Diskusi antara Dua Kutub Ilmu - IKPM KAIRO

Sabtu, 21 Februari 2015

Diskusi antara Dua Kutub Ilmu





Pada suatu waktu, Syekh Muhammad Ghazali berahlul ilmi ini.
kunjung ke Saudi. Bertemulah beliau dengan Syekh Abdullah bin Baz. Setelah bertegur sapa, terjadilah diskusi antara dua 

Syekh bin Baz memulai diskusi dgn berkata "La Majaza fi'l Qur'an", kemudian Syekh Ghazali menjawabnya dengan lugas, tegas, dan menakjubkan. Tapi sebelumnya, apakah anda sudah paham konsekwensi dari ungkapan Syekh bin Baz diatas? ok, saya akan terangkan sedikit -ta'kidan li man ya'rif, wa ma'rifatan li man lam ya'rif-, yaitu bahwa tidak ada satu pun ayat al-Quran yg mengandung majaz, dalam artian semua ayat harus dipahami secara ZAHIR LAFALnya, leterlek. Sehingga tidak boleh ada penakwilan dalam memahami/menafsirkan al-Quran.

Mendengar statemen itu, Syekh Ghazali pun menjawabnya dengan;
لَوْ كَانَ اْلأَمْرُ كَمَا قُلْتَ, فَمَا تَقُوْلُ فِى قَوْلِهِ تَعَالىَ: "وَمَنْ كَانَ فِى هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِى اْلآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيْلاً

Sebelum kita mencerna jawaban Syekh Ghazali ini, mari kita telusuri satu fakta dari biografi Syekh bin Baz, sehingga kita dapat merasakan aura sesungguhnya dari keilmuan Ulama kebanggaan Mesir ini. Fakta yg saya maksud adalah bahwa Syekh bin Baz pada saat melakukan diskusi ini sudah tidak dapat melihat, alias kafif (buta) –saya tdk tahu, apakah beliau buta dari kecil atau karena telah memasuki masa tua-.

Masih belum ngeh? Baik, mari kita preteli jawaban Syekh Ghazali diatas. Kurang lebih perkataan beliau adalah "Jika memang perkataanmu –Syekh bin Baz- itu benar, maka apa pendapatmu dalam surat al-Isra ayat 72; "Dan barang siapa di dunia 'buta' maka dia juga akan 'buta' dan tersesat di akhirat kelak". Bahwa jika memang tidak ada majaz dalam al-Quran, maka apakah engkau –Syekh bin Baz- akan buta juga di akhirat kelak?. Sudah terasa kan sensasinya? :)

Syekh Ghazali seperti ingin memberikan jawaban yg tegas dan yg paling mengena dengan perasaan Syekh bin Baz. Tentu Syekh Ghazali tidak ingin menyindir, menghina, dan melukai hati Syekh bin Baz, tapi beliau ingin mematahkan pendapat Syekh bin Baz bukan hanya pada alam sadar saja –otak dan pikiran-, tapi juga alam bawah sadar beliau. Dalam ilmu balaghah, hal seperti ini biasa disebut uslûb hakîm.

Begitulah seharusnya ahlul ilmi berdiskusi, tanpa amarah, tanpa tendensi, tanpa emosi. Semuanya berada dalam koridor ilmu dan atas namanya, tidak ada emosi pribadi. Sayangnya, saya tidak mendapat informasi bagaimana respon Syekh bin Baz setelah mendengarkan jawaban Syekh Ghazali yg sangat extraordinary ini.

Cairo, 12 April 2011
# ditulis untuk mengabadikan salah satu sensasi yang saya dapatkan dari perkuliahan al-Azhar, Mesir. Jazahullah 'anni khairan kepada Dr Hasan Jabar (dosen pengampu materi Tafsir Tematik, pada kelas Tamhidi I program master Univ al-Azhar, jurusan Tafsir), yg telah 'meriwayatkan' diskusi inspiratif ini. al-Azhar memang tiada duanya :)

Tidak ada komentar:

@way2themes