Asal-usul Empat Mazhab Fikih Ahlussunnah - IKPM KAIRO

Rabu, 04 Maret 2015

Asal-usul Empat Mazhab Fikih Ahlussunnah



Rasulullah SAW semasa hidupnya senantiasa melatih para Sahabat RA untuk berijtihad. Kajian Zahid al-Kautsari (W. 1371 H) menunjukkan, sekitar enam orang sahabat RA sudah mulai berfatwa sejak masa kenabian.[1]

Sebelum munculnya empat mazhab yang sekarang banyak dikenal, dalam sejarah fikih dikenal dua mazhab yang merupakan cikal bakal dari muculnya empat mazhab tersebut, yaitu mazhab Ahlu Ra’yi atau Ahlu al-‘Irâq, dan mazhab Ahlu al-Hadîts atau mazhab Ahlu al-Hijaz.[2]

Jika ditelusuri, akar kedua mazhab ini sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Hal ini dapat kita lihat pada hadis Perang Bani Quraizhah, yaitu ketika Rasulullah SAW memerintahkan pasukan Muslimin untuk tidak melaksanakan shalat asar kecuali setelah tiba di wilayah Bani Quraizhah. Tapi yang terjadi, waktu ashar tiba lebih dulu saat mereka masih dalam perjalanan. Hal ini berimbas pada terjadinya perbedaan pendapat antar Sahabat RA dalam melaksanakan perintah Rasulullah SAW tadi. Akhirnya, sebagian Sahabat RA, melaksanakan shalat di perjalanan, sedangkan sebagian lain enggan untuk melaksanakannya kecuali setelah tiba di wilayah Bani Quraizhah sesuai dengan perintah Rasullullah SAW. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau tidak menyalahkan salah satu dari dua kelompok tersebut dan tidak pula menyalahkannya.[3]

Hadis di atas menunjukkan, bahwa para Sahabat berbeda pendapat dalam memahami hadis Rasulullah
SAW (baca: perintah Rasulullah SAW). Sebagian Sahabat RA memahaminya dengan melihat pada ‘illah dari hadis tersebut. Mereka berpandangan bahwa maksud perintah Rasulullah SAW itu: supaya para Sahabat SAW bergegas menuju kawasan Bani Quraizhah sehingga dapat melaksanakan shalat Ashar di sana. Sedangkan sebagian Sahabat RA lainnya, tetap berpegang teguh pada makna zahir dari hadis tersebut.[4] Sementara Rasulullah SAW sendiri sama sekali tidak menyalahkan salah satu dari keduanya.

Dari peristiwa di atas, Dr. Amru Wardani, Sekjen Fatwa di Lembaga Fatwa Mesir menyimpulkan bahwa Sahabat RA yang melihat pada ‘illahhukum, merupakan akar dari mazhab Ahlu al-Ra`yi. Sedangkan Sahabat RA yang melihat pada makna zahir hadis merupakan sesepuh mazhabAhlu al-Hadîts. Dan Rasulullah SAW mengiyakan kedua cara paham tersebut.[5]

Dengan demikian, kriteria Sahabat RA dalam memahami nash terbagi menjadi dua: sebagian lebih condong memahami nash dari makna zahirnya, dan sebagian lain lebih condong melihat pada ‘illah.

Salah satu Sahabat RA yang dikenal sebagai bapak Ahlu al-Hadits adalah Abdullah bin Umar RA. Ibnu Umar RA dikenal sebagai Sahabat  yang paling getol dalam meneladani semua tingkah laku Rasulullah SAW. Bahkan, Ia seringkali pergi ke tempat-tempat pernah dikunjungi Rasulullah SAW; shalat di tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW untuk shalat; mendudukkan untanya di tempat-tempat Rasulullah SAW pernah mendudukkan untanya;[6] terlebih, ia juga tersenyum di tempat Rasulullah SAW pernah tersenyum.

Setelah kepergian Rasulullah SAW, Ibnu Umar tinggal di Madinah selama 62 tahun mengajarkan syariat kepada para Tabi’in. Dan salah satu murid terbaiknya adalah mantan budaknya, yaitu Imam Nafi’, yang kemudian menjadi guru Imam Malik bin Anas,[7] seorang pionir Mazhab Malikiyah sekaligus orang yang mempunyai andil terbesar dalam penyebaran mazhab Ahlu al-Hadits.

Sedangkan bapak Ahlu al-Ra`yi dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas’ud RA, yang juga merupakan Sahabat dekat Rasulullah SAW. Karakter Ibnu Mas’ud RA dalam fikihnya lebih dekat dengan karakter Umar bin Khatthab RA yang lebih sering memeras otak dalam pengambilan hukum dari pada mengikuti makna zahir hadis.

Pada masa kekhalifahan Umar RA, Ibnu Mas’ud dikirim ke Kufah, Irak, sebagai: guru agama, hakim, sekaligus menteri. Kedatangan Ibnu Mas’ud ke Kufah menjadi pusat perhatian para Tabi’in yang haus akan ilmu agama. Salah satu murid terdekat Ibnu Mas’ud saat itu adalah ‘Alqamah bin Qais al-Nakha’i, guru dari Ibrahim al-Nakha’i, yang merupakan guru dari Hamad bin Abu Sulaiman, guru utama Abu Hanifah.[8] Selanjutnya, Abu Hanifah-lah yang mempunyai pengaruh besar dalam menyebarkan mazhab Ahlu al-Ra`yi, yang juga seorang pionir Mazhab Hanafi.

Setelah kedua pionir mazhab tersebut, muncullah Imam Syafi’i yang mempelajari kedua mazhab tersebut langsung dari pionirnya. Pada perjalanan akademisnya, ia berguru kepada banyak ulama zaman itu di berbagai penjuru. Salah satu guru kesayangannya adalah Imam Malik.[9]Ia berguru kepada Imam Malik sampai akhir hayat sang imam. Selain berguru kepada Imam Malik yang merupakan pionir Mazhab Maliki dan juga tulang punggung Mazhab Ahlu al-Hadîts, ia juga berguru kepada Muhammad bin Hasan Al-Syaibani yang merupakan murid terdekat Abu Hanifah, pionir Mazhab Hanafi dan garda depan Mazhab Ahlu al-Ra`yi.[10] Dengan demikian, Imam Syafi’i telah menghimpun metode fikih kedua mazhab tersebut: Ahlu al-Ra`yi dan Ahlu al-Hadîts.

Setelah menjadi Imam tersohor, Imam Syafi’i mempunyai murid Imam Ahmad bin Hanbal, yang nantinya menjadi pionir Mazhab Hanbali. Demikianlah mazhab-mazhab tersebut menyebar di seluruh penjuru dunia dengan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW sampai saat ini.



[1] Muhammad Zahid bin Hasan al-Kautsari, al-Lâmadzhabiyah Qantharah al-Lâdîniyah, (Kairo: al-Azhariah li al-Turats, 2006), hal. 3.
[2] Mazhab Ahlu al-Ra`yi disebut juga dengan Mazhab Ahlu al-‘Irâq karena mazhab ini mendominasi metode ijtihad para ulama Irak dan sekitarnya. Sedangkan Mazhab Ahlu al-Hadits dijuluki dengan Mazhab Ahlu al-Hijâzkarena lebih kental di kalangan ulama Hijaz dan sekitarnya.
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Muhammad bin Ismail al-Bukhari,Shahîh al-Bukhârî, Kitab al-Maghâzî, Bab Marja’ al-Nabî SAW min al-Ahzâb,(Jerman: Thesaurus Islamicus Fondation, 2000), hal. 819.
[4] Disadur dari Fathu al-Bârî karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani.www.islamweb.net, diakses pada hari Ahad, 18 Nopember 2012, pukul 13.21 CLT.
[5] Pendapat Dr. Amru Wardani ini, ia sampaikan dalam Workshop Syekh ‘Amud yang bertema “Pengenalan Ilmu Fikih” pada hari Ahad 7 Oktober 2012 di Masjid  al-Azhar sejak usai Maghrib sampai pukul 09.00 CLT yang dihadiri oleh penulis.
[6] Muhammad Ali Sayis, Târîkh al-Fiqh al-Islâmî, (Damaskus: Darul Fikr, 1999), hal. 105.
[7] Ali Jum’ah, Madkhal ilâ Dirâsâh al-Madzâhib al-Fiqhiyah, (Kairo: Darussalam, 2009), hal. 145.
[8] Muhammad Ali Sayis, Târîkh al-Fiqh al-Islâmî, hal. 108.
[9] Ali Jum’ah, Madkhal ilâ Dirâsâh al-Madzâhib al-Fiqhiyah, hal. 21.
[10] Ali Jum’ah, Madkhal ilâ Dirâsâh al-Madzâhib al-Fiqhiyah, hal. 22.

Tidak ada komentar: