sayang;  padahal  mereka  telah  ingkar  kepada kebenaran  yang  disampaikan  kepadamu.  Mereka  mengusir  Rasul  dan  kamu  sendiri karena kamu beriman kepada Allah Swt.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo




Reading Time:
Sambut Maba, IKPM Kairo adakan ORKABA
09.22.000 Comments


Setelah diadakannya ORKABA (Orientasi Kader Bangsa) indoor bagi mahasiswa baru Rabu (7/04), acara ini dilanjutkan dengan ORKABA outdoor yang diadakan di hadiqoh Azhar.


Berbeda dengan ORKABA indoor yang membahas tentang bagaimana dinamika masisir dan sebagainya,  ORKABA outdoor ini lebih menekankan ke arah pengenalan kegiatan ekstrakurikuler dibawah naungan IKPM yang dikemas dalam permainan permainan yang atraktif.


Selain pengenalan ekstrakurikuler, acara ini diikuti beberapa lomba antar kelompok guna meningkatkan solidaritas, dan mengenal satu sama lain.


Rentetan kegiatan ORKABA ini bertujuan untuk merajut ukhuwwah islamiyyah, membumikan uswatun hasanah, dan  menjadi azhari yang kaffah.


Sebagai ketua ORKABA, Rafif berharap agar para mahasiswa baru dapat menjadi suri tauladan untuk yang lainnya dan tidak salah melangkah dalam kehidupan sebagai seorang masisir di negri kinanah ini.


Acara ditutup dengan sholat maghrib berjama’ah dan pembagian hadiah kepada kelompok terbaik dan teraktif.

Rep : Mim Maulana
Red : Haya 

Reading Time:

Jumat, 02 April 2021

Pembebasan Makkah (3): Kekhawatiran Quraisy Atas Pelanggaran Kalusul
13.22.000 Comments


Berangkatnya Abu Sufyan ke Madinah dengan maksud untuk memperbaiki perjanjian yang disepakati meperlihatkan tingkah laku kaum Quraisy yang sebenarnya, karena mereka tidak ingin Rasullah Saw. mengetahui apa yang telah terjadi di Mekah. Setelah mendapat informasi tentang pengkhianatan ini, Rasulullah Saw. memberitahukan kepada para sahabat, Sepertinya Abu Sufyan akan mendatangi kalian untuk membuat perjanjian lagi dan ingin memperpanjang temponya. Dan benar adanya, sesampainya di Madinah Abu Sufyan bertemu dengan Budail bin Warqa dan bertanya kepada Budail, Dari mana engkau wahai Budail? tanya Abu Sufyan.

Aku dan beberapa orang dari Khuzaah ini baru saja dari pesisir pantai dan perkampungan di lembah itu jawab Budail.


Karena Abu Sufyan merasa dibohongi oleh Budail maka Abu Sufyan mencari cara lain untuk mendapatkan informasi apakah Muhammad Saw. sudah mengetahui keadaan Mekah. Maka pergilah Abu Sufyan ke tempat putrinya yang tidak lain adalah istri dari Rasulullah Saw. yaitu Ummu Habibah, namun Abu Sufyan juga tidak mendapatkan informasi apapun dari anaknya. Abu Sufyan masih berusaha mencari informasi, bertanyalah Abu Sufyan kepada Abu Bakar as-Siddiq, Aku tidak sudi melakukannya.


Lalu ia pergi bertemu Umar bin Al-Khatab umar berkata, Layakkah aku meminta pertolongan bagi kalian kepada Rasullah Saw.? Demi Allah, kalaupun aku hanya mendapatkan semut yang memerangi kalian, tentu aku akan ikut mereka untuk memerangi kalian.


Abu Sufyan tak menyerah begitu saja. Abu Sufyan menemui Ali bin Abi Thalib beserta istri dan anaknya namun tidak ada jawaban juga atas pertanyaan Abu Sufyan. Maka dari sini Abu Sufyan sudah mulai menyerah untuk membujuk para sahabat agar membantunya. Abu Sufyan meminta saran kepada Ali bin Abi Thalib maka Ali menyarankan, Demi Allah aku tidak melihat lagi sesuatu pun yang berguna bagimu. Bukankah engkau pemimpin Suku Kinanah? Bangkitlah dan berilah perlindungan di antara orang-orang kemudian pulanglah ke tempatmu.


Maka dengan saran yang diberikah Ali bin Abi Thalib pergilah Abu Sufyan bertemu Rasulullah Saw. yang berada di masjid dan merubah perjanjian secara sepihak. Bagaimana mungkin merubah perjanjian seorang diri di depan para sahabat dan pada saat itu Rasulullah Saw. sudah mengetahui apa yang sedang terjadi di Mekah. Dengan kejadian ini maka Abu Sufyan bertolak ke Mekah dengan tangan kosong, tidak ada jalan lain selain perang.


Tim Kajian Arrazi IKPM Cabang Kairo

Reading Time:
Pembebasan Makkah (2): Pengkhianatan Klausul Genjatan Senjata
13.18.000 Comments


Sebelum kita membahas peristiwa Fathu Makkah ada baiknya jika kita mengetahui penyebab terjadinya peristiwa ini. Dalam suku-suku Arab yang tinggal berdampingan dengan suku Quraisy, Terdapat dua suku yang selalu berseteru. Keduanya adalah suku Bakr dan suku Khuzaah. Setiap peperangan antara dua suku tersebut, suku Bakr selalu kalah dari suku Khuzaah, yang mana adalah kaum penggembala tapi mereka adalah kesatria-kesatria hebat di medan tempur, pemanah-pemanah ulung, serta orang- orang yang sangat kuat.

Maka ketika perjanjian Hudaibiah ditetapkan, suku Bakr memilih untuk bersekutu dengan Quraisy, berharap dengan bergabungnya mereka dengan Quraisy dapat membawa kemenangan melawan Khuzaah. Mereka mengira kaum Quraisy akan berkuasa setelah perjanjian tersebut dan akan memegang kemenangan. Dan apa yang dipilih Khuzaah adalah sebaliknya karena dakwah Islam sudah menyebar di tengah- tengah suku Khuzaah dan sebagian besar dari mereka telah memeluk ajaran Islam, suku Khuzaah memutuskan untuk bersekutu dengan umat muslim di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.


Perjanjian  Hudaibiah  harus  dijalankan  oleh  kedua  belah  pihak  beserta  para sekutunya.  Namun  semuanya  berbalik  pengkhianatan  ketika  Naufal  bin  Muawiyah  ad- Daili   –pimpinan   suku   Bakr-   merasa   tak   nyaman   dengan   perjanjian   tersebut.   Rasa dendamnya  amat  besar  terhadap  suku  Khuzaah.  Padahal  di  antara  perjanjian  tersebut adalah  adanya  gencatan  senjata  selama  10  tahun  antara  kedua  belah  pihak.  Saat  itu Naufal   memprovokasi   para   tokoh  Quraisy   untuk   melakukan pengkhianatan.  


Para pembesar ada yang menolak ide gila itu, mereka menyebutkan bahwa suatu kehinaan bila Quraisy    berkhianat.    Namun    beberapa    dari    tokoh    muda    Quraisy    menyetujui pengkhianatan tersebut.


Suku Bakr mengerahkan pasukan intinya dengan didukung oleh Quraisy. Terjadilah pembantaian malam hari dipimpin langsung oleh Naufal bin Muawiyah ad- Daili yang dibantu persenjataan dari kaum Quraisy dan bahkan beberapa dari orang Quraisy juga ikut berperang membantu Suku Bakr. Khuzaah terdesak hingga ke tanah suci. Sesampainya disana, orang-orang dari Suku Bakr mengingatkan, Wahai Naufal! Kita sudah memasuki tanah suci.Ingatlah tuhanmu, tuhanmu! dia menjawab dengan kata-kata yang tidak bisa dianggap enteng, Tidak ada tuhan hari ini. Wahai Suku Bakr lampiaskanlah dendam kalian! Demi Allah, kalau perlu kalian boleh mencuri di tanah suci. Apakah kalian tidak ingin melampiaskan dendam di tanah suci?. Suku Khuzaah berlindung di rumah Budail bin Warqa Al-KhuzaI, dirumah pembantunya yang bernama Rafi’1. Dalam pemabntaian ini memakan korban 20 laki-laki dari Suku Khuzaah.


Ketika terjadi pembantaian di malam hari seorang sahabat pergi ke Madinah untuk menyampaikan pesan bahwa terjadi pengkhianatan dalam bentuk sebuah syair dan Rasulullah paham isi dan maksud dari syair tersebut. Utusan tersebut bernama Amr bin Salim Al-KhuzaI, seorang penyair. Setelah terjadinya pengkhiantan ini, di Mekah para pembesar Quraisy segera mengadakan perkumpulan salah satunya Abdullah bin Abi Saad yang tidak lain adalah seorang munafik yang pernah diamanatkan sebagai penulis wahyu, tapi akhirnya dia murtad. Ia juga telah mengaku-ngaku telah mengganti teks Al- Quran ketikan masih dipercaya menjadi penulis wahyu. Pengakuan ini diklarifikasi langsung oleh Rasullah SAW bahwa apa yang di katakannya adalah dusta dan tidak benar.


Dengan dihadirinya Abdullah bin Abi Saad dalam perkumpulan itu, ia memberikan tiga pendapat yang kemungkinan terjadi setelah pengkhiantan tersebut di depan pembesar Quraisy untuk menyelesaikan pengkhianatan ini, yaitu:


Membayar diyat untuk korban pembantaian (orang Quraisy pun menolak pilihan ini karena melihat banyak korban yang berjatuhan dan melihat kondisi Makkah pada saat itu bisa saja suku Khuzaah meminta Mekah sebagai ganti dari diyat orang- orang yang meniggal ketika pembantaian).


Hukuman hanya untuk Suku Bakr, dan Quraisy pura-pura tidak tahu (orang Quraisy pun menolak pilihan ini karena ditakutkan tidak akan ada lagi yang ingin bersekutu dengan Quraisy).


Perang (hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelesaikan pengkhianatan ini).


Jalan satu-satunya adalah nomer ketiga, tapi melihat situasi dan kondisi Mekah saat itu tidak memungkinkan untuk mengumpulkan pasukan perang di mana harus terkumpul dengan cepat dan banyak karena pada hakikatnya pasukan perang Quraisy harus memiliki kesepakatan antara prajurit perang dengan Quraisy sebagai imbalan mereka atas keikut sertaanya dalam perang entah dalam bentuk materi atau non materi.


Hal yang terkait dengan gencatan senjata dan pelanggarannya; Terjadinyapenaklukan kota Mekah didasarkan karena pengkhianatan yang dilakukan kaum Quraisy karena perjanjian yang telah dilanggar membuat gencatan senjata juga di hentikan pertanda perang akan dimulai.

Jalan yang ditempuh Rasulullah Saw. bertujuan ke Mekah. Sebagai seorang imam dan pemimpin kaum muslimin, beliau memutuskan untuk memerangi pihak yang telah mengkhianati perjanjian gencatan senjata. Pada saat itu beliau berdoa, Ya Allah, cabutlah penglihatan kafir Quraisy hingga mereka tidak dapat melihatku, kecuali hanya sesaat.


Tim Kajian Arrazi IKPM Cabang Kairo
Reading Time: