Al iltizam Al islami Bag. 1 - IKPM KAIRO

Rabu, 04 Maret 2015

Al iltizam Al islami Bag. 1



Syair mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat Arab. Keindahan bahasa yang digunakan oleh seorang penyair seringkali menggubah hati pendengarnya. Sejak zaman Jahiliyah syair mempunyai peran penting hampir di segala sisi kehidupan masyarakat Arab. Masyarakat Arab menggunakan syair untuk berbagai tujuan. Mereka menggunakannya untuk menyampaikan pujian, celaan, rasa sedih, rasa bangga,  nasehat, bercerita,  bahkan dalam berperang  pun syair digunakan untuk melecut semangat para pasukan. Lebih dari itu,  syair-syair terbaik sepanjang masa ditulis dengan tinta emas dan ditempel di dinding Ka’bah. Syair-syair tersebut dikenal dengan sebutan al-mu’allaqât. Menggambarkan fenomena ini, Abu Amru bin al-‘Ala`, seorang ahli qiraat sekaligus ahli bahasa semasa Hasan al-Bashri mengatakan, “Para penyair bagi masyarakat Arab ibarat para nabi bagi umatnya.”[i]

Pengaruh syair tidak terbatas pada orang Arab saja, bahkan orang-orang non-Arab yang memahami bahasa Arab pun juga ikut terpengaruh dengan syair. Jadi tidak heran jika syair juga menjadi salah satu sarana untuk menanamkan filsafat-filsafat hidup dalam diri para santri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Pelajaran ini termasuk pelajaran yang paling banyak digemari oleh para santri. Bahkan setelah lulus pun para alumni masih sering mendendangkan syair-syair tersebut dalam khutbah-khutbah dan percakapan sehari-seharinya. Para santri mengenal pelajaran ini dengan sebutan Mahfuzhât. Meskipun telah menjadi alumni, filsafat-filsafat hidup dalam Mahfuzhât ini tampak mendarah daging dalam diri para alumni.

Tak ubahnya syair, televisi juga mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia.
Tak dapat dipungkiri, bahwa gaya hidup masyarakat -dewasa ini- sedikit banyak merupakan refleksi dari apa yang mereka saksikan dari tayangan televisi. Mulai dari fashion, gaya rambut, gaya bicara, watak, bahkan sampai ideologi. Maka tidak salah jika Usamah Sayyid al-Azhari, salah satu ulama muda al-Azhar yang cukup tersohor, dalam salah satu tulisan kolomnya di elwatannews.com yang berjudul “Hal Kânâ fiZamân al-Nabî Qanwât Fadhâ`iyyah?” mengatakan, “Televisi zaman sekarang bagaikan syair di zaman dulu.”

Keduanya sama-sama mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Jika mengikuti perkataan Abu Amru bin al-Ala`, bisa dikatakan bahwa telivisi bagi masyarakat modern juga ibarat  nabi bagi umatnya. Dikatakan demikian karena fitrah seorang nabi adalah diikuti segala perkataan dan perbuataannya. Demikian pula masyarakat modern saat ini, mereka mengikuti segala yang mereka tonton di televisi. Meskipun tak dapat dipungkiri, ada segelintir orang yang memfilter apa yang ia ikuti dari baik dan buruk tayangan televisi.

Tidak ada komentar: