Top Ad unit 728 × 90

Home

Dua Jam Bersama Setan (repost)


Aku pernah berdiri di depan jamaah jumat, memberikan khutbah, yang merupakan salah satu rukun shalat jumat. Pertama kali mungkin agak nervous, tapi selanjutnya terbiasa. Akhir-akhir ini aku jadi berpikir, mimbar masjid, ya..mimbar mesjid. Mimbar mesjid untuk khutbah jumat bukan tempat pamer kafasihan berbicara, bukan tempat pamer kemahiran berorasi, tetapi mimbar itu tempat memberi nasehat dan saling mengingatkan. 1432 tahun lalu, mimbar jumat itu dipakai oleh Rasulullah, barang siapa yang menggantikan beliau di tempat itu, paling tidak, dia itu berakhlak seperti akhlaq Rasulullah semampunya, dan selalu mengikuti sunnah Rasulullah. Sehingga saat dia mengatakan“ittaqullah…”, dia tidak berbohong dan tidak menyalahi kata-katanya sendiri, biar orang-orang tidak melihat perbuatannya kebalikan dari kata-katanya di atas mimbar.

Mimbar jumat bukan mimbar biasa yang pada permulaannya pembicara mengatakan, “Yang terhormat….”, dan tidak ada basa-basi penghormatan lain kepada orang-orang tertentu di depannya, tetapi dia melihat dengan mata Syariah, semua yang di depannya sama, semua hamba Allah, tidak ada yang kaya tidak ada yang miskin, yang membedakan mereka adalah tingkat ketakwaannya pada Allah. Dia berbicara atas nama Syariah, makanya dia diterima di atas mimbar, padahal dia tidak lain hanya meminjam “kehormatan” Syariah saja.

ada cerita menarik tentang Syeikh Aly Tantowy yang wafat tahun 1999, beliau adalah khatib di salah satu masjid di Damascus. Beliau bersiap-siap beberapa hari sebelum khutbah jumat, beliau selalu tidur cepat, agar terbangun tengah malam untuk melaksanakan shalat isya dan qiyamullail, dengan harapan menjadi salah satu “mutahajjidin”, seperti seorang tamu tak diundang pada jamuan makan yang hanya diundang orang-orang mulia saja, “Semoga saja, aku bisa menjadi salah satu tamu Allah yang dirahmati-Nya di antara tamu-tamu agung lain, meskipun cuma sekali seumur hidupku, aku memang bukan mereka, bahkan menjadi abu di sandal mereka saja aku tidak pantas, tapi meniru mereka kan’ tidak salah”. Biarkan beliau sendiri yang menceritakan pengalamannya itu.
======================

Aku tidur cepat, aku sudah berniat untuk bangun tengah malam, dan shalat isya serta sunnat. Tepat pada jam yang telah ku atur di jam waker-ku, aku terbangun, seakan ada yang membangunkan, padahal jamnya belum berbunyi. Aku berusaha untuk bangun, aku harus berjuang melawan hangat dan empuknya kasur, sepertinya mataku tidak mau terbuka, keinginan tidur dan keinginan melaksanakan kewajiban shalat isya bertarung di dadaku. Seakan ada suara berbisik di telingaku, “Waktu masih panjang, tidur saja sebentar lagi, kasihan kasur yang hangat, besok kamu kan harus bekerja sampai sore, jadi istirahat saja dulu sebentar lagi”, akhirnya aku menjatuhkan badanku lagi dan tenggelam dalam hangat dan empuknya kasur”, ada suara lain berbisik, “Bangun, kamu tadi sudah janji mau bangun, ayo tepati janjimu, serahkan saja semua pada Allah, ingatlah betapa besarnya pahala kesabaran dalam ketaatan, kalau seandainya sekarang ada orang datang membawakan kepadamu api atau 100 Pound, pasti kamu segera melompat bangun dari kasurmu, bagaimana dengan neraka Jahannam dan Surga yang dijanjikan padamu?”

Suara pertama datang lagi, “Nyantai aja dulu, bolak-balik dulu di kasur sambil menunggu kesadaranmu dari alam mimpi datang”, akhirnya aku membalikkan badanku, sungguh nikmat, aku sangat menikmati tidur ini, lebih nikmat dari apapun. Suara kedua datang lagi, “Woi..itu setan, yang menggodamu agar kamu lupa shalat isya, ayo bangun!”
 Aku bingung, dengan dua suara yang terus berkecamuk di telingaku, seperti suara detakan jarum jam dinding, “bangun”,”tidur”, “bangun”,”tidur”,“bangun”,”tidur” “bangun”,”tidur”,….

Aku tahu, dua perbedabatan itu tidak ada akhirnya, sampai aku tertidur, terlewat shalat isya dan subuh kesiangan. Maka aku harus segera menghentikan salah satunya, akhirnya aku memilih “bangun”. Aku mengucapkan Auzubillah, dan memohon pada Allah agar dikuatkan, dan aku bertawakkal pada-Nya. Setelah aku bangun, aku tidak mendengar lagi suara, “tidur”. Aku bangun dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, aku senang bisa mengalahkan setan.

Akupun berdiri untuk melaksanakan shalat, aku ingin memutuskan hubungan dengan dunia, aku hanya ingin saat-saat tengah malam begini berdua dengan Tuhanku, shalat yang khusus dan berdoa. Akupun bertakbir, “Allahu Ak….”, belum sempat kusempurnakan takbiratul ihramku, tiba-tiba pemikiran tentang dunia kembali muncul di kepalaku, ku ulangi lagi bertakbir, setelah mencoba mengumpulkan kekusyukan yang tadi hilang, aku berusaha fokus dan khusyu, tiba-tiba hal yang sama terjadi, ku ulangi lagi, begitu lagi, sampai berkali-kali. Aku heran, belum pernah aku merasakan hal ini.

(bukan MU loh ya, hehe)(bukan MU loh ya, hehe)
  Akhirnya aku mengucap kalimat Allah dan Auzubillah, aku baru tenang. Kini aku tahu sebabnya kenapa aku begitu, itu adalah setan. Tadi waktu aku mengingat Allah dan berhasil melompat bangun dari kasurku, aku merasa bangga dengan apa yang kulakukan, aku mengira diriku sudah termasuk dalam golongan orang shaleh, yang mampu melawan setan, setan melihat rasa bangga itu adalah pintu baru untuknya. Dia datang menjelma seakan orang yang memberi nasehat, padahal mau merusak shalatku. Seakan dia menasehatiku agar shalat yang khusyu, jangan ada sedikitpun dunia ketika mulai takbir, aku harus benar-benar menghadap Allah. Aku membaca Auzubillah dan mulai shalat.


Setelah selesai shalat, suara itu datang lagi, “Shalat apa ini?nggak ada khusyu sama sekali? Shalat itu kalau nggak seperti disuruh dengan khusyu, sama saja bohong”. Aku sadar, ini adalah salah satu cara setan merayu orang yang shalat. Dia mengatakan, “Shalat itu bukan cuma sujud, rukuk dan bacaan-bacaan ritual yang sering kamu baca, tetapi shalat yang benar adalah shalat yang khusyu yang bisa mencegah kamu dari perbuatan maksiat dan mungkar, sehingga setelah shalat dia tidak akan lagi mengerjakan maksiat, shalat yang dikerjakan dengan penuh khidmah, tidak ada mikir dunia waktu shalat, dia khusyu sekali, tidak melihat apa yang terjadi di sekitarnya, tidak mendengar suara apapun di dunia, jiwa dan raganya bersama Allah”. Ketika pemikiran seperti itu merasuk dalam jiwa orang-orang Islam yang lemah, maka mereka akan berpikir, “Yah, kalau shalat kita nggak dianggap shalat karena nggak bisa begitu, lagian aku juga sudah berusaha lebih baik tapi aku tidak bisa, ngapain lah kita capek-capek bangun subuh shalat, capek sujud, capek rukuk tapi nggak dapat pahala!mendingan nggak usah shalat sekalian!”. Sukses…, itu tujuan setan, agak kita meninggalkan shalat.

Allah tidak pernah membebankan kepada kita apa yang kita tidak mampu, Syariah memang Syariah, tetapi Syariah juga tidak menafikan kita sebagai manusia, orang shalat ya harus khusyu, khusyu semampunya, tingkat khusyu yang paling rendah adalah dia sadar apa yang sedang dibaca, jangan sampai dia baca..”Inna shalati wanusuki mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin,arrahmanirrahim, maliki yaumiddin…”. Kalau ada pikiran tentang dunia mampir, yang pastinya itu selalu ada dalam pikiran manusia, bedanya ada yang banyak ada yang sedikit, dia mengingat Allah lagi dengan takbiratul ihram, yang diucapkan setiap berpindah dari gerakan ke gerakan dalam shalat. Kalau kita mengatakan syarat sah shalat harus khusyu, dia tidak melihat apapun di sekitarnya, dia tidak mendengar suara apa saja di sekitarnya, ini adalah syarat yang tidak pernah dikatakan oleh siapapun dalam Islam. Rasullah saja pernah memperpanjang sujudnya saat ada salah satu anak Fatimah naik ke punggungnya, karena beliau merasa ada anak kecil di punggungnya. Beliau juga membolehkan kita membunuh ular dan kala jengking meskipun kita dalam shalat, dan membolehkan kita menghalangi orang yang lewat di depan kita yang sedang shalat. Itu artinya orang yang shalat merasa, melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Jadi siapa yang bilang harus shalat khusyu seperti itu? Kalau nggak seperti itu tidak sah!

Kalau kamu shalat 5 waktu terus, tapi maksiat juga masih jalan, shalat tetap dikerjakan, jangan ditinggalkan, tapi bertaubatlah, minta ampunlah dan minta kekuatan agar Allah menjagamu dari maksiat. Mendingan masih shalat meskipun kadang-kadang diselingi maksiat, dari pada meninggalkan shalat sama sekali dan tetap berbuat maksiat.
Syeikh Tantowy meneruskan ceritanya:

Saat setan tahu kalau tipu dayanya kali ini gagal lagi, dia membisiki di telingaku, “Mantap, shalat kamu sudah sempurna, ini dia yang namanya shalat. Kamu adalah orang alim, shaleh, wali Allah, setan kini tidak mampu mendekatimu lagi! Kamu adalah ahli surga, bersyukurlah”.

Kurang ajar, laknatullah alaik ya syaithan! Kamu ingin merayuku lagi! Setiap muslim belum ketahuanjuntrungannya sampai dia meninggal, apakah saat meninggal dia husnul khatimah atau tidak!semoga Allah menjadikan kita semua orang yang husnul khatimah, mati dalam keadaan beriman pada Allah.
Kemudian aku duduk membaca quran, mulai lagi setan datang merayuku, agar aku tidak bisa mentadabburi isi kalam Allah, dia mengatakan, “Makharij huruf kamu tidak benar, tajwidnya juga masih salah, mana yang panjang, mana yang pendek, mana yang tebal mana yang tipis? Itu yang pertama harus kamu perhatikan, tadabburnya nanti saja.”, dia mau aku menyibukkan diri dengan tajwid dan makharij huruf, dan melupakan tadabbur isi Quran. Padahal aku tidak pernah mendengar para Sahabat Nabi menyibukkan diri dengan tajwid daripada tadabbur, bahkan Ulama Salaf memakruhkan keterlaluan dalam hal itu[1].

Kemudian dia membisiku agar aku membaca Quran dengan cepat tanpa harus paham, kan yang penting baca, biar aku bisa khatam 30 juz dalam 2 atau 3 hari! Kemudian dia menyuruhku mempelajariqiraat-qiraat lain, dan membacanya di depan orang, agar terlihat aku hafal Quran dan semua qiraat. Dan menurutku pribadi, hal ini tidak boleh, karena akan menimbulkan fitnah di tengah masyarakat awam dan menumbuhkan ujub dalam hati pembaca.

Semua itu tidak baik, karena tujuan dasar membaca Quran adalah untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan isinya. Membuat bacaan Quran sebagai seni, sumber mata pencaharian, hadiah diberikah kepada orang yang paling panjang nafasnya, bisa membaca sepuluh ayat dengan sekali tarik nafas, hadiah diberikan kepada orang yang paling indah suaranya saat melagukan Quran…..

Quran itu bukan untuk dikhatamkan berkali-kali tanpa dipahami, bukan untuk dibaca dengan bermacam-macam bacaan tanpa dimengerti, bukan hanya diperhatikan tajwidnya, lagunya, tapi Quran itu Undang-Undang, di dalamnya ada perintah dan ada larangan, yang harus dipahami dan dimengerti, dikerjakan perintahnya dan dijauhi larangannya, dan dihormati batasan-batasannya.

Aku terus membaca Quran sampai matahari pun terbit. Kemudian aku mengatakan pada diriku, “Hari ini aku akan berusaha untuk selalu bersama Allah sampai malam tiba”. Tiba-tiba setan datang lagi, dia berbisik, “Alah, songong!nggak mungkin!itu sangat susah, mustahil kamu sanggup!”
Aku membalasnya, “Tidak, tapi demi Allah ini sangat mudah. Ini adalah usaha dengan langkah yang sangat sederhana, aku hanya perlu mengingat bahwa aku melihat Allah dimanapun aku berada, kalaupun aku tidak melihat-Nya, tapi aku yakin Dia melihatku”.


Footnote: 
[1]  Lihat: Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Talbisul Iblis karya Imam Ibn Jauzy dan Ighatsatul Lahfan karya Imam Ibn Qayyim.

NB:
1- Hanyalah sebuah repost dari syekh atjeh; Saifanur.
2- Banyak mabadi'/worldview nya bagus2, ttg setan, khusyuk, kesombongan, khutbah, dll.faltatanabbah!
3- Tentang setan, video ini juga cukup membantu utk tadzikrah: http://www.youtube.com/watch?v=1z2NFxnMEhc
4- Semoga bermanfaat.

Barakallahu Fiikum Jami'an..
Dua Jam Bersama Setan (repost) Reviewed by Mas Anam on 13.26.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.