Menilik Kembali Wacana Hisab Falak Syar'i - IKPM KAIRO

Sabtu, 21 Februari 2015

Menilik Kembali Wacana Hisab Falak Syar'i



Bagi sebagian kalangan, mungkin pembahasan ini bukan lagi pada waktunya, alias sudah gak penting lagi. Tapi inilah pentingnya, ilmu tidak identik dengan dengan waktu tertentu, mencarinya harus diusahakan terus, hingga akhir hayat. Bahkan Allah berfirman "apakah sama antara orang yang mengetahui dan tidak?", tentu tidak!. Maka sudah bisa dipastikan, kalangan yang 'tega' mengatakan hal di atas adalah 'orang awam'. J

Judul di atas bukan wujud provokasi bagi kalangan yang meyakini legalitas hisab dalam penentuan awal bulan hijriah atau ingin gagah-gagahan, bahwa pendapat ini atau itu paling benar. Membaca tulisan ini hendaknya diawali dengan semangat menggali ilmu sedalam-dalamnya, khususnya tentang ilmu falak ini. Sehingga kita dapat mencapai keyakinan dalam melakukan sesuatu, dalam hal ini konteksnya adalah penentuan awal bulan. Maka tulisan ini bisa dikatakan masih hipotesa, masih dapat berubah sewaktu-waktu, saat bertemu data (dalil) dan fakta (realita) yang baru.

Langsung saja, pendapat aplikasi hisab dalam penentuan awal bulan -menurut hemat penulis- masih menyisakan banyak pertanyaan dan isykâl. Hal itu akan diuraikan dengan tulisan sederhana di bawah ini. Selamat menikmati.
----------------------------------------------------
Nash-nash penentuan awal bulan tidak keluar dari tiga kriteria hadis di bawah ini: 

صوموا لرؤيته و أفطروا لرؤيته, فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين[1
لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه, فإن غم عليكم فاقدروا له[2]
إنا أمة أمية, لا نكتب ولا نحسب, الشهر هكذا و هكذا –يعني مرة تسعة و عشرين, ومرة ثلاثين[3]

Sekarang mari kita bahas satu-persatu tiga hadis di atas.

1)      Dua proses rukyah
Dalam rukyah ada dua proses penting; melihat awal bulan (rukyah fi'liyah) dan menyempurnakan 30 hari, saat bulan tertutup awan (فإن غم عليكم). Bagi kalangan yang berpendapat legalnya hisab, mereka meyakini rukyah yang disebutkan dalam hadis juga dapat diartikan dengan hisab; hisab falak syar'i. Pendapat mereka berlandaskan pemakaian bahasa dalam kata رأى-يرى dapat diartikan dalam dua arti; rukyah fi'liyah (fisik) dan rukyah 'ilmiyah (hisab). Di sinilah letak kerancuannya, mereka seakan-akan mengatakan bahwa hisab dapat 'mewakili' rukyah yg telah dilakukan di masa Rasulullah Saw.. Padahal jika kita lihat dengan jeli, hisab tidak dapat menggantikan rukyah pada proses kedua dalam pelaksanaan rukyah; saat tertutup awan (فإن غم). Penulis sangat yakin, sampai kapanpun tidak akan dapat ditemukan rumus fain ghumma dalam hisab penentuan awal bulan.

2)    فاقدروا له 
Sebagian ahli hadis memang sepakat tentang lafal ini, mereka juga telah me-dhaif-kan tambahan dari rawi dalam hadis ini (فاقدروا ثلاثين يوما). Tapi apakah cukup hadis ini menjadi dalil legalitas hisab dalam penentuan awal bulan? Mari kita kaji bersama. Menurut hemat penulis, ada beberapa point yang harus kita perhatikan dari hadis ini (no 2):
a)      Kenapa kita tidak memahaminya dengan kaidah الحديث يفسر بعضهم بعضا (hadis satu menjelaskan hadis lainnya); bahwa hadis no 1 menjelaskan hadis no 2 ini. Karena lafal فاقدروا له mempunyai banyak arti, ulama juga berbeda pendapat dalam memaknainya, setidaknya ada tiga makna yang ditawarkan para ulama, sedangkan lafal فأكملوا sudah sangat bisa dipahami. Jadi kalo memang bisa dijamak antara dua hadis (الجمع بين الحديثين), kenapa tidak?. Atau dikatakan bahwa hadis no 1 mengkhususkan hadis no 2, bukan sebaliknya, karena العام لا يخصص الخاص (dalil yang umum tidak dapat mengkhususkan dalil yang khusus).
b)      Jika memang lafalفاقدروا له  berarti hisab, hal ini juga khusus saat kita tidak dapat melihat bulan baru, karena tertutup awan, sebagaimana jelas disebutkan dalam hadis.[4] Atau dalam keadaan terdesak (bahaya) seperti dalam bunker (perang), sehingga tidak dapat mendengar kabar hasil rukyah maupun melaksanakan rukyah sendiri.[5]

3)     Wasîlah lâ Ghâyah? (sebagai fasilitas, bukan tujuan?)
Apakah rukyah-hisab adalah fasilitas bukan tujuan, penulis berpendapat tidak ada bedanya, yaitu saat kita kembali lagi kepada point no 1. Karena walaupun rukyah dikatakan sebagai wasilah, maka pertanyaanya; apakah hisab dapat menggantikannya secara utuh? Pertanyaan ini berangkat dari apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya dalam penentuan awal bulan; rukyah (fisik/fi'liyah).

4)     Sesuai fitrah manusia
Menurut hemat penulis pensyariatan rukyah oleh Rasulullah sudah tepat, karena rukyah lebih sesuai fitrah dari hisab. Tolok ukur masuknya bulan baru akan ditentukan oleh sudah terlihat dengan mata atau belum, dengan mata telanjang maupun melalui teleskop. Coba bandingkan kaidah wujudul hilal (0,1 derajat di atas ufuk) atau imkan rukyah (Indonesia menganut 2 derajat), kaidah pertama sudah dapat dipastikan mustahil dilihat oleh mata, begitu pula imkan rukyah, banyak kalangan yang meragukan keakuratannya.

Hal ini juga menunjukkan bahwa ada pergeseran makna syar'i dari rukyah, saat kita mengartikannya dengan hisab. Rukyah secara syariat adalah saat bulan dapat dilihat oleh mata, sedangkan secara hisab adalah saat bulan sudah diatas ufuk, walaupun hanya 0,1 derajat.

5)     العام لا يخصص الخاص
Ayat-ayat kauniyah yang berhubungan dengan astronomi bersifat umum, sedangkan hadis-hadis tentang penentuan awal bulan sifatnya khusus. Maka dalil yang umum tidak dapat mengkhususkan dalil yang khusus, atau sekalian kita balik saja, bahwa hadis-hadis rukyah telah menjelaskan (mengkhususkan) keumuman ayat-ayat kauniyah dalam hukum penentuan awal bulan.

6)     Rukyah menafikan ilmu astronomi?
Pendapat ini menurut hemat penulis sangat terburu-buru, karena bagaimanapun ilmu astronomi sangatlah luas, umat Islam hanya 'tidak memakainya' pada penetepan awal bulan saja. Apalagi rukyah secara tidak langsung juga 'mengakui' eksistensi ilmu falak (astronomi), karena para perukyah juga melihatnya pada akhir bulan, kemudian ada kriteria-kriteria astronomi yang harus ditaati saat merukyah bulan; berapa menit terlihatnya, tidak boleh pada tempat yang banyak asapnya, waktu rukyah, dan sebagainya.

Kesimpulan
1.      Hadis صوموا لرؤيته... tidak dapat dijadikan dalil legalitas hisab dalam penetapan awal bulan hijriah. Walaupun nanti akan kita temukan hadis إنا أمة أمية... yang sering dijadikan dalil legalitas hisab, tapi hadis ini hendaknya kita baca dengan jeli juga. Insya allah tulisan selanjutnya akan membahas tentang hadis ini.

2.      Ditunggu share ilmunya dari Pak Susiknan, Bg Arwin, temen-temen AFDA, dan semua pembaca. Tapi dimohon dengan bahasa yang santun, tidak ANARKIS.

Hadâna'llahu wa iyyâkum ilâ Aqwami al-Tharîq


-----------------------------------------------------------------

[1] HR. Bukhari, dan lafalnya milik Muslim

[2] HR. Bukhari & Muslim

[3] HR. Bukhari & Muslim

[4] Hisab Bulan Kamariah, Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, cet I, hal 9

[5] Ibid, hal 12

Tidak ada komentar:

@way2themes