Top Ad unit 728 × 90

Home

Membentuk Pribadi Istimewa Berjiwa Mulia

Membentuk Pribadi Istimewa Berjiwa Mulia

*** 
            Jiwa merupakan unsur paling penting dalam diri seseorang, yang menjadi salah satu objek terpenting dalam pembahasan tasawuf maupun filsafat, karenaialah yang menentukan kebahagiaan suatu individu ataupun penderitaannya dalam hidup. Jiwa yang menuntun dan membawa manusia menuju jalan kebenaran atau kebatilan, karena segala perbuatan, ucapan, pikiran, dan perasaan timbul melaui jiwa. Menurut al-Farabi tentang keabadian jiwa, ia membedakannya menjadi dua, yaitu jiwa kholidah dan jiwa fana. Jiwa khalidah adalah jiwa yang penuh kemuliaan, jiwa yang mengetahui kebaikan dan perbuatan baik, serta dapat melepaskan diri dari ikatan jasmani, tidak akan hancur meskipun badannya hancur, dan jiwa ini berada dalam tingkat ‘akal mustafad’. Sedangkan jiwa fana adalah jiwa kebodohan, tidak sempurna karena tidak dapat melepaskan diri dari sifat materialistis, akan hancur dan musnah seiring hancurnya badan.

            Kata jiwa dalam bahasa arab adalah an-nafs, yang juga dapat berarti hawa nafsu, karena jiwa dan nafsu merupakan dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Nafsulah yang menciptakan gairah untuk melakukan suatu pekerjaan. Itu sebabnya mengapa malaikat
Tidak ada pekerjaan selain menyembah dan mangabdikan dirinya kepada Allah SWT, tidak lain karena mereka tidak memiliki nafsu. Inilah perbedaan antara malaikat dan manusia, keduanya sama-sama meliliki akal, namun hanya manusia yang memiliki nafsu atas kehendak Allah. Tapi, nafsu juga dimiliki oleh selain manusia, yaitu hewan, akan tetapi hewan tidak memiliki akal. Itulah sebabnya mengapa manusia ditempatkan di derajat yang paling tinggi dibandingkan malaikat dan hewan, juga sebagai khalifah di muka bumi ini. Banyak sekali ulama yang membahas tentang hal ini, Rasulullah pun pernah bersabda: “Al-Mujahid man jahada nafsahu fil-laahi ‘Azza wa Jalla.”(Mujahid adalah seseorang yang melakukan jihad di jalan Allah.), Hadits Shahih yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dalamSunnan-nya. Jadi apabila manusia menang atas nafsunya, maka ia lebih menyerupai malaikat, bahkan lebih mulia. Namun, apabila kalah oleh nafsunya, ia pun lebih menyerupai binatang, dan bahkan lebih hina.

            Di zaman modern ini, manusia dihadapkan dengan berbagai macam godaan maupun goncangan yang sangat berat, yaitu melawan hawa nafsu yang berdampak kepada kejiwaannya. Berbagai media banyak menyediakan hal-hal yang dapat merusak kesucian jiwa, hingga sudah sangat banyak masyarakat yang terpedaya oleh paham materialisme, kapitalisme dan lain sebagainya yang membuatnya sibuk akan hal-hal duniawi yang fana, yang selalu meliahat sesuatu hanya dari segi eksternal bukan internal, dari segi kuantitas bukan kualitas. Mereka hanya mengejar kesenangan jasmani, yang pada hakikatnya tiada kesenangan dan kebahagiaan yang lebih tinggi martabatnya dibandingkan dengan kenikmatan ruhani.

            Goncangan ini menimbulkan kecemasan dan keresahan bagi suatu Bangsa. Terbukti bahwa pemerintah saat ini mulai giat mempersiapkan dan merancang sistem pendidikan yang berbasis karakter. Sistem yang bertujuan untuk membentuk generasi muda bangsa yang berakhlak mulia. Karena pemuda merupakan penyongsong agama, bangsa, dan negara yang cerah. Dan hanya pribadi yang berjiwa istimewalah yang didambakan oleh setiap bangsa, dan dari mereka pula bangsa dapat dikatakan berkembang atau maju.

Salah seorang ulama dan sastrawan Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab dikenal dengan sebutan Buya Hamka ini, menulis buku pada tahun 1950 yang berjudul Pribadi, (Jakarta: Bulan-Bintang 1982, cet. ke-10), menurut beliau seseorang dihargai karena kepribadinya, bukan karena badannya. Beliau menulis: Dua puluh ekor kerbau pedati, yang sama gemuknya dan sama kuatnya, sama pula kepandaiannya menghela pedati, tentu harganya tidak pula berlebih kurang. Tetapi 20 orang manusia yang sama tingginya, sama kuatnya, belum tentu sama harganya. Bagi manusia, pribadinya. Berilmu saja walaupun bagaimana ahlinya dalam suatu jurusan, belum tentu berharga, belum tentu beroleh kekayaan dalam hidup, kalau sekiranya bahan pribadinya yang lain tidak lengkap, tidak kuat, terutama budi dan akhlaknya. ”Dari kutipan di atas, beliau tidak menafikan fungsi fisik yang kuat dan sehat, namun beliau lebih menekannkan kefungsian akhlak, yang mana lebih tinggi nilainya dan yang lebih menentukan harga seseorang.

            Akhlak merupakan cerminan dari jiwa, apabila sehat jiwanya maka baiklah akhlaknya, dan sebaliknya, apabila rusak jiwanya, maka akhlaknya pun akan buruk. Dan untuk menjadikan jiwa sehat, menurut Fakhruddinar-Razi, manusia harus mengedepankan wahyu Allah dan akalnya dibanding hawa nafsunya. Dalam proses ini, seseorang harus berusaha keras untuk mendalami ilmu pengetahuan dan tidak boleh hanya mengikuti hawa nafsunya semata, namun ia harus mendapatkan kesenangan dan kebahagian ruhani terlebih dahulu.
         
   Allah berfirman: “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S: Al-Fajr, 27-30). Dari ayat ini disimpulkan bahwa hanya hamba-hamba Allah yang istimewalah yang akan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang kekal, yaitu hamba yang berjiwa mulia, jiwa yang selalu mengedepankan kebahagiaan dan ketenangan ruhani dibanding jasmani, yaitu mendambakan ridha Allah SWT.
WallahuA’lam.


Oleh: Fairuz_Hammurabbi HR
Membentuk Pribadi Istimewa Berjiwa Mulia Reviewed by Fairuz Hammurabi on 06.00.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.