IKPM KAIRO

Kamis, 18 Juli 2019

Antum Anak Mahal
01.01.000 Comments

IKPM Kairo – Selepas pergantian pengurus IKPM Kairo, Sabtu (13/ 7) kegiatan tak berhenti begitu saja. Sebagaimana nilai yang telah ditanamkan Gontor tentang kegiatan yang berjalan dinamis, IKPM Kairo mengadakan acara silaturrahim dan dialog santai bersama K.H. Asep Sulaiman Sabanda selaku pimpinan PP Al-Ihya dan K.H. Anizar Masyhadi selaku pimpinan PM Tazakka. Acara yang diadakan pada Selasa malam (16/7) tersebut bertempat di Sekretariat IKPM Kairo.

Musthofa Fadhilah Akbar, selaku ketua IKPM Kairo periode 2019/2020 mengawali acara silaturahim dengan menjelaskan beberapa hal terkait IKPM Kairo dalam sambutannya. Acara dilanjutkan dengan sambutan, nasehat dan dialog santai bersama K.H. Anizar Masyhadi dan K.H. Asep Sulaiman.

Gelak canda dan tawa tak lepas saat sambutan dari K.H. Anizar berlangsung. Pembawaan penuh wibawa serta isi yang disampaikan penuh dengan nilai-nilai pondok yang memutar otak kembali berfikir ulang orientasi belajar ke Mesir.

 Lengahnya seseorang akan tujuannya saat waktu yang lapang, seperti saat hari-hari libur saat ini. Berbagai pelajaran ditransformasikan dari pembacaan beliau selama perjalanan dan pengalaman di Mesir hingga menjadi pimpinan PM Tazakka. Kalimat penyulut kesemangatan selalu saja terlontarkan menolak untuk diam, “Antum itu anak-anak yang mahal yang dinantikan kepulangannya oleh saya selaku pimpinan lembaga pendidikan, oleh pondok-pondok lainnya, dan oleh perusahaan-perusahaan yang lain pula,” jelas pimpinan PM Tazakka di tengah sambutannya.

Rentetan wejangan K.H. Anizar tak lepas dari pengalaman dan stateginya, yaitu untuk memainkan berbagai peran dalam keseharian kita, atau akrab kita sebut wahid ka alfin, satu bagai seribu, yakni menjadi individu yang dapat diandalkan dan tidak setengah-setengah dalam masyarakat nantinya. Tak bisa dipungkiri, sosok penuh wibawa yang dengan nasehatnya menggetarkan kembali hati hingga kembali bertanya pada diri sendiri, untuk apa dan bagaimana kita di sini?

Tak berhenti pada sambutan pimpinan PM Tazakka tersebut, K.H. Asep Sulaiman pun turut menghapus keremangan usaha dan perekonomian. Kisah sederhana terkait secuil perjalanan beliau jatuh pada sebuah kalimat yang dibalut kesederhanaan “Biarlah prestasi lebih besar dari pada penampilan kita,” ucapnya. Di balik penampilan sederhana tersebut, K.H. Asep Sulaiman menyimpan banyak cerita inspiratif serta nilai Islam dan Gontor yang melekat. Aliran cerita yang beliau sampaikan menghipnotis massa, mengetuk pintu di balik usaha dan perekonomian yang masih di ambang keremangan sebagai seorang mahasiswa.

Di samping menjadi pimpinan PP AL-Ihya yang didirikan pada 23 September 2018 tersebut, beliau merupakan pengusaha muda sukses yang mempunyai sekitar 100 perusahaan di bawah kendalinya. Prinsip al-Qur’an dan Hadis Rasulullah menjadi titik kembali beliau dalam perjuangannya. Fa amma man a’tho wattaqa wa shoddaqo bi al-khusna fa sa nuyassiruhu li al-‘usra. Beberapa ayat dalam surah al-Lail tersebut selalu beliau ulang sebagai penegasan akan ketakwaan kepada Allah Swt, bukan hanya dimudahkan namun dijalankan untuk menuju kemudahan.

Acara silaturahim tersebut menjadi sarana pembaharuan niat dan pengingat bahwa kita adalaha anak  mahal dan luar biasa di negeri orang. Yang kedatangannya dinanti unruk berkiprah dan berperan di Indonesia, baik di lembaga pendidikan, perusahaan atau bidang-bidang lainnya. Semuanya tak terlepas dari nilai Islam dan Gontor, yaitu dapat kita lihat dan baca dari cerita dan nasehat para senior seperti 2 tokoh luar biasa tersebut, K.H. Anizar Masyhadi dan K.H. Asep Sulaiman Sabanda.


Reading Time:

Senin, 15 Juli 2019

Mucab, Catatan Akhir Perjuangan Kabinet Cahaya
07.14.000 Comments
Doc. Dari kiri, Novan Hidayat, Adam Huda dan Musthofa, ketua IKPM cabang Kairo terpilih masa jabatan 2019/2020.

Patah tumbuh hilang berganti, Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti. Itulah salah satu nilai pondok yang selalu ditanamkan pada jiwa-jiwa santri gontory. Mengingat telah genapnya masa kepengurusan Azheema (angkatan kedatangan 2016) sebagai ketua IKPM Cabang Kairo periode 2018-2019. Maka dibentuklah panitia Musyawarah IKPM Cabang Kairo ke-35 (MUCAB) untuk menyukseskan acara ini, yang akan menentukan masa depan IKPM di satu tahun kedepannya. Adapun persiapan-persiapan yang dilakukan demi terjalannya acara dan acara penunjang terselengaranya acara, yaitu Pra Mucab.

Tepat pada tanggal 30 April 2019, panitia Musyawarah IKPM Cabang Kairo ke-35 (MUCAB) resmi dilantik. Pelantikan sekaligus kumpul perdana menjadi langkah awal pergerakan kepanitiaan ini, diikuti dengan penyusunan proker dan anggaran kepanitiaan. Berbagai persiapan mulai dipersiapkan, penyusunan tentatif kegiatan, pendataaan calon kandidat ketua IKPM periode 2019-2020, pembuatan panflet untuk mengenalkan para calon kandidat kepada seluruh warga IKPM, smart book, surat-surat peminjaman, hingga pengiriman surat undangan kepada para tamu undangan.

Dalam rangka mengingatkan kembali warga IKPM akan pentingnya acara yang nantinya diselenggarakan pada hari kamis,11 Juli 2019, diadakanlah Pra Mucab. Acara ini meliputi berbagai kegiatan penunjang yang memanjakan warga IKPM seperti cukur rambut, hijamah, pijat untuk para ikhwan, serta nonton bareng, masker wajah, jimbastik dan bermain musik bagi para akhwat.

Tak jauh hari dari diadakannya Pra Mucab, selang sehari setelahnya, Musyawarah Cabang Kairo pun dilaksanakan yang beralokasikan di Keluarga Masyarakat Sumatra Selatan (KEMASS) hari sabtu, 13 Juli 2019.

Terlihat dari antusias warga IKPM yang datang tepat waktu hingga acara dapat segera dimulai pada pukul 17:20 Clt. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Oh Pondokku, serta sambutan dari ketua panitia, ketua IKPM diikuti oleh sambutan oleh Dewan Pengawas Organisasi (DPO) dan Majlis Pengawas Organisasi (MPO).

“Milikilah rasa tanggungjawab, maka sifat-sifat yang lain akan mengikuti. Pegang dan jaga amanat ini dengan baik. Gunung dan bumi menolak saat diberikan amanat besar ini, tetapi manusia dengan sombong menerimanya,” nasehat Al-Ustadz Nurman Haris Nugroho selaku Ketua IKPM Cabang Kairo periode 2018-2019 dalam sambutannya.

Setelah sambutan selesai, acara diambil alih oleh presidium sidang. Adapun presidium yang menjaga ketertiban sekaligus menjadi pemimpin terjalannya Sidang Musyawarah Cabang Kairo Ke-35 dengan baik, diantaranya: Al-Ustadz Farhan Azis Wildani, Al-Ustadz Muhammad Kamal Ikhsan, Al-Ustadz Albi Tisnadi.

Sidang pun resmi dibuka. Kesepakatan tentatif acara dan tata tertib sidang dilanjutkan oleh laporan pertanggungjawaban dari Dewan Pengurus (DP) IKPM Cabang Kairo 2018-2019 dan verifikasi. Diakhiri dengan diterimanya laporan pertanggungjawaban dengan syarat melengkapi laporan pertanggungjawaban pada bagian sekretaris selama tiga kali dua puluh empat jam.

Adapun Dewan Pengawas Organisasi 2019-2020 yang terpilih sebagai berikut: Al-Ustadz Khafifuddin, Al-Ustadz Nurman Haris Nugroho, Al-Ustadz Afifuddin, Al-Ustadzah Annisa Arini Imania, Al-Ustadzah Muflihah Ma’sum.

Setelah pemungutan suara yang dilakukan secara voting oleh seluruh warga IKPM, akhirnya terpilihlah 3 ketua IKPM Cabang Kairo periode 2019-2020 sebagai berikut: Al-Ustadz Adam Huda Haqiqi, Al-Ustadz Mustofa Fadhilah Akbar, Al-Ustadz Muhammad Novan Hidayat.

Serah terima mandat dari DPO lama ke DPO baru dilanjutkan oleh serah terima mandat dari Ketua IKPM 2018/2019 kepada Ketua IKPM 2019/2020 dan sambutan dari Ketua IKPM terpilih. Perfotoan menjadi penutup acara sekaligus doa yang dipimpin oleh Al-Ustadz Zaki Ikhsan.


Red. Rahmadi P
Rep. Anisah Zahrah

Reading Time:

Kamis, 20 Juni 2019

Menuju MUCAB, Menilik Derap Akhir Kabinet Cahaya
14.16.000 Comments
Doc. Pamflet panitia Mucab IKPM ke-35

MUCAB (Musyawarah IKPM Cabang Kairo) merupakan salah satu rentetan acara yang akan hadir di depan mata seluruh anggota IKPM Kairo beberapa waktu kedepan. Sabtu  (13/7) menjadi tanggal yang dipilih untuk terlaksananya acara. Berbagai persiapan guna regenerasi kepengurusan IKPM telah direncanakan dan mulai dilaksanakan.

Adapun salah satu langkah panitia dalam acara ini ialah merangkum beberapa evaluasi selama kepengurusan, pesan untuk para calon pengurus baru dan pemahaman akan urgensitas MUCAB bagi para anggota.

Ketua IKPM, Nurman Haris Nugroho serta DPO (Dewan Pengawas Organisasi) Ikhda Mar’atul Husna menjadi rujukan utama evaluasi dan pesan untuk pengurus berikutnya. Kantor Sekertariat IKPM menjadi tempat yang dipilih untuk melakukan obrolan santai tersebut.

 Adapun beberapa poin rangkuman yang didapat dari salah satu Ketua IKPM, Nurman Haris Nugroho, yaitu:

1. Perbedaan Sistem Kepemimpinan di Pondok dan di luar Pondok. Ketika di pondok, kita cenderung mengikuti perintah saja tanpa esensi yang dipahami pun semua akan tetap berjalan. Berbeda dengan di luar, kita harus memahami esensi dari setiap perintah agar dapat menjadi suri tauladan yang matang serta mampu mengayomi semua anggota demi berjalannya rantai kepemimpinan.

2. Evaluasi Kepengurusan IKPM. Menjadi ketua harus totalitas, jiwanya, raganya, pemikirannya dan keringatnya sebagaimana semboyan pondok “Bondho bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan”. Menghadapi berbagai macam anggota dengan kepribadiaan yang berbeda-beda tentu bukan hal yang mudah. Berprinsip serta siap untuk dikritik adalah sikap yang paling tepat untuk menghadapi masalah tersebut.

3. Pesan untuk Ketua IKPM Selanjutnya. Permasalahan dalam IKPM sebenarnya bukan tentang organisasi. Skill organisasi yang dimiliki para anggota sudah cukup untuk menjadi bekal mereka dalam menjalankan kepengurusan ini. Namun permasalahan terbesarnya ialah pada muamalah antara manusia dan Allah. Bagaimana bisa tetap menjaga muamalah ini dengan baik, benar dan seimbang. Prasangka baik saja tak cukup, diperlukan juga komunikasi antar anggota. Mampu bersikap sesuai keadaan serta siap mengorbankan segala hal, seperti waktu, harta dan tenaga. Demikianlah beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh para calon Ketua IKPM selanjutnya.

4. Urgensitas MUCAB. Dalam acara ini kita akan disuguhi laporan hasil kerja yang telah terlaksana selama setahun dalam bentuk tertulis. Diterimanya LPJ dengan baik adalah hasil kerja yang baik. Keikutsertaan para anggota dalam MUCAB akan memberikan pandangan seputar sepak terjang kepengurusan selama setahun dan menjadi salah satu bukti atas terpilihnya para pengurus IKPM baru yang akan mengemban amanat satu tahun kedepan.

Dan di akhir wawancara Nurman menyampaikan pesan sederhana tentang kepemimpinan  “Menjadi seorang pemimpin haruslah dapat mengontrol diri sendiri, dengan itu ia akan mendapatkan jiwa kepemimpinan yaitu tanggung jawab.”

Pembicaraan berlanjut ke  Ikhda Mar’atul Husna dari DPO. Adapun beberapa hal yang disampaikan antara lain:

1. Kepengurusan Selama Setahun ini. Kami selaku Dewan Pengawas Organisasi (DPO) IKPM cabang Kairo mengapresiasi penuh kepada segenap Dewan Pengurus (DP) IKPM cabang Kairo periode 2018-2019 yang telah berjuang, menjalankan amanat dan memberikan yang terbaik kepada almamater selama satu tahun kepengurusan yang luar biasa.

2. Pesan kepada Kepengurusan Selanjutnya. Masinis bisa berubah, tetapi rel tidak boleh berubah. Terbentuknya panitia MUCAB adalah akhir dari kepengurusan DP sekaligus awal lembar baru yang memberi ruang kepada seluruh warga IKPM untuk mengabdi kepada almamaternya. IKPM adalah suatu kelompok majemuk yang di dalamnya terdapat berbagai macam pemikiran, pendapat dan kehendak.

Banyak hal yang akan kita dapatkan saat terjun dalam organisasi. Berbagai pengalaman baru, pelajaran hidup, kesempatan berharga, melatih diri mengatasi berbagai persoalan dengan tepat dan benar, mendewasakan diri terhadap masalah yang dihadapi serta membuka diri untuk menerima pemikiran dan pendapat yang berbeda-beda.

Di akhir kata, Ikhda menyampaikan kutipan kata seputar kepengurusan IKPM “Adanya pergesekan adalah wujud dari pergerakan di dalam organisasi. Persatuan adalah tujuan kita, perbedaan menjadi tantangan kita dan kekompakan adalah kekuatan kita.”

Demikianlah hasil obrolan santai panitia MUCAB bersama Nurman dan Ikhda dari Kabinet Cahaya. Diharapkan dari obrolan ini dapat memberikan pandangan kepada seluruh calon pengurus IKPM baru untuk menjalankan kepengurusan yang akan diemban, serta dapat menyadarkan para anggota akan urgensitas MUCAB itu sendiri, sehingga mendorong seluruh anggota untuk dapat berikutserta dan berpartisipasi dalam acara ini. Aamiin.

Rep. Rima Hasna & Annisa Zahrah
Red. Rahmadi Prima
Reading Time:

Senin, 20 Mei 2019

Al-Azhar Al-Syarif; 1079 Tahun Perjalanan Eksistensinya
17.52.000 Comments

Doc. Buka bersama di masjid al Azhar di Milad ke-1079

Hiruk pikuk Ramadhan sore itu lain daripada biasanya. Lalu lalang ribuan orang dengan wajah khas masing-masing negara dapat kita temui saat itu. Sohn (lantai tengah masjid al-Azhar) tak lagi terlihat putih, lautan manusia yang akrab dalam cengkrama ukhuwah turut hangatkan suasana di kala suhu yang sudah memasuki musim panas. Selayang mata memandang, putih dengan sebagian merah warna peci kebesaran al-Azhar lah yang mampu terlihat di barisan panggung dan depan. Al-Azhar al-Syarif kembali ingatkan kita untuk kembali; kembali memahami al-Azhar dan tujuan kita untuknya.

1079 tahun, bukan angka yang sedikit. Selama itu pula al-Azhar telah berkiprah dalam dunia Islam umumnya dan Mesir khususnya sejak tahun berdirinya, 7 Ramadhan 361 H/ 21 Juni 672 M hingga saat ini, 7 Ramadhan 1440 H.

Sejarah telah menjadi saksi perjalanan al-Azhar. Masjid yang menjadi pusat kota Kairo pada Sabtu, 24 Jumadal  Ula 359 H (970 M) dibawah kendali Jauhar al-Shiqili saat kepemimpinan Mu’iz li Dinillah. Pada tanggal bersejarah itulah batu pertama masjid diletakan dan dimulai pembangunan masjid tersebut. Setelah 2 tahun 3 bulan selesai pembangunannya, pada 7 Ramadhan 361 H (972 M) al-Azhar diresmikan dengan ditandai Shalat Jum’at pertama. Bertolak dari catatan sejarah tersebutlah, usia al-Azhar hingga 1440 H/ 2019 M telah berkiprah selama 1079 tahun.

Pada masa Dinasti Fathimiyyah, al-Azhar menjadi masjid resmi bagi Daulah Fathimiyyah, mimbar resmi bagi dakwah keislaman serta rumus kerohanian. Bidang keilmuan pada masa tersebut hanya terfokuskan pada penyebaran madzhab Fathimiyyah (Syiah) dalam Fiqh, Falsafah, Tauhid, dan pelajaraan keagamaan lainnya. Adapun majelis ilmu pertama kali di Masjid al-Azhar diampu oleh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin al-Nu’man al-Qairuwani. Pelajaran yang diajarkan yaitu Fikih Syiah dengan memakai kitab al-Iqtisar. Majelis tersebut  diadakan pada bulan Safar 365 H/ 975 M.

Pengajaran madzhab Syiah Ismailiyyah terus berlanjut hingga berdirinya Daulah Ayyubiyyah di Mesir pada 567 H di bawah kepemimpinan Sholahuddin Yusuf bin Ayyub. Saat itulah madzhab Sunni menjadi madzhab resmi bagi Daulah Mesir menggantikan Syiah Ismailiyyah. Akan tetapi, pada masa ini al-Azhar tidak dipusatkan menjadi pusat pengkajian dan kelimuan untuk mengikis perlahan lahan penyebaran dan pengaruh Syiah yang tersisa. Sehingga pusat keilmuan dipusatkan ke berbagai madrasah yang dibangun pada masa Ayyubiyyah. Seperti Madrasah Naasiriyah, Qumhiyah, Suyufiyah, dan Salahiyah.

Roda kehidupan berputar, hingga tiba waktu di mana Daulah Mamalik  menggantikan Daulah Ayyubiyah dalam memimpin Mesir. Pada masa Mamalik ini al-Azhar mengalami masa keemasan dan kemajuan. Para raja dan amir saat itu sangat memperhatikan al-Azhar dari sisi pembangunan, pembaharuan dan kelimuan. Seperti halnya pasca gempa yang mengguncang Mesir, tahun 702 H/ 1302 M yang mengakibatkan beberapa bagian dari masjid al-Azhar jatuh dan memerlukan pembangunan ulang.

Begitula pada masa Daulah Utsmaniyyah. Masa kemajuan al-Azhar masih terasa saat itu, baik kemajuan kelimuan atau pembangunan dan pembaharuan. Yaitu termasuk pengaruh dari masa sebelumnya, Daulah Mamalik. Pintu al-Azhar selalu terbuka bagi para pelajar dari seluruh penjuru dunia sebagaimana al-Azhar yang berperan sebagai tempat perlindungan umat dalam menuntut ilmu. Merupakan salah satu keberkahan al-Azhar, Mesir mampu menjaga warisan turats kelimuan Islam sekitar 3 abad lamanya.

Selain dalam bidang keilmuan, Utsmaniyyah pun turut memperhatikan pembangunan infrastruktur al-Azhar dan pembaharuannya sebagaimana perhatiannya terhadap para pelajar di dalamnya. Pembangunan terbesar yang dilakukan pada masa Utsmaniyyah dilakukan pada masa kepemimpinan khalifah Abdurrahman Katkhuda tahun 1168 H/ 1753 M. Yaitu perluasan al-Azhar, meliputi ruwaq-ruwaq belakang mihrab; yang terdiri dari 50 tiang dari marmer/pualam.

Adapun pada masa penjajahan Prancis atas Mesir, al-Azhar mulai mengalami tantangan. Tentara Prancis memasuki Masjid al-Azhar dengan mengendarai kuda dan menyebar di sohn al-Azhar lalu membuat kerusakan di ruwaq-ruwaqnya, merobek buku-buku dan mushaf serta menginjaknya. Semua perbuatan mereka mengotori kesucian sebidang tanah Allah yang suci.

Pada masa kelam inilah, al-Azhar memegang peran yang signifikan dalam mempertahankan tanah air dari rampasan tangan penjajah. Al-azhar berperan sebagai pusat perlawanan dengan merancang starategi melalui tangan para ulama al-Azhar pada Revolusi Kairo yang pertama tahun 1213 H/ 1798 M dan yang kedua pada 1214 H/ 1800 M. Dalam beberapa peristiwa tersebut dan peristiwa yang belum mampu penulis sebutkan lagi, al-Azhar menjadi benih pertama dalam pergerakan warga Mesir dan pengumpulan mereka untuk membela tanah air.

Dengan ini, al-Azhar turut mendukung pergerakan kenegaraan Mesir dalam perlawanan penjajahan
Selama perjalanan itu pula, sistem belajar-mengajar di al-Azhar menggunakan sistem talaqqi dalam bentuk halaqah-halaqah ilmiah. Dimulai sejak Dinasti Fathimiyah menguasai Mesir, kurang lebih 3 tahun setelah diresmikannya Masjid al-Azhar sebagaimana yang telah dituliskan di atas. Walaupun kepemimpinan berganti dari satu daulah ke daulah yang lainnya, al-Azhar tetap bertahan dengan sistem belajar-mengajarnya tersebut.
Talaqqi dari waktu ke waktu, tidak lepas dari ruwaq yang merupakan tempat tinggal dan belajar pelajar al-Azhar dari berbagai negara. Ruwaq telah ada sejak Dinasti Fathimiyyah, namun baru menjadi sistem asrama untuk pelajar sejak  era Mamalik. Ruwaq tersebut diklasifikasikan berdasarkan melalui 3 hal, yaitu negara, madzhab dan campuran. Sehingga sampai kepada kita saat ini berbagai nama ruwaq sebagai tempat diadakannya talaqqi.

Adapun saat ini, ruwaq yang menjadi tempat tinggal para pelajar dari berbagai negara telah diganti dengan sistem asrama yang dikenal sebagai Madinah al-Bu’uts al-Islamiyyah.
Pembangun asrama tersebut dimulai pada tahun 1954 dan mulai ditempati pada 15 September 1989. Hingga saat ini, sebagian pelajar asing dari berbagai negara tinggal di Madinah al-Bu’uts al-Islamiyyah. Hal tersebut menunjukkan perhatian al-Azhar terhadap para pelajar asing yang menjadi duta negaranya di Mesir dan yang kelak menjadi duta al-Azhar ketika kembali.

Dalam kurun waktu lebih dari seribu tahun tersebut, al-Azhar al-Syarif telah mengalami berbagai perkembangan dan perubahan selama perjalanan keilmuan dan benteng pertahanan umat Islam dan Mesir. Adanya sebuah perubahan tersebut menandakan adanya pergerakan. Begitu pula al-Azhar, melalui pergerakannya terutama dalam bidang kelimuan dan pertahanan umat Islam dan Mesir menunjukkan eksistensinya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya bahwa kebermanfaatan sesuatu di bumi ini merupakan sebab dari eksistensinya. Sedangkan yang lainnya akan tersampingkan karena belum mampu memberi manfaat seiring berjalannya zaman. Itulah sunnatullah.

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat permumpamaan tentang yang benar dan bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan” (Q.S. Ar-Ra’ad : 17)

Ummu Maghfiroh

Reading Time:

Jumat, 10 Mei 2019

EKSISTENSI GONTOR DALAM MENCETAK KADER UMAT
21.59.000 Comments




Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan lembaga pendidikan pesantren yang telah berkiprah 90 tahun lebih sejak berdirinya. Lika-liku perjuangan dalam bidang pendidikan telah menghasilkan para alumni yang saat ini berkiprah di seluruh pelosok Indonesia, bahkan mancanegara. Nilai-nilai gontor serta jiwa kepondokmodernan yang menjadi identitas (shibghoh) Gontor harus terus dilestarikan dan dikawal sebagai regenerasi dan pengkaderan mundzirul qoum yang akan berkiprah di masyarakat nantinya.

Melalui dunia pendidikan itulah Gontor mengepakkan sayapnya menyiarkan kalimat Allah lewat kiprah para alumni yang telah ditempa dalam lingkup pondok. Di saat sebagian besar terbutakan oleh politik kekuasaan, Gontor tetap eksis dengan pendidkan sebagai politik tertingginya. Seperti yang disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam salah satu pidatonya, bahwa pendidikan merupakan politik substantif. Yaitu memperjuangkan kebenaran bukan kekuasaan yang menjadi tujuannya dengan mencetak generasi mundzirul qoum yang berani menyatakan kebenaran bukan hanya membenarkan kenyataan.

Seperti halnya Islam tak terlepas dari dasar dan sumber pedomannya yaitu al-Qur’an dan Sunnah, Gontor pun demikian. Syiar pendidikan Gontor telah berulang kali dibacakan dan diarahkan setiap tahunnya saat Pekan Perkenalan Khutbatu al-Arsy atau bahkan dalam berbagai pidato Bapak Pimpinan dan guru senior.Syiar tersebut  terangkum dalam Surah Al-Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (التوبة : 122)

 “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (Q.S. At-Taubah: 122)

Mereka yang memperdalam agama adalah investasi bagi umat Islam untuk mengingatkan masyarakat ketika kembali kepadanya. Akrab dalam pidato pak kyai dengan sebutan kader daerah. Melalui berjuang dalam bidang pendidikan, mendidik generasi penerus bangsa, perekat umat serta menjunjung tinggi kalimatillah. Itulah syiar Pondok Modern Darussalam Gontor dalam pendidikan.

Dengan mencetak kader-kader ulama yang intelek, bukan hanya intelek yang tau agama menjadi strategi apik dalam menghadapi tantangan zaman. Karena mundzirul qoum yang kembali pada umat tak cukup hanya sekedar ulama tanpa wawasan tentang keadaan yang dihadapi saat ini. Apalagi hanya sekedar seseorang yang tahu wawasan keadaan saat ini namun hanya tahu agama bukan ulama.

Begitu pula kurikulum pendidikan yang seratus persen ilmu agama dan seratus persen ilmu umum menunjukkan tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan umum. Disamping itu setiap dinamika kehidupan antara santri, guru dan kyai di dalamnya terdapat pendidikan mental karakter.



Pembentukan karakter, mental, serta penanaman nilai-nilai Gontor dibangun dan dikembangkan berlandaskan hidayah Allah, ketakwaan dan ketaatan untuk menggapai mardhatillah. Yaitu menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai fondasi utama Gontor. Seperti keyakinan kita bahwa langkah awal yang paling berkah adalah bismillah, proses paling aman dan menjanjikan adalah bersama Allah dan tujuan yang paling indah dicapai adalah ridha Allah. (K.H. Ahmad Suharto, Ayat-Ayat Perjuangan).

Seperti yang ditegaskan oleh Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) K.H. Hasan Abdullah Sahal, “Di atas PMDG hanya Allah, di bawah PMDG hanya tanah. Jasad melekat di bumi, tetapi jiwa berhubungan langsung dengan Yang di langit, di ‘Arsy, dengan segala resikonya.”

Melalui dasar yang kokoh itulah akan muncul serangkaian dinamika yang berporos pada jiwa dan nilai yang digagas pendiri pondok. Seperti sebuah pohon dengan akar kuat menghujam tanah, menyerap setiap unsur dalam tanah untuk pertumbuhannya. Batang dan dahannya kuat, ranting dengan daun yang lebat membantunya dalam fotosintesis, cabangnya menjulang tinggi menghasilkan buah yang bermanfaat bagi manusia. Itulah gambaran kebermanfaatan sesuatu bagi sekitarnya.
Gontor dapat diibaratkan sebagai syajaroh thoyyibah. Akarnya merupakan fondasi kuat sebagai Panca Jiwa (keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah, kebebasan) dan Motto Pondok Modern Darussalam Gontor (Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas). Panca Jangka yang merupakan program pondok kedepannya (Pendidikan dan pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Khizanatullah, Kesejahteraan Keluarga Pondok) sebagai batang yang menunjang cabangnya.

 Adapun daun yang dihasilkan adalah para alumninya. Yaitu ketika daun itu jatuh, ia akan kembali pada tanah dan memberi kesuburan bagi tanah dan pohonnya. Daun yang jatuh menjadi pupuk alami, hingga buahnya menjadi manfaat bagi umat. Sebagaimana seorang santri akan kembali ke masyarakat menjadi mundzirul qoum setelah menuntut ilmu tafaqquh fiddin. Dan cabang yang menjulang tinggi pada pohon  ibarat cita-cita Gontor.

Seperti dalam al-Qur’an surah Ibrahim, Allah Swt mengumpamakan kalimat yang baik, seperti syajaroh thoyyibah (pohon yang baik). Kalimat yang baik adalah kalimat tauhid, laa ilaaha illa allah, kalimat yang tidak mengandung kesyirikan, yang beramar ma’ruf nahi munkar. (K.H. Ahmad Suharto, Ayat-Ayat Perjuangan)
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء  (إبراهيم : 24)

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Q.S. Ibrahim: 24)

Uraian singkat sebelumnya mengenai peran Gontor dalam mencetak kader umat melalui pendidikan menggambarkan adanya kebermanfaatan yang dihasilkan. Kebermanfataan sesuatu di bumi ini akan selalu menetap bertahan, dan yang lainnya akan tersingkirkan dengan sendirinya ketika tidak lagi memberi manfaat. Itulah salah satu sebab mengapa Gontor tetap eksis di tengah pergulatan zaman saat ini, yaitu adanya kebermanfaatan. Seperti halnya Universitas al-Azhar Kairo yang merupakan universitas tertua di dunia, al-Azhar pun menjadi salah satu sintesa Gontor karena wakafnya.

Dengan izin Allah, Gontor telah berkiprah dalam bidang pendidikan hingga saat ini. Semoga terus dapat memberikan manfaat bagi kejayaan umat dan bangsa. Dari Gontor, oleh gontor, untuk Islam dan Indonesia. Itulah seleksi alam, bagi yang bermanfaat akan tetap tinggal. Seperti yang Allah perumpamakan dalam ayat berikut:

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ (الرعد : 17)

 “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat permumpamaan tentang yang benar dan bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan” (Q.S. Ar-Ra’ad : 17)

Wallahu A'lam bi al-showwab

Ummu Maghfiroh
Reading Time:

@way2themes