Ulama Rabbani dan Kesombongan - IKPM KAIRO

Sabtu, 21 Februari 2015

Ulama Rabbani dan Kesombongan


 "Syekh Muhammad Abduh setiap pagi sebelum subuh, akan berjalan cepat menuju masjid Sayyidah Nafisah. Di sana beliau akan membersihkan kamar mandi masjid (padahal kita tau sendiri, bagaimana kotornya kamar mandi di Mesir secara umum). Setelah itu, beliau akan kembali berangkat ke masjid Azhar, solat subuh, kemudian mengajar. Karena jadwal beliau memang tepat setelah subuh. Begitu saja setiap hari. Padahal beliau tinggal di dekat masjid Husein sini. Rahimallahu sang muftil anam (mufti seluruh manusia/dunia, tidak hanya mufti Mesir, sebagaimana jabatan beliau)."

*jarak masjid Azhar dan masjid Sayyidah Nafisah cukup jauh, dengan berjalan bisa mengambil waktu 30 menitan lebih.

>> Dr. Hasan Syafii, di sela-sela dars beliau di Ruwaq Magharibah, masjid Azhar.

#2

"Dan termasuk kegigihan syekh Sya'rawi dalam pensucian jiwa dan istiqamah dalam tawadhu', apa yang disampaikan putra beliau Ahmad Mutawalli Sya'rawi, saat kita melaksanakan seminar tentang orang tuanya di masjid Husein radhiyallahu 'anhu. Sang putra berkata kepada saya: 

Bapak pernah diminta mengisi acara besar sejenis ceramah umum di Univ Cairo. Selesai acara, semua hadirin takjub dengan pemaparan beliau. Mereka mengerumuni beliau saat menuju mobil -untuk pulang-, bahkan mobilnya dikerumuni hingga gerbang kuliah. 
Syekh Muhammad Mutawalli Sya'rawi.Syekh Muhammad Mutawalli Sya'rawi.

Setelah sampai di rumahnya, dekat masjid Husein ra., saat itu telah datang waktu solat, banyak orang yang masuk tempat wudhu dan kamar mandi. Mereka kaget luar biasa, karena mendapati syekh Sya'rawi sedang membersihkan setiap sudut tempat wudhu dan kamar mandi. Mereka sontak bertanya kepada beliau, ada perihal apa sehingga beliau hingga melakukan hal itu. Syekh Sya'rawi menjawab: Saya baru ngisi acara di univ Cairo. Setelah acara, mereka mengerumuni mobil saya. Saya takut ada perasaan "takjub thdp diri sendiri" masuk ke hatiku, maka aku ingin menghabisinya, sehingga aku dapat terus dan tetap tawadhu".

>> Dr. Ahmad Umar Hasyim, dalam buku beliau "al-Imam al-Sya'rawi, Mufassiran wa Da'iyah"

=================

Saya yakin, setiap ulama rabbani punya trik masing2 utk melawan penyakit akut ini. Sebelum beliau berdua, atau setelah mereka. Yang pasti, kesombongan dan keakuan adalah hak Allah semata, juga selendang-Nya. Maka Dia sangat tidak suka jika ada hamba yg tenggelam dgn keakuan ini. Sebiji zarrah saja sang hamba punya kesombongan, maka dia harus dibersihkan dulu di nereka nanti. Fa nauzubillahi minal kibri wal "ana".

Di sisi lain, ada hadiah yang sangat indah dari Allah bagi mereka yang terus menegaskan kehambaan kepada-Nya. Yaitu cinta-Nya, karena jika Allah sudah cinta, maka semua makhluk akan dibuat mencintai hamba tersebut. Begitu juga sebaliknya, saat Dia marah kepada seorang hamba, maka para makhluk akan dibuat marah juga kepadanya. Berikut bukti sabda Nabi:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنِّى قَدْ أَحْبَبْتُ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُنَادِى فِى السَّمَاءِ ثُمَّ تَنْزِلُ لَهُ الْمَحَبَّةُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا وَإِذَا أَبْغَضَ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنِّى قَدْ أَبْغَضْتُ فُلاَنًا فَيُنَادِى فِى السَّمَاءِ ثُمَّ تَنْزِلُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِى الأَرْضِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم نَحْوَ هَذَا

(HR. Tirmizi)

Maka tidak usah heran dan bertanya-tanya, kok bisa ya kyai/syekh fulan begitu digandrungi oleh orang-orang. Bahkan oleh musuh intelektualnya misalnya. Karena memang hati mereka sangatlah suci, hasil tempaan bertahun-tahun. Melawan setiap penyakit yang mengintai utk menyusup ke dalamnya.

Syekh Muh Abduh, siapa yang tak kenal dengannya? Bahkan negeri yg sangat jauh, ribuan kilo dari Mesir, dapat terinspirasi oleh beliau. Yaitu KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Sedangkan Syekh Sya'rawi, walaupun sudah meninggal sejak lama (1998), tapi ceramah2nya masih terus diputar di radio, artikel2 beliau tak lupa diterbitkan dalam rubrik2 koran harian, mingguan, atau majalah bulanan.

Semoga kita dapat bersuluk seperti mereka, sehingga dapat menggapai cinta dan ridho-Nya. Amin3x Ya Rabbal 'alamin.

Tidak ada komentar:

@way2themes