Top Ad unit 728 × 90

Home

Yang Terlupakan pada 25 Desember



Pada tulisan kali ini, saya akan mencoba menyampaikan premis-premis yang sering terlupakan dalam perdebatan seputar sikap umat Islam terhadap hari besar umat lain.

1- Umat Nasrani -atau lainnya- bahkan tdk peduli, apakah kita menyampaikan 'selamat natal' (dan hari besar yg lain) atau tidak.
So, why so serious? :)
lebih baik menjaga akidah diri dari syubhat akidah, apalagi umat Islam Indonesia yang awamnya lebih mendominasi.

2- Kita tidak pernah tersinggung saat mereka tdk mengucapkan 'selamat idul fitri' atau 'selamat idul adha'.
Kecuali jika anda kebelet pengen dibilang penjunjung toleransi, atau pengagum pluralisme :)
Pertanyaanya; haruskah seperti itu? dan satu lagi; jadi kita harus gantian gitu? -mengucapkan selamat-

3- Tolerir itu, saat kita tidak mengganggu ritual peribadatan di hari besar mereka, atau bahkan mengulurkan tangan saat memang dibutuhkan.
Area halaman masjid istiqlal aja 'direlakan' utk parkir kendaraan mereka pada ritual Misa, bahkan sebagian relawan bbrp RW di Jakarta bersedia ikut membantu kelancaran transportasi di sekitar gereja #biar gk macet. baca ulasannya disini:http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4406004302170&set=a.3709175641889.2142726.1050518385&type=1&comment_id=2465199&ref=notif&notif_t=photo_reply&theater

4- Kalo dikirim makanan oleh mereka? terima aja. kecuali jika dikasih barang-barang yg diharamkan Islam.
Lebih-lebih jika tetanggaan, dan memang sering bertukar hadiah/makanan saat punya acara; sunatan, pernikahan, tasyakuran, ulang tahun, dll. simak pengalaman pribadi prof. Fahmi Amhar disini: http://www.facebook.com/notes/fahmi-amhar/belajar-bersikap-tepat-di-saat-perayaan-natal/10151173881711921?comment_id=24505008&ref=notif&notif_t=note_reply

5- Sebaiknya para pedagang kaki lima tidak 'ikut-ikutan merayakan', dengan menjual pernak-pernik Natal.
Hal ini disampaikan oleh Syekh Yusuf Qaradhawi, yang notabene adalah salah satu ulama yang membolehkan mengucapkan selamat natal dalam keadaan terpaksa (lihat buku beliau 'Fiqih Minoritas'). Ini videonya: https://www.youtube.com/watch?v=Nlrjsi55_kU

6- Ikut merayakan atau menghadiri perayaan mereka? setahu saya, jumhur ulama mengharamkan hal itu. Kemudian bbrp ulama ada yang membolehkan mengucapkan 'selamat natal'. Kedua kubu punya pendapat masing-masing, ambil yang paling menentramkan hatimu.
simak ulasanya di sini: http://www.hidayatullah.com/read/20321/22/12/2011/ucapan-selamat-natal-dan-syubhat-akidah.html

Bahkan lembaga Dar el-Ifta el-Mishriyyah membolehkanya, simak argumen mereka di sini:http://www.dar-alifta.org/Viewstatement.aspx?ID=453&text=%D8%AA%D9%87%D9%86%D8%A6%D8%A9

7- Kalo presiden dan pejabat publik lainnya?
Menurut saya, jika memang kondisinya 'sangat memaksa', silahkan mereka mengucapkan selamat natal. Misalnya negara sedang konflik, dan lain-lain. Jika memang harus menghadiri, lebih baik sebelum ritual peribadatan mereka, sebagaimana yg dilakukan oleh perwakilan Univ al-Azhar pada setiap 7 Januari (kelahiran Isa al-Masih versi Koptik). Pernah nemu videonya di youtube, tp sayang kehilangan jejak :(

Yang paling baik, para pejabat publik ini mewakilkan kpd utusan yg jg beragama nasrani utk menghadiri perayaan mereka. Atau sekalian tdk usah menghadiri, Nabi dan Khulafaur Rasyidin jg ndak pernah hadir pada peringatan hari besar Nasrani dan Yahudi dahulu.

Dan dulu, di Indonesia sempat ramai membahas PNB (Perayaan Natal Bersama), seolah-olah Natal adalah hari besar nasional, hari raya bersama, tak peduli apa agamanya. Tak hanya presiden yg 'dipaksa' ikut merayakan, anak-anak sekolah pun 'terpaksa' ikut bergembira dgn datangnya hari natal. Sehingga ikutan menyanyikan lagu-lagu natal dan sebagainya. sudah parah bukan?

Pada saat itu, keluarlah ulama kebanggaan kita, Buya Hamka, yang kebetulan menjabat Ketua MUI Pusat. Akhirnya beliau mengeluarkan fatwa haram PNB bagi umat Islam. Fatwa ini digoyang oleh banyak kalangan, tapi beliau tetap tegar dgn keputusannya. Dan beliau lebih rela mengundurkan diri dari pada mencabut fatwa terkait. Alhamdulillah, fatwa tersebut masih eksis hingga sekarang. Disamping belum ada ulama yg melebihi ilmu dan kharisma Buya Hamka, fatwa tersebut jg berisi kebenaran. Dan selamanya kebenaran tdk akan dikalahkan oleh kebatilan.

lebih lanjut, simak ulasan historisnya di artikel prof. Fahmi Amhar:http://www.facebook.com/notes/fahmi-amhar/belajar-bersikap-tepat-di-saat-perayaan-natal/10151173881711921?comment_id=24505008&ref=notif&notif_t=note_reply

8- Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa kata 'silahkan' itu lebih dari cukup dari 'selamat'.
semoga bermanfaat.
Alhamdulilahilladzi bi ni'matihi tatimmu al-shalihat.



Yang Terlupakan pada 25 Desember Reviewed by Mas Anam on 13.32.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.