IKPM KAIRO

Selasa, 15 Oktober 2019

Upgrade Jiwa Muslimah, IKPM Gelar Seminar Keputrian
17.44.000 Comments
Doc. Hj. Ir Dini Sumaryanti sedang mengisi seminar di sekretariat IKPM (15/10)

IKPM Kairo- Senin (14/10) dinamika rentetan kegiatan yang terus mengiringi rutinitas para mahasiswa, keputrian IKPM gelar seminar yang bertajuk “ Upgrading Jiwa Muslimah dan Semangat Kemahasiswaan” bersama Hj.Ir Dini Sumaryanti salah satu Trainer Parenting Islami. Acara yang berlangsung pukul 16.50 WLK di sekretariat IKPM.

Tujuan dilaksanakannya acara yaitu untuk memotivasi para peserta  mengeksplor diri lebih dalam, mengenali bagaimana cara tumbuh. Seminar ini berhasil menarik perhatian para peserta yang hadir.  Dibuka langsung oleh Fahrina selaku moderator.

 Disamping seorang Trainer, beliau juga seorang Penulis Buku  salah satu bukunya adalah ”Jemput Jodoh Halalmu”, cetakkan yang beliau persembahkan untuk souvenir pernikahan sang anak. Beliau juga memberikan salah satu bukunya sebagai penghargaan untuk IKPM.

Sebelum memulai pada pembahasan beliau memaparkan “Hidup itu harus bertumbuh, karena tidak ada pilihan untuk saya mau gini-gini aja, tidak. Pilih bertumbuh atau pilih mati atau bonsai? Kalau tanaman bonsai lumayan ada harganya, sedangkan manusia kalau bonsai badannya saja tidak ada yang diminati apalagi bonsai otaknya dan prestasinya, pilihannya hanyalah tumbuh”.

Pembahasan materi inti adalah menjadi “Amazing Muslimah” harus memiliki kata kunci pergerakkan dan kegiatan yaitu Visi, Aksi, Potensi dan Kolaborasi. “Jangan sampai punya ilmu nunggu diminta, harus punya inisiatif buat berbagi potensi yang dipunya, karena itu adalah bentuk dari rasa syukur”. Tutur sang Trainer.

Sebelum memasuki acara penutup, moderator membuka sesi pertanyaan untuk para peserta, “bagaimana cara memotivasi temen yang tempramentnya kuat, cepet marah atau baperan, dan gampang putus asa?”, ujar entin murniati.

Caranya dengan mengingat materi diatas dan diamalkan, yaitu satu memiliki visi, ketika putus asa tau apa yang harus dilakukan, dan ketika punya masalah beraksi dan kenali potensinya, ungkap sang penulis.
Doc. Anggi Diah menyerahkan kenang-kenangan kepada pemateri selaku ketua DP Keputrian IKPM Cab. Kairo

“Percayalah bahwasannya kita berharga, bermimpilah bangun mimpi dan potensi tanpa lupa koordinasi dan envaluasi. Mari kita ingat bahwasannya kita adalah sebaik-baiknya hiasan dunia, dimana majunya peradaban dunia tidak akan maju tanpa majunya kita sebagai wanita”, ucap moderator dalam kutipannya dipenghujung acara. Ditutup pada pukul 19.10 WLK dengan penyerahan piagam penghargaan oleh Anggi Diah selaku Ketua keputrian IKPM.


Rep. Diany Mumtaz
Red. Rahmadi Prima


Reading Time:

Minggu, 13 Oktober 2019

Sambut  Proyek Buku, Ghazi Gelar Seminar Cerpen
10.39.000 Comments
Doc. Seminar kepenulisan sedang berlangsung di sekretariat IKPM Cab. Kairo (12/10)


IKPM Kairo- Sabtu (12/10) Angkatan keberangkatan tahun 2018 (Ghazi) gelar seminar kepenulisan dengan tema "Meracik cerita dari setetes Realita". Acara ini berlangsung pukul 15.30 di sekretariat IKPM Kairo, Gami', Hayy Asyir.

"Tujuan diadakan seminar ini untuk meningkatkan skill menulis, menghidupkan semangat menulis, menambah wawasan, dan follow-up nya ada di sayembara Ghazi book." Ungkap Dzakir  Muhammad Yaffi selaku ketua panitia seminar.

"Namanya kemampuan itu harus selalu diasah. Begitupun dalam hal menulis, jangan pernah menunggu yang namanya mood. Bukan karena mood kita menghadirkan tulisan, namun dengan memulai tulisanlah kita menghadirkan mood." Tutur Muhammad Kamal ihsan selaku pemateri di muka acara.

Tidak melulu dengan materi yang kaku dan membosankan, penulis novel '5 Titik 1 Koma' menciptakan permainan kelompok yang unik. Peserta dilatih untuk menentukan karakteristik setiap individu berdasarkan pilihan gambar bangun datar yang terpampang di layar.
Doc. Kamal Ihsan sedang memberikan materi seminar kepenulisan.

"Menjadi seorang penulis itu mendapatkan tuntutan. Tuntutan untuk berperasaan dalam meracik sebuah cerita, juga tuntutan memahamkan banyak pembaca" ucap di penghujung acara.

Harapan terselenggaranya acara ini, mampu memberikan dampak positif dengan berkembangnya kemampuan menulis cerpen bagi peserta. Ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ketua angkatan, Muhammad Zaki. Acara ini usai tepat pada pukul 17.45.


Rep. Farrah ND
Red. Rahmadi Prima
Reading Time:

Sabtu, 12 Oktober 2019

Cakrawala Hadir Bersama 'Ghoromah'
01.26.000 Comments
IKPM Cabang Kairo – Di samping sebagai media silaturahmi antar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, IKPM Cabang Kairo juga menjadi wadah dinamika kegiatan anggotanya, salah satunya dalam bidang kepenulisan. Selain majalah La Tansa, IKPM pun menaungi majalah yang dipegang kendalinya oleh angkatan baru pada setiap tahunnya, sebagai media perekat antar anggota angkatan. Media tersebut merupakan Majalah Cakrawala yang mana pada bulan ini kembali mengepakkan sayapnya di kalangan masisir melalui rangkaian aksara.

Doc. Majalah Cakrawala Edisi XVI

Jika matahari tak pernah enggan dan bosan untuk muncul dengan kilauan sinarnya, maka Majalah Cakrawala yang merupakan salah satu majalah di bawah naungan IKPM Cabang Kairo kembali menerbitkan edisi yang ditunggu-tunggu. Hadir di hadapan para pembaca dengan berbagai informasi menarik, dan juga pengetahuan guna menambah wawasan.

Assalamualaikum Ghoromah" inilah tema yang diusung pada edisi ke-16 ini, apa yang terlintas di benak para pembaca jika mendengar tema di atas? Aneh bukan? Kita menyambut dan menunggu kedatangan ghoromah, padahal ghoromah adalah musuh yang menyusahkan bagi para masisir, atau maksud dari tema di atas adalah semoga kamu selamat dari ghoromah.

Permasalahan yang terjadi belakangan ini adalah proses perpanjangan izin tinggal yang tak kunjung selesai, siapakah pihak yang salah? Apakah mandub, konsuler, Intif atau bahkan jawazat? Kenapa proses perpanjangan izin tinggal sangatlah memakan waktu yang panjang padahal Masisir sudah secepat mungkin mengurusnya? Bagaimana prosedur perpanjangan visa sendiri? Banyak sekali pertanyaan yang terlintas di benak kita semua tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepengurusan izin tinggal ini, maka dari itu Majalah Cakrawala akan mengulas permasalahan ini secara sistematis, akrab dan pastinya berbeda.

Simak selengkapnya melalui Majalah Cakrawala!
Pemesanan dapat melalui kontak: +201554918568 atau +201122843009

Rep: MajalahCakrawala
Red: Ummu
Reading Time:
Melalui al-Azhar, Mendapatkan Ilmu dari Guru atau Buku?
00.07.000 Comments
Al-Azhar yang merupakan salah satu sintesa Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi sorotan banyak alumni PMDG sebagai destinasi melanjutkan jenjang pendidikan strata 1. Hal tersebut dikarenakan al-Azhar merupakan kiblat eksistensi ilmu di dunia Islam, sesuai dengan yang disampaikan oleh Trimuri Gontor, “Jika kamu ingin beribadah sepuas-puasnya maka datanglah ke Makkah, jika kamu ingin menuntut ilmu sepuas-puasnya maka datanglah ke Mesir, dan jika kamu ingin mendapatkan pendidikan sepuas-puasnya maka datanglah ke Gontor.” Al-Azhar yang merupakan jami’ (masjid) yang menjadi pusat talaqqi serta jami’ah (universitas) saling berpadu dalam mencetak ulama sebagai duta negerinya berasal. Dari keduanya kita mampu menarik dua hal yang merupakan bagian dari faktor menuntut ilmu, yaitu guru dan buku.

Doc. Masjid al-Azhar dari atas saat acara peringatan 1079 tahun al-Azhar

Belajar dalam bahasa arab dapat diartikan dengan talaqqi, yang artinya mendapatkan ilmu atau menerima. Ada beberapa pelajar yang hanya membaca buku tanpa mencari atau mendatangi guru untuk memastikan benar atau salah apa yang ia baca. Namun ada juga  yang hanya mendatangi guru dan mendengarkan apa yang beliau sampaikan tanpa membaca ulang atau membandingkan apa yang ia dapatkan dari gurunya dengan apa yang ia baca dari buku-buku lainnya. Atau harus membaca buku dan mencari guru. Jika memang demikian mana yang harus didahulukan antara keduanya?

Memang ada banyak cara dan media yang beragam untuk mendapatkan ilmu. Syekh Muhammad Ibrahim Abdul Baits –salah satu ulama besar al-Azhar- menyampaikan bahwasanya talaqqi adalah mengambil ilmu dari sumbernya melalui ulama. Belajar secara langsung dengan membaca buku memang salah satu cara untuk belajar. Akan tetapi dalam buku itu sendiri ada beberapa hal yang benar dan ada beberapa hal yang perlu didiskusikan. Maka beliau sangat menyarankan untuk mencari guru setelah membaca agar ada yang dapat mengingatkan mana yang benar dan mana yang kurang benar. Karena dulu para sahabat belajar dengan Rasulullah Saw. secara lisan atau langsung bertemu dengan beliau dalam sebuah majlis.

Syekh Muhammad Ibrahim Abdul Baits juga pernah menyampaikan suatu hal dalam siaran televisi terkait soal pembelajaran, “Maka sangat penting bagi pelajar untuk menggabungkan apa yang ia dapat dari buku dan apa yang ia dapat dari gurunya. Tidak boleh merasa cukup dengan hanya membaca buku tanpa mencari guru, ataupun hanya mencari guru tanpa membaca buku-buku yang ada. Kecuali hanya ingin mempelajari sebagian bab yang ada dari sebuah buku saja, maka dia boleh hanya mendengar dari gurunya. Karena untuk membandingkan pendapat dari gurunya saja. Wallahu A’lam.

Dr. Amru Wardhani -salah satu ulama al-Azhar- pernah menyatakan bahwa ada beberapa ilmu yang hanya bisa didapat dan dipelajari dengan cara yang khusus, yaitu belajar langsung dengan guru yang jelas mempunyai sertifikasi atas ilmunya dan memahami bukunya dengan baik dan benar secara bersamaan.

Seorang ulama pernah mengatakan:

من يأخذ العلم عن شيخ مشافهة يكن من الزيغ والتحريف في حرم .ومن يكن آخذا للعلم عن صحف فعلمه عند أهل العلم كالعدم

“Barangsiapa yang belajar sebuah ilmu dari seorang guru secara lisan, maka ia akan diharamkan dari kesesatan dan penyelewengan. Dan barangsiapa yang menuntut ilmu hanya dari sebuah buku, maka ilmunya menurut para pakar ilmu tidak ada.”

Terlihat jelas peran dari seorang guru/ulama bagi muridnya. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda bahwa ulama adalah warisan para nabi. Mereka tidak mewariskan uang, akan tetap mereka mewariskan ilmu yang mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Maka dari itu, ulama terdahulu tidak sembarangan mengajarkan ilmunya. Mereka mengajarkan ilmunya sebagaimana dulu para nabi mengajarkan ilmu tersebut kepada mereka.

Imam Syafi’i juga berpesan kepada murid-muridnya, bahwa ilmu tidak akan didapatkan kecuali dengan enam perkara. Pertama adalah kecerdasan. Kecerdasan merupakan istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Perkara yang kedua adalah kemauan yang keras. Kemauan yang sangat kuat untuk mendapatkan sesuatu atau mempelajari suatu hal. Ketiga adalah kesungguhan, karena dalam kesungguhan itu terkandung mental baja dan sikap pantang menyerah. Yang keempat adalah bekal yang cukup. Bekal di sini merupakan harta benda yang digunakan untuk mendapatkan ilmu tersebut. Perkara kelima adalah selalu bersanding dengan guru. Guru yang dapat membantu dan mengarahkan para pelajar ke arah yang baik. Yang terakhir adalah waktu yang panjang. Untuk menguasai sebuah ilmu memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk menguasainya.

Dari 6 perkara yang disebutkan oleh Imam Syafi’i diatas, buku dan guru termasuk dalam perkara-perkara yang harus dimiliki oleh pelajar. Maka belajar melalui buku dan belajar bersama guru merupakan 2 hal yang tidak bisa dilepaskan. Harus berjalan bersama agar bisa mendapatkan ilmu dengan baik dan benar. Semoga kita semua yang merupakan duta bagi bangsa ketika kembali ke tanah air mampu mengamalkan ilmu yang kita peroleh melalui ulama dan buku yang kita baca. Aamiin.


Rizqi Mohammad Moi
Red: Ummu
Reading Time:

Jumat, 11 Oktober 2019

Menyelami Nilai Gontor Melalui Dwi Bulanan Dewan Pengurus
23.47.000 Comments
IKPM Kairo - Setelah setahun mengarungi Mesir dengan segala liku dan perjuangannya, angkatan kedatangan 2018 kembali dididik melalui Dewan Pengurus IKPM Cabang Kairo 2019-2020 yang sudah berlangsung selama 2 bulan kepengurusan. Melihat kegiatan yang berlangsung di IKPM Kairo, sudah banyak yang mampu menebak jalannya kegiatan.  Namun lebih dalam dari itu, nilai yang ditanamkan Gontor jarang yang mengingatnya lekat, perlu kembali sentuhan, baik melalui media audio ceramah atau tulisan. Yang demikian tak luput untuk dirajut kembali walau sudah tidak berada di lingkup pondok. Melalui tulisan sederhana ini, diharapkan kembali membawa pembaca untuk mengingat nilai yang ditanamkan Gontor.

Doc. Pertemuan Dwi Bulanan Dewan Pengurus IKPM Cabang Kairo 2019-2020

Penulis mengajak untuk menyelami kembali nilai-nilai Gontor melalui pertemuan dwi bulanan Dewan Pengurus pada Jum'at malam (11/10) di Sekretariat IKPM Cabang Kairo. 'Gontor memberi kail, tidak memberi ikan', selama 5 hingga 6 tahun atau lebih, kita dididik dan diberi kail di pondok pesantren -dengan kyai sebagai sentral figurnya dan masjid sebagai pusat yang menjiwainya- dalam bentuk nilai dan pertahanan mental yang diterapkan di kehidupan bermasyarakat. Setelah melalui miniatur kemasyarakatan dalam lingkup pondok menjadi contoh untuk menerapkan di masyarakat setelah selesai ditempa hingga kail yang kita miliki mendapatkan ikan yang dinanti.

Untuk memperoleh ikan perlu kail dan pengaturan di dalamnya, sebagaimana pengorganisasian kemasyarakatan melalui nilai dan mental karakter. Kehidupan sehari-hari dan kemasyarakatan memerlukan adanya organisasi. Karena organisasi sendiri merupakan kerja sama dari dua orang atau lebih yang di dalamnya mempunyai tujuan yang sama, salah satu tujuannya adalah menjadi mundzirul qoum seperti halnya syiar pendidikan Gontor.

IKPM Cabang Kairo yang merupakan salah satu bentuk organisasi dengan sifat kekeluargaan menjadi wadah bagi Dewan Pengurus baru menerapkan kail untuk mendapatkan ikan. Kail berupa nilai dan mental serta ikan berupa dinamika kegiatan dan cita yang diusahakan yang diwujudkan melalui program kerja, penugasan dan pengontrolan, pengawasan, serta evaluasi yang hari ini kita terapkan di pertemuan dwi bulanan Dewan Pengurus IKPM Cabang Kairo.

Kail dan ikan, kita uji coba bersama di Dewan Pengurus IKPM Cabang Kairo 2019-2020. Bertolak kepada nasehat pak kyai Pondok Modern Darussalam Gontor tentang pergerakan, "taharrok fa inna fi al-harokah barakah" (bergeraklah, karena dalam pergerakan terdapat keberkahan) Kita uji apakah kail yang diberikan benar-benar sudah kita gunakan secara maksimal di Dewan Pengurus ini. "Hal tersebut sebagai bentuk tanggung jawab, amanat, serta khidmat, disamping kewajiban kita untuk menuntut ilmu di al-Azhar," tutur Muhammad Khafiduddin, selaku Dewan Pengawas Organisasi (DPO) IKPM Cabang Kairo mengawali sambutannya. 

Acara berlanjut dengan sambutan yang mengetuk jati diri, "Santri Gontor dididik untuk mempunyai otak besar, yaitu ketika dihadapkan kepada banyak kegiatan dia tetap bisa mengontrol. Karakter kita masih belum terlihat, masih perlu diasah, salah satunya diasah dengan kegiatan yang positif," tutur Adam Huda, selaku ketua IKPM Cabang Kairo dalam sambutannya yang diperoleh dari nasehat al-Ustadz Anizar Masyhadi saat pertemuan beberapa hari yang lalu.

Sejatinya apa yang diterapkan dalam dinamika kegiatan IKPM tak lain adalah untuk mempertahankan nilai dan mentalitas santrinya yang mana telah ditanamkan Gontor dari awal kaki dipijakkan di kampung nan damai, Darussalam. Disamping sebagai wadah silaturahmi secara dzahir yang mampu kita lihat, nilai dan mentalitas perjuangan pun mampu kita temui di dalamnya.

Untaian kalimat di akhir acara kembali mengingatkan pada sosok yang terlukiskan dalam hati yang terlihat melalui foto nan gagah di dinding Sekretariat IKPM, Trimurti dan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor terkait dinamika kegiatan, "Tiada hari tanpa program, tiada hari tanpa usaha," tegas Muhammad Novan Hidayat mengigatkan pesan Trimurti seraya menutup acara dwi bulanan Dewan Pengurus IKPM Cabang Kairo 2019-2020.

Rep: Ummu
Red: Della
Reading Time: