Surah at-Tîn; Tentang Sebuah Penciptaan - IKPM KAIRO

Jumat, 30 Januari 2015

Surah at-Tîn; Tentang Sebuah Penciptaan


Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari godaan syaithan yang terkutuk
1. Demi ([buah) Tin dan Zaitun,
2. demi bukit Tursina,
3. dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.
4. Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akanmendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.
7. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu.
8. Bukankah Allah hakim yang paling adil.


Dalam surat at-Tîn, Allah sangat jelas sekali ketika ingin benar-benar mengatakan dan menetapkan bahwa manusia itu adalah makhluk ciptaan-Nya yang sempurna. Bila kita perhatikan ayat pertama, kedua dan ketiga, maka ketiga ayat tersebut diawali dengan kalimat sumpah semua.

Sumpah tentang buah Tin dan Zaitun, Bukit Tursina dan Negeri Makah.
Sebagian mufassir mengartikan buah Tin dan Zaitun secara zhâhir seperti termaktub dalam al-Quran. Buah Tin dan Zaitun adalah buah yang banyak mempunyai manfaat bagi kesehatan tubuh, bahkan ada satu riwayat dari Abu Darda yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa, kalau seandainya ada buah yang turun dari langit maka itulah dia buah Tin dan buah Zaitun. Sebagaimana yang kita ketahui selain keduanya adalah buah yang memiliki banyak manfaat kesehatan, buah tersebut juga adalah buah yang diberkahi oleh Allah.

Bahkan ada juga yang meriwayatkan ketika Adam dan Hawa diturunkan dari langit dan dalam keadaan tanpa penutup aurat, mereka berdua mengambil dedaunan Zaitun untuk dijadikan sebagai penutup aurat. Tafsir yang disebut di atas adalah yang memaknai buah Tin dan Zaitun sebagai zhâhir al-âyah.

Tapi ada juga yang memaknai Tin dan Zaitun di sini sebagai kalimat isti'arah yang menunjukan tempat. Bagi pendapat ini, Tin yang dimaksud di sini adalah tempat di mana pohon buah Tin banyak tumbuh yaitu di Damaskus. Sedangkan Zaitun yang dimaksud di sini adalah Baitul Muqaddas atau daerah Palestina. Pendapat yang mengatakan hal tersebut dikuatkan dengan ayat-ayat selanjutnya yang menerangkan tentang tempat-tempat di mana tiga agama samawi diturunkan oleh Allah sebelum diselewengkan oleh kaumnya sendiri.

• Baitul Muqaddas adalah tempat di mana Nabi Isa AS diutus oleh Allah untuk kaum Nasrani,
• Bukit Tursina adalah tempat dimana Nabi Musa AS diutus oleh Allah untuk kaum Yahudi,
• Sedangkan Mekah adalah tempat dimana Sayyidina Muhammad SAW menerima wahyu Ilahi untuk kita semua.

Setelah tiga sumpah (qasm) tersebut Allah memulai ayat keempat dengan jawaban sumpah (jawâb al-qasm, itulah bentuk lain dari penekanan bahwa manusia adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna.

Sedangkan untuk ayat selanjutnya adalah keterangan rinci bahwa setelah sedemikian rupa Allah menganugerahkan penciptaannya yang sempurna kepada kita, kini tinggal bagaimana kita menyikapi karunia tersebut. Allah juga menjelaskan tentang adanya kebaikan dan keburukan. Ternyata filosofi baik dan buruk bukan hanya ajaran agama samawi, agama buatan manusia sekalipun juga mengakui bahwa di sana ada kebaikan dan keburukan; Zoroaster dengan Tuhan Yazdan dan Ahraman, Majusi dengan Tuhan Cahaya dan kegelapan dan lain sebagainya.

Setelah kita mengetahui sedemikian rupa hakikat manusia dalam penciptaannya yang sempurna, lantas bagaimanakah sikap yang seharusnya manusia tersebut kerjakan? Sungguh, tidak ada dosa paling hina di dunia ini kecuali berkhianat kepada Yang Maha Mencipta. Rasul juga mengajari kita ketika hendak berkaca untuk membaca doa yang artinya; Ya Allah sebagaimana engkau menyempurnakan penciptaan jasadiyah kami maka sempurnakan pula lah ruhaniyah kami. Cakrawala/amin.

Tidak ada komentar: