IKPM KAIRO

Sabtu, 22 Februari 2020

Shilaturahmi Keputrian IKPM: Puri Emilda Tekankan Untuk Menjaga Diri
14.57.000 Comments
Dok. IKPM

Pada Jum'at (21/2), Keputrian IKPM Cabang Kairo bershilaturahmi ke salah satu alumni Pondok Modern Dasrussalam Gontor 2004, Puri Emilda di kediaman beliau,Tabah. Silaturahmi yang dimulai pada pukul 13.00 CLT di buka dengan ucapan terimakasih beliau atas kunjungan silaturahmi kali ini.

Wildah Binasrillah, Ketua Keputrian IKPM, memoderatorkan acara yang berlangsung selama kurang lebih empat jam. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan, nasehat demi nasehat beliau sampaikan, tidak lain untuk kembali mengingatkan kami tujuan awal merantau ke Timur Tengah ini.

Mengamati generasi per generasi yang sudah beliau lalui, Puri membuka nasehatnya untuk kami agar lebih berhati-hati dalam hal apapun. Sebagai seorang perempuan yang jauh dari orang tua agar tetap bisa menjaga amanah dan kepercayaan yang sudah mereka berikan. Menjaga diri adalah satu kewajiban yang tidak bisa diremehkan.

Dengan dinamika Masisir baik akademik dan non akademik yang tidak sedikit jumlahnya, dianjurkan sekali agar kami mampu menjaga dengan sangat muamalat antar perempuan dan laki-laki. Selain itu untuk tidak mudah terpengaruh dengan segala janji dan segala hal yang berhubungan dengan ikatan pernikahan. Selain melaksanakannya tidak semudah mengembalikan telapak tangan agar tetap fokus pada tujuan awal dan lebih baik untuk saling memantaskan, karena jika waktunya tiba Allah akan datangkan seseorang sebagaimana cerminan setiap kepribadian.

"Laki-laki yang serius itu pasti akan menjaga kehormatan perempuannya," tegas beliau dalam season pertama kami.

Di lanjut dengan nasehat agar bisa bersungguh-sungguh dalam meniti jalan yang sudah ditentukan.

"Fokus pada jalan yg dipilih, istiqomah pada apa yang diinginkan. Walaupun pekerjaan sedikit yang penting istiqomah. Tidak perlu melihat pencapaian orang lain. Memilih prioritas tetap pada porsinya masing-masing," ucapnya melanjutkan acara.

Kemudian beliau lanjutkan ke dalam ilmu parenting. Untuk menerapi suatu kebiasaan, ditarget selama sembilan puluh hari terus menerus, lalu dilihat keiistiqomahan di dalamnya. Jika sudah lulus dalam jangka waktu tersebut, maka Insyaallah tidak sulit untuk tetap berpegang Teguh pada apa yang sedang dijalani.

Dari beliau kami banyak belajar berbagai cerita unik, terjadi di dunia nyata yang sayang sekali jika pelajaran di dalamnya tidak kami petik. Segala halang rintang suka duka dalam dunia berumah tangga tersirat di setiap kejadiannya pesan mendalam dari yang Maha Kuasa.

Dimana Allah Swt. benar adanya tidak akan memberi cobaan diluar kuasa hambanya. Pertolongan itu ada bagi mereka yang meminta, keajaiban itu ada bagi mereka yang percaya. Karena cobaan yang datang bukan untuk melihat seberapa kuat manusianya, melainkan seberapa kuat ia meminta dan percaya akan pertolongan Allah Swt. Begitulah kiranya nasehat yang dikatakan beliau di akhir shilaturrahmi. Puri Emilda, sosok ibu dan kakak yang berikan banyak nasehat pada kesempatan kali ini.

Rep: Balqis
Red: Ummu
Reading Time:

Jumat, 21 Februari 2020

IKPM Cabang Kairo Adakan Pelatihan Bahasa 'Amiyah
18.41.000 Comments
Pada Kamis (20/2), IKPM Cabang Kairo mengadakan pelatihan bahasa ammiyah yang diampu oleh Dua'a Ahmed Nahrowi. Dengan kemampuan beliau berbahasa Indonesia maka pelatihan ini sangat memudahkan mahasiswa Kairo, khususnya bagi mahasiswa baru untuk belajar berinteraksi dengan bahasa ammiyah.

Doc. IKPM

Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan pentingnya belajar ammiyah di kalangan mahasiswa asing dalam mendengarkan penjelasan dosen maupun dalam interaksi sehari - hari. Tak hanya mengenalkan saja, Du'aa selaku pengisi materi pun mengajarkan rumus - rumus penting dalam berbahasa ammiyah, semisal pelafalan huruf ق yang dibaca ء, huruf ج dibaca G, huruf ء dibaca ي, dan lain sebagainya.

Ada beberapa langkah dalam pembelajaran bahasa 'amiyah : Belajarlah dari bahasa arab, Perbanyak komunikasi dengan orang Mesir, Mendengar lagu dan menonton film Mesir, lalu yang terakhir Pelajari kaidah bahasa 'amiyah dan jangan lupa mempraktekannya.

"Barang siapa yang mengetahui bahasa suatu kaum maka amanlah ia dari tipu daya mereka. Kita belajar bahasa amiyah ini bukan untuk menguasai berbagai bahasa, melainkan agar selamat dari berbagai makar (kejahatan) yang kita temukan," paparnya.

Peserta sangat antusias dengan pelatihan  ini, baik di sesi pertama (khusus perempuan) maupun di sesi kedua (khusus laki-laki). Pada pukul 15:20 pelatihan sesi pertama pun berakhir dan dilanjutkan untuk sesi kedua.

Rep: Haya
Red: Ummu
Reading Time:
Ketika Orientalis Menyerang: Berikut Bukti Kebenaran Wahyu
08.14.000 Comments
Doc. Google

Mengenai pemberhentian sementara penurunan wahyu, kemudian disambung setelah enam bulan atau lebih, mengandungi mu'jizat Ilahi yang mendalam. Para penyerang-penyerang akidah (Islam) telah mencoba menganalisa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw itu dengan mengatakan bahwa itu bersumber dari renungan yang panjang yang bersumber dalam jiwa.

Sebagai rahasia dan hikmah ilahi, Malaikat Jibril yang ditemui oleh baginda di Gua Hira' dahulu telah menyembunyikan diri. Lantaran itu Rasulullah Saw. diselubungi oleh perasaan was-was kemudian bertukar pula menjadi takut dan bimbang ketika Allah telah melucutkan pemberian dan wahyu serta pengutusan; Karena mengira adanya suatu kesalahan yang telah dilakukannya sehingga terasa bagi Rasulullah bahwa dunia ini sempit baginya.

Hingga di suatu ketika, Rasulullah melihat sekali lagi malaikat Jibril yang bentuk-rupanya telah memenuhi ruangan di antara langit dan bumi, “Hai Muhammad engkaulah utusan kepada manusia”. Perasaan takut sekali lagi menguasai seluruh diri Nabi Muhammad Saw. Dengan keadaan demikian baginda Nabi kembali ke rumahnya di mana Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an Surat Al-Mudatsir ayat 1-2 yang artinya:

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah, lalu berilah peingatan!

Bukti mengenai penurunan wahyu ini merupakan senjata untuk merobohkan segala cemoohan dan serangan yang dibuat oleh seteru-seteru Islam terhadap penurunan wahyu dan terhadap kenabian yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad Saw.

Dari sini maka dapatlah kita fahami sejauh mana dan betapa agungnya hikmat ilahi yang terkandung di dalam penurunan wahyu itu tadi. Boleh jadi seteru Islam akan kembali bertanya kalaulah wahyu itu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantaraan Jibril alaihissalam kenapa para sahabat yang lain tidak melihat?

Sebagai jawabannya kita boleh mengatakan bahwa tanda wujud dan adanya sesuatu itu tidak semestinya dapat dilihat oleh kasat mata manusia karena tenaga dan penglihatan manusia itu terbatas. Sebagai kenyataan menunjukkan kebenaran wahyu dan penurunannya yang berturut-turut bukanlah suatu petanda penyakit jiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw seperti mana yang pernah dianalisa oleh seteru-seteru Islam. Di sini kita coba membuat kesimpulan tentang bukti-buktinya ini:

i. Terdapat perbedaan di antara Al-Qur'an dan Al Hadist al-Sharif. Nabi Saw telah menyuruh dan meminta para sàhabat-Nya agar menulis Al-Qur'an setelah diturunkan.
Sebaliknya Hadist memadai dengan hafalan mereka, karena al-Qur'an merupakan kalam Allah yang diwahyukan dengan makna dan perkataan melalui perantara Malaikat Jibril, sedangkan Hadist maknanya dari Allah Swt sedangkan lafadz dan susunan dari Rasulullah Saw. Ini dilakukan supaya nas Al-Qur'an tidak bercampur aduk dengan nas Hadist.

ii. Nabi Muhammad ditanya beberapa perkara dan tidak menjawab semua pertanyaan yang dikemukakan oleh para sahabatnya dalam waktu yang lama. Sehingga saat diturunkannya ayat Al-Qur'an sesuai dengan pertanyaan tadi, maka baginda akan menjawab pertanyaan tadi, kemudian dibacakan ayat-ayat Al Qur'an yang baru diturunkan.

iii. Seperti diketahui Rasulullah adalah seorang yang buta huruf dan tidak mungkin manusia itu dapat mengetahui peristiwa dan faktor sejarah dengan jalan 'meditasi perantaraan' seperti cerita Nabi Yusuf As., peristiwa menghanyutkan Nabi Musa As. ke sungai, dan cerita mengenai Fir'aun yang kesemuanya itu membuktikan bahwa Rasulullah buta huruf. Lantaran itu Allah Subhanahu Wata ala berfirman:

 (وَمَا كُنتَ تَتۡلُوا۟ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَـٰبࣲ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِیَمِینِكَۖ إِذࣰا لَّٱرۡتَابَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ)
[Surat Al-Ankabut 48]

Yang Artinya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab sebelum (Al-Qur'an) dan engkau tidak pernah menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.

ix. Sesungguhnya Rasulullah terkenal di kalangan kaumnya sebagai seorang yang amanáh selama empat puluh tahun. Lebih-lebih dengan diri sendiri baginda lebih teliti sewaktu menerima wahyu dan mengkaji secara mendalam agar tidak langsung berbau keraguan

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dan Tuhanmu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Surah Yunus 10:94)

Seolah-olah ayat ini merupakan jawaban kepada kajian Rasulullah terhadap wahyu dan diriwayatkan bahwa Rasululah telah menegaskan setelah penurunan ayat ini dengan katanya, “Aku tidak ragu, tidak akan bertanya-tanya lagi.”
Reading Time:

Minggu, 16 Februari 2020

Rihlah Azhariyah: Membuktikan Mesir Adalah Pusat Keilmuan
19.26.000 Comments

Kedatangan mahasiswa baru disambut dengan berbagai introduksi, salah satunya Rihlah Azhariyah pada Sabtu (15/02). Acara tersebut merupakan kegiatan rutinan IKPM Cabang Kairo tiap tahunnya bagi mahasiswa baru. Peserta dibagi dalam 6 Kelompok dengan 6 senior pembimbing yang menjelaskan secara runtut mengenai banyak hal terkait al-Azhar dan Mesir dari segi keilmuannya.

Setelah semua berkumpul di Masjid al-Azhar, setiap kelompok memulai penjelajahan lautan ilmu sekitar masjid. Acara ini ditujukan untuk pengenalan berbagai Ruwaq (Majelis Ta’lim dalam Masjid Azhar), madhyafah, maktabah (toko buku) serta banyak pula makam yang dijelajahi.

Kegiatan ini tentunya sangat penting sebagai landasan dasar langkah mahasiswa baru dalam nemulai penimbaan ilmu di Negeri Kinanah ini. Dari sini, banyak pengetahuan tentang letak tempat talaqqi, khususnya di daerah Darrosah. Begitupula berbagai saran buku berserra tokonya, juga sejarah tokoh-tokoh muslim yang makamnya bersebaran sedemikian banyaknya.

Pada akhir acara, semua peserta berkumpul di Aula Sahah Indonesia, Darrosah. Dziaul Haq, selaku senior IKPM Cabang Kairo turut hadir memberi banyak advokasi. “Tetaplah menjadi gelas kosong yang akan selalu mudah menampung isinya,” paparnya dalam pembukaan sambutannya.

Beliau pun menyatakan bahwa Gontor baru nemberi kunci keilmuan, dan kita belum masuk ke dalamnya. Semua kembali pada diri masing-masing untuk membuka pintu tersebut. “Dengan pergerakan ini, benar-benar membuktikan petuah ayahanda K.H. Imam Zarkasyi: Jika kamu igin beribadah, pergilah ke Makkah dan Madinah. Jika kamu hendak belajar ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, pergilah ke Mesir. Tapi jika jamu hendak mendapatkan pendidikan dan kedisiplinan, maka pergilah ke Gontor ”. Lanjut beliau menutup acara Rihlah Azhariyah.

Rep: Nur Hary
Red: Ummu
Reading Time:

Jumat, 14 Februari 2020

Ketika Orientalis Menyerang; Seputar Pertanyaan Mengapa dan Apa di Balik Peristiwa Turunnya Wahyu
07.08.000 Comments
Doc. Google

Peristiwa turunnya wahyu merupakan dasar utama yang memberi implikasi atau keterlibatan terhadap seluruh Hakikat, Akidah dan Syari'ah Islamiyyah. Memahami serta mempercayainya dengan penuh keyakinan merupakan titik permulaan untuk mempercayai segala apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. seperti memberi kabar tentang ghaib dan perkara syari'at. Hakikat wahyu adalah jenis tunggal yang memisahkan antara manusia yang berfikir secara logis dengan otak pemikiran yang bersifat serba kemanusiaan dengan manusia yang menyampaikan segala sesuatu yang telah diturunkan oleh Tuhannya tanpa merubah, mengurangi dan menambah.

Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki keraguan terhadap islam mencoba menimbulkan persoalan-persoalan tentang wahyu yang diturunkan. Karena mereka meyakini bahwa objek hakikat wahyu itu merupakan sumber kepercayaan dan keyakinan orang Islam terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dari Allah Swt. Kalaulah mereka dapat menyuntikkan jarum keraguan terhadap hakikat wahyu dan syariat serta prinsip kepercayaan Islam adalah ciptaan dan rekaan Nabi Muhammad Saw. sendiri, maka tidak diragukan lagi dengan mudahnya menjadikan orang Islam itu mengingkari sebagian dari kepercayaan dan hukum.

Untuk mencapai tujuannya, penyerang ideologi ini akan berusaha menganalisa wahyu itu sesuai kehendak hati mereka sendiri dan mencoba memisahkan dari hakikat kebenaran wahyu itu. Ada juga yang menuduh bahwa Rasulullah menyembah berhala. Ada juga yang menuduh Nabi Muhammad Saw. mempelajari al-Qur'an dan prinsip ajaran Islam dari Pendeta Buhaira dan ada pula yang menuduh bahwa Rasulullah itu seseorang yang terganggu urat sarafnya atau telah diserang penyakit jiwa.

Andaikata kita memperhatikan kepada tuduhan-tuduhan dan tafsiran-tafsiran yang tidak masuk akal ini, maka tampaklah kepada kita bahwa manusia tersebut tidak boleh menerima apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasulullah berupa wahyu, dan ini justru akan menjauhkan diri Umat Islam dari Nabi Muhammad sebagai Nabi. Kita dapat memperhatikan jelas segala kebenaran wahyu itu dengan hadist Imam Bukhari mengenai penurunan wahyu.

Mengapa Rasulullah dapat melihat Jibril dengan mata kepalanya sendiri? Mengapa wahyu tidak disampaikan dibalik tabir saja?

Kenapa Allah meresapkan perasaan takut dan kebimbangan di dalam hati Rasulullah ketika menerima wahyu? Bukankah sebenarnya diresapkan perasaan tenang dan tenteram ketika itu karena ini merupakan tanda sayangnya Allah terhadap RasulNya?

Mengapa Rasulullah merasa takut bahwa yang mendatanginya di Gua Hira' dulu adalah jin, dan belum pasti bahwa yang mendatanginya adalah malaikat utusan Allah Swt?

Kenapa turunnya wahyu terputus beberapa saat? Peristiwa ini telah menyebabkan Rasulullah resah dan cemas hingga beliau pergi mendaki bukit sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari.

Ini adalah beberapa pertanyaan mengenai bentuk wahyu yang pertama kali diturunkan. Bagi orang yang berfikir untuk mendapatkan jawabannya akan mendapatkan beberapa rahasia dan hikmah-hikmah yang terang lagi nyata, yaitu orang-orang liberal dan golongan orientalis yang menganggap bahwa wahyu ini adalah hasil renungan dan fikiran Nabi Muhammad akan bertemu dengan hakikat yang paling nyata.

Nabi Muhammad Swt berada di Gua Hira' dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Bacalah!.” Ini supaya memahami bahwa wahyu itu bukanlah suatu perkara di dalam jiwa atau batin, melainkan yang sebenarnya ialah menerima suatu hakikat yang tidak ada hubungannya dengan dorongan jiwa.

Malaikat Jibril 'alaihiissalam telah memeluk baginda Nabi seerat-eratnya sebanyak tiga kali dan melepaskannya sebanyak tiga kali, kemudian Malaikat Jibril menyeru kepada baginda Nabi, “Bacalah!” sebanyak tiga kali juga.Hal demikian merupakan penegasan dan gambaran hidup tentang wahyu yang datang dari luar bukanlah rekaan khayalan Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw merasa takut dengan apa yang telah didengar dan dilihat, sampai beliau telah berhenti dari ibadahnya dan bergegas pulang ke rumah dengan hati yang berdebar-debar. Peristiwa ini menegaskan kepada orang yang meragukannya bahwa Nabi Muhammad tidak mengharap-harapkan hendak menjadi pembawa Risalah yang akan disebarkan ke seluruh alam. Bukan pula wahyu itu untuk menyempurnakan apa yang telah difikirkan Rasulullah dalam fikirannya. Malah kedatangan wahyu itu kedatangan yang tidak disangka-sangka akan mempengaruhi kehidupannya.

Soal ilham, jeritan batin dan jiwa atau renungan ke alam atas tidak akan diserang perasaan takut, kagum dan pucat badan. Tegasnya tidak ada titik pertemuan atau hubungan di antara renungan mencari ilham dan dibarengi dengan perasaan takut yang berturut-turutan.

Kita sendiri pun lebih mengetahui bahwa perasaan takut dan menggeletar seluruh anggota badan disertai dengan pucat warna tubuh adalah perasaan yang tidak dibuat-buat atau dipura-purakan. Kalau hendak diandaikan bahwa Nabi Muhammad mencoba sedemikian maka ini suatu andaian (hypothesis) yang mustahil di mana perangainya telah begitu berubah corak dan satu keadaan kepada suatu keadaan yang terlalu berbeda dan berlainan.

Nabi Muhammad Saw tidak percaya bahwa yang mendatanginya, memeluk dan menyuruh baginda membaca di gua itu adalah sejenis jin. Ini dapat dilihat dari apa yang diceritakannya kepada Khadijah Radhiyállahu 'anha. Nabi Muhammad berkata, “Aku takut terhadap diriku,” tegasnya dari jin, tetapi Khadijah telah menenangi Nabi Muhammad dan memberi penenang bahwa ini bukanlah rasukan jin atau syaitan karena baginda Nabi Muhammad berakhlak mulia dan berpribadi tinggi. Allah menenangkan jiwa Nabi Muhammad bahwa yang mendatanginya itu tidak lain adalah Malaikat Jibril yaitu malaikat suruhan Allah yang membawa pengkhabaran wahyu dan berita-berita Ilahi tentang pengutusan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul untuk manusia seluruh alam. Hikmah Ilahi yang nyata adalah ingin memberitahu antara dua pribadi Nabi Muhammad yang paling nyata perbedaannya yaitu Nabi Muhammad sebagai manusia biasa sebelum pengutusannya dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul setelah pengutusan serta untuk menerangkan lebih lanjut lagi bahwa prinsip Akidah Islamiyyah atau Syariah Islam belum pernah terfikirkan oleh Rasulullah Saw dan belum pernah tergambar di kepalanya mengenai dakwah itu.

Suatu kehendak Ilahi yang telah mengilhamkan Khadijah agar membawa Nabi Muhammad untuk menemui Waraqah bin Naufal dan membentangkan perkara ini kepada beliau. Ini merupakan suatu sudut yang lain untuk memperkuatkan lagi bahwa apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad berupa wahyu pernah disampaikan kepada para Anbiya terdahulu serta untuk menyingkap perasaan yang menakutkan, yang menyelubungi jiwa Nabi Muhammad Saw dengan apa yang dilihat dan didengarnya.

Reading Time: