Top Ad unit 728 × 90

Home

Pesan Sang Guru I


edisi: KH. HASAN ABDULLAH SAHAL

Manusia ingat dunia lupa akherat adalah sumber bencana, manusia berusaha tanpa berdoa adalah bencana, manusia berdoa tanpa berusaha adalah bencana.

Yang di atas tidak merasa kalau di atas, tidak mau bertanggungjawab atas amanatnya. Yang di bawah juga tidak mau tahu kapan taat dan kapan tidak taat. Disinilah sumber bencana Karena adanya kekosongan,... al ajwaf-jawfa’, keropos.

Memikirkan materi tidak memikirkan moral, orang memikirkan moral tidak memikirkan materi, akhirnya; kekosongan.

Alam rusak karena manusia. manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang akan memimpin alam. Nabi kita, Nabi kita itu rahmatan lil’alaminwa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin, kata Allah Swt. wa nunazzilu minal Qur’ani maa huwa syifaa’un wa rahmatun. Rahmah; untuk supaya ke-rahmatanlil’alamin-nya Nabi kita Muhammad, untuk menjadi fungsinya al-Qur’an sebagai syifa’ dan rahmah perlu hidayah, dan Islam itu lah yang namanya hidayah. 

Bagaimana alam di sekitar ini tetap abadi, tetap terjaga, tetap bermanfaat?. Semua itu untuk manusia, di dalam beribadah kepada Allah, “Lakum”. Di dalam al Qur’an itu “khalaqo lakum maa fissamaawaati wal ardh” “ja’ala lakumul ardho”, lakum, “alladzii ja’ala lakumul ardho firoosyan wassamaa_a binaa_an”, semuanya itu LAKUM.

Kamu kalau bertanya “hai kebo, hai wedus, hai kadal, kodok, kamu diciptakan untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu wahai manusia”. Bertanya kepada nyamuk “Kamu nyamuk diciptakan di dunia untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu manusia”. Apalagi tumbuh-tumbuhan, untukmu, untukmu, dan untukmu. Tetapi manusia diciptakan adalah untuk “liya’buduni”; untuk menyembah Allah. 

Sumber bencana karena apa? “Karena meninggalkan fungsi”. Jadi, mengapa terjadi bencana disana-sini? Jawabanya; “Karena adanya kehilangan atau perpindahan atau kerusakan fungsi”. Manusia capek jadi manusia, binatang pengen jadi manusia juga nggak bisa. Laki-laki bosan jadi laki-laki, perempuan juga bosan jadi perempuan, payah. Monyet-monyet itu sekarang itu pada protes, karena apa? Karena manusia ganti nama, kalau pacaran mereka bilangnya; cinta monyet. Marah mereka! mbok yaa cinta manusia, kenapa cintanya koq cinta monyet?.   Kebo juga marah, hehehe, teruskan sendiri.

Mereka pengen ganti nama, karena apa? Karena namanya sudah dikorup oleh manusia, dicopet oleh manusia, dicolong, kenapa nama saya dipake? Mbok cintanya dinamakan “cinta kirik (anak anjing)” gitu, koq nama saya yang dipake? keluh monyet. Kerbau juga marah, itu di atap kita ada cicak, mbok namanya “kumpul cicak” kenapa nggak itu?, kumpul tanpa akad nikah malah dinamakan 'kumpul kebo'. Marah! kecewa mereka. 

Laki-laki bosan jadi laki-laki, pakai giwang, pakai anting-anting, pakai kalung, tinggal kasih lonceng aja itu, jadilah sapi baru. Perempuan capek jadi perempuan, pengen jadi laki-laki. Bosan jadi peremapuan, ulah tingkahnya itu, hehehe, teruskan sendiri. Gajah jg ikut-ikutan capek, di Lampung itu gajah pakai jilbab, warnanya hijau, dihiasi, tapi di atasnya malah ada makhluk yg ndak pakai baju, yang tertutup auratnya hanya tinggal seperempat atau sepersepuluh dari badannya. Bingung, ini manusianya mana, binatangnya mana? Itu di Lampung, manusia capek berpakaian. Betul?

Ya Allah...   Sumber bencana, la hawla wa la quwwata illa billah. Kita yang bertanggungjawab mengembalikan manusia kepada kemanusiaan yang sempurna. Kamu jadi santri harus bisa macam-macam termasuk pramuka, renang dan lain-lain. Kamu kalau ada berada di sungai di danau, naik sampan, meskipun kamu pinter bahasa arab, pinter bahasa inggris, matematika 9, fisikanya 9, tapi nggak bisa berenang, kalau terguling apa yang terjadi? Hah? Bahasa arabmu itu ghoiru musta’mal, ketika itu.

“SOMBONGNYA MANUSIA KARENA BISANYA, LUPA BERAPA YANG TIDAK DIBISAI”. Itulah makanya, disinilah banyak kekosongan, akhirnya banyak yg tidak beres, sumber segala bencana.   Kita jangan menyalahkan orang lain. Yang harus disalahkan adalah diri kita sendiri.

Sekarang di Indonesia, terjadi bencana. Dulu waktu Tsunami di Aceh, apa komentar orang? “itu gara-gara Aceh banyak maksiat, karena disana banyak bid’ah, banyak khurofat, atau mau keluar dari Indonesia", akhirnya diterjang oleh Tsunami. Yang ngomong itu kira-kira orang Jawa. Habis itu gantian Jawa Barat kena Tsunami, banjir lagi. Apa kata orang Jawa Tengah? “ooo, itu gara-gara banyak maksiat, disitu banyak molimo, disitu banyak syirik, banyak orang yang berbuat maksiat, makanya dapat adzab dari Allah”, seakan-akan dia orang yang sholeh. Habis itu kena lagi, ganti Jogja yang kena gempa, apa kata orang lain? “wah itu gara-gara banyak syirik, disana banyak bid’ah, banyak orang yang maksiat, banyak orang yang kumpul kebo, pasti itu dapat adzab dari Allah”, yang ngomong itu seakan-akan orang sholeh. Jalan lagi, Jawa Timur lumpur Lapindo. Apa katanya? “gara-gara maksiat”. Seakan-akan orang hanya tinggal menyalahkan orang lain, seakan-akan dirinya yang paling sholeh. Ini termasuk sumber bencana. Kok sumber bencana? “Karena merasa dirinya itu sholeh, seakan-akan dirinya itu paling takut, kemudian menyalahkan orang lain”. 

Celakanya, waktu ada Tsunami itu ada selebriti atau artis yang ngomong “Ini peringatan dari Tuhan supaya orang-orang jangan sombong, yang sombong itu adalah orang yang suka mengkritik artis-artis”. Padahal kemarennya, Ulama mengatakan “Kita mendapat bencana karena banyak zina, banyak maksiat, banyak mengumbar aurat, banyak hubungan yang tidak beres, dan sebagainya dan sebagainya”, yang dimaksudkan adalah kaum artis. Besok paginya, langsung artis ada yang ngomong, “gara-gara maksiat”, apa maksiatnya? “Itu lho orang-orang yang menjelek-jelekkan artis”. Ini yang menjadi sumber bencana “Menyalahkan orang lain, membela diri tidak pada tempatnya”. 

Maka, “MARI KITA ISI HIDUP INI DENGAN YANG BERMANFAAT, JADILAH MANUSIA YANG BERMANFAAT, JANGAN HANYA PANDAI MEMANFAATKAN DAN JANGAN SAMPAI HANYA DIMANFAATKAN”. 

Pesan saya kepada kalian, sama halnya saya berpesan kepada anak kandung saya sendiri meskipun bukan saya yang mengandung, “JANGAN SAMPAI KAMU TIDAK MEMPUNYAI KEUNGGULAN YANG DIANDALKAN”. Keunggulan yang baik-baik, bukan seperti: keunggulan saya adalah ngebut di jalanan, nongkrong di tepi jalan, dan sebagainya diteruskan sendirilah.

“BERSYUKURLAH KAMU MENJADI SANTRI”.   Semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Kyai-kyai kita, guru-guru kita selalu mengharapkan dan mendoakan kita menjadi orang yang alim dan sholeh, mempunyai peradaban sendiri, merubah keadaan yang kacau ini menjadi baik. Dalam bahasa Ustadz Syukri “Kita punya peradaban sendiri, kita ini perang peradaban dengan orang luar (non muslim), maka pandai-pandailah kamu mempantas-pantaskan dirimu sebagai santri, sebagai ustadz, sebagai alumni Gontor. Pantas pola fikirnya, sikapnya dan tingkah lakunya”. 

(Pidato ini disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal pada malam serah terima amanat Koordinator Gerakan Pramuka)

Baca dengan seksama, bayangkan gaya bicara Ust Hasan ketika beliau berpidato, nanti akan terasa 'sensasinya'. selamat menikmati..

#repost dari salah satu alumni pondok tercinta..dengan sedikit editing..
Pesan Sang Guru I Reviewed by Mas Anam on 13.07.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.