What After Ramadhan?! - IKPM KAIRO

Sabtu, 21 Februari 2015

What After Ramadhan?!



Berakhirnya bulan ramadhan selalunya memberikan dua kesan, kegembiraan dengan datangnya hari kemenangan dan kekecewaan dengan berlalunya bulan yang penuh maghfirah, bulan yang sangat kondusif untuk beribadah, bulan saat para setan 'diistirahatkan' dari mengganggu hati dan pikiran manusia. Masih banyak lagi keutamaan bulan ini, baik sifatnya kolektif, maupun bagi masing-masing personal umat Islam.

Namun penulis menyangsikan dua hal ini bersemayam dalam jiwa mayoritas umat Islam. Melihat komplikasi penyakit umat pada zaman di mana kebebasan sangat tak terbatas seperti sekarang, ditambah dengan degradasi moral maupun tauhid, apalagi terpaan krisis ekonomi yang begitu dahsyat, sangat berpotensi mengalihkan fokus dan pikiran umat Islam dari akhirat maupun dari sekedar menghayati posisinya di mata Tuhan. Meskipun penulis tidak menafikan masih adanya 'jiwa-jiwa yang bersih', yang senantiasa terpaut dengan kenikmatan akhirat, tiada tertipu sedikitpun dengan kehidupan dunia yang sementara.

Lantas apakah cukup seperti itu saja sikap kita? Gembira sekaligus kecewa, tanpa diteruskan dengan bukti kongkrit wujud kedua hal di atas, tentu tidak. Salah satu amalan di bulan syawwal adalah puasa sunnah selama enam hari. Puasa ini tidak wajib secara berurutan, artinya kita dapat melaksanakannya mulai dari 2 syawwal, kemudian 6, 10, 15, 18, 15, atau kita juga dapat berpuasa pada tanggal dua sampai tujuh syawaal berturut-turut.

Salah satu keutamaan puasa ini adalah pahalanya seperti puasa setahun penuh, jika kita telah berpuasa ramadhan 30 hari. Karena Allah Swt. mengatakan setiap amal baik nilainya adalah sepuluh pahala, jadi 30 x 10 = 300 dan 6 x 10 = 60, jumlahnya 360 hari. Mungkin inilah jawaban Nabi bagi para sahabatnya yang menginginkan semua bulan adalah bulan ramadhan. Maka dengan pahala yang berlipat ganda seperti ini, masih ada saja yang malas-malasan dan acuh tak acuh dengan puasa syawwal, sangat merugilah dia.Khusranan mubinan

Bertambah takwa atau kembali lupa?

Secara gamblang al-Quran menyebutkan bahwa tujuan diwajibkannya puasa adalah supaya kita dapat menjadi orang yang bertakwa, atau minimal mendekati kriteria mereka. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah setelah berlalunya ramadhan ketakwaan kita telah bertambah atau kita malah mengulangi 'dosa-dosa' kita terhadap Tuhan maupun manusia sebelum ramadhan? Kita sendiri yang dapat menjawabnya.

Singkatnya, ketakwaan adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Maka saat bulan syawwal tiba tetapi kita malah kembali melakukan hal-hal yang dilarang dan 'menepikan' perintah-perintah Allah, kita belum bisa disebut orang yang bertakwa.

Jika saat ramadhan dapat menahan untuk tidak merokok minimal di siang harinya, kenapa setelah ramadhan kembali 'bunuh diri pelan-pelan' dengan merokok sepanjang hari, terkadang sampai 3-4 bungkus setiap harinya. Padahal tidak sedikit ulama yang mengharamkannya, disamping para dokter yang menghimbau keras larangan mengkonsumsinya. Jika ulama dan dokter tidak lagi kita hiraukan, siapa lagi yang akan kita dengar?!. Jangan sampai hati dan nurani kita tertutup dengan 'asap dunia'.

Seharusnya para perokok dapat menjadikan ramadhan sebagai terapi untuk mulai berhenti merokok, minimal dapat mengurangi konsumsi setiap harinya. Karena memang kebiasaan merokok yang telah mendarah daging tidak dapat ditinggalkan secara langsung, tapi bertahap. Insya Allah dengan tekad yang kuat, dan target yang jelas kebiasaan buruk ini akan dapat ditinggalkan. Karena bisa jadi, rokok adalah lumbung dosa, melihat bahayanya bagi diri sendiri dan orang lain.

Kun rabbaniyyan wa la takun ramadhaniyyan

Istilah ini akan sering kita dengarkan paska ramadhan di negara-negara timur tengah, yang artinya 'jadilah hamba Allah yang sebenarnya, jangan jadi hambanya ramadhan'. Istilah ini sangat singkat dan padat, mengajak kita untuk benar-benar memaknai kehambaan kepada Allah, tanpa terikat ruang dan waktu. Kebanyakan dari kita bisa sangat rajin beribadah di tempat dan waktu tertentu, tapi kemudian intensitas ibadah kita menurun drastis saat meninggalkan tempat dan waktu tersebut.

Sama halnya dengan bulan ramadhan, jangan sampai kita menjadi orang yang munafik di mata Tuhan. Beribadah dengan sungguh-sungguh di bulan ramadhan, tapi kemudian terlelap kembali dengan dunia setelahnya. Jangan sampai kita mengekor para artis dan publik figur yang memakai dan menanggalkan jilbab seenaknya, tergantung permintaan sutradara. Naudzubillah min dzalik

Memang benar, ramadhan mempunyai keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Satu kewajiban yang kita lakukan di dalamnya menyamai pahala 70 kewajiban, sedangkan satu kesunnahan menyamai pahala satu kewajiban, dan banyak lagi lainnya yang telah sering kita dengarkan pada ceramah-ceramah ramadhan. Namun hendaknya hal ini tidak boleh mereduksi makna ibadah kepada-Nya, bahwa kita diperintahkan untuk beribadah sepanjang tahun, selama nafas masih dikandung badan, bukan hanya pada bulan ramadhan. Karena Allah adalah Tuhannya manusia hingga akhir zaman, bukan hanya di bulan ramadhan.

Apa yang harus kita pertahankan setelah ramadhan?

Menurut hemat penulis, ada beberapa hal positif dari ramadhan yang harus kita pertahankan:
  1. Memakmurkan masjid
  2. Menambah porsi untuk menyelami kalam ilahi
  3. Melakukan puasa, sunnah maupun wajib
  4. Menahan diri dari melakukan maksiat
Masih banyak lagi amalan-amalan ramadhan yang harus kita jaga, tapi empat hal di atas insya Allah sudah mewakili. Semoga kita termasuk para hamba-Nya yang rabbaniyyan,bukan ramadhaniyyani.

Tidak ada komentar:

@way2themes