Al-Iltizâm al-Islâmî; Dari Syair ke Film (Bag. III) - IKPM KAIRO

Rabu, 04 Maret 2015

Al-Iltizâm al-Islâmî; Dari Syair ke Film (Bag. III)



Alkisah, suatu hari seorang pasukan salib dikirim ke Andalusia (sekarang Spanyol) untuk memperhatikan apa yang sering dibicarakan oleh masyarakat Muslim Andalusia saat itu. Sampai pada akhirnya ia bertemu seorang anak yang sedang menangis di sudut desa. Ketika ia menanyakan sebab tangisannya itu, anak itu pun menjawab, “Biasanya, sekali aku melepaskan anak panah satu sampai dua burung terkena panahku, tapi kali ini tidak sama sekali.” Mendengar jawaban anak ini, utusan ini berkesimpulan bahwa masyarakat Muslim Andalusia saat itu masih terobsesi dengan jihad fi sabilillah. Setelah melaporakan apa yang dilihatnya, pemimpinnya pun memerintahkan untuk menyebarkan pelacur-pelacur cantik di Andalusia. Singkat cerita, beberapa tahun kemudian pasukan tersebut dikirim kembali dengan misi yang sama.Walhasil, ia mendapati masyarakat sekitar sedang membicarakan wantia cantik, rumah mewah, dan lain sebagainya dari kenikmatan dunia. Dari sinilah mereka mulai mengatur strategi untuk melumpuhkan Andalusia.

Sejak kemenangan umat Islam pada Perang Salib dibawah pimpinan Shalahuddin al-Ayubi, Barat  mulai menyadari bahwa umat Islam tidak akan bisa dikalahkan dengan peperangan fisik. Dari sinilah titik tolak munculnya ide neoimprealisme. Dari segi fisik memang kita sekarang sedang tidak terjajah, tetapi dari segi adat budaya, etika, ekonomi, politik dan pemikiran? Jelas kita sedang terjajah.

Televisi, merupakan senjata paling jitu saat ini yang digunakan untuk menjajah kita, khususnya dari
segi adat budaya dan pemikiran. Jika tidak dari televisi, darimana lagi kita mengenal pakaian tank top, bikini, dan rok mini; rambut pank dan mohak; tindik kuping, hidung dan bibir; tato; pemikiran sekular, hedonis, dan liberal. Semua itu adalah produk neoimprealisme yang banyak kita temukan di televisi.

Tidak perlu saya sebutkan film-film barat yang mengandung stigma-stigma di atas. Karena memang semua film-film mereka inklusif. Setelah bertahun-tahun melancarkan serangan semacam ini, mereka sukses besar. Kini sudah ada mesin otomatis yang bekerja untuk mereka tanpa harus diperintah, yaitu orang-orang pribumi sendiri. Dengan cara berpikir yang sama, orang-orang pribumi ini mampu menciptakan film-film dengan isi yang tidak jauh berbeda dari tujuan para pendahulunya, bahkan lebih kacau. Meskipun demikian, Barat masih konstan memberikan teladan yang baik bagi anak didiknya itu.
Terlalu banyak jika harus menyebutkan semua film-film produk pribumi yang serupa. Sebut saja film-film horor karya pemilik rumah produksi Multivision Plus: Raam Punjabi. Porsi pornoaksi dalam film-film horor itu seringkali lebih banyak dari adegan horornya sendiri. Tidak gemen-gemen, film horor Indonesia bahkan telah berhasil menghadirkan bintang porno Jepang: Maria Ozawa atau yang lebih dikenal dengan Miyabi. Entah, mungkin produser satu ini ingin membuat bangsa ini bangsa porno, setelah sebelumnya berhasil membuat bangsa ini menjadi bangsa pendendam dengan sinetron-sinetronnya. Jadi wajar saja, jika berita Indonesia tidak pernah sepi dari berita pelecehan seksual dan pembunuhan.

Selain film-film di atas, masih banyak film-film yang merusak moral bangsa, meskipun tidak separah dan tidak terlalu menonjol film-film horor di atas. Film “Radio Galau FM” misalnya, terlepas dari maksud pemilik ide film ini, disadari atau tidak film ini sudah memberikan kesan kepada penonton bahwa “jomblo” alias tidak punya pacar merupakan suatu hal yang tabu. Hal itu bisa dilihat dari beberapa percakapan dalam film itu. “Kamu ganteng-ganteng belum punya pacar, itu ganteng-ganteng mubazir namanya” begitulah salah satu potongan kata Papa Bara yang diperankan oleh Joe P-Project ketika sedang menasehati anaknya Bara Mahesa dalam film itu. Spontan, setelah menonton film ini banyak jomblo ganteng yang dikatai: “jomblo mubazir”. Ada lagi adegan yang sedikit membuat risih, yaitu ketika Papa Bara sedang memberikan resep dalam menggaet seorang wanita, Joe mengakhiri percakapannyadengan hamdalah dan istighfar. Seakan-akan ingin memberi kesan bahwa pacaran itu biasa dalam lingkungan keluarga yang Islami.

Lebih parahnya lagi, sebelumnya sudah muncul Film berjudul “Buruan Cium Gue”. Film yang sempat kontroversial ini memberi kesan bahwa ciuman dengan pacar itu merupakan sesuatu yang kudu. Film-film di atas baru yang konsen merusak moral bangsa.

Sedangkan film-film yang merusak pemikiran juga tak kalah gencar dari genre film di atas. Adalah Hanung Bramantyo salah satu sutradara muda yang baru saja naik daun, dikenal meluncurkan beberapa film yang kontroversial, seperti Tanda Tanya dan Wanita Berkalung Sorban. Meskipun demikian Hanung juga mempunyai andil dalam menghadirkan Film-Film berkualitas baik, seperti Sang Pencerah. Itu semua hanyalah beberapa contoh film dari sutradara atau produser film yang nampak menganut semacam iltizâm.

Di kubu lain, tampil sebagai rival: Chaerul Umam. Sutradara senior yang satu ini mempunyai track record yang cukup baik dalam perjalanan karirnya. Peraih penghargaan sebagai sutradara terbaik tahun 1992 ini mempunyai banyak film yang inklusif dalam al-iltizâm al-Islâmî, seperti Al Kautsar (1977), Fatahillah (1997), dan Ketika Cinta Bertasbih (2008).

Paradigma Chaerul Umam dalam merilis film ini kemudian diteladani oleh Deddy Mizwar. Beberapa sinetron yang dirilis oleh aktor senior ini menunjukkan adanya al-iltizâm al-Islâmî yang cukup kental, seperti Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat dan Para Pencari Tuhan.

Kini, muncul Habiburrahman el-Shirazy yang sedang berusaha melanjutkan tongkat estafet para pendahulunya. Apalagi saat ini ia sudah diangkat menjadi anggota Komisi Pembinaan Seni Budaya Majlis Ulama Indonesia dibawah pimpinan sesepuhnya Chaerul Umam, sudah selayaknya ia menjalankan amanat ini dengan baik dan dinamis.

Meskipun para pendekar dunia perfilman Indonesia sudah ada yang menganut al-iltizam al-Islami, tetap saja frekuensinya masih kalah jauh dari rivalnya. Dengan demikian, pengaruhnya pun tidak terlalu terlihat.

Melihat dampak pengaruh film terhadap masyarakat, nampaknya sangat efektif jika dakwah Islam juga digencarkan melalui film-film berkualitas yang membangun moral bangsa. Toh, al-Quran juga turun dengan genre sastra bahasa yang saat itu sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Arab. Demikian pula mukjizat nabi-nabi yang lain, selalu berkaitan dengan hal yang berpengaruh di kaumnya saat itu. Nabi Isa AS contohnya, beliau mendapat mukjizat menyembuhkan penyakit-penyakit yang tidak seorang pun dapat menyembuhkannya, padahal masanya adalah masa kejayaan ilmu kedokteran saat itu. Demikian pula Nabi Musa AS yang diutus di zaman sihir dengan berbagai mukjizat yang tidak dapat dilakukan oleh penyihir manapun.

Film yang multazim dengan al-Iltizâm al-Islâmî, tidak harus selalu ada sitiran ayat al-Quran dan Hadis, ataupun para artisnya mengenakan peci dan sarung. Cukup ajarkan masyarakat akhlak yang baik. Karena dari akhlaklah semua kebaikan bermula. Waallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

@way2themes