Menilik Kembali Hukum Mengucapkan "Selamat hari natal" dan Merayakannya (Moslem Only) - IKPM KAIRO

Sabtu, 21 Februari 2015

Menilik Kembali Hukum Mengucapkan "Selamat hari natal" dan Merayakannya (Moslem Only)

Tulisan ini dibuat bukan untuk membuang energi dengan 'mengurusi' agama orang lain, tapi sebagai muslim yang berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah, selayaknya kita mencari tahu pandangan Islam dalam setiap tingkah laku kita, perkataan maupun perbuatan.

Baik, langsung saja kita menuju 'tkp'..insya Allah, sebisa mungkin saya akan mengulas pembahasan ini dengan obyektif, berimbang. Mencakup data, fatwa, dan realita. Tentu semua ini adalah sejauh subyektifitas keilmuan saya, dan tidak menutup pintu bagi teman-teman, dan ustad-ustad sekalian untuk menambah yg kurang, meluruskan yang salah.
======================================

Dalam hal ini, ada dua pendapat; ada yang membolehkan umat Islam utk mengucapkan "selamat natal", sebagian lagi melarangnya. Setiap pendapat berlandaskan dalil-dalil yg kuat, Quran maupun Sunah.

Secara umum, perbedaan ulama ini mengerucut kepada satu hal saja; apakah ucapan selamat bagi kaum kristiani yg merayakan natal ini masuk dalam kategori akidah (keyakinan) atau masih dalam koridor muamalah (pergaulan).

A.    Pendapat yang melarang

Sebagian ulama –klasik maupun kontemporer- melarang umat Islam untuk 'ikut campur' dengan perayaan agama lain –tak terkecuali kristen-, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Syekh Utsaimin, dan lainnya, dengan dalil-dalil sebagai berikut:

1)      Mau tidak mau permasalahan ini akan masuk ke dalam ranah akidah, karena christmass bukanlah hal yg sembarangan dalam keyakinan kaum kristen. 25 Desember dalam keyakinan nasrani adalah hari 'lahirnya tuhan' atau 'lahirnya anak tuhan'. Maka tidak ada toleransi dalam akidah, bahkan Allah Swt. sendiri sudah terang-terangan meluruskan klaim ini (al-Ikhlas: 3, al-Maidah: 72 & 116, dll).

Mengutip pendapat ust Ihsan Tanjung "Bukankah ucapan selamat dari ummat Islam justeru akan melestarikan keyakinan sesat mereka? Mereka tidak diingatkan bahwa itu keliru malah mereka diberikan kalimat ucapan selamat?", Ibaratnya seorang muslim yang seperti itu sedang menyatakan kepada seorang Nasrani: “Selamat ya Anda telah menjadi seorang yang kafir di mata Allah Tuhan Yang Sebenarnya.” Na’udzubillahi min dzaalika...!. bagaimana bisa dikatakan selamat sedangkan Allah sangat murka dengan klaim batil tersebut? Lalu apa perlunya diberikan ucapan selamat kepadanya? Malah semestinya –jika sanggup- kita mengajak mereka untuk bertaubat dari claim batil tersbut dan kembali kepada ajaran murni Yesus alias Nabiyullah Isa ‘alahis salaam, yakni ajaran Tauhid".

Ibnu Taimiyah juga melarang ber-tasyabbuh dengan hari besar kaum kafir, karena hal itu akan memberikan efek 'lega', bahwa umat Islam 'membenarkan' kesesatan yang mereka lakukan.[1] Beda lagi dengan hari-hari kenegaraan, atau hari ibu dan sebagainya, tidak ada unsur akidah di dalamnya, maka dari itu masih dapat ditolerir.

2)   Qiyas awla dari firman Allah; "إلا من أكره و قلبه مطمئن بالإيمان" "kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman" (al-Nahl: 106). Apakah jika kita tidak mengucapkan selamat, kita akan dibunuh?.

3)      Toleransi antar umat beragama tidak harus dengan mengucapkan 'happy christmass', dengan berakhlak karimah dan memperhatikan hak mereka sebagai manusia, tetangga, masyarakat, dan lainnya sudah cukup mewakili itikad baik kita untuk hidup damai, bersama mereka.

Apalagi dalam Islam, masih banyak momentum yg lebih 'bersahabat' untuk mengungkapkan pengakuan kita terhadap keberagaman ini. Sebut saja hadis Nabi yang menganjurkan kita agar melebihkan 'kuah sayuran' untuk diberikan kepada tetangga, atau hadis lainnya yang menunjukkan amarah Nabi kepada seseorang yang mendapati tetangganya kelaparan, tapi tidak mengulurkan bantuan. Kebetulan hadis-hadis tersebut tidak mengkhususkan bagi sesama muslim saja, tapi umum bagi sesama manusia –muslim maupun non muslim-. Bagi yang tidak punya tetangga kristen, saya kira dengan menghormati hari raya mereka, tanpa mengganggu apalagi merusak, adalah lebih dari cukup. Cukup dengan kata 'silahkan', bukan dengan kata 'selamat'.

4)      Irene Handono (seorang muallaf, mantan biarawati) mengutarakan bahwa salah satu cara misionaris untuk merebut simpati umat Islam adalah mengucapkan selamat lebaran, agar mereka juga mendapatkan selamat natal.

5)      Saddu al-Dzarî'ah, mencegah diri dari hal yang dilarang.

B.     Pendapat yang membolehkan

Beberapa ulama kontemporer seperti Yusuf Qardhawi dan Musthafa Zarqa membolehkan hal ini dengan beberapa pertimbangan;

1)      Firman Allah Swt.:
"لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم فى الدين و لم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم و تقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين"
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil" (al-Mumtahanah: 8).

2)      Sikap Islam terhadap ahlu kitab lebih lunak daripada kepada kaum musyrikin; para penyembah berhala. Bahkan al-Quran menghalalkan makanan serta perempuan (untuk dinikahi) dari ahli kitab (al-Maidah: 5). Dan salah satu konsekwensi pernikahan adalah menjaga perasaan pasangan, berikut keluarganya.[2] Apalagi hanya dengan bertukar ucapan 'selamat'.

3)      Firman Allah Swt.:
"و إذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها"
"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)" (al-Nisa: 86).

4)      Pada satu riwayat, seorang majusi mengucapkan salam kepada Ibnu Abbas "assalamualaikum", maka Ibnu Abbas menjawab "waalaikumussalam wa rahmatullah". Kemudian sebagian sahabatnya bertanya "dan rahmat Allah?", beliau menjawab: apakah dengan mereka hidup bukan bukti rahmat Allah.[3]

5)      Pada masa kini, perayaan natal tak ubahnya adat istiadat, perayaan masyarakat atau kenegaraan.[4]

6)      Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut.

C.    Pendapat pertengahan
Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor bidang tafsir dan ulumul quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahni'ah ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni'ah yang halal dan ada yang haram.

Tahni'ah yang halal adalah tahni'ah kepada orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.

Sedangkan tahni'ah yang haram adalah tahni'ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga." Sedangkan ucapan yang halal seperti, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda."

Bahkan beliau membolehkan memberi hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.

# Pertanyaanya adalah; bukankah ucapan tahniah yg berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga" lebih bersifat sindiran daripada ucapan selamat. Prof Abdussatar secara tidak langsung tidak memperbolehkan kita mengucapkan 'selamat natal', karena ada konsekwensi akidah dibelakangnya.

PNB (perayaan natal bersama)

Hal ini pernah menjadi permasalahan, saat beberapa kelompok menggaungkan PNB sebagai wujud toleransi antar umat beragama, seakan ingin menunjukkan bahwa umat Islam yang tidak merayakan natal bersama berarti tidak tolerir, tidak menghormati umat nasrani.

Dalam masalah ini, semua ulama sepakat bahwa menghadiri perayaan hari besar agama lain adalah HARAM hukumnya. Penulis jadi bertanya-tanya, bagaimana seharusnya sikap kita kepada presiden ke-4 dan ke-6 kita yang menghadiri perayaan natal, bahkan kyai presiden kita sempat 'didoakan' oleh umat nasrani.

Muhammadiyah selaku salah satu ormas Indonesia juga telah membahas masalah ini; dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI tahun 1981.

Kesimpulan

Perdebatan di atas menjadi simpel jika kita dapat memilih salah satu pendapat, apakah hal ini termasuk permasalahan akidah, atau dapat ditarik kepada muamalah saja. Tapi tentu harus dengan melihat dalil-dalil di atas.

Untuk saat ini, penulis lebih condong kepada pendapat pertama. Bukan tidak menghargai umat nasrani, apalagi ingin merusak suasana gembira, karena penulis meyakini kata 'silahkan' sudah dapat mewakili kata 'selamat'. Apalagi melihat kondisi tauhid umat yang sedang goyah saat ini, oleh arus pluralisme maupun liberalisme. Maka sudah selayaknya kita membentengi dulu akidah umat, dengan menjauhi hal-hal yang syubhat. Hal ini juga dipegang oleh Majlis Tarjih Muhammadiyah, bahwa ”Mengucapkan Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan.

Wallahu a'lam bi al-Shawab



[1] Ibnu Taimiah, Iqtidhâ' Shirâti'l Mustaqîm, Mukhâlafatu Ashâbi'l Jahîm, Dar el-Manar, Kairo, cet I, 2003, hal 200

[2] Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al-Muslimah, Dar el-Syuruq, cet II, 2005, hal 147-148

[3] Ibid, hal 149

[4] Ibid, hal 150

----------------------------------
referensi:
1. Ibnu Taimiah, Iqtidhâ' Shirâti'l Mustaqîm, Mukhâlafatu Ashâbi'l Jahîm
2. Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al-Muslimah
3. Berbagai artikel dan fatwa ulama di internet

===================================
sebagai perbandingan, baca juga artikel-artikel di bawah ini:

melarang
>  http://abdullah-syauqi.cybermq.com/post/detail/8840/-hukum-mengucapkan-selamat-natal
>  http://myjojo.xanga.com/414857784/item/
>  http://ahemseff.wordpress.com/2009/12/30/merayakan-natal-dan-tahun-baru/
>  http://bolehjadikiamatsudahdekat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=179:renungan-soal-ucapan-selamat-natal&catid=1:latest-news&Itemid=55
>  http://muslim.or.id/aqidah/selamat-natal-bolehkah-sanggahan-untuk-al-qardhawi.html
>  http://forum.kompas.com/showthread.php?12079-Hizbut-Tahrir-Indonesia-partai-politik-kah/page2

membolehkan (obyektif)
>  http://www.rajawana.com/artikel/akhak-a-agama/196-hukum-mengucapkan-selamat-natal.html
>  http://feminasagita.multiply.com/journal/item/16

asal-usul perayaan natal
>  http://www.islam21c.com/theology/173-christmas-and-the-paganisation-of-christianity
>  http://www.youtube.com/watch?v=dlGUSFxrJg8&feature=&p=A57949A7455C1C3B&index=0&playnext=1
>  http://www.hidayatullah.com/kolom/adian-husaini/931-tradisi-natal-kaum-kafir
>  http://www.hidayatullah.com/kolom/adian-husaini/1526-mitos-mitos-tentang-perayaan-natal-bersama

Tidak ada komentar: