IKPM KAIRO

Jumat, 06 November 2020

RAYAKAN BERSAMA PERINGATAN MAULID NABI, MUKHLASON JALALUDIN: CINTA KEPADA RASUL ADALAH MERINDU UNTUK BERTEMU BELIAU
11.44.000 Comments

  IKPM Gontor Cab. Kairo melaksanakan peringatan Hari Besar Islam Maulid Nabi Muhammad SAW  yang diadakan di aula KEMASS pada Kamis Malam(5/11). Dalam acara ini turut mengundang beberapa perwakilan pondok alumni Gontor yang berada di Mesir. 


  Mulai tepat setelah shalat maghrib dengan lantunan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah dari salah satu senior IKPM, Mukhlashon Jalaludin,Lc.,M.M. Beliau mengajak agar menambah kecintaan kita kepada Nabi.


  “Rasulullah sudah mencintai kita sebelum kita mencintai beliau, kita sebagai umatnya sangat dimuliakan oleh beliau, untuk itu marilah bersama-sama memanfaatkan momen ini untuk banyak-banyak membaca shalawat kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW karena dengan shalawat kita menunjukan kecintaan kita kepada beliau dan juga cinta kepada Rasul adalah merindu untuk bertemu kepada beliau di hari akhir nanti dan bukanlah hal yang mustahil kita berharap demikian karena itu merupakan janji beliau kepada umatnya” pesan beliau.

  

 Pak Mukhlason juga menyebutkan antara lain sebab-sebab kita mendapat syafa’at dari Baginda Nabi di hari akhir nanti, yaitu:

1. Senantiasa bertauhid

                                        قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

أسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال لا إله إلا الله خالص من قلبه أو نفسه (رواه البخاري)

 Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling bahagia melalui  syafa’atku dihari kiamat nanti adalah yang mengatakan Laa ilaaha illallah, murni dari hatinya atau dirinya sendiri (HR.Bukhori)

2. Rajin menjawab adzan,karena disitu ada doa dan tawassul kepada Rasulullah

3. Rajin membaca shalawat

4. Berakhlak mulia    

 

  Dalam acara ini ketua IKPM Kairo turut memberikan sambutan, “Harapanya ingin mengeratkan kembali ukhuwah islamiyah antara pondok-pondok alumni yang ada di Mesir dan IKPM agar saling melengkapi dan bekerja sama dalam kebaikan” sambung Ishlahul Anam 

 


  Acara ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh pak Mukhlashon dan dilanjutkan dengan ramah tamah.

Reading Time:

Jumat, 30 Oktober 2020

Petikan Pelajaran dalam Perang Mu'tah
12.35.000 Comments


Setelah mengarungi kisah Perang Mu'tah di tulisan sebelumnya, berikut terdapat beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:
Pertama: Wasiat Rasulullah Saw kepada para panglima pasukan Islam menjadi dalil bahwa seorang pemimpin umat Islam boleh menyerahkan kepemimpinan dalam misi atau tugas tertentu kepada seseorang berdasarkan penunjukan. Kedua: Dari wasiat Rasulullah Saw itu juga kita mendapatkan dalil bahwa umat Islam boleh berijtihad  untuk memilih pemimpin mereka yang baru jika pemimpin mereka gugur atau mereka yang diperinthkan oleh khalifah untuk memilih pemimpin berdasarkan pendapat mereka sendiri.

Ketiga: Seperti anda ketahui, Rasulullah Saw menyampaikan berita duka tentang gugurnya Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah dengan berlinangan air mata, padahal saat itu Rasulullah dalam jarak yang sangat jauh. Hal ini membuktikan bahwa Allah Swt telah melihat pasukan Islam yang sedang bertempur di perbatasan Syam.  Keistimewaan ini tentu menjadi salah satu kelebihan luar biasa yang menjadi tanda pemuliaan Allah terhadap hamba yang paling dicintai-Nya. Tentu saja tangisan Rasulullah Saw sama sekali tidak menaafikan keridhaannya terhadap ketetapan dan takdir Allah Swt. “Karena mata sungguh dapat mencucurkan air mata dan sungguh dapat bersedih,” seperti dikatakan Rasulullah Saw. Oleh sebab itu, tangisan yang rasulullah tunjukan itu semata-mata menunjukkan kewajaran dan kelembutan yang telah digariskan oleh Allah sebagai fitrah bagimanusia. Keempat: Hadis mengenai berita duka gugurnya ketiga panglima muslim yang disampikan Rasulullah Saw juga meenyatakan sebuah keistimewaan Khalid bin Walid r.a. Di penghujung hadis itu Rasulullah bersabda, “Lalu panji-panji pasukan di bawah salah satu pedang di antara pedang- pedang-Nya smpai akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka.”

Perang Mu’tah adalah perang pertama yang diikuti Khalid bin Walid r.a. yang ikut membela pasukan Muslim, karena saat itu dia memang muallaf. Dari hadis ini, Anda tahu bahwa Rasulullahlah yang menyematkan julukan Pedang Allah (Saifullah) kepada Khalid bin Walid r.a.  Al-Bukhari meriwayatkan dari Khalid bin Walid r.a, dia berkata, “Ada sembilan pedang yang patah ditanganku, dan yang tersisa hanya sebatang pedang lebar model Yaman. Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa saat Perang Mu’tah para prajurit Islam berhasil membunuh begitu banyak prajurit musuh.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo


Reading Time:

Sabtu, 24 Oktober 2020

Do'a bersama untuk kyai Syukri, bersama prof. Dr. Mustofa Dasuki
13.53.000 Comments


Kairo- Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Dr.KH.Abdullah Syukri Zarkasyi atau yang akrab disapa Ustad Syukri dikabarkan meninggal pada Rabu (21/10) sekitar pukul 15:50. Diawali dengan khataman Al-Qur'an oleh seluruh warga IKPM Kairo, acara ini dilanjutkan dengan Tahlil, dan sholat ghaib bersama yang dipimpin oleh Al-Ustadz Umar Haras.


Masih dalam suasana haru warga IKPM Kairo mengadakan acara Tahlil dan Doa bersama pada hari Kamis (22/10) yang dipimpin oleh Ust.Agus Salim, alumni Gontor yang sekarang sedang mennempuh pendidikan S3. Dalam acara ini, IKPM Kairo turut mengundang Dosen Azhar yang juga teman terdekat Almahrum kyai Syukri selama kuliah di Azhar  yaitu Prof.Dr.Mustofa Dasuki. 


Sahabat almarhum Kyai syukri ini pun bercerita bahwasanya ia tahu apabila kyai Syukri meneruskan memimpin  pondok setelah lulus dari Al-Azhar saat tidak banyak pondok yang didirikan di Indonesia pada saat itu. Ia menyatakan kekagumannya karena pondok yang sedang dipimpin kyai Syukri saat itu, menerapkan dua bahasa yang dipraktekan setiap minggu, yaitu bahasa inggris dan bahasa Arab. Lalu menerapkan sanksi bagi yang berbicara selain kedua bahasa tersebut. 


Tak hanya itu saja yang membuatnya kagum, kedisiplinan yang diterapkan di Gontor juga menjadi salah satu penyebabnya. "Karena Kedisiplinan merupakan dasar yang sangat besar pengaruhnya pada santri’’ ujar salah satu dosen Al-Azhar ini.


Dalam kesempatan ini Drs.M.Aji Surya selaku alumni pondok modern darussalam gontor dan juga wakil KBRI di Kairo juga turut hadir dan memberikan sambutan, ‘’Pondok Pesantren kita ini (Gontor) bisa sebesar ini, karena networkingnya yang unbelievable, dan hal ini tidak lepas dari peran sosok Alm.Kyai Abdullah Syukri Zarkasyi dalam melebarkan sayap didalam maupun luar negri’’ kata wakil kedubes yang akrab dipanggil pakde Aji ini.


Rep: Ienas Mazaya 

Red : Haya F Nabila 



Reading Time:

Jumat, 02 Oktober 2020

Kecamuk Perang Mu'tah
13.20.000 Comments

 


Kecamuk Perang Mu'tah

Perang Mu’tah merupakan salah satu perang terbesar diantara perang yang pernah dilakukan kaum muslimin pada zaman Rasulullah. Perang ini menjadi barometer awal pembuka penaklukan negeri-negeri Nasrani, pada Jumadil Ula thun 8 H. Mu’tah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam, sekarang lebih dikenal dengan nama Karak.Tempat ini bisa ditempuh selama dua hari dua malam perjalanan kaki dari Baitul Maqdis.

Latar Belakang Peperangan

Suatu hari Rasululah mengutus Harist bin Umair Al- Azdi r.a untuk mengantarkan surat kepada raja Bashra. Di tengah perjalanan ia dicegat oleh Syurahbil bin Amr, seorang prajurit daerah Al Balqa' termasuk wilayah Syam, dibawah kekuasaan Kaisar. Al-Harist diikat dan diserahkan kepada Kaisar dan dipenggal lehernya.

Pesan Rasulullah Kepada Para Komandan Pasukan

Rasulullah Saw menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Beliau bersabda, “Apabila Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far. Apabila Ja’far gugur penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah."

Rasulullah mengikatkan bendera kain bendera berwarna putih dan memberikannya kepada Zaid bin Haritsah. Beliau juga mendatangi tempat terbunuhnya Haritsah bin Umair, lalu mengajak penduduk disana agar masuk Islam. “Jika mereka meresponsnya, bersyukurlah. Namun jika sebaliknya, mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka.” Beliau meneruskan sabdanya.

'Dengan asma Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, janganlah berkhianat, janganlah mengubah, jangan membunuh anak-anak, perempuan, orang tua renta, dan orang yang menyelamatkan diri ke rumah ibadah, janganlah memotong pohon kurma atau menumbangkannya, dan jangan pula menghancurkan bangunan.

Ketika pasukan itu bergerak, kaum muslimin ramai mendoakan mereka, “Semoga Allah menemani kalian, membela kalian, dan mengembalikan kalian dalam keadaanbaik.”

Ketika itu pula, rupanya pihak musuh mendengarnya sehingga pasukan Romawi mulai bersiap-siap menyambut kedatangan mereka. Saat itu, Kaisar Heraklius menyiapkan lebih dari seratus ribu prajurit Romawi, sementara Syurahbil bin Amr, Gubernur Bashra, juga menyiapkan seratus ribu prajurit yang berasal dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qain, dan Bahra’.

Berunding di Mu’an dan Mulai Bergerak Mendekati Musuh

Mendengar jumlah pasukan musuh sebesar itu, Pasukan Muslim benar-benar bingung. Dua bulan mereka berada di Mu’an memikirkan masalah ini. Mereka terus menimbang-nimbang dan bertukar pikiran. Mereka memutuskan untuk menulis surat kepada Rasulullah dan mengabarkan jumlah musuh mereka, entah beliau akan memberikan perintah tertentu dan mereka siap melaksanakannya.

Tetapi Abdullah bin Rawahah menentang pendapat ini. Dia memberikan motivasi kepada orang-orang dan berkata, “Wahai semua orang, demi Allah, apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini sebenarnya justru sesuatu yang kalian cari, yaitu mati Syahid. Kita tidak berperang dengan manusia karena jumlah, kekuatan dan banyaknya personil. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena agama ini, yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah karena disana hanya ada dua pilihan kebaikan, entah kemenangan atau mati syahid.”

Pasukan Muslim pun akhirnya bertemu pasukan musuh dekat Karak. Mereka bersiap-siap untuk mengadakan pertempuran. Saat itu dari pasukan muslim, sayap kanan dipimpin Quthbah bin Qatadah dan Sayap kiri dipimpin Ubadah bin Malik.

Awal Perang Berkecamuk dan Pergantian Kepemimpinan

Di Mu’tah itulah dua pasukan itu bertemu dan pertempuran pun pecah. Dan selang beberapa saat, Zaid bin Haritsah r.a gugur ketika sebilah tombak menghujam tubuhnya. Setelah syahidnya Zaid, panji-panji Islam diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib r.a. Ja’far terus bertempur sampai akhirnya dia syahid di tanga prajurit pasukan Romawi yang mengayunkan pedang kearah tubuhnya sampai terbelah menjadi dua. Ketika syahidnya, tak kurang dari lima puluh luka terdapat di sekujur tubuh Ja’far r.a.

Setelah Ja’far gugur, panji-panji Islam dibawa Abdullah bin Rawahah r.a, sahabat Rasulullah yang pandai bertempur sekaligus piawai bersyair. Abdullah binRawhah r.a lalu bertempur mati-matian sampai akhirnya panglima pasukan Islam yang ketiga ini pun syahid.

Bendera diserahkan Kepada Pemegang Pedang Allah

Setelah Abdullah bin Rawhah gugur, para prajurit muslim sepakat menunjuk Khalid bin Walid sebagai Panglima baru. Di tangan Khalid inilah paukan Muslim berhasil memukul mundur pasukan Kafir dari Mu’tah. Demi mengingat jumlah dan persenjataan yang tidak sebanding dengan pihak musuh, akhirnya Khalid memutuskan untuk menarik pasuka Islam Ke Madinah.

Imam Ibnu Katsir menyatakan:

Disepakati bahwa (dalam Perang Mu’tah) Khalid memang menahan laju pasukan Islam karena dia menunggu malam berlalu. Keesokan paginya, Khalid mengubah posisi Pasukan Islam dengan cara menukar pasukan sayap kanan di sebelah kiri begitupun sebaliknya. Dengan cara seperti itulah , Khalid menyerang pasukan Romawi dan membuat musuh-musuh Allah itu tunggang langggang meninggalkan medan pertempuran. Namun Khalid tidak mengejar yang melarikan diri karena menganngap bahwa keberhasilan pasukan Islam untuk dapat pulang ke Madinah dengan selamat merupakan Ghanimah yang tidak ternilaiharganya.

Akhir Peperangan

Ketika pasukan itu mendekati Madinah, Rasulullah Saw segera menyambut kedatangan mereka. Sambil melangkah, Rasulullah melihat anak kecil berlarian. Beliau lalu berkata, “Cepatlah bawa kemari anak Ja’far, tak lama kemudian dibawanya Abdullah kepada Rasulullah, dan akan Ja’far itu dibawa dengan menggunakan kedua tangannya.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo


Reading Time:

Jumat, 25 September 2020

Umroh Qadha: Nasehat dan Pelajaran
17.17.000 Comments



Pada bulan Zulqa'dah tahun ke-7 Hijrah, Nabi Saw berangkat menuju Makkah guna menunaikan umrah qadha. Bulan Zulqa'dah adalah bulan dilarangnya Rasulullah Saw masuk Makkah oleh kaum Musyrikin pada tahun sebelumnya. Ibnu Sa‘ad menyebutkan di dalam thabaqatnya bahwa orang-orang yang melaksanakan umrah pada bulan dan tahun ini bersama Rasulullah Saw sebanyak 2000 orang. Mereka terdiri dari ahlul Hudaibiyah dan orang-orang yang bergabung kepada mereka.

Ibnu Ishaq berkata, “Kaum Quraisy menyebarkan berita bohong, bahwa Nabi Saw dan para sahabatnya sedang menghadapi kesukaran, kesulitan dan kepayahan. Ia berkata: “Saat itu kaum Musyrikin Quraisy berbaris di pintu Darun-Nadwah, ingin melihat Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Setibanya di Makkah, Rasulullah Saw langsung masuk ke dalam masjid al-Haram, kemudian duduk menghamparkan burdahnya dan sambil mengangkat tangan kanannya lalu beliau berucap: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini dapat menyaksikan kekuatan yang datang dari hadhiratNya.“Kemudian beliau mencium Hajar Aswad, lalu berjalan cepat bersama para sahabatnya mengelilingi Ka‘bah.

Dalam tawaf ini, beliau berlari kecil tiga keliling dan selebihnya berjalan biasa. Ibnu Abbas berkata, “orang- orang mengira bahwa hal itu bukan sunnah umum. Rasulullah Saw melakukan hal itu sekadar untuk membantah desas-desus yang disebarkan oleh orang- orang Quraisy tersebut. Tetapi pada haji wada’, Rasulullah Saw juga melakukannya sehingga hal ini menjadi sunnah. Dalam kesempatan ini, Nabi Saw juga melangsungkan pernikahan dengan Maimunah binti al-Harits. Dia katakan bahwa Nabi Saw melangsungkan pernikahannya dalam keadaan ihram (akad nikahnya saja). Tetapi riwayat lain mengatakaan setelah tahalul. Orang yang menikahkan adalah Abbas bin Abdul Muthallib, suami Ummul Fadhal saudaranya Maimunah. 

Setelah tiga hari Rasulullah Saw tinggal di Makkah (waktu yang disepakati dalam perjanjian Hudaibiyah), orang-orang Musyrik datang kepada Ali seraya berkata, “Katakan kepada temanmu (Nabi Muhammad Saw) agar segera meninggalkan Makkah karena waktunya telah habis. Akhirnya Nabi Muhammad Saw keluar meninggalkan Makkah. Rasulullah Saw menyelenggarakan walimah (pesta) pernikahannya dengan Maimunah di tengah perjalanan menuju Madinah, di sebuah tempat bernama “Sarif“ dekat Tan‘im. Kemudian pada bulan Zulhijah berangkat ke Madinah.

Pelajaran dan Nasihat:


Umrah ini dianggap sebagai penunaian janji Allah kepada Rasulullah Saw dan para sahabatnya bahwa mereka akan masuk Makkah dan tawaf di Ka‘bah. Telah diketahui bagaimana Umar pernah bertanya kepada Rasulullah Saw pada waktu perdamaian Hudaibiyah, ia berkata, ”Tidakkah engkau pernah menjanjikan bahwa kita akan tawaf di Ka‘bah?“ Nabi Saw menjawab, “Ya, tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan melaksanakannya tahun ini?“. Umar mengakui, “Tidak“. Nabi saw menegaskan, “Sesungguhnya kamu akan datang ke sana dan tawaf di Ka‘bah. “Ini adalah penunaian janji Rasulullah Saw tersebut. Di samping itu, Allah juga mengingatkan kepada para hamba-Nya akan penunaian janji ini di dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah pasti membuktikan kepada Rasul- Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepada dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat“. (QS. Al-Fath:27)

Selain itu Umrah ini mengandung arti pengkondisian dan pendahuluan bagi “kemenangan besar“ (alfathul-kabir) yang datang sesudahnya. Pemandangan tersebut, berupa sejumlah besar dari kaum Muhajirin dan Anshar yang mengelilingi Rasulullah Saw dengan penuh semangat saat tawaf, sa‘i dan seluruh upacara pelaksanaan ibadah umrah, yang juga disaksikan oleh kaum Musyrikin, dan ternyata memiliki pengaruh yang sangat mendalam terhadap jiwa mereka. Mereka telah dicekam rasa takut terhadap kaum Muslimin setelah dikejutkan oleh kenyataan yang sama sekali bertentangan dengan gambaran yang selama ini mereka percayai tentang kaumMuslimin. Digambarkan bahwa kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan pemalas akibat penyakit panas dan jeleknya cuaca Yatsrib, Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu  Abbas bahwa kaum Muslimin berlari-lari kecil di sekitar Ka‘bah dan di Mas‘a (tempat Sa‘i), sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Itukah mereka yang kalian sangka loyo akibat penyakit panas ?! Mereka lebih gagah dari ini dan itu“. Pelajaran yang lain yang dapat diambil dari umrah ini diantaranya:

Pertama, ketika tawaf disunnahkan menampakkan lengan dan berlari-lari kecil pada tiga putaran yang pertama, karena mengikuti Rasulullah Saw. Hal ini disunnahan bagi tawaf yang dilanjutkan dengan Sa‘i. Demikian pula disunnahkan berlari-lari kecil antara dua tanda di Mas‘a (tempat sa‘i antara Shafa dan Marwah), tetapi tidak disunnahkan bagiwanita. Kedua, sebagian fuqaha‘ membolehkan akad nikah dalam keadaan ihram haji atau ihram umrah, berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Saw melaksanakan akad nikahnya dengan Maimunah dalam keadaan ihram. Tetapi jumhur fuqaha‘ tidak membolehkan seorang yang sedang ihram untuk melangsungkan akad nikah untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Ulama Hanafiy berpendapat bahwa seorang yang sedang ihram tidak boleh mewakili akad nikah untuk orang lain yang tidak dalam keadaan ihram.

Demikianlah, Rasulullah Saw telah menunaikan empat kali umrah dan satu kali haji. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas r.a bahwa Rasulullah Saw menunaikan empat kali umrah yang semuanya dilaksakanan pada bulan Zulkaidah. Kedua umrah pada tahun berikutnya di bulan Zulkaidah. Ketiga, umrah dari Ji‘ranah dimana dibagikan pampasan Hunain di bulan Dzul kaidah. Keempat, umrah bersama hajinya

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo


Reading Time: