Refleksi Satu Januari - IKPM KAIRO

Sabtu, 21 Februari 2015

Refleksi Satu Januari


Awalnya, permulaan tahun bukanlah dimulai dari bulan Januari, melainkan dimulai dari bulan Maret dan berakhir di bulan Februari. Maret adalah bulan pertama dalam musim semi, saat tumbuhnya daun-daun setelah musim dingin. Februari diambil dari nama dewa Februr yg berarti dewa kematian, dan karena Februari adalah bulan terakhir, maka jumlah harinya adalah sisa dari pembagian hari kepada 11 bulan lainnya. Namun setelah itu Julius Caesar merubah kalender ini dan menjadikan bulan Januari sebagai bulan pertama dalam kalender. Januari diambil dari nama dewa Janus, yaitu dewa yang memiliki dua wajah ceria dan muram. bisa juga berarti gerbang. Jadi, sebenarnya tidak ada yang spesial dengan hari atau tanggal tertentu, karena penanggalan bisa saja berubah sesuai kesepakatan manusia.

Yang pasti, satu tahun berisikan 12 bulan, entah diawali dengan bulan Januari atau bulan lainnya. Hal itu disampaikan dengan jelas dalam al-Quran surat al-Taubah: 36, tapi tentu hal itu berdasarkan perhitungan kalender bulan, bukan matahari.

Apapun itu, manusia akan selalu terkondisikan untuk memperhatikan waktu, kemudian dihadapkan kepada dua pilihan; berubah atau tetap seperti dulu. Islam menyebutnyamuhâsabah, introspeksi diri.

Menjaga Kewajiban

Salah satu konsekwensi kehidupan adalah terikat dengan kewajiban, terhadap diri sendiri, orang lain, dan kepada Allah Swt. Pada setiap pergantian tahun, kita dapat melihat ke belakang, apakah gaya hidup kita sudah memenuhi kriteria sehat? Makanan, istirahat, dan lainnya. Karena dengan badan yang sehat, kita dapat melakukan ibadah dengan khidmat.

Setelah itu, kita patut mengingat-ingat, adakah hak orang lain yang masih menempel pada diri kita. Apakah itu hutang, zakat, atau janji. Hutang, karena Nabi bersabda sebaik-baik kamu adalah yang paling baik dalam mengembalikan hutang, yaitu paling cepat dan baik (kualitas harta yang dikembalikan). Adapun zakat, karena ia adalah salah satu rukun Islam, kewajiban bagi setiap muslim yang mempunyai harta melebihi nishab. Al-Quran menyebutnya ‘hak orang lain yang berada dalam hartamu’. Maka dari itu, makna zakat secara bahasa adalah penyucian diri, yaitu mensucikan harta dari hak orang lain –yang masih berada di dalamnya- (QS. Al-Dzariyat: 19). Memang haul zakat lebih afdal dihitung memakai kalender kamariah, tapi sebagian ulama membolehkan dengan kalender samsiyah, untuk kemudahan.  

Dan janji, karena salah satu ciri orang munafik adalah tidak menepati janji. Maka jangan mudah berjanji, jika sulit menepati. Hati-hati dalam berjanji adalah bukti kedewasaan diri. Intinya, jangan sampai ada satu hak bani adam yang belum kita penuhi, karena hal itu dapat menjadi penghalang kita ke surga, sebagaimana disampaikan salah satu hadis Nabi Saw.

Menambah Amalan Sunah

Dalam salah satu hadis qudsi, Nabi Saw. menyampaikan: ..Dan seorang hamba yang selalu mendekatkan diri kepadaku (Allah Swt.) dengan mengerjakan amalan-amalan sunah, sampai Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi indera dengarnya, dan indera lihatnya, ‘tanganya’, dan ‘kakinya’. Dan jika dia memintaku, Aku akan memberinya. Dan jika dia berlindung kepadaku, maka Aku akan melindunginya.. (HR. Bukhari).

Dan memang, fakta sehari-hari membuktikannya. Sering kita dapati, bahwa salah satu faktor kesuksesan duniawi seseorang adalah amalan sunah yang dikerjakannya. Entah itu solat sunah, puasa sunah, sedekah bulanan, mengayomi anak yatim, dan sebagainya. Jika di dunia saja bisa ‘sukses besar’, apalagi di akhirat. Memang kita harus memperbaiki niat, bahwa amal kita tidak ditujukan untuk dunia, tapi hal itu adalah ‘bonus’ Allah bagi para hamba-Nya yang taat dan membantu sesama, disamping nikmat akhirat yang menantinya.

Momentum pergantian tahun ini dapat kita jadikan pijakan awal untuk memulai amalan sunah, atau menambah kuantitasnya bagi yang telah diberi taufik untuk melakukan kesunahan. Bagi yang sudah rutin melakukan solat sunah, dapat memulai puasa senin-kamis. Bagi yang sudah rutin solat dan puasa sunah, bisa mulai mencari anak yatim untuk dibiayai kehidupannya, dan seterusnya.

Tapi sekali lagi, bagaimanapun kesunahan itu prioritasnya di bawah kewajiban. Maka kita harus gugurkan dulu semua kewajiban yang ada di diri kita, baru kemudian memilih kesunnahan yang mungkin dilakukan.

Melihat Refleksi Diri

Karena hakekat kehidupan adalah untuk beribadah (QS. Al-Dzariyat: 56), maka hendaknya kita melakukan introspeksi, sudah sejauh manakah kita merealisasikan tugas kehidupan kita?

Dan jika fungsi waktu adalah untuk muhasabah diri, maka sudah seyogyanya kita ‘bercermin’ pada setiap satu januari, untuk melihat ke belakang kemudian memperbaiki kesalahan yang telah lalu, dan melihat ke depan untuk memilih kebaikan yang dapat kita kerjakan. Sebagaimana dalam suatu doa, disebutkan: Allahummaj’al al-hayata ziyadatan lana fi kulli khairin, waj’alil mawta rahatan lana min kulli syarrin (Ya Allah, jadikanlah kehidupan sebagai kesempatan untuk menambah amal baik bagi kami. Dan jadikanlah kematian sebagai titik pemberhentian keburukan kami. []

Tidak ada komentar:

@way2themes