IKPM KAIRO

Kamis, 21 Maret 2019

SAKRALITAS DAN KEISTIMEWAAN RASM UTSMANI
10.07.000 Comments


Oleh : Nurul Hasanah
Kamis, 5 April 2018

 Islam dan Sejarah Penulisan
 Bangsa Arab pada zaman dahulu dikenal sebagai bangsa yang umi. Tidak ada yang mempelajari tulisan kecuali hanya sedikit dari beberapa Orang Quraisy pada masa sebelum datangnya Islam. Adanya tulisan pada Bangsa Arab merupakan tanda-tanda kerasulan Nabi Muhammad SAW yang menerima wahyu berupa Al-Quran, karena tulisan memiliki peran untuk menjaga al-Quran dari kehilangan dan lupa, sehingga al-Quran bukan hanya terjaga dalam hati (hafalan) tetapi juga dalam bentuk tulisan. Dan peran lain yaitu untuk membantu dakwah Islam seperti penulisan surat yang dikirimkan Rasulullah SAW kepada para raja dan kaisar.

Firman Allah yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada kaum yang umi ada pada surah al-Jumuah ayat kedua:
هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ
Para ahli sejarah bersepakat bahwa Kaum Quraisy tidak mempelajari tulisan kecuali melalui perantara Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Tetapi banyak perbedaan pendapat tentang kepada siapakah Harb mempelajari tulisan tersebut. Salah satunya seperti yang diriwayatkan oleh Abi Amru al-Dani bahwa Abu Harb belajar tulisan dari Abdullah bin Jad’an, kemudian Abdullah bin Jad’an belajar kepada penduduk Anbar, dan penduduk Anbar belajar kepada orang asing dari Yaman, sedangkan orang asing tersebut belajar dari al-Khaljan bin al-Mauhim yang mana sebagai penulis wahyu di zaman Nabi Hud AS.

 Pendapat ahli sejarah tentang siapakah orang yang pertama kali menulis juga berbeda-beda, sebagian ada yang mengatakan bahwa Nabi Adam AS adalah orang yang pertama kali menulis dengan Bahasa Suryani dan Bahasa Arab. Kemudian pendapat lain mengatakan bahwa Nabi Idris AS adalah yang pertama menulis dengan menggunakan pena. Dan ada pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Arabi, bahwa yang mempelajari Bahasa Arab dari Jibril AS secara benar dan fasih hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Ismail AS. Sedangkan Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Nabi Hud AS adalah yang menulis dengan Bahasa Arab, dan Nabi Ismail AS adalah orang yang pertama kali menyusun tulisan arab.

 Di kalangan para sahabat yang terkenal ahli dalam tulisan dari Kaum Muhajirin adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarah, Muawiyyah bin Abi sufyan, Aban bin Said dan ‘Ala’ bin Ma’arri. Sedangkan dari Kaum Ansar adalah Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit, al-Munzir bin Amru, Ubay bin Wahab dan Amru bin Said.

 Awal mula tulisan di Madinah yaitu ketika nabi berhijrah ke Madinah. Disana terdapat ahli kitab dari Kaum Yahudi yang tinggal diantara mereka. Kaum Yahudi tersebut yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis, namun ada juga sebagian orang dewasa yang turut belajar di dalamnya. Dari beberapa pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tulisan telah ada di Arab sebelum datangnya Islam, tetapi orang yang mahir dalam hal menulis dan membaca sangatlah sedikit; karena sebagain besar dari mereka tak dapat membaca dan menulis.

 Diutusnya Nabi Muhammad SAW dengan membawa ajaran Islam sangat berperan dalam mengangkat derajat tulisan, ilmu dan makrifat. Bahkan lima ayat dari surah al-Alaq yang pertama kali turun di dalamnya juga terdapat ajaran membaca dan menulis. Dalam surah al-Qalam ayat pertama Allah pun berfirman: “Nūn. Demi pena apa yang mereka tuliskan”. Dan dalam al-Quran ditemukan kata qiraah (bacaan) dan kata yang berhubungan dengan kata tersebut hampir mencapai 90 kali, dan kata  kitabah (tulisan) mencapai 300 kali. Hal ini menunjukkan bentuk kemulian dari Allah untuk pena sebagai alat tulis dan kemuliaan untuk orang yang mengetahui tulisan tersebut.

 Selain itu dapat diketahui beberapa usaha Rasulullah SAW untuk memerangi kebutaan aksara pada saat itu. Seperti yang terjadi pada tawanan Perang Badar, 70 dari tawanan Perang Badar ini diminta untuk membayar tebusan dengan uang. Dan bagi yang memiliki kemampuan membaca dan menulis dengan baik maka tebusannya adalah mengajarkan pemuda Madinah membaca dan menulis. Rasulullah SAW mengetahui bahwa mengajarkan umat membaca dan menulis lebih baik daripada uang. Dan dengan pondasi seperti ini menjadikan umat lebih maju.

 Sejarah dan Pengertian Rasm Utsmani
 Al-Quran sudah tertulis keseluruhan pada masa Rasulullah SAW, meskipun masih terpisah-pisah pada pelepah kurma, lempengan batu, tulang keledai, kulit dan lain sebagainya, hingga al-Quran terkumpul menjadi satu yang disebut suhuf. Ketika turun sesuatu dari al-Quran kepada Rasulullah SAW, maka beliau memanggil sebagian penulis wahyu, kemudian memerintahkan mereka untuk menulis apa yang turun, dan menunjukkan letak tempatnya pada surah, serta menjelaskan bagaimana cara penulisannya, dan Rasulullah SAW belum wafat sampai al-Quran dihafal dan ditulis seluruhnya.

 Selanjutnya al-Quran ditulis dan dikumpulkan kembali pada masa Abu Bakar RA masih dalam bentuk suhuf. Bentuk rasm al-Quran ketika itu masih sama dengan rasm al-Quran pada zaman Rasulullah SAW. Kemudian Utsman bin Affan RA mengumpulkan suhuf-suhuf dalam bentuk mushaf-mushaf dengan menggunakan bentuk rasm yang sama dengan rasm al-Quran pada zaman Abu Bakar RA, hanya saja dalam mushaf Utsman bin Affan RA rasm al-Quran dibatasi dengan menggunakan satu huruf yaitu Huruf Quraisy. Hingga saat ini kita kenal rasm al-Quran tersebut dengan rasm utsmani.

 Pengumpulan mushaf pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA disebabkan adanya perselisihan Umat Islam karena perbedaan bacaan al-Quran diantara mereka, sehingga Khalifah Utsman menbentuk lajnah yang menulis kembali al-Quran pada beberapa mushaf, kemudian mushaf-mushaf tersebut dikirimkan ke beberapa kota dengan mengirimkan seorang sahabat yang akan mengajarkannya.

 Banyak perbedaan riwayat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan ke kota-kota. Seperti yang diriwayatkan Al-Sajastani bahwa ada tujuh mushaf yang dikirimkan ke kota berikut: Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah. Mushaf madinah disimpan sendiri oleh Khalifah Utsman bin Affan yang disebut mushaf imam. Riwayat lain dari Abu Amru al-Dani bahwa al-Quran yang dikirimkan ke kota-kota ada 6 mushaf, yaitu: Madinah, Makkah, Kufah, Basrah, Syam dan sekitar Irak.

 Riwayat lain yang paling rajih adalah dari Imam al-Suyuti, bahwa ada lima mushaf yang dikirim ke kota-kota beserta sahabat yang akan mengajarkannya. Yaitu: Zaid bin Tsabit diutus ke Kota Madinah, Abdullah bin al-Saib diutus ke Kota Makkah, al-Mughirah bin Syihab diutus ke Kota Syam, Aba Abdurrahman al-Silmi diutus ke Kota Kufah, dan Amir bin Abdu al-Qais diutus ke Kota Basrah.

 Kata rasm secara etimologis diartikan dengan pengaruh, yaitu pengaruh tulisan pada lafaz. Dan makna al-rasm al-Qurani atau rasm utsmani secara terminologis yaitu tulisan kalimat yang ada pada al-Quran dari segi macamnya huruf dan jumlah huruf pada setiap kalimat yang tertulis dalam al-Quran. Dan bukanlah yang dimaksud dari macam tulisan itu seperti khāt naskhi ataupun kūfī dan lain sebagainya, tetapi cara penulisan huruf dan kalimat pada mushaf yang sesuai dengan tulisan pada mushaf-mushaf yang dikirimkan ke kota-kota atas perintah Utsman bin Affan RA kepada al-lajnah al-rubā’iyah (lajnah penulis mushaf pada zaman Utsman bin Affan).

 Rasm al-Quran disebut dengan rasm utsmani karena dinisbatkan kepada Khalifah Utsman bin Affan RA, dan penisbatan ini bukanlah karena beliau menuliskan mushaf kembali dengan cara yang berbeda dengan penulisan di zaman Rasulullah SAW dan Abu Bakar, tetapi beliau yang menghapuskan mushaf-mushaf yang tertulis dengan berbagai macam qiraah kemudian menggabungkannya menjadi satu mushaf dan menyebarkan mushaf tersebut ke kota-kota. Khalifah Utsman bin Affan RA menuliskan mushaf tersebut dengan mengikuti rasm al-Quran pada mushaf sebelumnya.

 Kaidah dalam Penulisan Rasm Utsmani
 Ada enam kaidah dalam rasm utsmani  yang akan pemakalah uraikan sebagai berikut:
Pertama, al-hażfu atau peniadaan, yaitu ada beberapa huruf yang dihilangkan pada sebagian kata dalam rasm utsmani, seperti alif, ya, wau, ta, nun dan lam. Contoh pada huruf alif yaitu dihilangkannya alif setelah ya nidā’ (panggilan) dan setelah ha tanbihat, seperti يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ dan هَٰٓؤُلَآءِ. Contoh lain seperti dalam kalimat بِسۡمِ ٱللَّهِ, disebabkan karena sering digunakannya kalimat tersebut dan juga menunjukkan bahwa nama tersebut memiliki derajat yang tinggi dan utama.

 Sebab lain yaitu sebagai isyarat agar tulisan tersebut dapat dibaca dengan qira’at lain, dan juga sebagai ikhtisar sebagaimana dihilangkannya alif pada jamak al-muannats al-sālim dan al-mudzakkar al-sālim, seperti ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَٰتِ. Namun ada kalimat yang tertulis berbeda dengan kalimat lainnya, seperti وَلَوۡ تَوَاعَدتُّمۡ لَٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡمِيعَٰدِ, yaitu tertulis dengan dihilangkan alif setelah huruf ain.

 Contoh pada huruf ya yaitu dihilangkannya huruf ya dibeberapa pertengahan kata, Seperti ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ dan وَٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ .  dan dihilangkannya huruf ya dibeberapa akhir kata seperti ya pada dhamīr mutakalim dengan tujuan mencukupkan dengan kasrah sebelumnya, seperti dalam kalimat berikut:وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓ . Salah satu contoh dari huruf wau yang dihilangkan yaitu huruf wau dari akhir setiap fiil-fiil yang marfuk, seperti  kalimat: ’وَيَدۡعُ ٱلۡإِنسَٰنُ بِٱلشَّرِّ , وَيَمۡحُ ٱللَّهُ ٱلۡبَٰطِل , يَدۡعُ ٱلدَّاعِ. Adapun rahasia dihilangkan huruf wau pada fiil-fiil marfuk adalah sebagai peringatan terjadinya suatu pekerjaan secara cepat dan kemudahan bagi pelakunya.

 Contoh dari huruf ta yaitu dihilangkannya huruf tersebut dari beberapa kata baik di awal, tengah, maupun akhir. Di awal seperti  تَذَكَّرُونَ, kata aslinya  adalah تَتذَكَّرُونَ. Di tengah kata seperti فَمَا ٱسۡطَٰعُوٓاْ, kata aslinya adalah فَمَا ٱسۡتطَٰعُوٓاْ. Dan di akhir kata: ذَهَبَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتُ عَنِّي, kata aslinya adalah ذَهَبَتِ ٱلسَّيِّ‍َٔاتُ عَنِّي. Penghilangan huruf ta disini yaitu dengan makna ‘cepat’, seperti yang dimaksudkan dalam kata تَذَكَّرُونَ yaitu mengingat secara cepat. Contoh dari huruf nun yang dihilangkan seperti pada dua kalimat berikut فَنُجِّيَ مَن نَّشَآءُ dan وَكَذَٰلِكَ نُ‍ۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ. Contoh dari huruf lam seperti pada kata وَٱلَّيۡلِ dan ٱلَّذِي .

 Kedua, al-ziyādah atau tambahan, yaitu ada beberapa huruf yang ditambahkan pada sebagian kata dalam rasm utsmani, seperti alif, ya, dan wau. Contoh dari huruf alif yaitu ditambahkannya alif setelah wau pada ism ataupun hukum yang jamak. Seperti pada kata  بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَdan أُوْلُواْ . Contoh setelah huruf ya seperti pada kalimat وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ. Contoh dari huruf wau seperti pada kata أُوْلُوا. 
Ketiga, Hamzah, kaidah hamzah dibagi menjadi beberapa bagian, pertama, ketika hamzah berharakat sukun dan berada di tengan atau akhir kata maka ditulis dengan huruf seperti harakat sebelumnya, contoh: ٱئۡذَن, ٱؤۡتُمِنَ, ٱلۡبَأۡسَآءُ…. Kecuali yang diistisnakan. Kedua, jika hamzah tersebut berharakat dan berada di awal kata kemudian bertemu dengan huruf tambahan maka ditulis di atas alif secara mutlak, baik fatah, kasrah ataupun damah. Contoh: أُوْلُواْ, وَأَيُّوبَ, dan lain sebagainya kecuali yang diistisnakan. Ketiga, jika hamzah terletak di akhir kata maka ditulis dengan huruf yang sesuai dengan harakat sebelumnya, dan jika sebelumnya sukun maka tertulis tanpa huruf, contoh:  سَبَإِۢ بِنَبَإٖ, وَلُؤۡلُؤٗا, وَٱلضَّرَّآءُ dan lain sebagainya kecuali yang diistisnakan.

 Pembagian hamzah yang terakhir adalah jika hamzah tersebut terletak di tengah kata, hamzah tersebut ditulis di atas alif jika berharakat fatah, dan sebelum hamzah tersebut adalah huruf yang berharakat fatah juga, contoh: سَأَلَ. Kemudian hamzah tersebut ditulis dengan huruf ya jika berharakat kasrah, fatah, atau damah, dan sebelum hamzah tersebut adalah huruf yang berharakat kasrah, contoh: بَارِئِكُمۡ, فِئَةٗ, سَنُقۡرِئُكَ. Sebagaimana dituliskan hamzah yang berharakat damah diatas huruf wau setelah huruf yang berharakat fatah, contoh: نَّقۡرَؤُهُۥ, يَكۡلَؤُكُم. dan lain sebagainya kecuali yang diistisnakan.

 Keempat, badal, yaitu mengganti suatu huruf dengan huruf yang lain. Seperti menuliskan huruf alif dengan huruf wau untuk memberikan tekanan, contoh: ٱلصَّلَوٰة , ٱلزَّكَوٰةَ dan yang lain kecuali yang diistinakan. Menuliskan huruf alif menjadi huruf ya, seperti يَتَوَفَّىٰكُم, يَٰحَسۡرَتَىٰ, dan lain sebagainya. Menuliskan huruf ha ta’nits menjadi huruf ta ta’nits di sebagian kalimat, contoh: وَمَعۡصِيَتِ ٱلرَّسُولِ,  شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ, dan lain sebagainya.

 Kelima, al-fasl wa al-Wasl atau penghubungan kata dan pemisahannya. Seperti dalam kata ‘أن’ dan ‘لا’ menjadi أَلَّا, kecuali pada sepuluh tempat dalam al-Quran, diantaranya pada surah al-A’raf ayat 169: أَن لَّا يَقُولُواْ.  Kata إنما dalam al-Quran ditulis terhubung semua kecuali pada satu tempat yaitu pada surah al-An’am ayat 134: إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖ, karena ayat tersebut memiliki makna sebaik-baiknya tempat kembali bagi orang saleh dan seburuk-buruknya tempat kembali bagi orang yang berbuat kejahatan. Makna ما yaitu menunjukkan kebenaran adanya tempat kembali tersebut.

 Keenam, dua qira’at yang ditulis dengan salah satu tulisannya. Dalam kaidah rasm utsmani jika ada dua qira’at maka ditulis dengan salah satu tulisannya.  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ, يُخَٰدِعُونَ ٱللَّه, dan lain sebagainya. Maka dengan rasm seperti ini maka boleh dibaca dengan mad ataupun pendek; karena keduanya merupakan qiraat mutawatir.

 Kaidah penulisan rasm utsmani yang telah disebutkan bukanlah kaidah yang tetap untuk seluruh kalimat dalam al-Quran, tetapi ada banyak pengecualian pada beberapa kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah ini, karena apa yang diwahyukan tidak berhubungan dengan harakat ataupun tulisan tetapi makna dari kalimatnya, dan jika  yang diwahyukan berhubungan dengan harakat maka semua akan tertulis sesuai kaidah. Ada banyak kalimat dalam al-Quran yang memiliki qira’at yang sama namun berbeda dalam tulisannya, seperti dalam kalimat-kalimat berikut: لِصَٰحِبِهِۦ dan صَاحِبُهُۥ, سَعَوۡاْ dan سَعَوۡ, …. Dan lain sebagainya.

 Hukum Penyempurnaan Penulisan Mushaf
 Dhabt atau harakat secara etimologis adalah tercapainya tujuan untuk menjaga sesuatu. Harakat pada kitab yaitu jika menjaga dari ketidakpahaman. Dan secara terminologis adalah tanda-tanda khusus yang diberikan pada huruf yang menunjukkan fatah, kasrah, damah, tanwin, mad dan lain sebagainya. Bentuk sinonim dari dhabt adalah syakl, yang keduanya bermakna harakat.

 Al-naqtu (memberi tanda) yaitu memberikan tanda pada huruf. Naqtu al-mushaf yaitu memberikan tanda baca pada mushaf. Al-naqt dibagi menjadi dua bagian: pertama, naqt al-I’rab yaitu tanda-tanda yang diberikan pada huruf yang menunjukkan harakat fatah, kasrah, damah, tanwin, mad dan lain sebagainya. Kedua, naqt al-I’jam, yaitu tanda-tanda pada huruf yang membedakan huruf satu dengan yang lain.

 Permulaan masuknya huruf ke Arab yaitu dalam keadaan tanpa harakat dan sukun, dan Kaum Arab membaca al-Quran sesuai dengan tabiat mereka tanpa ada kesalahan tata bahasa dan kekeliruan, karena telah ada dalam diri mereka kefasihan lisan dan balaghah. Mereka tidak membutuhkan untuk mengetaui kaidah karena lisan mereka sudah konsisten dalam melafalkan huruf. Maka dari itu al-Quran di masa pertama turun tanpa adanya tanda baca, dan Kaum Arab menyandarkan bacaan mereka sesuai dengan yang dibacakan Rasulullah SAW dan riwayat.

 Setelah Islam semakin menyebar luas dan mulai bercampur antara Kaum Arab dengan non Arab pada masa Muawiyyah bin Abi Sufyan, maka mulailah muncul kesalahan tata bahasa dalam perkataan. Berawal dari ketakutan akan terjadi kesalahan bacaan dalam al-Quran, maka diperintahkan untuk memberikan tanda pada al-Quran tanpa merusak rasm utsmani untuk membantu pelafalan al-Quran yang benar.

 Ketika itu Umat Islam diperintahkan untuk menghafal al-Quran karena al-Quran merupakan dasar agama. Hingga muncul dikalangan Kaum Muslim ulama yang ahli dalam Ilmu Nahwu seperti: Abu al-Aswad al-Duali, Yahya bin Ya’mar al-Adawani, yaitu seorang hakim di Khurasan, dan Nasr bin Ashim al-Laitsi. Kemudian pada suatu hari, Abu al-Aswad al-Duali mendengar seseorang membaca al-Quran dengan bacaan seperti berikut: أَنَّ ٱللَّهَ بَرِيٓءٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ وَرَسُولُهُۥۚ, yaitu membaca kata وَرَسُولُهُۥ dengan harakat kasrah, yaitu yang berarti: “Allah telah berlepas diri dari rasul-Nya”. Kemudian Abu al-Aswad al-Duali pergi menghadap Ziyad di Basrah dan berkata: “Telah terjawab apa yang kamu minta”, karena pada saat itu Ziyad meminta Abu al-Aswad al-Duali untuk memberikan tanda baca berupa harakat dan sukun.

 Tanda baca pada saat itu berbentuk titik di atas huruf untuk fatah, titik di bawah huruf untuk kasrah, titik di tengah huruf untuk damah, dan dua titik untuk tanwin. Bentuk seperti ini berlangsung beberapa saat hingga semakin lama semakin berkembang dengan adanya tanda baca lain seperti tasydid dan alif wasl. Sampai pada suatu saat Abdul Malik bin Marwan memerintahkan untuk memberikan tanda baca yang membedakan antara huruf, ba, ta, dan sa. Kemudian dibuatlah tanda lain seperti yang kita ketahui sampai saat ini, yaitu harakat fatah, kasrah, damah, tasydid, dan yang lainnya hingga al-Quran berharakat.

 Harakat fatah, kasrah, damah dan lain sebagainya dicetuskan pertama kali oleh al-Khalil, yaitu dengan memberi tanda bentuk panjang luruf di atas huruf untuk fatah, dan bentuk seperti itu namun di bawah huruf untuk kasrah, kemudian tanda damah dengan wawu kecil di atas huruf, dan tanda-tanda lainnya. Pada abad ketiga hijriah harakat pada rasm mushaf diperbaiki kembali hingga adanya tanda tasydid, dan tanda lingkaran kecil pada alif wasl. Kemudian dari situlah berkembang adanya penulisan nama surat, jumlah ayat, dan tanda-tanda waqaf yang tertulis dalam mushaf.

 Awal mula adanya tanda-tanda berupa harakat dan segala sesuatu yang baru dalam mushaf, sebagian ulama ada yang memakruhkannya, karena ditakutkan adanya tambahan dalam al-Quran, perdapat ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud “Bersihkanlah al-Quran dan jangan campurkan al-Quran dengan segala sesuatu”, kemudian al-Halimi mengatakan bahwa titik dan harakat itu diperbolehkan, tetapi untuk nama surat dan lain sebagainya tidak diperbolehkan. Namun setelah berlalu masa tersebut, maka mulailah diperbolehkan dan dianjurkan untuk menggunakan titik dan harakat, karena titik dan harakat berfungsi untuk mejaga dari kesalahan membaca dan penyelewengan.

 Keistimewaan dan Sakralitas Rasm Utsmani
 Sebagian Ulama mengakatan bahwa rasm utsmani merupakan ijtihadi dan bukan tauqifi, mereka adalah Abu Bakar al-Baqillani dan Ibnu Khaldun dalam muqaddimahnya. Abu Bakar al-Baqillani mengatakan, bahwa yang diwajibkan atas umat untuk menjaga yaitu al-Quran dan lafaznya. Maka tidak diperbolehkan adanya penambahan ataupun pengurangan dalam hurufnya. Kemudian harus membacanya sesuai dengan yang diwahyukan. Sedangkan tulisannya tidak ada kewajiban apapun atas umat, dan tidak diwajibkan juga untuk menulis sesuai dengan yang ada dalam al-Quran, kemudian diperbolehkan untuk meninggalkannya karena tidak ada dalil resmi yang mewajibkan baik dari sunah maupun ijmak.

 Bahkan merupakan sunah menuliskan tulisan mushaf dari segala sisi yang mudah, karena Rasulullah SAW memerintahkan hal tersebut dan tidak melarangnya. Maka dari itu tulisan pada mushaf berbeda-beda, yaitu dengan adanya tambahan ataupun pengurangan huruf. Kemudian diperbolehkannya menulis dengan khat kufi dan lain sebagainya, yaitu dengan menjadikan lam seperti kaf ataupun memanjangkan setiap alif. Dengan ini menunjukkan bahwa tulisan mushaf boleh ditulis dengan tulisan arab yang lama ataupun baru. Jika tulisan dalam al-Quran berbeda-beda hurufnya maka akan memudahkan umat, yaitu dengan mengikuti tulisan mana yang lebih mudah menurut mereka, sebagaimana mengikuti qira’at dan azan.

 Namun pendapat tersebut ditentang oleh jumhur ulama,  karena tulisan al-Quran yang ada hingga saat ini adalah tauqifi dari Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan beberapa dalil berikut:

 Pertama, al-Quran telah tertulis secara lengkap pada zaman Nabi Muhammad SAW, dan nabi sendirilah yang mengimlakan kepada penulis wahyu dengan ditalkinkan oleh malaikat Jibril. Sebagaimana yang Rasulullah SAW katakan kepada Muawiyah: “letakkanlah tinta, pergunakan pena, tegakkan ‘ya’, bedakan ‘sin’, jangan kamu miringkan ‘mim’, buatlah bagus (tulisan) ‘Allah’, panjangkan (tulisan) ‘al-Rahman’, buatlah bagus (tulisan) ‘al-Rahim’, dan letakkan penamu pada telingga kiri, karena itu akan membuat kamu lebih ingat”. Ini merupakan keputusan yang Rasulullah SAW sampaikan kepada seluruh penulis wahyu.

 Kedua, kesepaktan para Qura’ dengan ditetapkan adanya huruf ya pada kalimat وَٱخۡشَوۡنِي dalam surah al-Baqarah dan dihilangkannya pada dua ayat dalam surah al-Maidah ayat ketiga dan ke-44 (وَٱخۡشَوۡنِ). Dan pada beberapa kalimat lain yang terdapat perbedaan antara yang satu sama lain dengan penghilangan, penetapan, penambahan, pengurangan ataupun penggantian. Dengan ini terbukti bahwa al-Quran Tauqifi sesuai dengan yang diimlakan oleh Nabi Muhammad SAW, karena jika tulisan al-Quran merupakan hasil ijtihad maka tidak akan ditemui perbedaan dan keserupaan yang demikian.

 Jika ada yang mengakatan bahwa ini bisa terjadi karena banyaknya penulis wahyu dan perbedaan kemampuan mereka dalam memahami huruf hijaiyah sehingga terjadi perbedaan seperti ini, maka dapat dikatakan kepada orang tersebut, jika terjadi hal seperti ini sudah pasti mereka (para penulis wahyu) akan berdiskusi untuk menyamakan tulisan tersebut, terutama ini menyangkut pondasi Islam, namun hingga saat ini tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa mereka telah mendiskusikan tentang perbedaan ini.

 Seperti yang dinukilkan dari Ibnu Mubarak dari gurunya Abdul Aziz al-Dibag, bukanlah tulisan mushaf itu dari ide para sahabat atau orang lain, tetapi itu tauqifi dari Nabi Muhammad SAW; beliaulah yang memerintahkan untuk menulis al-Quran dengan bentuk tulisan yang kita ketahui saat ini, yaitu dengan tambahan atau penghilangan yang menunjukkan rahasia yang ada dalam setiap kata al-Quran, rahasia inilah yang Allah khususkan hanya al-Quran tanpa kitab samawi yang lain.

 Ketiga, ketika Rasulullah SAW wafat, para sahabat mengumpulkan al-Alquran pada suhuf dan mushaf-mushaf dengan tulisan yang sama, dan tidak ada satu orang pun dari sahabat yang menentang tulisan tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda: “Ikutilah orang-orang setelahku seperti Abu Bakar dan Umar”. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi juga disebutkan, Rasulullah SAW bersabda: “Berpeganglah kalian dengan sunahku dan sunah Khulafa al-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia (sunahku tersebut) dengan gigi geraham”. Dari hadis diatas Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengikuti Khulafa al-Rasyidin, dan berpegang pada tulisan mushaf yang mereka jaga keasliannya hingga saat ini.

 Keempat, dalil dari ijmak, seperti yang diketahui bahwa al-Quran telah dikumpulkan dan ditulis pada masa Abu Bakar RA, kemudian Utsman bin Affan RA menghapuskan mushaf-mushaf dari suhuf yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar RA, dan kemudian mengirimkannya ke kota-kota beserta sahabat yang mengajarkannya. Pekerjaan ini telah diridhai dan diterima oleh 12.000 sahabat, maka ini menjadi ijmak sahabat bahwa perkerjaan ini adalah benar dan tidak boleh melanggarnya. Ijmak ini juga menjadi sandaran para tabiin, para mujtahid, dan para imam qura’.

 Kelima, jika al-Quran ditulis dengan rasm qiyāsi maka akan terjadi perbedaan dalam tulisan pada mushaf, dan umat akan bingung dengan perbedaan ini sehingga mereka tidak bisa membaca mushaf yang satu dengan yang lain. Permasalahan seperti ini akan menjadi permasalahan yang terjadi ketika zaman Khalifah Utsman bin Affan, yaitu perselisihan karena perbedaan bacaan. Jika tulisan berubah-ubah maka lambat laun akan berpengaruh pada lafaz dan kalimat. Karena itulah hingga kini al-Quran masih tertulis dengan rasm utsmani.

 Jika tulisan al-Quran itu bersumber langsung dari Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan penulisan al-Quran dengan tulisan selain menggunakan rasm utsmani? Diriwayatkan oleh Asyhab: bahwa Malik mengatakan: “apakah al-Quran tertulis dengan huruf hijaiyah yang baru?” Maka dia berkata: “tidak, kecuali dengan tulisan mushaf yang pertama”, dan dikatakan pada bagian lain, bahwa Malik menanyakan tentang huruf dalam al-Quran seperti huruf wau dan alif: “Apakah kamu melihat perubahan pada alif dan wau dalam al-Quran?” kemudian dikatakan: “tidak”.

 Abu Amru mengatakan: bahwa tulisan alif dan wau dalam al-Quran merupakan tambahan yang tidak ditemukan dalam lafaz. Pendapat lain adalah dari Imam Ahmad adalah yang meharamkan perbedaan tulisan dengan mushaf Imam dalam huruf wau, ya, alif, dan lain sebagainya. Dan al-Baihaqi mengatakan untuk menjaga seluruh huruf hijaiyyah yang tertulis dalam al-Quran, dan tidak merubah yang telah tertulis karena di dalamnya terdapat ilmu yang banyak, hati yang jujur, dan amanah yang agung. Pendapat dari pemakalah sendiri adalah lebih utama jika menulis menggunakan rasm utsmani; karena perbedaan dalam penulisan rasm utsmani itu memiliki makna dan rahasia.

 Ulama bersepakat bahwa dalam rasm utsmani terdapat beberapa keistimewaan, diantaranya sebagai berikut:

 Pertama, rasm utsmani bisa digunakan dalam berbagai macam qira’at, karena rasm utsmani tanpa harakat dan titik, dan dalam kaidah rasm utsmani ada dua bentuk cara penulisan:
Jika terdapat dua qira’at atau lebih maka ditulis dengan satu tulisan yang mencakup semua qira’at tanpa harakat dan titik, dengan ketentuan tidak menerima qira’at yang riwayatnya tidak sampai pada Rasulullah SAW dan tidak sesuai dengan rasm utsmani.
Kalimat yang di dalamnya terdapat unsur penambahan atau pengurangan dan tidak mungkin ditulis dalam satu mushaf, maka ditulis sesuai dengan qira’at yang dibaca oleh masyarakat yang akan dikirimkan mushaf tersebut kepada mereka.

 Kedua, menggunakan beberapa bahasa yang fasih seperti bahasa Thayi’ dan bahasa Hudzail, seperti ha ta’nis yang ditulis dengan huruf ta. Contoh: إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ, yaitu diperbolehkan waqaf pada huruf ta dengan menggunakan Bahasa Thayi’. Contoh lain pada surah Ibrahim ayat 34: وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ, yang berbeda dengan surah al-Nahl ayat 18:  وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ, ditulis dengan dua tulisan yang berbeda menunjukkan agar dapat dibaca dengan berbagai macam bahasa arab yang fasih.

 Ketiga, terhubung sanadnya sampai Rasulullah SAW. Karena jika al-Quran ditulis dengan rasm qiyasi maka manusia akan banyak mengambil dari hafalan para sahabat ataupun dari para imam qura’ ataupun cukup membaca dari mushaf kemudian menfatwakan sebagai hukum tilawah yang ditetapkan Rasulullah SAW. Dan tilawah al-Quran memiliki hukum khusus yang tidak mungkin diketahui kecuali dengan talaki yang sanadnya langsung terhubung kepada Rasulullah SAW. Inilah keistimewaan yang Allah khususkan untuk al-Quran.

 Keempat, menunjukkan harakat asli, seperti yang telah dibahas bahwa rasm utsmani  tanpa ada titik dan harakat, maka ditulislah harakat kasrah dengan huruf ya yang menujukkan kasrah, dan harakat damah dengan huruf wau yang menunjukkan damah. Seperti dalam kalimat berikut: وَلَقَدۡ جَآءَكَ مِن نَّبَإِيْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ, dan سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ .

 Kelima, menunjukkan asal huruf, seperti ٱلصَّلَوٰة untuk menunjukkan bahwa huruf alif diganti menjadi huruf wau. Dalam contoh lain yaitu penulisan alif dengan huruf ya untuk menunjukkan jika asal huruf tersebut dari huruf ya. Contoh: وَٱلضُّحَىٰ, بِٱلتَّقۡوَىٰٓ,  فَهَدَىٰ. Namun jika asal huruf tersebut adalah huruf wau maka ditulis dengan huruf alif, contoh: ٱلصَّفَا, وَعَفَا.

 Keenam, menunjukkan makna tersembunyi secara dalam yang sulit difahami kecuali dengan pemahaman yang dalam serta bantuan dari Allah-sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama. Seperti contoh: وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا بِأَيۡيْدٖ , dituliskan dua huruf ya yang menunjukkan keagungan kemampuan Allah yang menciptakan langit, serta kemampuan-Nya tidak bisa disamakan dengan yang lain. Kembali kepada kaidah ‘penambahan struktur sebuah kata menunjukkan bertambahnya makna’. Contoh lain yaitu dihilangkannya huruf alif pada bagian kalimat yang diwajibkan penggunaan alif didalamnya. Contoh: وَٱلَّذِينَ سَعَوۡ فِيٓ ءَايَٰتِنَا مُعَٰجِزِينَ, pada kalimat سَعَوۡ  alif setelah wawu jama’ah dihilangkan menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan adalah batil dan tidak dibenarkan. Contoh lain pada ayat:  وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ, وَجَآءُوٓ أَبَاهُمۡ عِشَآءٗ يَبۡكُونَ, وَجَآءُو عَلَىٰ قَمِيصِهِۦ بِدَمٖ كَذِبٖ. Kata وَجَآءُوٓ ditulis dengan menghilangkan alif setelah wawu jama’ah dengan makna bahwa kedatangannya disini dari sisi yang tidak benar, atau lebih banyak kebohongan.
 Syubhat
 Ada beberapa syubhat yang terdapat pada rasm utsmani yang ditujukan untuk mencela rasm utsmani, diantaranya sebagai berikut:

 Pertama, syubhat yang diriwayatkan dari Said bin Jabir bahwa ia membaca وَٱلۡمُقِيمِينَ ٱلصَّلَوٰةَ, dan dia berkata bahwa itu lahn dari kitab. Dan sebagian orang mengira bahwa lahn berarti kesalahan tata bahasa. Maka menjawab syubhat tersebut adalah, bukan yang dimaksudkan dalam riwayat tersebut adalah kesalahan tata bahasa atau lahn, tetapi yang dimaksudkan adalah lughah atau bahasa dari kitab.

 Kedua, yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas yaitu:
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat berikut: حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَا, dan Ibnu Abbas salah dalam menulis, yaitu menulis dengan: حَتَّىٰ تَسۡتَأۡذِنُواْ.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas  bahwa ia membaca: أَفَلَمۡ يَاْيۡ‍َٔسِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ, sedangkan dalam al-Quran tertulis: أَفَلَمۡ يَاْيۡ‍َٔسِ ٱلَّذِينَ, saya mengira bahwa penulis sedang mengantuk ketika menulisnya.

 Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas melalui Said bin Jabir, bahwa Ibnu Abbas membaca ayat berikut: وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ dengan bacaan: وَوَصَىٰ yaitu mengganti dengan huruf wau dan sad. Atsar ini telah tertulis dengan riwayat yang banyak, bahkan ada yang menambahkan: “jika itu perintah dari Allah, maka tidak ada yang bisa menentang perintah Allah, tetapi jika itu wasiat, maka manusia bisa berwasiat dengannya”.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas  bahwa ia membaca: وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ tanpa menggunakan huruf wau.

 Jawaban dari syubhat kedua adalah seluruh riwayat yang telah diriwayatkan tidak benar dan hanya dimasukkan ke dalam kitab-kitab para Imam yang dinukilkan tanpa ketetapan kebenaran atsar tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Abu Hayan pada riwayat pertama, bahwa perkataan Ibnu Abbas tersebut adalah celaan pada Islam, dan Ibnu Abbas terbebas dari semua perkataan tersebut. Dari riwayat kedua adalah perkataan orang Ateis. Sebagaimana yang dikatakan Imam Zamakhsyari bahwa tidak ada kebatilan yang tampak ataupun tersembunyi dalam al-Quran, dan al-Quran diterima sebagai pedoman umat.

 Ibnu al-Anbari mengatakan bahwa semua riwayat yang disebutkan adalah riwayat yang lemah. Dan itu semua bertentangan dengan apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Abbas, karena Ibnu Abbas membaca al-Quran sesuia dengan yang dibaca oleh Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab, mereka berdua adalah yang mengumpulkan al-Quran di zaman Abu Bakar RA, sedangkan Zaid bin Tsabit adalah penulis wahyu, maka tidak masuk akal jika bacaan Ibnu Abbas bertentangan dengan mereka.
Reading Time:
PERISTIWA TURUNNYA WAHYU, PELAJARAN DAN RENUNGANNYA
09.50.000 Comments


Oleh: Syarif Hidayatullah, Rohmah Sari Dewi, dan Naili Izzah Ramadhani
Kamis, 29 November 2018


 Berkhulwah di Gua Hira’

 Ketika Nabi Muhammad Saw. berumur 40 tahun, beliau memiliki kecenderungan untuk mengasingkan diri guna beribadah dan berkhulwah di Gua Hira, sepanjang malam bahkan sampai melampaui batas. Hingga sekitar sebulan, beliau kembali ke rumah sebentar untuk mengambil bekal pengasingan beliau yang selanjutnya. Lalu kembali lagi ke Gua Hira. Seperti inilah yang beliau lakukan hngga datang wahyu kepadanya dipertengahan pengasingannya.
Sesungguhnya kecenderungan Nabi Muhammad Saw. untuk berkhulwah dan beruzlah di Gua Hira sebelum pengutusan baginda sebagai seorang Rasul mengandung makna yang sangat mendalam dan memberi implikasi yang begitu penting kepada seluruh penghidupan umat Islam dan agama Islam khususnya.

 Amalan ini membuktikan bahwa setiap muslim tidak akan sempurna keIslamannya kecuali jika ia melakukan pengasingan diri dari keramain dunia, menilai dan memperhatikan keagungan Allah. Meskipun ia telah melakukan ibadah-ibadah dengan berbagai macamnya. Sebagai himat Ilahi, sesungguhnya dalam diri manusia terdapat berbagai penyakit yang tidak akan dapat diobati kecuali dengan jalan mengasingkan diri, memperhitungkan dan menghisab diri sendiri dalam suatu waktu dan tempat yang sunyi. Penyakit-penyakit itu adalah; sombong, ujub, dengki, riya dan cinta terhadap dunia. Disamping pentingnya berkhulwah, juga harus diperhatikan bahwa berkhulwah bukan suatu hal yang wajib, seperti yang dilakukan para penyimpang yang memahaminya dengan cara berpaling sepenuhnya dari orang lain hingga mengabaikan dunianya.
 
 Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad Saw.
(Al Qur'an) adalah kitab yang sangat agung, diartikan sebagai kalam Allah Swt. yang diturunkan  kepada Nabi Muhammad Saw. Al Qur’an juga merupakan  wahyu yang turun sebagai mukjizat terbesar kepada Nabi Muhammad Saw. sekaligus sebagai tanda  kenabiannya. Diturunkan pada malam yang agung yaitu malam lailatul Qadar. Ini merupakan fase pertama turunnya Al-Qur’an, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Qadr ayat 1-5 : “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. Al-Qur’an menjadi sumber hukum Islam yang paling utama. Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa isi dari Al-Qur’an adalah sebuah petunjuk bagi orang-orang beriman dan bertaqwa. Al-Qur’an juga sebagai pedoman bagi setiap manusia untuk mencapai kebahagiaannya, baik dunia maupun akhirat. Al-Qur’an disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah Swt. dengan perantara malaikat Jibril, dan membacanya merupakan sebuah nilai ibadah. Kemudian Allah Swt. persiapkan kekasih-Nya untuk menerima risalah yang sangat agung ini. Melalui proses yang cukup panjang Allah Swt. turunkan Al-Qur’an dengan beberapa tahapan, salah satunya melalui malaikat Jibril sebagai perantara. Ketika usia Nabi Saw. hampir mendekati empat puluh tahun, beliau banyak menghabiskan hari-harinya untuk mengasingkan diri. Rutinitas tersebut mulai beliau kerjakan setelah melalui proses perenungan yang cukup lama. Dengan membawa persediaan makanan yang secukupnya, seperti roti dari gandum dan juga air, beliau pergi ke gua Hira.
Selama menyendiri di gua tersebut, beliau menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya, dan kekuatan menakjubkan tak terhingga dibalik alam.

 Beliau masih merasa gelisah menyaksikan keyakian umatnya yang penuh dengan kemusyrikan. Sementara itu, beliau sendiri belum menemukan jalan yang jelas atau petunjuk yang bisa menhantarkan mereka kepada jalan yang benar. Kemudian, ketika usia nabi genap 40 tahun, tanda-tanda kenabian itu mulai tampak. Diantaranya terjadinya ru’yah shadiqah atau mimpi yang benar berupa fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan.

 Tepatnya di bulan Ramadhan, Allah memberikan rahmat-Nya kepada penduduk bumi dengan memberikan kemuliaan kepada Nabi Saw. berupa pengangkatannya sebagai nabi. Adapun mengenai turunnya wahyu, sayyidah Aisyah r.a., menuturkan kisahnya sebagai berikut: “wahyu pertama yang dialami oleh Rasullullah Saw. adalah berupa ru’yah shalihah (mimpi), dan mimpi itu hanya berbentuk fajar subuh yang menyingsing, kemudian semenjak kejadian itu beliau lebih senang menyendiri, yang mana proses penyendirian itu beliau lakukan di gua Hira. Beliau beribadah beberapa malam sebelum kembali kepada keluarganya”. Proses itu terus dilakukan oleh beliau, hingga datang kebenaran kepadanya, yaitu saat beliau berada di gua tersebut, Saat itu Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad, "إقرأ". Saat itu Nabi Muhammad merasa ketakutan dengan peristiwa itu.

 Selanjutnya Rasulullah menjawab, "ما أنا "بقارئ
Ada dua tafsiran mengenai hal ini. Yang pertama Rasulullah Saw berkata, "ما أنا بقارئ" Karena seperti yang kita tahu bahwa Rasulullah adalah seseorang yang buta huruf, dan tidak bisa menulis. Turunnya ayat ini karena merupakan suatu mukjizat. Juga tafsiran yang lain bahwa Rasulullah berkata, "ما الذي أقرأ"Apa yang harus aku baca? (Karena logikanya jika ada yang menyuruh untuk membaca pasti ada sesuatu yang dibaca, sedangkan saat itu tidak ada sesuatupun yang akan dibaca, karena Al-Qur’an sudah berada di dalam hati Rasulullah Saw).

 Hal ini bisa dibuktikan dengan ayat Al-Quran Surat Al-Qiyamah ayat Allah Swt berfirman: “laa tuharrik bihii lisaanaka lita'jala bih" Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 16). Inna 'alainaa jam'ahuu wa qur`aanah "Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya." (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 17).
Ada dua pendapat saat datangnya wahyu dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. Pendapat yang pertama berpendapat bahwa beliau takut dengan Malaikat Jibril.

 Sedangkan pendapat yang kedua Nabi Muhammad Saw. tidak takut dengan datangnya Malaikat Jibril, tetapi beliau takut dengan beratnya risalah, haibatu da'wah dan haibatu wahyi, haibatullah, wa haibatu al-Quran. Karena ini merupakan wahyu yang agung.  Dalam kitab Fiqih Siroh karya Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy dijelaskan bahwa, Sewaktu Rasulullah  di dalam Gua Hira maka datang kepadanya malaikat lalu berkata, iqra’ (bacalah). Lalu Rasulullah berkata, ma ana biqari’i (aku tidak bisa membaca), Rasulullah berkata, “Kemudian Jibril menarikku dan dipeluknya aku kuat-kuat hingga terasa kepadaku kesungguhannya kemudian dilepaskan aku, lalu ia berkata: iqra’ ! (Bacalah). Maka aku berkata, ma ana biqari’ (Aku tidak bisa membaca), kemudian Jibril menarikku lagi lalu dipeluk erat hingga terasa kepadaku kepayahan kemudian itu dilepaskan aku dan dia berkata, iqra’ ! (Bacalah). Maka aku berkata, ma ana biqari’ (Aku tidak bisa membaca), kemudian Jibril menarikku lagi lalu dipeluk erat yang ketiga kalinya hingga terasa eratnya dan dilepaskannya aku, maka ia berkata:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq: 1-5).

 Pulanglah Baginda Rasulullah Saw. dengan ayat-ayat itu dan hatinya gemetar. Lalu bertemulah Rasulullah kepada Khadijah binti Khuwailid seraya berkata: (Selimutilah aku! selimutilah aku!) maka diselimutilah hingga hilang daripadanya rasa ketakutan, kemudian Rasulullah berkata kepada Khadijah setelah rnenceritakan peristiwa itu: “Sesungguhnya aku takut terhadap diriku, lalu Khadijah pun berkata kepada Rasulullah, “jangan begitu! Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu sedih selamanya karena engkau sebenarnya mempunyai rahim (kasih sayang), dan engkau memikul beban, berusaha memberi terhadap orang susah, menjamu tamu dan menolong dalam musibah yang menimpa.”

 Kemudian pergilah Khadijah bersama Rasulullah menemui Waraqah bin Naufal Ibnu Asad bin Abdul Uzza yaitu anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani pada zaman jahiliyyah dan pandai menulis kitab Ibrani. Maka disalinnya kitab Injil dengan bahasa ‘Ibrani atas kehendak Allah. Beliau seorang yang telah berusia tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai anak pamanku! dengarkan anak saudaramu ini,” kemudian Waraqah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat itu?” Lalu Rasulullah Saw. menceritakan apa yang dialami dan dilihatnya. Setelah itu Waraqah pun berkata kepada Rasulullah, “Inilah Jibril yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi Musa. Sekiranya aku masih muda dan masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu.”

 Kemudian Rasululah bertanya, “Apakah mereka hendak mengusirku?” Lalu Waraqah menjawab, “Ya! karena tidak pernah datang seorang pun yang mernbawa risalah seperti yang engkau bawa melainkan ia akan dimusuhi, dan sekiranya jika aku melihat peristiwa itu aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sungguh-sungguh.” Begitulah Allah Swt. mengatur, dan mempersiapkan kehidupan Rasulullah Saw. untuk mengemban amanah yang sangat besar ini, mengubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Pilihan nabi untuk mengasingkan diripun rupanya termasuk dari ketentuan Allah Swt. kepadanya, sebagai langkah untuk menerima tugas besar yang menantinya.

 Sebelum turunnya wahyu kepada Rasululllah Saw. yang pertama kali (surat al-Alaq ayat 1-5), melalui perantara malaikat Jibril, Rasulullah sesungguhnya telah mendapatkan wahyu secara ar-Ru’yah as-Sholihah. Apakah yang dimaksud dengan ar-Ru’yah as-Sholihah itu ? a-Ru’yah as-Sholihah yakni dimana Rasulullah bermimpi dalam tidurnya tepat sebelum terbitnya fajar. Sudah tidak diherankan lagi, sesungguhnya Rasulullah telah mengetahui dirinya adalah seorang nabi dan Rasul nantinya meski masih dalam usia anak-anak sekalipun. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya pepohonan, batu, gunung dan semua makhluk di dunia ini selalu mengucapkan sholawat dan salam kepadanya. Ditambah lagi dengan beberapa petunjuk yang beliau dapatkan sebelumnya, salah satunya dari perkataan sang Rohib yang bertemu saat pergi berdagang bersama pamannya ke negeri Syam.  Dengan inilah Rasulullah Saw. mengetahui bahwa suatu saat nanti akan tiba dimana datangnya suatu wahyu kenabian kepadanya.

 Dijelaskan bahwasannya malam sebelum Rasulullah Saw. pergi untuk berkhalwat di gua Hira, Rasulullah Saw. mengalami ar-ru'yah as-sholihah dimalam harinya. setelah itu pergilah Rasululah Saw. ke gua Hira di saat pagi tiba. Dan disinilah awal pengangkatan Rasulullah Saw sebagai panutan umat akhir zaman.

 Adapun tata tertib turunnya wahyu (maratibul wahyu) :
1. ar-Ru’yah as-Shodiqoh. Yakni pertama kali Rasulullah mendapatkan wahyu. Dan biasanya terjadi di malam menjelang shubuh.
2. Didatangi oleh malaikat di dalam jiwanya dan hatinya tanpa sepenglihatannya. Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya malaikat Jibril memasuki dirinya, tidak akan mati jiwa tersebut melainkan malah menjadi sempurnanya rezkinya, maka bertaqwalah dan perpantaslah dirimu saat kamu meminta. (HR..Ibnu Abi ad-Dunuya wa al-Hakim).
3. Datangnya malaikat seperti bunyi loncengan bel. Dan bunyi itu sangat keras (bahwasannya, ini merupakan wahyu yang paling berat). Diibaratkan sampai sayap (malaikat) beterbangan seperti dedaunan dan terjadi disuatu hari yang sangat dingin. (HR. Bukhori dan Ahmad Bayhaqi)
4. Dilihatkan malaikat kepadanya atas kehendak Allah Swt, dan memiliki 600 sayap. Ini terjadi dua kali kepada Rasulullah Saw. sebagaimana dijelaskan dalam surat anNajm.
5. Langsung didatangkan oleh Allah Swt. dari atas langit, seperti perintah diwajibkannya shalat.
6. Kalam Allah Swt. langsung kepada Rasulullah Saw. tanpa adanya perantara malaikat, seperti kalam Sayyidina Musa as. 7. Percakapan bersama Allah Swt. tanpa adanya penutup ataupun perantara.

 Dan sesungguhnya dari maratibul inilah memperjelas kebesaran Nabi Saw.
Pelajaran dan Renungan
Peristiwa turunnya wahyu ini merupakan dasar utama yang memberi implikasi atau keterlibatan terhadap seluruh hakikat aqidah dan syari’ah islamiyyah. Memahami serta mempercayai dengan penuh keyakinan merupakan titik permulaan untuk mempercayai segala apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. seperti memberi kabar tentang ghaib dan suruhan syari’at.

 Hakikat wahyu adalah jenis tunggal yang memisahkan antara manusia yang berfikir secara logis dengan otak pemikiran yang bersifat serba kemanusiaan dengan manusia yang menyampaikan segala sesuatu yang telah diturunkan oleh Tuhannya tanpa merubah, mengurangi dan menambah.  Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki keraguan terhadap Islam mencoba menimbulkan persoalan-persoalan tentang wahyu yang diturunkan karena mereka meyakini bahwa objek hakikat wahyu itu merupakan sumber kepercayaan dan keyakinan orang Islam terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. dari Allah Swt. Kalaulah mereka dapat menyuntikkan jarum keraguan terhadap hakikat wahyu tadi juga mendoktrin mereka segala syari’at dan prinsip kepercayaan Islam adalah ciptaan dan rekaan Nabi Muhammad Saw. sendiri, maka tidak diragukan lagi dengan mudahnya menjadikan orang Islam itu mengingkari sebagian dari kepercayaan dan hukum.

 Untuk mencapai tujuannya, penyerang ideologi ini akan berusaha menganalisa wahyu itu sesuai kehendak hati mereka sendiri dan mencoba memisahkan dari hakikat kebenaran wahyu itu. Ada juga yang menuduh Rasulullah bahwa beliau menyembah berhala. Ada juga yang menuduh Nabi Muhammad Saw. mempelajari Al-Qur’an dan prinsip ajaran Islam dari Pendeta Bahira dan ada pula yang menuduh bahwa Rasulullah itu seseorang yang terganggu urat sarafnya atau telah diserang penyakit jiwa. Andaikata kita memperhatikan kepada tuduhan-tuduhan dan tafsiran-tafsiran yang tidak masuk akal ini, maka tampaklah kepada kita bahwa manusia tersebut tidak boleh menerima apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasulullah berupa wahyu, dan ini justru akan menjauhkan diri Umat Islam dari Nabi Muhammad sebagai Nabi.

 Kita dapat memperhatikan jelas segala kebenaran wahyu itu dengan hadist Imam Bukhari mengenai penurunan wahyu.
 - Kenapa Rasulullah dapat melihat Jibril dengan mata kepalanya sendiri? Mengapa wahyu tidak disampaikan dibalik tabir saja?
 Kenapa Allah meresapkan perasaan takut dan kebimbangan di dalam hati Rasulullah ketika menerima wahyu itu? Bukankah sebenarnya diresapkan perasaan tenang dan tenteram ketika itu karena ini merupakan tanda sayangnya Allah terhadap RasulNya? Mengapa Rasulullah  merasa takut bahwa yang mendatanginya di Gua Hira dulu adalah jin, dan belum pasti bahwa yang mendatanginya adalah malaikat utusan Allah Swt?
 - Kenapa turunnya wahyu terputus beberapa saat? Peristiwa ini telah menyebabkan Rasulullah resah dan cemas hingga beliau pergi mendaki bukit sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari.

 Ini adalah beberapa pertanyaan mengenai bentuk wahyu yang pertama kali diturunkan. Bagi orang yang berfikir untuk mendapatkan jawabannya akan mendapatkan beberapa rahasia dan hikmah-hikmah yang terang lagi nyata, yaitu orang-orang liberal dan golongan orientalis yang menganggap bahwa wahyu ini adalah hasil renungan dan fikiran Nabi Muhammad akan bertemu dengan hakikat yang paling nyata.  - Nabi Muhammad Swt berada di Gua Hira’ dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Bacalah!” Ini supaya memahami bahwa wahyu itu bukanlah suatu perkara di dalam jiwa atau batin, melainkan yang sebenarnya ialah menerima suatu hakikat yang tidak ada hubungannya dengan dorongan jiwa. Malaikat Jibril telah memeluk baginda Nabi seerat-eratnya sebanyak tiga kali dan melepaskannya  sebanyak tiga kali, kemudian Malaikat Jibril menyeru kepada baginda Nabi, “Bacalah!” sebanyak tiga kali juga merupakan penegasan dan gambaran hidup tentang wahyu yang datang dari luar bukanlah rekaan khayalan Nabi Muhammad Saw.

 Nabi Muhammad Saw. merasa takut dengan apa yang telah didengar dan dilihat, sampai beliau telah berhenti dari ibadahnya dan bergegas pulang ke rumah dengan hati yang berdebar-debar. Peristiwa ini menegaskan kepada orang yang meragukannya bahwa Nabi Muhammad tidak mengharap-harapkan hendak menjadi pembawa Risalah yang akan disebarkan ke seluruh alam. Dan bukan pula wahyu itu untuk menyempurnakan apa yang telah difikirkan Rasulullah dalam fikirannya. Malah kedatangan wahyu itu kedatangan yang tidak disangka-sangka akan mempengaruhi kehidupannya.

 Soal ilham, jeritan batin dan jiwa atau renungan ke alam atas tidak akan diserang perasaan takut, kagum dan pucat badan. Tegasnya tidak ada titik pertemuan atau hubungan di antara renungan mencari ilham dan dibarengi dengan perasaan takut yang berturut-turutan. Kita sendiri pun lebih mengetahui bahwa perasaan takut dan menggeletar seluruh anggota badan disertai dengan pucat warna tubuh badan adalah perasaan-perasaan yang tidak boleh dibuat-buat atau dipura-purakan? Kalau hendak diandaikan bahwa Nabi Muhammad mencoba sedemikian maka ini suatu andaian (hypothesis) yang mustahil di mana perangainya telah begitu berubah corak dan satu keadaan kepada suatu keadaan yang terlalu berbeda dan berlainan.

 Nabi Muhammad Saw. tidak percaya bahwa yang mendatanginya, memeluk dan menyuruh baginda membaca di gua itu adalah sejenis jin. Ini dapat dilihat dari apa yang diceritakannya  kepada Sayyidah Khadijah. Nabi Muhammad berkata, “aku takut terhadap diriku,” tegasnya dari jin, tetapi Khadijah telah menenangi Nabi Muhammad dan memberi penenang  bahwa ini bukanlah rasukan jin atau syaitan karena baginda Nabi Muhammad berakhlak mulia dan berpribadi tinggi. Allah menenangkan jiwa Nabi Muhammad bahwa yang mendatanginya itu tidak lain adalah Malaikat Jibril yaitu malaikat suruhan Allah yang membawa pengkhabaran wahyu dan berita-berita Ilahi tentang pengutusan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul untuk manusia seluruh alam, tetapi hikmah Ilahi yang nyata adalah ingin memberitahu antara dua pribadi Nabi Muhammad yang paling nyata perbedaannya yaitu Nabi Muhammad sebagai manusia biasa sebelum pengutusannya dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul setelah pengutusan dan untuk menerangkan lebih lanjut lagi bahwa prinsip aqidah islamiyyah atau syariah islam belum pernah terfikirkan oleh Rasulullah Saw dan belum pernah tergambar di kepalanya mengenai da’wah itu.

 Suatu kehendak Ilahi yang telah mengilhamkan Khadijah agar membawa Nabi Muhammad untuk menemui Waraqah bin Naufal dan membentangkan perkara ini kepada beliau. Ini merupakan suatu sudut yang lain untuk memperkuatkan lagi bahwa apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad berupa wahyu pernah disampaikan kepada para anbiya’ lain yang terdahulu dan untuk menyingkap perasaan yang menakutkan, yang menyelubungi jiwa Nabi Muhammad Saw. dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
 
 Mengenai pemberhentian sementara penurunan wahyu, kemudian disambung setelah enam bulan atau lebih itu mengandungi mu’jizat Ilahi yang mendalam. Para penyerang-penyerang aqidah (Islam) telah mencoba menganalisa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw itu dengan mengatakan bahwa itu bersumber dari renungan yang panjang yang bersumber dalam jiwa. Sebagai rahasia dan hikmah ilahi Malaikat Jibril yang ditemui oleh baginda di Gua Hira’ dahulu telah menyembunyikan diri untuk beberapa saat.

 Lantaran itu Rasulullah Saw diselubungi oleh perasaan was-was kemudian bertukar pula menjadi takut dan bimbang karena Allah telah melucutkan pemberian dan karunia wahyu serta pengutusan karena suatu kesalahan yang telah dilakukan oleh baginda sehingga terasa oleh baginda bahwa dunia ini sempit baginya. Hingga disuatu ketika, baginda telah melihat sekali lagi malaikat Jibril yang bentuk-rupanya telah memenuhi ruangan di antara langit dan bumi, “Hai Muhammad engkaulah utusan kepada manusia”. Perasaan takut sekali lagi menguasai seluruh diri Nabi Muhammad Saw. Dengan keadaan demikian baginda Nabi kembali ke rumahnya di mana Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an Surat Al-Mudatsir ayat 1-2 yang artinya: “Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah, lalu berilah peingatan!” Hadist mengenai penurunan wahyu ini merupakan satu-satunya senjata untuk merobohkan segala cemoohan dan serangan yang dibuat oleh seteru-seteru Islam terhadap penurunan wahyu dan terhadap keNabian yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad Saw. Dari sini maka dapatlah kita fahami sejauh mana dan betapa agungnya hikmat ilahi yang terkandung di dalam penurunan wahyu itu tadi. Boleh jadi seteru Islam akan kembali bertanya kalaulah wahyu itu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dengan perantaraan Jibril kenapa para sahabat yang lain tidak melihat?

 Sebagai jawabannya kita boleh mengatakan bahwa tanda wujud dan adanya sesuatu itu tidak semestinya dapat dilihat oleh kasat mata manusia karena tenaga dan penglihatan manusia itu terbatas. Sebagai kenyataan waqi’i menunjukkan kebenaran wahyu ialah penurunannya yang berturut-turut bukannya suatu petanda penyakit jiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. seperti mana yang pernah dianalisa oleh seteru-seteru Islam. Di sini kita coba membuat kesimpulan tentang bukti-buktinya ini:

i. Terdapat perbedaan di antara Al-Qur’an dan Al-Hadist al-Sharif. Nabi Saw. telah menyuruh dan meminta para sàhabatnya agar menulis Al-Qur’an setelah diturunkan. Sebaliknya Hadist memadai dengan hafalan mereka, karena A1-Qur’an merupakan kalam Allah yang diwahyukan dengan makna dan perkataan dengan perantara Malaikat Jibril, sedangkan Hadist maknanya dari Allah Swt sedangkan lafadz dan tarkib dari Rasulullah Saw. Ini dilakukan supaya nas dan teks Al-Qur’an tidak bercampur aduk dengan nas hadist.

ii. Nabi Muhammad ditanya beberapa perkara dan tidak menjawab semua pertanyaan yang dikemukakan oleh para sahabatnya dengan waktu yang lama. Sehingga saat diturunkannya ayat Al-Qur’an sesuai dengan pertanyaan tadi, maka baginda akan menjawab pertanyaan tadi, kemudian dibacakan ayat-ayat Al Qur’an yang baru diturunkan.

iii. Seperti diketahui Rasulullah adalah seorang yang buta huruf dan tidak mungkin manusia itu dapat mengetahui peristiwa dan faktor sejarah dengan jalan “meditasi perantaraan” seperti cerita Nabi Yusuf, peristiwa menghanyutkan Nabi Musa di dalam sungai, dan cerita mengenai Fir’aun yang kesemuanya itu membuktikan bahwa Rasulullah buta huruf. Lantaran itu Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab sebelum (Al-Qur’an) dan engkau tidak pernah menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.”

ix. Sesungguhnya Rasulullah terkenal di kalangan kaumnya sebagai seorang yang amanáh selama empat puluh tahun. Lebih-lebih dengan diri sendiri baginda lebih teliti sewaktu menerima wahyu dan mengkaji secara mendalam agar tidak langsung berbau keraguan.  Sebagaimana dalam Surah Yunus 10:94  yang artinya, “maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dan TuhanMu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu ragu.” Seolah-olah ayat ini merupakan jawaban kepada kajian Rasulullah terhadap wahyu dan diriwayatkan bahwa Rasululah telah menegaskan setelah penurunan ayat ini dengan katanya, “aku tidak ragu tidak akan bertanya-tanya lagi.”

Reading Time:
KA'BAH DARI MASA KE MASA
09.27.000 Comments


Oleh: Fiki Roi’atuz Zibrija, Salma Qodariah, Idham Khadi Maulana Al-Anshori
Kamis, 22 November 2018

 Ka’bah merupkan rumah pertama pertama yang dibangun atas nama Allah Swt. untuk beribadah kepada Nya, dan bertauhid di dalamnya. Sebenarnya batu pertama Ka’bah sudah diletakkan kepada Nabi Adam As, kemudian ditinggikan kembalin pondasinya pada zaman Nabi Ibrahim dan Ismail As, dan kemudian lambat laun Ka’bah mulai direnovasi dan diperbesar berkali-kali hingga datangnya masa Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw. juga ikut serta dalam pembangunan Ka’bah dan pengulangan renovasinya sebelum waktu diutusannya menjadi nabi dan rasul.

 Rasulullah Saw. juga mempunyai pengaruh yang besar dalam memecahkan masalah yang disebabkan oleh pertentangan-pertentangan qabilah-qabilah untuk mendapatkan kemuliaan dalam menempatkan Hajar Aswad di tempatnya dan kemudian menyarankan Rasulullah Saw. untuk mengeluarkan pendapat dalam memecahkan masalah yang ada diantara mereka, karena mereka tahu bahwa Rasulullah Saw. adalah orang yang terpercaya dan dicintai dari khalayak umum.

 Adapun beberapa pelajaran dan bahan renungan yang diambil dari judul ini adalah martabat tinggi yang dimiliki oleh Rasulullah Saw. diantara para pemuka Quraisy, dan diberi nama panggilan Al-Amin yang artinya terpercaya diantara mereka, selain itu ada juga bagaimana urgensi Ka’bah dalam kehidupan umat Muslim, yaitu Allah Swt. menjadikan Ka’bah sesuatu yang suci serta mulia di bumi, dan dengan perintah Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim As untuk  membangun dan mendirikannya, serta Allah Swt. jadikan sebagai rumah untuk beribadah kepada Nya serta tempat berkumpul yang aman bagi manusia. Ka’bah merupakan sesuatu yang suci dan agung bagi Allah Swt., yang menjadi symbol dari keesaan Nya, dan yang menjadi tanda serta syiar nya dalam menghapus semua kebatilan, syirik, serta penyembahan berhala yang ada sebelumnya pada masa Nabi Ibrahim.

 Adapun beberapa rangkaian peristiwa penting yang terjadi pada Ka’bah baik dalam pembangunan, renovasi, dan kerusakannya. Ka’bah dibangun serta direnovasi empat kali sepanjang masa, namun masih ada beberapa riwayat yang lain yang menyatakan lebih dari itu, diantaranya:

 Pertama :Nabi Ibrahim As untuk membangun Ka’bah yang dibantu oleh anaknya Nabi Ismail As sebagai jawaban dari perintah Tuhan nya yang Maha Agung, sebagaimana yang ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Berikut ini yang dari Al-Qur’an :
وإذ يرفع إبراهيم القواعيد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم (البقرة: 127)

 Sedangkan dalam Sunnah  yang diriwatkan oleh  Imam Bukhari dengan sanad Ibnu Abbas yang artinya : Ibrahim berkata: “wahai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkanku dengan sebuah perintah”, maka Nabi Ismail menjawab: “maka lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Tuhanmu”, kemudian Nabi Ibrahim berkata: “apakah kamu dapat membantuku?” Nabi Ismail menjawab: “aku akan membantumu”. Nabi Ibrahim berkata: “sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membangun rumah (Ka'bah) disini”, lalu ia menunjuk ke arah bukit yang tinggi serta daerah di sekitarnya, maka ketika itu ditinggikan pondasi Baitullah, Nabi Ismail membawa batu dan Nabi Ibrahim membangunnya.

 Kedua : ketika dibangun oleh Kaum Quraisy sebelum datangnya islam, dan Nabi Muhammad Saw ikut serta di dalamnya. Mereka menjadikan Ka'bah dengan tinggi 18 hasta, dan mengurangi enam hasta dari lebar sebelumnya, dan membiarkan batu yang lainnya.

 Ketiga : Ka'bah terbakar pada masa khalifah Yazid bin Muawiyah saat diserang oleh tentara dari Syam dibawah pimpinan Husain bin Namir Assakuni yang kala itu sedang mengepung Abdullah bin Zubair, mereka melempari Ka'bah dengan batu ketapel, sehingga Ka'bah menjadi rapuh dan terbakar, ini merupakan siasat dari Yazid untuk menghentikan pemberontakan yang dilakukan oleh Ibnu Zubair. Kemudian datanglah kabar kematian Yazid yang menjadikan tentara Syam yang di Mekkah menghentikan pengepungannya. Kemudian kesempatan itu digunakan oleh Ibnu Zubair (Abdullah bin Zubair) untuk berbicara di depan khalayak umum dan membangun kembali  Ka'bah dan mengembalikan yang seharusnya ada padanya, maka Ibnu Zubair segera menegakkan tiang-tiang disekitarnya, dan menutup nya. Kemudian, mulailah mereka membangun dan meninggikan bangunan Ka’bah secara bersama-sama, serta menambah enam hasta yang telah dikurangi sebelumnya, dan menambah tinggi Ka’bah sepuluh hasta, lalu membuat dua pintu untuk pintu masuk dan pintu keluar.

 Keempat : Ibnu Zubair pernah meletakkan dasar Ka’bah yang disaksikan oleh penduduk Mekah sebelum kematiannya, maka Hajjaj memberitahukan Abdul Malik bin Marwan tentang itu setelah kematiannya. Maka Abdul Malik mengembalikan batu kembali ke tempatnya sebelum terjadinya perubahan, menutup pintu Ka'bah, serta mengembalikan Ka'bah seperti sedia kala.

 Juga diriwayatkan bahwa, Khalifah Harun ar Rasyid telah berencana untuk menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan ‘Abdullah bin Zubair, akan tetapi Imam Malik bin Anas berkata kepadanya: “Aku bersumpah, demi Allah, wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau menjadikan Ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau, sehingga tidaklah seseorang dari mereka yang ingin merubahnya, kecuali dia pun akan merubahnya, dan kemudian hilanglah kewibawaan Ka’bah dari hati kaum Muslimin,” lalu Khalifah Harun ar Rasyid pun menggagalkan rencana tersebut.
Reading Time:

Minggu, 17 Maret 2019

Komunitas Literasi IKPM Mulai Bergerak
00.52.000 Comments

Doc: Penyerahan Sertifikat Penghargaan kepada Pemateri

IKPM Kairo- Asosiasi Literasi Muda Berkarya (A’LAMA), telah mengadakan seleksi anggota, Jum'at (15/03). Pasca diresmikan beberapa waktu lalu, komunitas yang dinaungi oleh Ikatan Pelajar Pondok Modern (IKPM) ini mengadakan pelatihan kepenulisan hard news dan feature sebagai seleksi tahap lanjutan. Pelatihan yang bertempat di kantor sekretariat IKPM, Gami', Hay Asyir ini diisi oleh Bana Fatahillah yang  merupakan founder website bacalatansa.com. Adapun tujuan diselenggarakan pelatihan ini guna mempersiapkan kader-kader  kepenulisan di laman web IKPM Kairo.

Acara yang dimulai pukul 14.00 CLT ini dihadiri oleh ketua IKPM Cabang Kairo, Nurman Haris, 30 calon anggota dan beberapa pengurus komunitas A'lama. Kali ini Bana yang merupakan Alumni Gontor 2014 memaparkan bahwa dalam kepenulisan hard news dan feature terdapat perbedaan yang mendasar. Seperti dalam hard news tidak ada unsur sastra maupun subjektifitas dalam konten tulisan. Berbanding terbalik dengan feature yang sarat akan sentuhan sastra. Demikian pula hard news sangat cepat kadaluarsa dibanding feature yang tahan lama. Disinilah pola berfikir dan kepenulisan jurnalis dituntun.


“Cara berfikir perlu dituntun sedangkan teknis bisa belajar sendiri," ujar pemateri yang sempat menjadi pimpinan redaksi majalah Latansa tersebut. Ia juga berpesan agar semua kru A’lama dapat berkontribusi dalam laman IKPM dengan berita-berita yang berbobot.

Selain mendapat materi, peserta juga melakukan praktek menulis berita kemudian dibedah langsung oleh pemateri. Dipenghujung acara, Nurman Haris selaku ketua IKPM Cabang Kairo memaparkan, “menulis itu tidak bisa dipisahkan oleh membaca, jika hari ini kamu tidak bisa membaca bacaan apapun, kamu masih bisa membaca dari alam sekitar.”

Rep: Rahmadi P
Red: Naili
Reading Time:
 A'lama dan Cakrawala Gelar Workshop bersama Author "5 Titik 1 Koma"
00.31.000 Comments

Doc: Bedah Buku "5 Titik 1 Koma" 

IKPM Kairo- Sabtu (16/03) jam 14.00 tepat telah berlangsung seminar Kepenulisan dan Workshop yang diprakarsai oleh Media literasi IKPM cabang Kairo, Cakrawala dan A’lama. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Author novel “5 titik 1 Koma”, yaitu Muhammad Kamal Ihsan, yang juga pernah mendapatkan prestasi sebagai Masisir of the Year, PPMI Award 2017. 

Sebagai autor “5 Titik 1 Koma” yang akan membedah langsung bukunya di hadapan para peserta acara, ia merasa pembedahan buku dari penulisnya sendiri kurang objektif. Ia menyarankan agar kedepannya mencari seseorang sebagai pembanding dalam kegiatan bedah buku.


Sebelum memaparkan materi inti, ia mengawalinya dengan beberapa motivasi yang berbau penggalian potensi dan kepenulisan. “Kita jauh lebih banyak memiliki potensi diri dari pada saat ini, itu adalah hal pertama yang ingin kakak sampaikan,” ujar pemenang cipta cerpen Forum Lingkar Pena, bersama PPMI Maroko 2017 lalu.

Dalam pembedahan buku “5 titik 1 koma” ini, ia juga berbagi cerita, bahwasannya buku ini terselesaikan hanya dalam  jangka waktu 1 bulan. Buku ini ia selesaikan karena ingin menghadiahkannya sebagai kado spesial untuk sang Bunda tercinta.

Di penghujung acara, Muhammad Kamal Ihsan memberikan 1 tantangan. Beruntung pada malam itu, Wildah Binasrillah, mahasiswi tahun pertama tersebut, mampu menyelesaikan tantangan dan diberikan kepadanya 1 buah buku perdana langsung. Juga bagi beberapa masisir yang aktif dalam kegiatan acara tersebut, berkesempatan mendapatkan tiket kupon gratis oleh penyelenggara acara.

Acara tersebut berlangsung dengan lancar, meskipun masih terdapat beberapa kekurangan di dalamnya.

Rep: Farah Desky
Red: Naili Izzah
Reading Time:

@way2themes