IKPM KAIRO

Jumat, 10 Juli 2020

Kisah Perang Dzat al-Riqa
11.31.000 Comments
Doc. Google

Perang Dzatu ar-Riqa‘ menurut kebanyakan penulis sirah dan maghazi, terjadi pada
tahun keempat hijriah, sekitar sebulan setengah setelah pengusiran Bani Nadzir. Namun, al-Bukhari dan beberapa ahli hadist lainnya berpendapat bahwa perang Dzat-al-Riqa‘ terjadi setelah Perang Khaibar meletus.

Perang Dzatu al-Riqa‘ disebabkan oleh pengkhianatan suku-suku Nejd hingga
mengakibatkan terbunuhnya tujuh puluh sahabat yang ditugaskan Rasulullah Saw sebagai juru dakwah. Rasulullah Saw bergerak keluar dengan niat memerangi suku Muharib dan Tsa‘lab. Abu Dzar al-Gifari mendapat tugas dari Rasulullah untuk tinggal di Madinah dan mengurus Madinah. Setiba di Nakhl, sebuah daerah di Nejd milik Bani Ghathafan, Rasulullah dan pasukannya mendirikan markas. Namun, Allah telah merembeskan rasa gentar dan takut ke dada suku-suku penghianat itu. Akibatnya, seperti dituturkan Ibnu Hisyam, mereka memilih menjauh dari pasukan Muslim, meskipun saat itu jumlah mereka cukup banyak. Sehingga tidak terjadi kontak senjata.

Lepas dari itu semua, kisah peperangan Dzatu al-Riqa‘ mengandung banyak pelajaran berharga yang perlu kita ketahui sekaligus renungkan. Detail kisah peperangan ini telah disebutkan dalam banyak riwayat:

Pertama, dalam shohihaini disebutkan dalam sebuah hadist dari Abu Musa al-Asy‘ari yang berkata, ― kami pergi bersama Rasulullah Saw dalam satu peperangan. Saat itu kami berenam menunggang satu ekor unta secara bergantian. Banyak luka pada kaki kami, juga pada kakiku. Bahkan, kuku-kuku kakiku patah. Kami membalut kaki kami yang terluka dengan sobekan kain. Dengan alasan inilah peperangan itu kami sebut dengan perang Dzatu ar-Riqa‘ (yang memiliki banyak sobekan kain). Setelah menuturkan ini, Abu Musa al-Asy‘ari seperti tidak suka dengan hadist yang ia ceritakan sendiri. Barangkali ia tidak suka jika perbuatannya tersebar luas.

Kedua, Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw melakukan sholat
khauf dalam perang Dzatu ar-Riqa‘. Satu kelompok sahabat berbaris bersamanya, sementara satu kelompok lain menghadap ke arah musuh. Rasulullah shalat satu rakaat bersama kelompok yang bersamanya, lalu beliau tetap berdiri dan mereka menyempurnakan shalatnya masing-masing. Seusai shalat, mereka bubar dan berbaris menghadap ke arah musuh. Kelompok yang tadinya belum shalat kemudian datang. Rasulullah shalat bersama merekam sholat masing-masing, lalu beliau membaca salam.

Ketiga, ketika Rasulullah dan para sahabat tengah dalam perjalanan, mereka beristirahat siang di sebuah lembah yang dipenuhi pohon udhah. Mereka berpencar mencari tempat masing-masing untuk berteduh. Jabir mengisahkan, ―ketika kami sedang tidur, tiba-tiba Rasulullah memanggil kami. Kami pun segera berdatangan dan kami mendapati seorang Badui tengah duduk lemas di dekat Rasulullah. Lalu Rasulullah berkata, ―orang ini menyambar pedangku ketika aku tertidur. Lalu, ketika aku terjaga, dia langsung menghunus pedang di tangannya sembari berkata, siapa yang dapat menolongmu dariku? Allah, jawabku
padanya. Selanjutnya, beginilah dia sekarang, terduduk di sini. Meskipun begitu, Rasulullah sama sekali tidak menghukum Badui itu. Peristiwa ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Jabir.

Keempat, Ibnu Ishaq dan Ahmad meriwayatkan dari Jabir yang menuturkan, ―dalam perang Dzat ar-Riqa‘, yang kami ikuti bersama Rasulullah, seorang perempuan musyrik terbunuh. Setelah Rasulullah pergi meninggalkan medan perang, suami perempuan itu, yang semula tidak ada di sana datang. Lelaki itu menjumpai istrinya telah terbunuh. Maka lelaki itu bersumpah akan berusaha sebisa mungkin untuk menumpahkan darah para sahabat. Dia pun lalu pergi untuk mengikuti jejak Rasulullah. Setibanya di suatu tempat, Rasulullah berkata, "siapakah yang akan berjaga malam ini untuk kita semua?" seorang Muhajirin dan seorang Anshar seketika maju menawarkan diri dan berkata, "kami, ya Rasulullah."  "jika begitu, berjagalah di mulut syi‘b (lembah pegunungan)," kata Rasulullah kepada keduanya.

Saat itu, Rasulullah dan para sahabat lainnya telah masuk ke syi‘b. Dalam perjalanan kedua sahabat itu menuju syi‘b untuk berjaga, sahabat Muhajirin ditanya sahabat Anshar, "Engkau lebih menyukai berjaga diawal malam ataukah diakhir malam?" "Engkau berjagalah lebih dahulu," jawab sahabat Muhajirin sembari mengambil tempat untuk berbaring lalu tidur. Adapun sahabat Anshar berdiri dan melakukan shalat.

Tak berapa lama, lelaki musyrik yang bersumpah itu sampai di tempat Rasulullah dan para sahabat berhenti untuk bermalam. Saat melihat sahabat Anshar, lelaki itu segera melepaskan anak panah dan langsung mengenai tubuh sahabat Anshar. Anak panah itu tepat mengenai sasaran, menancap di tubuh sahabat Anshar. Ia tetap melanjutkan shalatnya, sembari mencabut anak panah itu. Melihat kejadian itu, lelaki musyrik itu melepaskan anak panah kedua, yang juga tepat sasaran. Lagi-lagi, Sahabat Anshar itu tetap melanjutkan shalatnya sembari mencabut anak panah dari tubuhnya. Anak panah ketiga dilepaskan dan juga tepat mengenai sasaran. Untuk kali ketiga, sahabat Anshar mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya, lalu rukuk dan sujud. Saat itulah ia membangunkan temannya, "duduklah.
, sekarang giliranmu berjaga. Aku sudah bertahan sedari tadi."Sahabat Muhajirin
seketika bangkit dari tidurnya. Ketika mengetahui ada dua sahabat Rasulullah yang bertugas jaga, lelaki musyrik itu segera kabur. Apalagi keberadaanya sudah diketahui.

Sahabat Muhajirin terkejut melihat tubuh temannya berlumuran darah. "Mengapa engaku tidak membangunkanku saat anak panah pertama mengenaimu?" sahabat Anshar menjawab, "saat itu aku sedang membaca sebuah surah al-Qur‘an dan aku tidak ingin memutusnya. Lalu, saat anak-anak panah lainnya mengenaiku, aku rukuk dan memberitahumu. Demi Allah, andai tak takut mengabaikan perintah Rasulullah untuk menjaga tempat itu, pasti aku sudah mati sebelum memutus shalatku."

Kelima, al-Bukhari dan Muslim, juga Ibnu Sa‘d dalam Thabaqat-nya serta Ibnu
Hisyam dalam sirah-nya meriwayatkan bahwa Jabir bin Abdullah mengisahkan cerita: Aku pergi bersama Rasulullah dalam perang Dzat al-Riqa‘ dengan mengendarai
untaku yang lemah. Ketika dalam perjalanan pulang, aku membiarkan rombongan berlalu pergi lebih dahulu. Aku tetap berada di bagian belakang hingga terlihat Rasulullah.

"Mengapa engkau di belakang, Jabir?"tanya Rasulullah. Aku menjawab, "untaku inilah penyebabnya, ya Rasulullah." Beliau berkata, "jerumkan untamu." Aku kemudian menjerumkan untaku dan beliau juga menjerumkan untanya. Beliau lalu berkata, "berikan tongkat ditanganmu kepadaku." Aku mengulurkan tongkatku. Setelah menerima tongkatku, beliau memukul untaku beberapa kali, lalu berkata, "sekarang, naiklah." Aku pun menaiki untaku yang lemah itu. Demi Zat yang mengutus Rasul-Nya dengan kebenaran, untaku tiba-tiba berlari kencang hingga sanggup menyalip unta beliau. Kemudian, Rasulullah berkata kepadaku, "maukah engkau menjual untamu ini kepadaku, Jabir?" "Bahkan, aku lebih suka memberikannya kepadamu," jawabku. "Tidak. jual sajalah untamu," kata beliau. Aku berkata, "Jika begitu, menawarlah." Rasulullah berkata, "Bagaimana jika aku beli dengan harga satu dirham?" Aku menyahut, "Belum bisa, aku masih rugi." "Bagaimana jika dengan harga dua dirham?" tawarnya. "Belum bisa," jawabku singkat. Beliau menawar lagi hingga mencapai harga satu uqiyah. Lalu, aku berkata, "apakah engkau sudah rela membelinya dengan harga itu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Ya"  "Jika begitu, unta ini milikmu," kataku.

Rasulullah kemudian bertanya, "sudahkah engkau menikah, Jabir?" "sudah", jawabku.
"Dengan seorang janda ataukah perawan?". "dengan janda, ya Rasulullah," jawabku.
Rasulullah masih bertanya, "mengapa engkau tidak menikahi perawan saja agar engkau bisa saling bercanda?" Aku menjawab, "ya Rasulullah ayahku syahid di Perang Uhud dan meninggalkan enam anak perempuan. Aku menikahi janda karena ingin mereka semua terurus dengan baik." beliau berkata, "Engkau sudah bertindak benar, InsyaAllah. Nanti setibanya kita di Shirar, kita akan memerintahkan penyembelihan unta dan hari itu kita akan berhenti sejenak di sana. Dia (istri Jabir) akan mendengar kedatangan kita dan menyiapkan bantal-bantal sandaran miliknya." Jabir menyahut, "Demi Allah , kami tidak mempunyai bantal-bantal sandaran ya Rasulullah." Rasulullah berkata, 'Bantal-bantal itu pasti akan ada, jika engkau sudah sampai di sana, bersikap baik dan lemah lembutlah."

(Jabir melanjutkan) Setiba kami di Shirar, Rasulullah memerintahkan untuk memotong unta. Hari itu, kami berhenti sejenak disana. Ketika hari beranjak petang, kami dan Rasulullah sudah berada di Madinah. Pagi hari berikutnya, aku (Jabir) menuntun untaku menuju rumah Rasulullah. Aku menjerumkannya tepat di depat di depan pintu rumah, lalu aku duduk di masjid dekat sana. Ketika keluar rumah dan melihat untaku, Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang ada di situ, "unta siapakah ini?" "Tadi unta ini dibawa Jabir, ya Rasulullah' jawab mereka.

Rasulullah bertanya , "lalu dimana Jabir sekarang?" Tak lama berselang, aku dipanggil menghadap. "Wahai anak saudaraku, bawa kembali untamu, ia milikmu,‘ kata Rasulullah kepadaku. Setelah itu, beliau memanggil Bilal dan berkata kepadanya, "pergilah bersama Jabir dan beri dia satu uqiyah." Aku pun pergi bersama Bilal yang lantas memberiku unag satu uqiyah dan menambahnya sedikit lagi. Demi Allah. Unta itu tumbuh besar bersamaku dan kandangnya bisa dilihat dari rumah kami.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo
Reading Time:

Jumat, 03 Juli 2020

Ubah Konsep Mucab, Panitia Gelar Rapat Perdana
06.31.000 Comments
Doc. Rapat Perdana Panitia Mucab ke-37 yang diadakan di sekretariat IKPM (1/7), Hayy Asyir

Kairo -Rabu (1/7) IKPM Cabang Kairo beserta mengadakan perkumpulan perdana guna membahas persiapan Mucab (Musyawarah Cabang) yang akan diadakan pada (28/7) mendatang.

Acara yang telah dilaksanakan sebanyak 36 kali ini akan menyuguhkan suasana yang berbeda dari sebelumnya, karena pelaksanaannya berlangsung ditengah pandemi Covid-19. Sehingga protokol kesehatan akan ditegakkan ketika acara berlangsung.

"Mucab kali ini berbeda dengan mucab-mucab sebelumnya yang khidmat dengan mendatangkan ratusan orang di satu tempat" papar Novan selaku ketua IKPM periode tahun ini ketika menjelaskan acara yang bersifat semi online tersebut dengan tujuan menekan jumlah orang yang datang.

Panitia yang akan mempersiapkan segalanya ketika hari pelaksanaan acara tersebut, berencana menggunakan aplikasi zoom meeting untuk sistem daring yang akan di sambungkan dengan media sosial seperti Instagram dan YouTube.

Perkumpulan panitia yang diadakan di sekretariat IKPM tersebut juga membahas tentang pemilihan ketua IKPM yang juga berbeda dari sebelumnya, yaitu menggunakan aplikasi khusus yang sama ketika pemilu raya PPMI.


Rep: Thoriq
Red. Ummu
Reading Time:

Minggu, 28 Juni 2020

Menjadi Pendidik Generasi Rabbani bersama Al-Quran
06.54.000 Comments
Pada hari Jumat lalu (26/6), salah satu alumni Gontor Putri, Hamidah Hasan, menyampaikan materi yang bertema “Menjadi pendidik generasi rabbani dengan Al-Quran”. Bersama anaknya Ula yang sudah menghafal delapan juz pada usianya yang tujuh tahun, Bu Hamidah mengajarkan kita bagaimana menjadi orangtua yang mampu mendorong generasi penerusnya untuk mencintai Al-Quran, dari masih berupa janin hingga anak tersebut lahir.

Doc. Google

Sebelum memberikan tips-tips untuk mendidik anak dengan Al-Quran, ia menjelaskan ada beberapa fase yang harus dipersiapkan dalam mendidik anak. Dimulai dari tahapan pra-nikah, ia menganjurkan pada kita untuk mencari pasangan yang unggul dengan visisnya sama dengan kita yaitu mendidik anak dengan Al-Quran, yang selanjutnya adalah fase janin, di dalam fase ini hendaknya kita memperbanyak mendengarkan Al-Quran, karena anak yang masih berada di dalam janin ini dapat merespon apa yang kita perdengarkan untuknya.

Lalu lanjut pada fase setelah kelahiran, sama dengan fase janin, kita hendaknya untuk banyak memperdengarkan Al-Quran pada anak, sebab Al-Quran dapat mengembangkan kecerdasan anak. Kemudian fase bayi, pada fase ini, ibu harus menjadi qudwah hasanah, karena di fase inilah anak mulai meniru, dengan menjadi qudwah hasanah, secara tidak langsung ibu sudah mendidik anaknya untuk mencintai Al-Quran.

Pada fase umur anak mencapai tiga sentengah tahun hingga lima tahun, kita dianjurkan untuk menanamkan iman, mengajarkan ayat-ayat Al-Quran, sirroh nabawiyyah, dan menberitahu keutamaan menghafal Al-Quran. Dan fase yang terakhir adalah fase umur enam hingga sepuluh tahun. Pada fase ini anak sudah diajarkan untuk disiplin, lalu cobalah untuk membuat buku harian untuk hafalan anak.

Setelah kita mengenal beberapa fase dalam menghafal Al-Quran, berikut ini adalah tips-tips untuk mencintai Al-Quran ala ustadzah Hamidah Hasan, kepada kami.

Yang pertama, luruskan niat. Dalam mendampingi anak, orang tua harus meluruskan niat hanya semata-semata karena Allah SWT

Yang kedua, jauhi maksiat. Seperti kata Imam Syafi'i“ ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat”. Maka Al-Quran adalah cahaya Allah, jika orang tua bermaksiat, bagaimana Allah akan memberikan cahayaNya?

Yang ketiga, kerjasama yang solid antara kedua orangtua. Ibu harus menjadi madrosah ula, dan ayah sebagai kepala sekolah yang memimpin keluarganya untuk mencintai Al-Quran.

Yang keempat, mengajarkan isi Al-Quran, serta keutamaan dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Quran.

Yang kelima, selalu perdengarkan murottal Al-Quran.

Yang keenam, upayakan untuk menciptakan suasana nyaman untuk menghafal Al-Quran.

Yang ketujuh, berikan reward. Reward tidak harus berupa benda, bisa dengan pelukan dan ciuman orangtua. Dan buatlah anak bahagia karena ketika anak bahagia ia mudah diarahkan.

Yang kedelapan, jangan terburu-buru dalam menghafal. Sedikit hafalan tetapi bacaannya benar lebih baik daripada banyak hafalannya tapi bacaannya salah.

Yang kesembilan, adakan waktu khusus untuk menghafal Al-Quran.

Yang kesepuluh, perbanyak murajaah.

Yang kesebelas, memperbanyak doa dan tobat kepada Allah SWT. Karena bisa jadi anak susah menghafal karena dosa-dosa orangtua, dan doa orangtua lebih manjur.

Sebagai penutup, Ustadzah Hamidah juga berpesan agar kita terus menjaga doa agar senantiasa istiqomah dam mendidik anak, juga dengan terus mengupgrade niat kita, serta senantiasa menjaga diri agar berada di dalam lingkungan atau komunitas pecinta Al-Quran.

Rep: Haya
Red: Ummu
Reading Time:

Jumat, 26 Juni 2020

Keputrian IKPM: Menjadi Pendidik Bersama Al-Qur'an
21.34.000 Comments

Jumat (26/06), keputrian IKPM cabang Turki bersama keputrian IKPM cabang Kairo bekerjasama untuk mengadakan webinar dengan mengusung tema “Menjadi Pendidik Generasi Rabbani bersama Al-Qur’an”. Acara ini dilaksanakan pada pukul 13.00 clt via zoom.

Acara ini diawali dengan pembukaan oleh moderator, yakni Balqis Almumtahanah; yang merupakan alumni gontor tahun 2012. Setelah itu dilanjut dengan penyampaian materi oleh narasumber, yakni Hamidah Hasan yang juga merupakan alumni gontor tahun 2005. Setelah penyampaian materi selama 30 menit dilanjut sesi tanya jawab dan diakhiri dengan penutupan oleh moderator.

Dalam awal pembicaraannya, narasumber menyampaikan tiga poin besar yang akan dibahas dalam webinar tersebut. Pertama, apa saja keutamaan belajar dan menghafal Al-Qor’an. Kedua, bagaimana tahapan-tahapan mengajarkan Al-Quran kepada anak. Ketiga, bagaimana tips-tips agar menjadikan anak bisa cinta terhadap Al-Qur’an.

Di akhir pembicaraannya, narasumber menyampaikan beberpa petuah kepada para peserta webinar. Salah satunya adalah, “tidak perlu orang cerdas untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Tapi, menghafal Al-Qur’an itu pasti mencerdaskan orang.”

Diakhir acara, ia juga berharap semoga acara ini bisa memberikan manfaat bagi orang lain, juga paling tidak bisa memberikan manfaat pada dirinya dan juga keluarga kecilnya.

“Saya berharap semoga acara ini bisa memberikan manfaat kepada kita semua. Khususnya juga untuk keluarga kecil saya..”

Rep: Jazil
Red: Ummu




Reading Time:
Kisah Terusirnya Bani Nadhir
08.59.000 Comments
Doc. Google

Bani Nadhir adalah kaum Yahudi yang bertempat tinggal di sekitar pegunungan yang bernama Nadhir. Pada hari Sabtu di bulan Rabiul Awwal tahun 4 hijriah, Nabi berkehendak untuk pergi kepada Bani Nadhir untuk membayar diyat. Beliau pergi bersama Abu Bakar, Umar, dan sahabat-sahabat yang lain. Dalam riwayat Ibnu Sa‘ad dijelaskan, Rasulullah Saw. bersama sejumlah sahabat Muhajirin dan Anshar keluar dari Madinah untuk shalat di masjid Quba‘, lalu bergerakm perkampungan Bani Nadhir.

Rasulullah Saw. datang untuk meminta bantuan mereka dalam penyelesaian pembayaran diyat atas kematian dua orang Bani Kilab, yang telah mendapatkan jaminan keamanan dan perlindungan dari Rasulullah Saw., di tangan Amr bin Umayyah Al-Dhamri yang Muslim. Sementara Bani Nadhir diketahui memiliki hubungan yang baik dan bersekutu dengan Bani Kilab. Mereka menyetujui permintaan Baginda dan mempersiapkan kedatangannya dengan menyediakan suguhan-suguhan makanan dan minuman.

Tetapi pemimpin Bani Nadhir, Huyay, dan beberapa orang dari mereka -Yahudi- pergi keluar, berpura-pura memberi instruksi untuk menghibur para tamunya. Ibnu Ishaq dan lainnya meriwayatkan, ―Baiklah, Abu Al-Qasim. Kami akan memenuhi keinginanmu, kata Bani Nadhir kepada Rasulullah Saw. sementara beberapa orang dari mereka saling berbisik dan merencanakan pengkhianatan kepada Rasulullah Saw. Amr bin Jihasy Al-Nahdari
berkata, ―Aku yang akan naik ke atap rumah dan melemparkan sebongkah batu ke arahnya (Rasulullah Saw). Salam bin Misykam (seseorang dari Bani Nadhir) mengatakan: ―Jangan lakukan itu! Sungguh, Allah akan memberitahu niat buruk kalian. Dan akan memutuskan perjanjian damai antara kita

Saat itu -ketika berdiri di sisi dinding-, Jibril datang, tak terlihat oleh yang lain, dan mengabarkan bahwa mereka merencanakan pembunuhannya. Maka, Nabi segera bangkit pulang ke Madinah dan disusul oleh para sahabatnya. Setiba di Madinah sahabat menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Nabi menjelaskan niat buruk mereka, lalu mengutus Muhammad ibn Maslamah pergi ke Bani Nadhir untuk menyampaikan pesan Beliau. Tanpa menunggu lama lelaki itu pergi dengan cepat menuju benteng dan para pemimpin mereka keluar, ia berkata ―Rasulullah telah mengutusku untuk datang kepada kalian dan menyampaikan pesan: Pergilah kalian dari negeriku, kalian telah bermaksud melakukan pengkhianatan. Siapa pun diantara kalian yang masih ada setelah itu, akan dipenggal kepalanya‘. ―hei anak Maslamah, kata mereka. ―kami tak menyangka seorang Aus dapat menyampaikan pesan seperti itu kepada kami. ―hati kami telah berubah katanya.

Kemudian ketika mereka hendak pergi, Abdullah bin Ubayy bin Salul menahan dan berjanji akan mengirimi mereka pasukan sebanyak 2000 orang untuk berperang. Dan mereka mengira Bani Ghatafan dan Bani Quraizah pasti tidak akan diam saja. Hal ini diabadikan dalam al-qur‘an:


"Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu."

Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah Saw. mempersiapkan pasukan dan menyerahkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke benteng mereka, sedangkan urusan di Madinah diserahkan
kepada Abdullah bin Umi Maktum.

Sesampainya Rasulullah dan pasukannya mengepung benteng mereka, mereka menjumpai benteng yang dilengkapi dengan panah dan bebatuan yang besar. Namun,A bin Ubayy yang sebelumnya berjanji, berkhianat, dan pasukan yang ia janjikan tak kunjung tiba. Rasulullah Saw. memerintahkan untuk menebang sebagian pohon kurma disekitar benteng tersebut. Lalu mereka berkata: ―Wahai Muhammad, kau telah melarang untuk melakukan kerusakan dan mencaci yang berbuat demikian. Lalu mengapa kau menebang pohon kurma ini dan membakarnya? Setelah kejadian ini turunlah firman Allah dalam surah Al-Hasyr ayat 5:

“Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.”

Akhirnya mereka menyerah dan memohon kepada Rasulullah Saw. agar diizinkan untuk membawa barang yang mereka hendak bawa. Namun Rasulullah Saw. menolak seraya bersabda: “kali ini aku tak akan mengabulkan permintaan kalian. Kalian hanya boleh membawa barang yang
bisa dibawa seekor unta, kecuali senjata”.

Mereka mematuhi perintah Rasulullah dan berkemas untuk pergi. Pendapat Ibnu Hisyam, di antara mereka ada yang merobohkan rumahnya dan mengambil daun pintunya. Mereka pun menyebar, ada yang pergi menuju Khaibar, ada pula yang pergi ke Syam. Hanya dua orang yang bersedia masuk Islam, yaitu; Yamin bin Amir bin Ka‘ab (sepupu Amr bin Jihasy) dan Abu Sa‘ad bin Wahb. Rasulullah Saw. kemudian membagi harta yang ditinggalkan Yahudi Bani Nadhir kepada kaum Muhajirin dan 2 orang Anshor yaitu; Sahl bin Hanif dan Abu Dujanah Simak bin Kharsyah, karena kondisi mereka yang fakir. Patut kita ketahui bahwa harta Bani Nadhir yang ditinggalkan ini adalah kepemilikan Rasulullah Saw. sepenuhnya secara mutlak. Al-Baladzuri dalam kitabnya Futuh al-Buldan menuturkan bahwa Rasulullah Saw. memanfaatkan tanah itu untuk bercocok tanam di bawah pohon kurma yang telah dibakar dan menyisihkan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan istri-istrinya, sisanya digunakan untuk pengadaan hewan kendaraan dan senjata-senjata peperangan. Dari peristiwa perang terhadap Bani Nadhir ini turunlah surah Al-Hasyr secara keseluruhan yang menjelaskan tentang kebijakan pembagian harta Bani Nadhir tersebut oleh Rasulullah Saw.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo
Reading Time: