Pesantren Wirausaha - IKPM KAIRO

Sabtu, 21 Februari 2015

Pesantren Wirausaha


Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan wirausaha dengan “orang yg pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya”. Terjemahan kasarnya adalah orang yang melakukan kegiatan produksi sendiri, tanpa menjadi karyawan bagi orang lain. Tentu hal itu mencakup pencarian modal, pengelolaan, hingga pemasaran barang. Sesuatu yang tidak sembarang orang dapat melakukannya. Butuh kecakapan khusus dan sedikit keberanian mengambil resiko untuk sukses berwirausaha.

Sedangkan kata pesantren, dimaknai oleh KBBI dengan “asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji dsb; pondok”. Kata pesantren mewakili tempat digemblengnya para murid yang ingin belajar agama. Kita tentu tidak dapat memungkiri, bahwa sistem pendidikan pesantren adalah sistem terbaik untuk pembentukan karakter seorang murid. Pendidikan pesantren adalah pendidikan 24 jam, tidak hanya pada pendidikan formalnya saja. Ada pendidikan pada makan bersama di dapur umum, pada menunggu antrian mandi, pada piket kebersihan kamar, pada hukuman atas kesalahan yang dilakukan, dan sebagainya. Pendidikan yang mungkin tidak dapat diajarkan dalam pendidikan formal, yaitu pendidikan mental. Mental untuk setara dengan sesama, mental untuk siap dipimpin dan siap memimpin, mental untuk menghargai hak orang lain, dan sebagainya. Walhasil, pesantren seperti tidak pernah bosan mencetak barisan alumni yang mempunyai mental dan kemampuan sama bagusnya.

Salah satu genre pesantren di Indonesia adalah pesantren wirausaha. Pesantren model ini biasanya fokus kepada murid-murid yang tidak mampu secara finansial, sebagian lainnya adalah anak-anak ‘broken home’, ditelantarkan orang tuanya. Maka dari itu, pesantren wirausaha banyak yang memberikan kewajiban iuran lebih murah dari pondok lainnya, bahkan ada juga yang menggratiskan semua kewajiban finansial kepada para muridnya.

Tak terbayangkan, bagaimana jadinya alumni pesantren wirausaha ini. Pesantren dengan pendidikan karakternya, tentu juga islami dan agamais, ditambah dengan segala bekal kecakapan berwirausaha yang diajarkan. Tidak hanya memajukan ekonomi bangsa, kemajuan ekonomi umat juga dapat dicapai. Kemajuan ekonomi yang tidak semu, kemajuan ekonomi yang diusung oleh para wirausahawan muslim, yang lebih suka rugi untuk mendapatkan surga, daripada untung besar untuk kemudian dijebloskan ke neraka.Nauzubillah min zalik.

Menurut penulis, bekal kecakapan wirausaha untuk pesantren genre ini memang baik, tapi seyogyanya tidak sampai mengalahkan volume pengajaran agama. Karena pesantren tetaplah pesantren, tempat penempaan pengetahuan agama plus kesadaran beragama. Dikhawatirkan, para santri malah lebih fokus kepada kewirausahaan dan melupakan pentingnya wawasan agama. Jika sudah seperti itu, apa bedanya alumni pesantren dengan lulusan SMK?

Masih menurut penulis, model terbaik pengajaran kewirausahaan dilakukan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor, di Ponorogo. Di luar fakta penulis adalah alumni pondok itu, sistem pengajaran di sana memang unik dan patut dijadikan contoh. Dalam konteks pendidikan kewirausahaan, santri dibekali dengan cara study tour atau rihlah iqtishadiyah, yang diadakan pada akhir masa belajar mereka di sana. Ada juga sesi pembekalan dalam konteks ini yang diampu oleh para alumni pondok yang sukses di bidangnya masing-masing. Pendidikan kewirausahaan lebih intens diajarkan di Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM), salah satu tempat ‘pengabdian’ para santri yang ingin mengambil ijazah pondoknya.

Genre pesantren wirausaha mulai banyak berdiri di Indonesia saat ini. Tidaklah aneh, jika melihat taraf hidup masyarakat kita yang memang mayoritasnya adalah menengah ke bawah. Fenomena ini setidaknya memperlihatkan kepada kita dua hal positif; masih adanya beberapa profil ulama yang turun tangan ikhlas membimbing para santri miskin, dan masih adanya keinginan dari orang-orang yang termarjinalkan secara finansial untuk belajar agama dan mengamalkannya.

A’anahumullah wa iyyana, amin3x.

*Artikel yg dikirimkan utk mengikuti pelatihan kewirausahaan, KBRI Kairo, november 2013. 

Pondok Tidar. salah satu pesantren wirausaha di Magelang, Jawa Tengah.

Tidak ada komentar:

@way2themes