Lembutnya Hati Imam Ahmad - IKPM KAIRO

Minggu, 29 Juni 2014

Lembutnya Hati Imam Ahmad

Jika Rabb-ku mengatakan kepadaku: “Tidak malukah kau bermaksiat kepada-Ku? Engkau menutupi dosa dari para makhluk-Ku, tapi malah dengan kemaksiatan kau mendatangi-Ku!”, maka bagaimana aku menjawabnya, dan siapa yang mampu melindungiku?

Aku terus menghibur diri dengan angan-angan (dunia) dari waktu ke waktu. Tetapi aku lalai dengan perihal setelah kematian, tentang apa yang dapat mencukupiku setelah itu. Seolah aku akan hidup terus, dan maut tidak akan menghampiriku

Saat sakaratulmaut yang dahsyat itu benar-benar datang, siapakah yang mampu melindungiku? Aku melihat wajah orang-orang. Tidakkah ada diantara mereka yang mau menebusku?

Aku akan ditanya, tentang apa -yang kukerjakan di dunia ini- yang dapat menyelamatkanku. Maka bagaimanakah jawabanku setelah aku lupakan agamaku.

Sungguh celaka aku. Tidakkah  kudengar firman Allah SWT yang menyeruku? Tidakkah pula kudengar ayat-ayat yang ada di Surat Qaf dan Yasin itu? Bukankah kudengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkan, dan hari pembalasan itu? Bukankah kudengar pula panggilan kematian yang terus melayangkan panggilan dan seruan kepadaku?

Maka ya Rabb. Akulah hambamu yang bertaubat. Tidak ada yang dapat melindungiku, melainkan Rabbyang Maha Pengampun, lagi Maha Luas Karunia-Nya. Dia-lah yang menunjukkan hidayah kepadaku. Aku telah datang kepada-Mu. Maka rahmatilah aku, dan beratkanlah timbanganku. Ringankanlah hukumanku. Sungguh Engkaulah yang paling kuharapkan pahalanya untukku

Sya’ir ini membuat Imam Ahmad rahimahullah menangis tersedu-sedu hingga hampir pingsan. Hal ini menunjukkan betapa lembut dan pekanya hati Imam Ahmad terhadap hal-hal yang mengingatkan manusia kepada Rabbnya, dosa-dosanya, dan kehidupan akhirat.


Tidak ada komentar: