Menjaga Lisan - IKPM KAIRO

Rabu, 25 Februari 2015

Menjaga Lisan




Mulutmu harimaumu, demikian peribahasa yang sering terdengar. Maksudnya, manusia dianjurkan menjaga lisannya, agar ia tidak ‘diterkam’ oleh apa yang ia ucapkan. Dalam Bahasa Arab, maksud peribahasa tersebut kurang lebih sama dengan kalimat salamat al-insan fi hifzi lisan, keselematan manusia tergantung pada caranya bertutur kata.
Imam Ghazali dalam “Bidayatul Hidayah” menulis, lisan diciptakan untuk insan agar dengannya mereka memperbanyak zikir dan membaca al-Quran. Oleh karena itu, apabila manusia menggunakan lisan untuk hal-hal yang bertentangan dengan kedua fungsi tersebut, maka ia telah kufur terhadap nikmat yang dianugerakan Allah kepadanya.
Kedua, ingkar janji. Manusia adalah makhluk yang sangat mudah berjanji sekaligus mengingkarinya. Inilah mengapa, Imam Ghazali memperingatkan agar seseorang tidak membuat janji yang tak mampu dipenuhinya. Beliau juga menganjurkan agar kebaikan manusia kepada sesamanya lebih banyak berupa perbuatan nyata ketimbang hanya sekadar ucapan. Dalam istilah kekinian, filosofi tersebut mungkin sama dengan ungkapan talk less do more.
Ketiga, menggunjing atau membicarakan kejelekan orang lain (ghibah). Keburukan ghibah dijelaskan dalam QS. al-Hujurat: 12, “…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” Dalam ayat tersebut, keburukan orang lain dianologikan dengan bangkai. Dari sini, dapat dipahami bahwa harga diri orang lain sama dengan kehormatan diri sendiri. Setiap orang tentu enggan mencemari kehormatan dirinya -apalagi memakan bangkai- sebagaimana saudaranya tidak ingin disakiti melalui lisan lainnya. Lebih dari itu, Islam mengajarkan pemeluknya untuk tidak mengumbar aib orang lain, sebab dengan begitu, Allah akan menutupi keburukannya.
Keempat, memuji diri sendiri (ujub). Suatu ketika, para ahli hikmah ditanya, “Adakah kebaikan yang tidak baik?”, “Ya, ada. Seseorang yang memuji (membanggakan) dirinya.” Mengapa demikian? Sebab pujian seseorang atas dirinya sendiri tidak disukai Allah, serta mengurangi kehormatannya di mata manusia lain.
Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ini artinya, seseorang yang terbiasa membanggakan kebaikan dirinya, seharusnya memperhatikan orang lain yang memiliki kebiasaan serupa. Dari proses penelitian tersebut, orang yang ujub akan mengerti bahwa pujiannya atas dirinya sendiri tidak akan menambah nilai positif di mata orang lain, bahkan sebaliknya, ujub mengakibatkan nilai seseorang berkurang dalam padangan manusia lainnya.
Imam Nawawi menambahkan, pujian seseorang atas dirinya sendiri memiliki dua sisi, baik dan buruk. Seseorang dibolehkan menyebut kebaikannya dalam beberapa keadaan, misalnya ketika ia berdakwah, menasihati orang lain dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan agar objek dakwah lebih mudah menerima ucapannya, sebab contoh yang diberikan konkret.  Sebaliknya, apabila kebaikan diri sendiri diucapkan hanya untuk menyombongkan diri sendiri, tentulah pujian ini dilarang.
Pada intinya, sebagaimana dijelaskan pada awal tulisan, keselamatan seseorang tergantung pada caranya menggunakan lisan. Keempat hal yang ada di bawahnya, tidak lain adalah rambu-rambu bagi kita semua dalam menjaga lisan. Wallahu a’lam wa ahkam.
 Imam Nawawi menambahkan, pujian seseorang atas dirinya sendiri memiliki dua sisi, baik dan buruk. Seseorang dibolehkan menyebut kebaikannya dalam beberapa keadaan, misalnya ketika ia berdakwah, menasihati orang lain dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan agar objek dakwah lebih mudah menerima ucapannya, sebab contoh yang diberikan konkret.  Sebaliknya, apabila kebaikan diri sendiri diucapkan hanya untuk menyombongkan diri sendiri, tentulah pujian ini dilarang.
Pada intinya, sebagaimana dijelaskan pada awal tulisan, keselamatan seseorang tergantung pada caranya menggunakan lisan. Keempat hal yang ada di bawahnya, tidak lain adalah rambu-rambu bagi kita semua dalam menjaga lisan. Wallahu a’lam wa ahkam.


Tidak ada komentar: