Al-Iltizâm al-Islâmî dalam syair Bag. II - IKPM KAIRO

Rabu, 04 Maret 2015

Al-Iltizâm al-Islâmî dalam syair Bag. II



Kajian Hasan Ibrahim Faraj al-Syarqawi,[i] salah satu guru besar sastra Arab di al-Azhar menunjukkan, setelah usai perang dunia kedua paham komunis mulai masuk Timur Tengah. Salah satu sarana utama mereka dalam penyebaran paham ini adalah syair. Media masa, yang saat itu didominasi oleh majalah dan surat kabar, dikuasai. Dalam majalah dan surat kabar tersebut, mereka tidak mengizinkan satu penyair pun untuk menjadi terkenal kecuali syair-syairnya berlatarbelakang paham komunis. Penyair yang tidak mengikuti arus ini dianggap katrok alias tidak mengikuti perkembangan zaman, sehingga syairnya dianggap tidak layak untuk dimuat.

Bukan hanya mazhab komunisme saja, tidak lama setelah itu muncul mazhab-mazhab lain seperti, mazhab parnassianisme, mazhab eksistensialisme  dan lain-lain. Mazhab-mazhab tersebut muncul untuk saling berebut pengaruh syair dalam diri masyarakat Arab, sehingga dengan mudah mereka dapat menyebarkan pahamnya.

Nah, konsistensi latarbelakang seorang penyair dalam mengeluarkan syair-syairnya itulah yang kini disebut dengan al-Iltizâm. Al-iltizâm dalam bahasa Arab berarti berpegang teguh. Namun yang dimaksud dengan al-iltizâm di sini adalah  paradigma hidup seorang penyair  yang menjadi latarbelakang isi syair-syair yang dilantunkannya.

Dari sinilah muncul istilah al-iltizâm al-Islâmî, sebagai counter terhadap kemunculan mazhab-mazhab
iltizâm lain yang cenderung menyeleweng dari norma-norma agama. Al-iltizâm al-Islâmî merupakan salah satu corak iltizâm dalam syair Arab, berangkat dari Islamic worldview yang dipahami oleh penyair. Dari sinilah muncul pendekar-pendekar al-iltizâm al-Islâmî seperti Ahmad Syauqi, Hafizh Ibrahim , Mahmud Sami al-Barudi, Ahmad Muharram dan lain-lain. Syair-syair mereka tidak hanya sebatas mengajak masyarakat untuk berpandangan moderat dalam menanggapi fenomena kehidupan, tetapi mereka juga me-counter pemikiran-pemikiran yang menyeleweng dari ajaran Islam. Al-iltizâm al-Islâmî dalam syair-syair mereka terlihat jelas pada posisi mereka dalam menyikapi fenomena-fenomena hidup di sekeliling mereka. Sebut saja syair Hafizh Ibrahim yang menanggapi buku Tahrîr al-Mar`ah karya Qosim Amin, seorang tokoh feminis pertama di Mesir. Ia memberikan tanggapan moderat yang tegar pada batasan-batasan agama.

Tidak ada komentar:

@way2themes