Membangun karakter Soutika - IKPM KAIRO

Senin, 17 November 2014

Membangun karakter Soutika



Saya maih ingat isi pidato Presiden Soekarno. Kalau ingin membangun sesuatu, ekonomi, pertahanan, pendidikan atau yang lainnya, yang harus kita bangun pertama kali adalah jiwa. “character building”.

Untuk itu, pada tahun ini, saya, kelvin, pangeran dan teman-teman Soutiker sepakat untuk membangun jiwa Soutika. Ini PR terberat bagi kita. Sebab membangun jiwa pastinya tidak sama dengan membangun barang. Manusia hidup tidak diam. Bergerak berpikir dan mempunyai perasaan. Barang diam dan mengikuti kemauan kita.

Saya masih ingat falsafat Gontor. “Metode itu lebih penting dari pada materi. Guru lebih penting dari dari metode. Dan ruh/jiwa guru itu lebih penting dari segalanya”. Falsafah ini yang saya gunakan untuk membangun Soutika.

Radio adalah media suara. Yang ditangkap sama orang pertama kali ketika siaran adalah isi/materi pembicaraan. Setiap orang relatif menilai isi siaran. Ada yang suka hiburan. Ada yang suka musik. Ada yang suka debat, motifasi, bincang-bincang, berita, tausiah dan lainnya.

Maka di Radio Soutika harus memberikan berbagai macam konten. Konten hiburan, diskusi, silaturrahim, canda tawa, humor, sharing, tanya jawab, curhat dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Tapi, metode siaran lebih penting dari isi siarannya. Orang yang lebih banyak ketawa lebih disukai dari pada orang yang sepak. Orang yang suka humor lebih disukai dari pada orang terlalu serius. Orang yang enerjik dalam menyiarkan suara lebih disegani. Orang yang menyiarkan dengan tutur kata indah, penuh makna lebih banyak yang merespon dari pada orang yang datar saja. Meskipun pemateri tersebut mempunyai intelektualitas yang tinggi.

Seperti contoh; kita kadang melihat kenapa orang dengan wajah pas-pasan tapi macho, baik hati dan tulus itu lebih disukai banyak orang. Dan sebaliknya, berapa banyak orang yang bermuka ganteng/cantik, berdandan menor bisa menjadi buah simalakama? Itu semua kembali pada metode kita.

Mungkin Saya harus menambahkan satu kalimat lagi di filsafat itu “infrastuktur lebih penting dari pada metode”. Saya menambahkan infrastuktur sebab soutika adalah media suara yang perlu alat. Tanpa alat tidak bisa dikatakan radio. 

Logikanya kayak gini; kita ingin menyebrang dari pulau ke pulau yang lainnya. Agar bisa menyebrang, kita harus punya alat, untuk itu kita harus membangun perahu dulu. Atau logika lain seperti ini: kita mau sholat kita harus wudhu. Kalau mau wudhu kita harus ada air. Kalau nggak ada air kita nggak bisa wudhu. Kalau kita tidak berwudhu, kita tidak bisa sholat.

Kita mau siaran, kita harus mempunyai wadah untuk mengekspresikan diri atau jalur untuk berbagi informasi. Untuk itu kita perlu alat/studio.  Kalau nggak ada studio, nggak ada siaran.

Tanggal 3 maret 2013 dulu, ketika Pertama kali saya dan teman-teman soutiker baru masuk menjadi penyiar Soutika bertanya-tanya? Di mana studionya? Bagaimana mengoprasikan alatnya? Ternyata yang kita temui berbanding terbalik dengan yang kita bayangkan. Kita harus mempunyai laptop dan headset yang ada link in nya. Kita harus ada tempat koneksi untuk siaran. Kita harus nyalakan servernya. Servernya pun nggak bisa lama. Kalau mati kita harus nyalakan lagi. Kita harus instal aplikasi Sam Broadcaster dulu. Kita harus buka ini, buka itu, dan masih banyak lainnya yang harus kita persiapkan. Sangat ribet.

Bagaiamana siaran bisa tenang kalau penyiar harus dibebani banyak hal. Yang diharapkan dari penyiar tidak banyak. Bagaimana siaran tenang dan nyaman tidak ribet. Itu saja.

Akhirnya saya mengajak teman-teman bermusyawarah, bondo bahu, pikiran dan tenaga supaya ketika teman-teman siaran bisa tenang, damai dan tentram.  Server Soutika auto DJ, mixer komputer kita beli. Jinggle, bridge, iklan kita buatkan. Kuota Internet ditambah lagi.  web soutika kita buat. Aplikasi soutika kita buat sampai pemancar FM pun kita datangkan dari indonesia. Media sosial, BBM, Facebook dan twitter kita daftarkan dan kita sebarkan.

Dengan dibangunnya insfratuktur yang memadai, bukan hanya penyiar saja yang nyaman. Pendengar pun mudah menikmatinya. Pendengar juga pinginnya nggak ribet. Yang penting enak didengar. Yang penting requestnya diputerin. Yang penting lancar. Yang penting nggak ribet.

Tidak cukup di sini. Guru di dalam falsafat di atas maksudnya adalah penyiar. Kita perlu penyiar. Apa gunanya studio radio kalau nggak ada penyiarnya? Apa manfaatnya radio kalau hanya sekedar muterin lagu tapi nggak ada penyiarnya? Apa gunanya kalau kita ingin memberikan program yang memukau kalau nggak ada orangnya.

Logikanya seperti dalam pelajaran Mahfudzot ”hidup seorang pemuda itu dengan ilmu dan taqwa, tanpa keduanya, manusia tidak disebut manusia”. Sama halnya Soutika. Hidup Soutika itu kalau ada penyiarnya. Kalau nggak ada penyiar, Soutika tidak bisa dinamakan radio.

Dalam memilih penyiar, ada dua kriteria yang harus dimiliki. Intregitas terhadap Soutika dan kualitas yang dimiliki penyiar. Ada yang mempunyai kualitas yang bagus tapi tidak loyal sama sistem kita, Tidak loyal sama manajemen kita dan Tidak loyal sama kita. 

Begitu juga sebaliknya, intregitas yang bagus belum cukup untuk bisa menjadi penyiar Soutika.  Kualitas yang bagus yang kita pilih. Orang yang bisa menyajikan dengan enerjik, bagus dan berkompeten yang kita pilih. Orang pastinya tau, ikan yang masih segar dan bergizi lebih dipilih dari pada ikan yang busuk dan banyak durinya.

yang paling utama dari semuanya adalah jiwa. Mau dibawa ke mana Soutika ke depan? Hanya jiwa yang bisa menjawabnya. Jiwalah yang membentuk seseorang. Jiwalah yang mengangkat derajat manusia. Jiwalah yang membuat hidup. Jiwalah yang menghilangkan kenistaan manusia. Jiwalah yang bisa menjunjung soutika. 

Untuk itu, yang kita bangun tahun ini adalah jiwanya. “Character building Soutika”. Bukan barangnya. Apa gunanya semua ini kalau tidak ada jiwa? Apa gunanya siaran kalau siarannya tidak bermanfaat? Apa gunanya radio kalau hanya jadi benalu? Lebih baik nggak usah bangun.

Sungai nggak harus besar yang penting ada naganya. Negara nggak harus besar yang penting seperti singapura atau united Emirat Arab yang didalamnya mempunyai kekayaan yang melimpah ruah. Begitu juga Radio Soutika, tidak harus besar yang penting punya nilai. Bermanfaat untuk yang lainnya.

Sebagaimana motto Soutika “bersama dan untuk semua golongan”. Bagaiamana kita membumikan kebersamaan dengan Soutika? Bagaimana kita berdiri tegak dan bisa mengalir ke semua golongan?

Ya, Ini bukan hanya sekedar ambisi. Tapi ini adalah PR kita bersama yang harus kita selesaikan. Dan saya yakin suatu saat Soutika akan hebat.

Khoirul Anam.
Direktur Soutika.






Tidak ada komentar: