Top Ad unit 728 × 90

Home

Menjaga Eksistensi Ilmu Tafsir



Setiap disiplin ilmu tentu mempunyai prosedur dan metodologi, tanpanya suatu pendapat tidak dapat dinisbahkan kepadanya, tak terkecuali ilmu tafsir. Prosedur yang ditempuh seorang mufassir dalam menafsirkan al-Quran dapat kita sebut sebagai 4 sehat 5 sempurna, yaitutafsîr al-Qur'ân bi al-Qur'ân, tafsîr al-Qur'ân bi al-Hadist, tafsîr al-Qur'ân bi aqwâli al-shahâbah, tafsîr al-Qur'ân bi aqwâli al-tâbi'în, dantafsîr al-Qur'ân bi al-ra'yi. Jumhur ulama sepakat dengan lima prosedur di atas, walaupun ada beberapa ulama yang menyangsikan legalitastafsîr bi al-ra'yi, tapi pendapat jumhur lebih kuat.

Seorang mufassir harus mengeksplorasi lima hal ini secara berurutan dalam rangka mencari makna dari suatu ayat. Artinya, tidak boleh bagi seseorang menafsirkan satu ayat dengan langsung memakai al-ra'yu (akal), tanpa berusaha mencari maknanya dulu di ayat lainnya, kemudian jika tidak ada, baru mencarinya di hadist Nabi, dan seterusnya. Karena seseorang yang menafsirkan hanya dengan akal akan sangat berpotensi melakukan kesalahan dalam memaknai suatu ayat, bahkan dia akan terkena ancaman Nabi Saw. yang tertera dalam hadist "man qâla fi kitâbillâhi ta'âla bi ra'yihi fa ashâba faqad akhtha'a"  (barang siapa yang mengatakan sesuatu ttg al-quran dengan -hanya- pendapat akalnya, dan dia benar; maka dia telah melakukan kesalahan) (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Na'ûdzubillâh min dzâlik

Deviasi Penafsiran al-Quran, Dulu dan Sekarang

Riak-riak perpecahan Umat Islam pada abad 2 H memunculkan beberapa kelompok Islam, dalam politik maupun akidah. Sebut saja Khawarij, Syiah, dan Muktazilah. Fakta ini berimbas kepada kondisi keilmuan Umat Islam pada zaman itu, banyak hadîts maudhû' 'seliweran', al-Quran ditafsirkan serampangan. Setiap kelompok berusaha mati-matian memperkuat ideologi mereka dengan nash-nash agama, sayang dengan cara yang salah.

Dalam konteks penafsiran al-Quran, ternyata apa yang kita dapatkan pada masa kini adalah cerminan keadaan Umat Islam zaman dahulu. Banyak kelompok Islam pada zaman itu yang melakukan deviasi (pemyimpangan) besar-besaran pada penafsiran al-Quran, penafsiran yang digiring kepada penguatan mazhab masing-masing, walaupun pendapat itu tidak kuat dari sisi bahasa atau terbantahkan oleh hadist shahih. Misalnya Muktazilah, dalam menafsirkan surat al-Qiyamah ayat 23, mereka mengartikan nâdzirah dengan "menunggu", bukan dengan "melihat" (Syekh al-Dzahabi, al-Tafsîr wa'l Mufassirûn). Pendapat ini dibantah oleh imam al-Qurthubi bahwa nadzara ilâ dalam bahasa arab hanya berarti 'melihat kepada sesuatu', ditambah lagi pendapat yang mengatakan kemungkinan melihat Allah di surga dikuatkan dengan banyak hadist shahih. Meski begitu, Muktazilah bersikeras bahwa Allah tidak mungkin dapat dilihat, seraya mengklaim bahwa hadist-hadist yang menyebutkan ru'yatullâh adalah lemah. Hal ini tidak aneh jika kita telusuri metode pengambilan hukum mereka, Muktazilah berpendapat bahwa akal adalah di atas segalanya, bahkan saat bertentangan dengan nash qath'I.

Lain halnya dengan Khawarij, dalam rangka menguatkan pendapat mereka bahwa pelaku dosa besar pasti masuk neraka, surat al-Taghabun ayat 2 mereka maknai secara leterlek tanpa melihat permasalahan secara komperehensif, dengan melihat ayat-ayat lain yang berbicara dalam hal ini, atau mengeksplorasi hadist, dan seterusnya. Jadilah mereka bersikukuh bahwa seorang fasik itu termasuk golongan kafir, pasti masuk neraka.

Seperti itulah gambaran deviasi penafsiran al-Quran pada zaman itu. Semuanya berujung kepada latar belakang sang mufassir; menafsirkan suatu ayat dengan suatu pendapat tertentu untuk menguatkan mazhab yang dianut, tanpa peduli metodologi penafsiran dan prosedur yang benar.

Adapun pada masa kini, hanya ada beberapa model baru dalam deviasi penafsiran al-Quran, selebihnya adalah pengulangan kesalahan masa lalu. Menurut hemat penulis, penafsiran al-Quran yang menyimpang beberapa dekade ini seperti pluralisme agama, sekularisme, dan liberalisme bermuara pada satu metode; hermeneutika.

Hermeneutika konon adalah suatu metode penafsiran kaum Nasrani dalam memahami bibel, dengan ini tentu menggelikan jika hermeneutika kemudian 'dipaksakan' untuk menafsirkan al-Quran. Di samping kita meyakini bahwa injil telah dirubah (tahrîf) oleh mereka, hermeneutika juga lebih dominan digunakan dalam ilmu sejarah dan kritik teks (Prof DR Mudjia Raharjo, Dasar-Dasar Hermeneutika). Menggunakan hermeneutika pada al-Quran juga berimplikasi mensejajarkan al-Quran dengan teks-teks buatan manusia yang terbatas (Prof DR Hamadi B.Husein, Dekonstruksi Pemikiran Islam Liberal).

Secara umum hermeneutika mempunyai 4 tahapan pendekatan dalam menafsirkan suatu teks, yaitu:
  1. Mencoba mengenali diri penafsir dengan segala latar belakang sosiologis, psikologis, dan kultural, agar bisa meminimalisasi subyektivitas penafsir
  2. Melihatnya secara historis dan kontekstual
  3. Menyari-pati esensi-esensi (maqâshid)-nya
  4. Menyesuaikannya dengan tantangan zaman

Secara kasat mata, empat tahapan di atas memang bagus, tidak ada yang salah. Tapi setelah kita melihat penafsiran yang dihasilkan oleh metode ini, kita tentu akan bergumam 'sepertinya ada yang salah'. Misalnya kaum liberal menganggap miras (khamr) tidak lagi haram untuk saat ini, apalagi bagi daerah-daerah beriklim dingin, dengan alasan bahwa khamr diharamkan saat itu karena jazirah Arab beriklim panas.

Contoh lain paling terkini adalah desertasi Abdul Muqsith di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berjudul "Argumen Pluralisme Agama". Dalam desertasi ini Muqsith terkesan sembrono mengambil kesimpulan dari beberapa ayat, hal ini tentu didorong oleh niatnya untuk mencari legalitas pluralisme agama dari al-Quran. Misalnya, Muqsith menafsirkan haramnya pernikahan dengan orang musyrik pada surat al-Baqarah ayat 221 adalah bersifat politis, bahwa pada saat itu kamu musyrikin selalu menyerang Nabi Saw. dan para pengikutnya. Maka saat ketegangan antara umat Islam dan kaum musyrik sudah tidak ada, boleh jadi konsekuensi logisnya, hukum yang melarang umat Islam menikahi orang Musyrik pun bisa 'bergeser' (Abdul Muqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama).

Ada satu hal lagi –menurut hemat penulis- yang dapat menjerumuskan seorang mufassir kepada penafsiran yang salah, yaitu menuruti hawa nafsu. Memang hal ini terkesan abstrak, bias. Tapi hal ini akan menjadi jelas saat kita melihat contoh terapannya. Sebagaimana terjadi pada DR Quraish Syihab, saat ditanya salah satu jamaahnya tentang hukum jilbab dalam al-Quran. Mungkin merasa tersindir dengan pertanyaan itu –karena beberapa putri Quraish Syihab tidak mengenakan jilbab-, sontak beliau menjawab dengan ketus; bahwa batas aurat masih menjadi perdebatan ulama, sehingga jilbab masih 'ngambang' hukumnya, tidak wajib. Penafsiran ini dibantah panjang-lebar oleh salah satu pioneer ushul fikih jebolan al-Azhar; DR Zain al-Najah. Begitulah akibatnya saat hawa nafsu menguasai nalar, pakar tafsir sekaliber Quraish Syihab pun dibuat khilaf olehnya.

Respon Umat

Reaksi umat terhadap beberapa deviasi penafsiran al-Quran ini beragam; ada yang pro dan mendukung habis-habisan pendapat para 'pembaharu agama' ini, ada juga yang masih menganggapnya sebagai wujud pluralitas agama, masâil khilâfiyyah. Walaupun sebagian cendekia menganggap wacana-wacana kaum liberal tidak usah digubris, karena hanya akan menguras tenaga, alhamdulillah masih ada sebagian kalangan umat Islam yang tidak setuju dengan fenomena ini, bahkan memberikan porsi lebih untuk menganalisa setiap pendapat kaum liberal, untuk ditimbang dengan kaidah-kaidah syariat. Hal ini patut kita syukuri, disamping membuktikan perhatian umat Islam kepada kitab sucinya, hal ini juga membuktikan penjagaan Allah terhadap al-Quran, lafdzan wa ma'nan.

Di lingkup masisir (mahasiswa indonesia di Mesir) sendiri, ada beberapa kajian yang konsen terhadap tafsir dan studi al-Quran. Sebut saja al-Wasathiyah (PCIM), Fordian (independen), dan kajian tafsir AKTIF (independen). Oleh karena itu, setelah tesis fenomenal Fahmi Salim Zubair MA yang mengangkat studi kritik metode hermeneutika telah menggemparkan Indonesia, bahkan Malaysia, semoga ke depan akan bermunculan mufassir-mufassir yang kompeten dari rahim masisir. Wa billâhi al-Taufîq

Menjaga Eksistensi Ilmu Tafsir Reviewed by Mas Anam on 13.03.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.