IKPM KAIRO

Senin, 20 Mei 2019

Al-Azhar Al-Syarif; 1079 Tahun Perjalanan Eksistensinya
17.52.000 Comments

Doc. Buka bersama di masjid al Azhar di Milad ke-1079

Hiruk pikuk Ramadhan sore itu lain daripada biasanya. Lalu lalang ribuan orang dengan wajah khas masing-masing negara dapat kita temui saat itu. Sohn (lantai tengah masjid al-Azhar) tak lagi terlihat putih, lautan manusia yang akrab dalam cengkrama ukhuwah turut hangatkan suasana di kala suhu yang sudah memasuki musim panas. Selayang mata memandang, putih dengan sebagian merah warna peci kebesaran al-Azhar lah yang mampu terlihat di barisan panggung dan depan. Al-Azhar al-Syarif kembali ingatkan kita untuk kembali; kembali memahami al-Azhar dan tujuan kita untuknya.

1079 tahun, bukan angka yang sedikit. Selama itu pula al-Azhar telah berkiprah dalam dunia Islam umumnya dan Mesir khususnya sejak tahun berdirinya, 7 Ramadhan 361 H/ 21 Juni 672 M hingga saat ini, 7 Ramadhan 1440 H.

Sejarah telah menjadi saksi perjalanan al-Azhar. Masjid yang menjadi pusat kota Kairo pada Sabtu, 24 Jumadal  Ula 359 H (970 M) dibawah kendali Jauhar al-Shiqili saat kepemimpinan Mu’iz li Dinillah. Pada tanggal bersejarah itulah batu pertama masjid diletakan dan dimulai pembangunan masjid tersebut. Setelah 2 tahun 3 bulan selesai pembangunannya, pada 7 Ramadhan 361 H (972 M) al-Azhar diresmikan dengan ditandai Shalat Jum’at pertama. Bertolak dari catatan sejarah tersebutlah, usia al-Azhar hingga 1440 H/ 2019 M telah berkiprah selama 1079 tahun.

Pada masa Dinasti Fathimiyyah, al-Azhar menjadi masjid resmi bagi Daulah Fathimiyyah, mimbar resmi bagi dakwah keislaman serta rumus kerohanian. Bidang keilmuan pada masa tersebut hanya terfokuskan pada penyebaran madzhab Fathimiyyah (Syiah) dalam Fiqh, Falsafah, Tauhid, dan pelajaraan keagamaan lainnya. Adapun majelis ilmu pertama kali di Masjid al-Azhar diampu oleh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin al-Nu’man al-Qairuwani. Pelajaran yang diajarkan yaitu Fikih Syiah dengan memakai kitab al-Iqtisar. Majelis tersebut  diadakan pada bulan Safar 365 H/ 975 M.

Pengajaran madzhab Syiah Ismailiyyah terus berlanjut hingga berdirinya Daulah Ayyubiyyah di Mesir pada 567 H di bawah kepemimpinan Sholahuddin Yusuf bin Ayyub. Saat itulah madzhab Sunni menjadi madzhab resmi bagi Daulah Mesir menggantikan Syiah Ismailiyyah. Akan tetapi, pada masa ini al-Azhar tidak dipusatkan menjadi pusat pengkajian dan kelimuan untuk mengikis perlahan lahan penyebaran dan pengaruh Syiah yang tersisa. Sehingga pusat keilmuan dipusatkan ke berbagai madrasah yang dibangun pada masa Ayyubiyyah. Seperti Madrasah Naasiriyah, Qumhiyah, Suyufiyah, dan Salahiyah.

Roda kehidupan berputar, hingga tiba waktu di mana Daulah Mamalik  menggantikan Daulah Ayyubiyah dalam memimpin Mesir. Pada masa Mamalik ini al-Azhar mengalami masa keemasan dan kemajuan. Para raja dan amir saat itu sangat memperhatikan al-Azhar dari sisi pembangunan, pembaharuan dan kelimuan. Seperti halnya pasca gempa yang mengguncang Mesir, tahun 702 H/ 1302 M yang mengakibatkan beberapa bagian dari masjid al-Azhar jatuh dan memerlukan pembangunan ulang.

Begitula pada masa Daulah Utsmaniyyah. Masa kemajuan al-Azhar masih terasa saat itu, baik kemajuan kelimuan atau pembangunan dan pembaharuan. Yaitu termasuk pengaruh dari masa sebelumnya, Daulah Mamalik. Pintu al-Azhar selalu terbuka bagi para pelajar dari seluruh penjuru dunia sebagaimana al-Azhar yang berperan sebagai tempat perlindungan umat dalam menuntut ilmu. Merupakan salah satu keberkahan al-Azhar, Mesir mampu menjaga warisan turats kelimuan Islam sekitar 3 abad lamanya.

Selain dalam bidang keilmuan, Utsmaniyyah pun turut memperhatikan pembangunan infrastruktur al-Azhar dan pembaharuannya sebagaimana perhatiannya terhadap para pelajar di dalamnya. Pembangunan terbesar yang dilakukan pada masa Utsmaniyyah dilakukan pada masa kepemimpinan khalifah Abdurrahman Katkhuda tahun 1168 H/ 1753 M. Yaitu perluasan al-Azhar, meliputi ruwaq-ruwaq belakang mihrab; yang terdiri dari 50 tiang dari marmer/pualam.

Adapun pada masa penjajahan Prancis atas Mesir, al-Azhar mulai mengalami tantangan. Tentara Prancis memasuki Masjid al-Azhar dengan mengendarai kuda dan menyebar di sohn al-Azhar lalu membuat kerusakan di ruwaq-ruwaqnya, merobek buku-buku dan mushaf serta menginjaknya. Semua perbuatan mereka mengotori kesucian sebidang tanah Allah yang suci.

Pada masa kelam inilah, al-Azhar memegang peran yang signifikan dalam mempertahankan tanah air dari rampasan tangan penjajah. Al-azhar berperan sebagai pusat perlawanan dengan merancang starategi melalui tangan para ulama al-Azhar pada Revolusi Kairo yang pertama tahun 1213 H/ 1798 M dan yang kedua pada 1214 H/ 1800 M. Dalam beberapa peristiwa tersebut dan peristiwa yang belum mampu penulis sebutkan lagi, al-Azhar menjadi benih pertama dalam pergerakan warga Mesir dan pengumpulan mereka untuk membela tanah air.

Dengan ini, al-Azhar turut mendukung pergerakan kenegaraan Mesir dalam perlawanan penjajahan
Selama perjalanan itu pula, sistem belajar-mengajar di al-Azhar menggunakan sistem talaqqi dalam bentuk halaqah-halaqah ilmiah. Dimulai sejak Dinasti Fathimiyah menguasai Mesir, kurang lebih 3 tahun setelah diresmikannya Masjid al-Azhar sebagaimana yang telah dituliskan di atas. Walaupun kepemimpinan berganti dari satu daulah ke daulah yang lainnya, al-Azhar tetap bertahan dengan sistem belajar-mengajarnya tersebut.
Talaqqi dari waktu ke waktu, tidak lepas dari ruwaq yang merupakan tempat tinggal dan belajar pelajar al-Azhar dari berbagai negara. Ruwaq telah ada sejak Dinasti Fathimiyyah, namun baru menjadi sistem asrama untuk pelajar sejak  era Mamalik. Ruwaq tersebut diklasifikasikan berdasarkan melalui 3 hal, yaitu negara, madzhab dan campuran. Sehingga sampai kepada kita saat ini berbagai nama ruwaq sebagai tempat diadakannya talaqqi.

Adapun saat ini, ruwaq yang menjadi tempat tinggal para pelajar dari berbagai negara telah diganti dengan sistem asrama yang dikenal sebagai Madinah al-Bu’uts al-Islamiyyah.
Pembangun asrama tersebut dimulai pada tahun 1954 dan mulai ditempati pada 15 September 1989. Hingga saat ini, sebagian pelajar asing dari berbagai negara tinggal di Madinah al-Bu’uts al-Islamiyyah. Hal tersebut menunjukkan perhatian al-Azhar terhadap para pelajar asing yang menjadi duta negaranya di Mesir dan yang kelak menjadi duta al-Azhar ketika kembali.

Dalam kurun waktu lebih dari seribu tahun tersebut, al-Azhar al-Syarif telah mengalami berbagai perkembangan dan perubahan selama perjalanan keilmuan dan benteng pertahanan umat Islam dan Mesir. Adanya sebuah perubahan tersebut menandakan adanya pergerakan. Begitu pula al-Azhar, melalui pergerakannya terutama dalam bidang kelimuan dan pertahanan umat Islam dan Mesir menunjukkan eksistensinya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya bahwa kebermanfaatan sesuatu di bumi ini merupakan sebab dari eksistensinya. Sedangkan yang lainnya akan tersampingkan karena belum mampu memberi manfaat seiring berjalannya zaman. Itulah sunnatullah.

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat permumpamaan tentang yang benar dan bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan” (Q.S. Ar-Ra’ad : 17)

Ummu Maghfiroh

Reading Time:

Jumat, 10 Mei 2019

EKSISTENSI GONTOR DALAM MENCETAK KADER UMAT
21.59.000 Comments




Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan lembaga pendidikan pesantren yang telah berkiprah 90 tahun lebih sejak berdirinya. Lika-liku perjuangan dalam bidang pendidikan telah menghasilkan para alumni yang saat ini berkiprah di seluruh pelosok Indonesia, bahkan mancanegara. Nilai-nilai gontor serta jiwa kepondokmodernan yang menjadi identitas (shibghoh) Gontor harus terus dilestarikan dan dikawal sebagai regenerasi dan pengkaderan mundzirul qoum yang akan berkiprah di masyarakat nantinya.

Melalui dunia pendidikan itulah Gontor mengepakkan sayapnya menyiarkan kalimat Allah lewat kiprah para alumni yang telah ditempa dalam lingkup pondok. Di saat sebagian besar terbutakan oleh politik kekuasaan, Gontor tetap eksis dengan pendidkan sebagai politik tertingginya. Seperti yang disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam salah satu pidatonya, bahwa pendidikan merupakan politik substantif. Yaitu memperjuangkan kebenaran bukan kekuasaan yang menjadi tujuannya dengan mencetak generasi mundzirul qoum yang berani menyatakan kebenaran bukan hanya membenarkan kenyataan.

Seperti halnya Islam tak terlepas dari dasar dan sumber pedomannya yaitu al-Qur’an dan Sunnah, Gontor pun demikian. Syiar pendidikan Gontor telah berulang kali dibacakan dan diarahkan setiap tahunnya saat Pekan Perkenalan Khutbatu al-Arsy atau bahkan dalam berbagai pidato Bapak Pimpinan dan guru senior.Syiar tersebut  terangkum dalam Surah Al-Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (التوبة : 122)

 “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (Q.S. At-Taubah: 122)

Mereka yang memperdalam agama adalah investasi bagi umat Islam untuk mengingatkan masyarakat ketika kembali kepadanya. Akrab dalam pidato pak kyai dengan sebutan kader daerah. Melalui berjuang dalam bidang pendidikan, mendidik generasi penerus bangsa, perekat umat serta menjunjung tinggi kalimatillah. Itulah syiar Pondok Modern Darussalam Gontor dalam pendidikan.

Dengan mencetak kader-kader ulama yang intelek, bukan hanya intelek yang tau agama menjadi strategi apik dalam menghadapi tantangan zaman. Karena mundzirul qoum yang kembali pada umat tak cukup hanya sekedar ulama tanpa wawasan tentang keadaan yang dihadapi saat ini. Apalagi hanya sekedar seseorang yang tahu wawasan keadaan saat ini namun hanya tahu agama bukan ulama.

Begitu pula kurikulum pendidikan yang seratus persen ilmu agama dan seratus persen ilmu umum menunjukkan tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan umum. Disamping itu setiap dinamika kehidupan antara santri, guru dan kyai di dalamnya terdapat pendidikan mental karakter.



Pembentukan karakter, mental, serta penanaman nilai-nilai Gontor dibangun dan dikembangkan berlandaskan hidayah Allah, ketakwaan dan ketaatan untuk menggapai mardhatillah. Yaitu menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai fondasi utama Gontor. Seperti keyakinan kita bahwa langkah awal yang paling berkah adalah bismillah, proses paling aman dan menjanjikan adalah bersama Allah dan tujuan yang paling indah dicapai adalah ridha Allah. (K.H. Ahmad Suharto, Ayat-Ayat Perjuangan).

Seperti yang ditegaskan oleh Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) K.H. Hasan Abdullah Sahal, “Di atas PMDG hanya Allah, di bawah PMDG hanya tanah. Jasad melekat di bumi, tetapi jiwa berhubungan langsung dengan Yang di langit, di ‘Arsy, dengan segala resikonya.”

Melalui dasar yang kokoh itulah akan muncul serangkaian dinamika yang berporos pada jiwa dan nilai yang digagas pendiri pondok. Seperti sebuah pohon dengan akar kuat menghujam tanah, menyerap setiap unsur dalam tanah untuk pertumbuhannya. Batang dan dahannya kuat, ranting dengan daun yang lebat membantunya dalam fotosintesis, cabangnya menjulang tinggi menghasilkan buah yang bermanfaat bagi manusia. Itulah gambaran kebermanfaatan sesuatu bagi sekitarnya.
Gontor dapat diibaratkan sebagai syajaroh thoyyibah. Akarnya merupakan fondasi kuat sebagai Panca Jiwa (keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah, kebebasan) dan Motto Pondok Modern Darussalam Gontor (Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas). Panca Jangka yang merupakan program pondok kedepannya (Pendidikan dan pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Khizanatullah, Kesejahteraan Keluarga Pondok) sebagai batang yang menunjang cabangnya.

 Adapun daun yang dihasilkan adalah para alumninya. Yaitu ketika daun itu jatuh, ia akan kembali pada tanah dan memberi kesuburan bagi tanah dan pohonnya. Daun yang jatuh menjadi pupuk alami, hingga buahnya menjadi manfaat bagi umat. Sebagaimana seorang santri akan kembali ke masyarakat menjadi mundzirul qoum setelah menuntut ilmu tafaqquh fiddin. Dan cabang yang menjulang tinggi pada pohon  ibarat cita-cita Gontor.

Seperti dalam al-Qur’an surah Ibrahim, Allah Swt mengumpamakan kalimat yang baik, seperti syajaroh thoyyibah (pohon yang baik). Kalimat yang baik adalah kalimat tauhid, laa ilaaha illa allah, kalimat yang tidak mengandung kesyirikan, yang beramar ma’ruf nahi munkar. (K.H. Ahmad Suharto, Ayat-Ayat Perjuangan)
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء  (إبراهيم : 24)

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Q.S. Ibrahim: 24)

Uraian singkat sebelumnya mengenai peran Gontor dalam mencetak kader umat melalui pendidikan menggambarkan adanya kebermanfaatan yang dihasilkan. Kebermanfataan sesuatu di bumi ini akan selalu menetap bertahan, dan yang lainnya akan tersingkirkan dengan sendirinya ketika tidak lagi memberi manfaat. Itulah salah satu sebab mengapa Gontor tetap eksis di tengah pergulatan zaman saat ini, yaitu adanya kebermanfaatan. Seperti halnya Universitas al-Azhar Kairo yang merupakan universitas tertua di dunia, al-Azhar pun menjadi salah satu sintesa Gontor karena wakafnya.

Dengan izin Allah, Gontor telah berkiprah dalam bidang pendidikan hingga saat ini. Semoga terus dapat memberikan manfaat bagi kejayaan umat dan bangsa. Dari Gontor, oleh gontor, untuk Islam dan Indonesia. Itulah seleksi alam, bagi yang bermanfaat akan tetap tinggal. Seperti yang Allah perumpamakan dalam ayat berikut:

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ (الرعد : 17)

 “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat permumpamaan tentang yang benar dan bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan” (Q.S. Ar-Ra’ad : 17)

Wallahu A'lam bi al-showwab

Ummu Maghfiroh
Reading Time:

Rabu, 08 Mei 2019

Kuatkan Hubungan Gontor- Al Azhar, KH Hasan Abdullah Sahal kunjungi Grand Syeikh
17.21.000 Comments
Doc. KH Hasan Abdullah Sahal bersama Grand Syaikh Al Azhar, Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad Tayyib

Salah satu dari beberapa rentetan acara kunjungan ayahanda, KH Hasan Abdullah Sahal ke negeri Kinanah ini, yaitu silaturahim kepada Grand Syekh al-Azhar, Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Tayyib, Ahad (5/5).

Kunjungan bertempat di Masyikhoh Al-Azhar, Darrosah, Kairo, Mesir. Dalam gedung aula tersebut turut hadir Bapak Usman Syihab, M.A, selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan (ATDIKBUD), Bapak M. Aji Surya, S.H., M.Si, selaku Wakil Duta Besar Indonesia untuk Mesir, dan Bapak Subhan Jaelani Ahmad, Lc.

Tujuan kunjungan bapak pimpinan ini tidak lain untuk menjaga tali silaturahim antara al-Azhar dan Gontor. Beliau juga menyampaikan warga IKPM yang melanjutkan studinya di Universitas al-Azhar Kairo berjumlah 859 orang. Termasuk mereka yang mendapat beasiswa dan tinggal di Madinah Buust Al Islamiyah.

Kunjungan ini sangat disambut baik oleh Grand Syikh al-Azhar.  Salah satu kata terpenting yang beliau sampaikan "Gontor itu bermanhaj Azhari, dan semoga ikatan silaturahim Gontor dan al-Azhar tetap terjaga."

Acara berlangsung dari pukul 13.30 hingga  14.00 tersebut diakhiri dengan penyerahan Majalah Ufuq yang merupakan majalah berbahasa Arab yang ditulis oleh para penerima beasiswa Al-Azhar jalur Gontor.

Pemberian tersebut sangat disambut baik oleh Grand Syeikh Al-Azhar.  Dan di akhir pembicaraan, beliau berkata "Hum Yusammuni bi Aba Waafidiin."

Rep. Nafi Royhan
Red. Rahmadi Prima

Reading Time:

Selasa, 07 Mei 2019

Memupuk Ukhuwah dengan Silaturrahmi Akbar dan Buka Puasa Bersama Pimpinan PMDG
06.51.001 Comments
Doc. KH. Hasan Abdullah Sahal bersama warga IKPM Cab. Kairo
Mengawali bulan Ramadhan 1440 H, warga IKPM Cabang Kairo kembali merasakan hangatnya kebersamaan dan kekeluargaan melalui kunjungan Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K. H. Hasan Abdullah Sahal. Acara ini dikemas apik dalam Silaturahim Akbar dan Buka Puasa Bersama Bapak Pimpinan yang bertempat  di Aula American Future School pada Senin sore (6/5).

Selain merupakan rentetan kegiatan bapak pimpinan selama kunjungannya di Kairo, acara ini diadakan untuk menyatukan kembali seluruh warga IKPM Cabang Kairo yang sekarang berkuantitas mencapai 855 jiwa. Turut hadir bersama bapak pimpinan, Wakil Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Bapak Drs. H. Muhammad Aji Surya, S. H., M. Si. dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Bapak Dr. Usman Shihab, Lc., M. A.

Acara tersebut dimulai pukul 16.55 Clt, diawali dengan sambutan dari  Ketua IKPM Cabang Kairo, Nurrahman Hadi yang menyampaikan rasa syukur dan bahagia atas kunjungan bapak pimpinan selama 4 tahun berturut-turut ini. Sambutan selanjutnya dari wakil Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Bapak Drs. H. Muhammad Aji Surya, S. H., M. Si. Beberapa kutipan sambutan beliau untuk para pemuda masa depan bangsa, “jadilah yang terbaik di manapun, menjadi yang terbaik dari siapapun, dari bangsa lain, dan jadilah yang terbaik pada level masing-masing, fastabiqu al-khairaaat, berlomba-lombalah dalam kebaikan.  Karena saat ini persaingan dunia sangatlah ketat, maka hargailah waktu, barang siapa yang tidak bisa menghargai waktu maka ia akan tergilas, semangat kedisiplinan pun harus selalu tertanam, jangan sampai menjadi korban waktu.”

Adapun beberapa kutipan nasehat bapak pimpinan yaitu bersyukur, karena syukur merupakan hal yang terkadang seseorang lupa akannya hingga menjadi kufur, Nabi Muhammad Saw. di setiap khutbahnya selalu mengawali dengan hamida Allah wa tsanaa’ ‘alaihi. Hal ini menekankan pada kita bahwasanya syukur harus ditanamkan dalam diri di setiap sisi kehidupan. Beliau juga menuturkan, seindah-indah masa adalah masa menuntut ilmu, maka beruntunglah kamu belajar di Mesir, namun jangan sampai lupa, yaa daakhila mishro man mitslakum katsiir. Maka dari itu yang terpenting adalah bagaimana mengembangkan potensi dan mempertahankan panca jiwa karena potensimu dan panca jiwamu yang akan mewarnai dirimu dan masyarakatmu.

Acara ini ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari IKPM Cabang Kairo kepada bapak pimpinan, juga penyerahan sertifikat kepada al-Ustadz Saidil Yusron dan al- Ustadzah Dzorifah Niswah el- Fida yang telah berhasil menyelesaikan studi pada program magister di Mesir.



Rep. Azimatul Mufidah
Red. Rahmadi Prima
Reading Time:

@way2themes