IKPM KAIRO

Rabu, 09 Januari 2019

Puri Emilda Ungkap Rahasia Cum Laude di al-Azhar
13.06.000 Comments

Salah satu anggota Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Kairo, Puri Emilda, berhasil meraih predikat cum laude setelah menjalani sidang tesis dalam disiplin Tafsir dan Ilmu al-Quran, Fakultas Ushuluddin. Dilaksanakan pada (2/1), di Auditorium Universitas al-Azhar, Hay Sadis. Dihadiri oleh beberapa Majelis Sidang diantaranya, Prof. Dr. Maghda Rasyad Mahanna (pembimbing pertama), Prof. Dr. Zainab Kamil el-Khouliy (pembimbing kedua), Prof. Dr. Muhammad Sarhan (penguji eksternal), Prof. Dr. Thaha Abdul Khaliq Abdul Aziz (penguji internal). Tesis yang berjudul “Taujihat al-Imam al-Ajhury fi al-mutasyabih al-lafzhiy min khilali kitabihi “Irsyadu al-Rahman li asbabi al-nuzul wa al-nasikh wa al-mansukh wa al-mutasyabih wa tajwid al-Quran” min awwali suroh al-Fatihah ila akhiri suroh al-A’rof jam’an wa dirasatan” disidang selama empat jam. Turut hadir Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Usman Syihab, Ketua IKPM Cabang Kairo, dan beberapa mahasiswa/i al-Azhar.

Momentum yang berlangsung mulai pukul 11.00 CLT hingga pukul 14.00 CLT ini membahas tentang persamaaan antara satu ayat dengan yang lainnya dari sisi makna, lafazh, dan isi. Predikat cum laude tersemat dalam hasil tesis ini, karena pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Majelis Sidang dapat terjawab secara kapabel dan kredibel.

Berpegang teguh pada kata mutiara “Man ‘arafa bu’da safari, ista’adda”,  fokus, memiliki target, dan melarang diri untuk belajar Sistem Kebut Semalam, maka tak dipungkiri bahwa istri Puhan Syarifudin tersebut dapat menyelesaikan setiap jenjang studinya dengan hasil yang memuaskan, baik S1/S2. Wanita asal Lamongan ini menempuh pascasarjana selama  delapan tahun (dua tahun tamhidi, satu tahun taqdim, lima tahun mengerjakan tesis), disamping perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya.

Puri memberikan enam poin untuk membagi waktu antara tesis dan rumah tangga. “Kerjasama dan kesepakatan dengan suami, pasangan suami istri adalah teamwork, meminimalisir waktu tidur, pembagian shift dengan suami, pembuatan kuadran kehidupan, tahu prioritas utama.”

“Waktu yang cukup lama dalam mengerjakan tesis tidak ada pengaruhnya ke hasil akhir, karena di al-Azhar banyak sekali faktor x yang tidak dapat teruraikan dengan teori. Maka doa orang-orang yang menyayangi kita dan ridho merekalah yang akan menjadi faktor terbesar bagi kesuksesan kita,” tegasnya.

Rep: Rima
Red: Zaenal
 

Reading Time:

Senin, 31 Desember 2018

Gelora Awal IKPM Cup
23.57.000 Comments


IKPM CUP sudah mendekat, mengingat salah satu agenda IKPM Cabang Kairo ini maka segeralah dibentuk kepanitiaan untuk acara tersebut. Pembentukkan kepanitiaan tepat diadakan setelah perkumpulan untuk anggota kedatangan baru IKPM 2018, guna penyematan nama baru serta pembentukan tim sukses angkatan, yang dilaksanakan pada hari Ahad (30/12), di Aula KSW, Hay Asyir.

Perkumpulan Pembentukkan panitia IKPM CUP ini dihadiri oleh 79 mahasiswa baru kedatangan 2018 (Ghozi), ketua IKPM dan Steering Committe. Acara ini diawali dengan sambutan oleh Nurman Haris selaku ketua IKPM. Dalam sambutannya dia mengenalkan kepada mahasiswa baru tentang IKPM CUP dan alasan diadakannya agenda tersebut serta menerangkan bahwa “IKPM CUP adalah agenda yang dihadiri oleh seluruh angkatan almamater IKPM untuk mengenalkan lebih dekat antara satu angkatan kedatangan dengan yang lainnya, khususnya mahasiswa baru dan mengisi kekosongan dengan hal-hal yang positif,” tegasnya.

Di akhir sambutan, dia megajak takbir untuk menambah semangat panitia IKPM CUP 2019. Dilanjut pembentukkan struktur panitia beserta tugas-tugasnya, pemilihan logo dan penetapan motto untuk agenda tersebut yaitu “Unity in diversity” artinya persatuan di dalam perbedaan. Dalam setiap perlombaan, di setiap tim pastilah terdapat banyak orang dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda, tetapi dengan perbedaan tersebut kita dapat menjadikannya sebagai kelebihan untuk saling melengkapi satu sama lain demi mencapai satu tujuan, berikut adalah pemikiran dari Fahrina Rahmasari.

Susunan demi susunan acara telah terlewati, tibalah pada penghujung acara. Setelah pembentukkan panitia beserta tugas-tugasnya, pemilihan logo dan motto selesai, acara pun ditutup dengan beberapa nasehat dari Musthofa Fadhila selaku Steering Committe bahwasanya kita harus selalu menjaga kekompakkan satu sama lain antar bagian kepanitiaan, karena setiap bagian pasti selalu berhubungan.

Rep: Annisa
Red: Nurman

Reading Time:
IKPM Cabang Kairo: Selamat Tinggal Guruku
23.50.000 Comments


Innalillah wa inna ilaihi rajiun, tak ada sesuatu yang kekal di muka bumi ini,  karena semua akan kembali pada sang Khaliq.
Satu demi satu guru terbaik Gontor, kembali ke haribaan Allah. Setelah Ustadz Dihyatun Masqon (alm) wafat dengan pelbagai kiprah yang telah diukirnya, pada (28/12), di Rumah Sakit Darmo, Surabaya pada pukul 16.50 WIB, Ustadz Nashrulloh Zainul Muttaqien yang sering disapa “Pak Atul” menghembuskan nafas terakhirnya. Putra kesepuluh dari sebelas putra-putri KH. Imam Zarkasyi tersebut telah mengidap Penyakit ginjal kurang lebih 15 tahun, hingga menjadikan Rumah Sakit adalah tempat persinggahannya.

Penyakit yang menyerang bukan alasan baginya untuk berhenti mengumpulkan ladang amal. Dia tetap aktif dalam pelbagai kegiatan dan dinamika pondok, bahkan  sering diamanati untuk menjadi juri khususnya dalam acara tahunan pondok, yaitu Panggung Gembira dan Drama Arena. Wawasannya yang luas dalam bidang Jurnalistik menjadikannya sebagai Redaktur Bahasa Indonesia serta Pemimbing dalam Majalah Dinding Darussalam Pos dan Majalah Santri Itqan. Bukan hanya itu saja, Kemahirannya dalam merangkai bait irama berhasil membuahkan lagu yang berjudul “Ode Untuk Pimpinan”, yang dipentaskan dalam Panggung Gembira tahun 2014. 

Namun tepat di umur 57 tahun ini, raganya tak kembali menemani langkah kita, sosoknya tak kembali mewarnai dinamika kita. Karena takdir Allah, beliau telah dipanggil untuk kembali bersamaNya. Kiprah, petuah, serta amal jariyah selama masa hidupnya, akan selalu menjadi tuntunan bagi kita untuk menjadi sosok penerusnya, atau bahkan menjadi lebih baik darinya.

Tepat pada hari Ahad (30/12), di Kantor Kesertariatan IKPM Cabang Kairo dengan komando ketua IKPM disertai oleh beberapa anggota mengadakan sholat ghaib bersama, untuk mendoakan almarhum, Ustadz Nashrulloh Zainul Muttaqien. Kami segenap keluarga IKPM Cabang Kairo turut berduka atas meninggalnya Ustadz Nashrulloh Zainul Muttaqien, semoga amal baiknya diterima di sisi Allah, dan semoga semua keluarga diberikan kelapangan atas perginya sosok teladan tersebut.

Rep: Rima
Red: Nurman


x
Reading Time:
Kiprah Seniman IKPM,  Torehkan Kaligrafi Internasional
23.42.000 Comments


IKPM Cabang Kairo- Kaligrafi merupakan warisan khazanah Islam yang telah tersebar berbagai macam manhaj dalam penulisan huruf-huruf Arab. Pada Jum’at (28/12) Universitas al-Azhar mengadakan pameran kaligrafi  dan ornament di bawah naungan Grand Syekh al-Azhar Syekh Ahmad Thoyyib. Adapun pembukaan acara tersebut diadakan setelah shalat jum’at di Masjid al-Azhar. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa masyayikh al-Azhar serta kaligrafer dan seniman yang turut berperan pada acara ini.

Acara pameran ini diikuti oleh 150 kaligrafer dan seniman dari 50 negara, baik dari Jazirah Arab atau daerah lainnya dan akan berlangsung hingga 15 Januari 2019 di Masjid al-Azhar. Dr. Muhammad Muhanna, Pengawas Umum Ruwaq al-Azhar  mengawali acara ini dengan menyampaikan sambutannya. Beliau menekankan bahwa ini adalah pameran kaligrafi dan dekorasi pertama di al-Azhar.
150 peserta mengajukan berbagai karyanya dan saat ini dapat kita lihat di Masjid al-Azhar. Dari 150 peserta tersebut terdapat 5 orang dari Indonesia,  diantaranya Al-Ustadz Jalaluddin Saputra,  Al-Ustadzah Nur Hamidiyah, Al-Ustadz Mukhlis Ilyas, Al-Ustadz Muhammad Kamil Abdullah, Al-Ustadz Ikhlasul Fajar Amin. Adapun empat nama terakhir merupakan warga IKPM Cabang Kairo.

“Ini acara yang sangat berkesan bagi saya, karena pertama kalinya karya saya bisa tampil di pameran. Sebagai orang yang menyukai seni Islam seperti kaligrafi dan ornament saya baru tahu kalau al-Azhar mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap warisan seni Islam. Ini adalah kesempatan yang sangat langka bisa bertemu dengan kaligrafer-kaligrafer besar yang mana dulu hanya saya tahu ceritanya saja,” ungkap Fajar mengenai pameran kaligrafi yang ia ikuti.
“Jika dibandingkan dengan beberapa pameran kaligrafi di Mesir baik skala nasional maupun internasional yang diadakan tiap tahunnya, pameran ini menurut saya adalah yang paling menarik dan ramai. Bagaimana tidak, pembukannya dibuka oleh masyayikh al-Azhar dan masyayikh kalihgrafi internasional menambah nilai sakralnya acara pameran ini. Terlebih, acara ini diadakan di tempat paling stategis yaitu masjid al-Azhar,” begitulah kesan salah satu senior IKPM, Al-Ustadzah Nur Hamidiyah salah satu murid dari Syekh Belaid Hamidi.

Beliau pun berpesan, “Kaligrafi memiliki peranan penting dalam sejarah perkembangan Islam, maka kaligrafi menjadi pilihan yang sangat layak untuk dipelajari dan ditekuni. Untuk apa? Yaitu sebagai ibadah, sebagai skill pribadi agar bisa menulis arab dengan indah dan rapi, sebagai sarana dakwah Islam, sebagai penyalur seni potensi menulis, serta sebagai salah satu jalan pembuka rizki. Mahasiwa Indonesia memiliki potensi yang kuat untuk menjadi kaligrafer professional. Maka jangan takut dan minder untuk mengikuti pameran kaligrafi di Mesir. Karena kesempatannya banyak dan terbuka. Modalnya hanya nekat dan kemauan yang kuat. Kelak pengalaman kita berkiprah di bidang kaligrafi di Mesir akan menjadi nilai tambah dan bergengsi tinggi ketika kembali ke tanah air InsyaAllah.”

Merupakan sebuah prestasi bagi IKPM Cabang Kairo khususnya, dan Masisir umumnya dengan keikutsertaan beberapa masisir dalam acara ini. Kaligrafi yang merupakan warisan khazanah Islam patut dilestarikan melalui tangan-tangan para generasi Islam salah satunya dalam seni kaligrafi dan dekorasi.

Rep: Ummu
Red: Nurman

Reading Time:

Rabu, 26 Desember 2018

Pengenalan Bahasa 'Amiyah bagi Calon Mahasiwa Baru
00.02.000 Comments



IKPM Cabang Kairo- Setelah sekitar 2 minggu datangnya calon mahasiswa baru al-Azhar, IKPM Cabang Kairo mengadakan seminar pelatihan Bahasa ‘Amiyyah bagi calon mahasiswa/i baru IKPM. Bahasa ‘Amiyyah yang merupakan bahasa lokal dan komunikasi dengan warga Mesir patut dilatih dan dikenalkan terlebih kepada calon mahasiswa yang baru tiba di Mesir. Acara ini diadakan pada Sabtu (22/12) di Aula IKPM Cabang Kairo, Hay ‘Asyir.
Acara yang diadakan oleh IKPM Cabang Kairo ini dibagi dalam 2 waktu. Yaitu sesi pertama pada pagi hari, dimulai pukul 09.00 – 13.00 Clt. Sesi kedua pada siang hari pukul 14.00 – 17.00 Clt. Sesi pertama diperuntukkan bagi calon mahasiswi baru al-Azhar sedangkan sesi kedua di siang hari tersebut diperuntukkan calon mahasiswa baru al-Azhar. Adapun pembicara pada pelatihan ini yaitu Al-Ustadzah Du’aa Ahmad Nahrawi pada sesi pertama dan Al-Ustadz Umar Harras pada sesi kedua.
Pada sesi pertama, Al-Ustadzah Du’aa langsung memulai pelatihan tersebut dengan memutar video singkat pada awal pelatihan. Pemutaran video tersebut diharapkan menjadi gambaran sederhana tentang bahasa yang dipakai di Mesir, yaitu terdapat unsur Bahasa Fushah dan ‘Amiyyah. Selang beberapa waktu untuk memahami video yang diputar, para peserta dibagikan materi singkat mengenai Bahasa Amiyyah di Mesir.                              
Satu persatu materi dibahas dan perserta pelatihan pun memperhatikan dengan seksama. Disamping materi yang sangat jelas beliau bawakan, penyampaiannya pun tak kalah menarik dengan ilmu yang beliau serap sejak kecil di Kairo. Karena beliau lahir dan tumbuh saat masa kecil di Kairo sebelum melanjutkan pendidikannya di Indonesia.
             
“Bahasa kalau tidak dipakai akan hilang. Seperti menghafal Al-Qur’an, ketika tidak diulang akan hilang,” tegas beliau sebelum memasuki pembahasan materi. Setelah pembahasan materi yang beliau berikan dan pertanyaan dari beberapa peserta, Al-Ustadzah Du’aa menguji pemahaman peserta melalui praktek Bahasa ‘Amiyyah dengan diaolog langsung dari beberapa peserta. Acarapun ditutup dengan pemberian sertifikat kepada Al-Ustadzah Du’aa Ahmad Nahrawi dan perfotoan bersama para peserta.
Acara pelatihan ini tak berhenti di sesi pertama ini, pada siangnya dilanjutkan dengan sesi kedua, yaitu pelatihan Bahasa ‘Amiyyah bersama Al-Ustadz Umar Harras. Berdasarkan pengalaman dalam menuntut ilmu di Mesir ini, beliau paparkan mengenai Bahasa ‘Amiyyah kepada mahasiswa baru, seperti halnya pada sesi pertama.
“Man ‘arafa lughota qoumin salima min makrihim, barang siapa yang mengetahui bahasa suatu kaum maka ia akan selamat dari tipu daya mereka," ucap Al-Ustadz Umar Harras mengawali pelatihan Bahasa ‘Amiyyah. Peserta dalam acarapun tak kalah antusias pada sesi pertama. Berbagai kosa kata dan penyampaian dalam Bahasa ‘Amiyyah  didapatkan pada pelatihan ini. Seperti halmya pada sesi sebelumnya, beberapa pertanyaan dari beberapa peserta dijadikan bahan diskusi bersama dilanjutkan dengan praktek dialog. Karena materi saja belum cukup jika tidak dengan praktek secara langsung. Hal tersebut dijadikan sebagai pemanasan untuk berbicara menggunakan Bahasa ‘Amiyyah di Mesir. Karena hal tersebut dilatih melalui praktek langsung di kehidupan sehari-hari disamping Bahasa Fushah  yang tak boleh dilupakan.
Begitulah beberapa kegiatan yang diadakan oleh IKPM Cabang Kairo sebagai wadah bagi anggotanya, terutama calon mahasiwa/i mengenai cara berkomunikasi dan bermasyarakat di Mesir.

Rep: Ummu
Red: Nurman

Reading Time: