Hukum Mengusap Khuf (Sepatu) - IKPM KAIRO

Rabu, 18 Maret 2015

Hukum Mengusap Khuf (Sepatu)


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat
dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan
sahabatnya.

Islam selalu mendatangan kemudahan. Inna ad
diina yusrun[1] , sesungguhnya Islam itu mudah,
demikian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di
antara kemudahan yang diberikan oleh Islam adalah
memberikan keringanan saat thoharoh (bersuci).
Ketika seseorang mesti mengenakan khuf (sejenis
sepatu) dan sulit ia copot karena berada dalam
perjalanan (misalnya), maka Islam mengajarkan jika
kondisi demikian sepatu tersebut tidak perlu
dilepas. Sepatu tersebut hanya perlu diusap
asalkan sebelumnya dikenakan dalam keadaan
suci. Baik, bagaimanakah Islam menjelaskan hal
ini? Alangkah bagusnya kita menyimak ulasan
sederhana berikut ini.

Apa itu Khuf dan Apa yang Dimaksud Mengusap?
Khuf adalah alas kaki dari kulit yang menutupi mata
kaki[2] .

Sedangkan mengusap diistilahkan dengan ( ﻣَﺴْﺢِ )
“ mash ” yaitu tangan yang dalam keadaan basah
bergerak menyentuh sesuatu [3] . Jadi yang
dimaksud mengusap khuf adalah membasahi khuf
dengan cara yang khusus, di bagian yang khusus,
dan pada waktu yang khusus sebagai ganti dari
membasuh kedua kaki saat berwudhu. [4]

Dalil Pensyariatan Khuf
Tentang dalil pensyariatan mengusap khuf adalah
dari berbagai hadits Nabawiyah. Di antaranya dari
hadits ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ,
ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺑِﺎﻟﺮَّﺃْﻯِ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﺃَﺳْﻔَﻞُ ﺍﻟْﺨُﻒِّ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﺎﻟْﻤَﺴْﺢِ ﻣِﻦْ
ﺃَﻋْﻼَﻩُ ﻭَﻗَﺪْ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻳَﻤْﺴَﺢُ
ﻋَﻠَﻰ ﻇَﺎﻫِﺮِ ﺧُﻔَّﻴْﻪِ .
“ Seandainya agama itu dengan logika semata, maka
tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap
daripada bagian atasnya. Namun sungguh aku sendiri
telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengusap bagian atas khufnya .” [5]

Ada juga riwayat dari Jarir bin ‘Abdillah Al Bakhili
radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau kencing, kemudian
berwudhu lalu mengusap kedua khufnya. Ada yang
mengatakan padanya, “Betul engkau melakukan
seperti itu?” “Iya betul”, jawab Jarir. Saya pernah
melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam
kencing, kemudian beliau berwudhu, lalu hanya
mengusap kedua khufnya saja. Dan perlu diketahui
bahwa Jarir masuk Islam setelah turun firman Allah
yaitu surat Al Maidah berikut,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻤْﺘُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻓَﺎﻏْﺴِﻠُﻮﺍ ﻭُﺟُﻮﻫَﻜُﻢْ
ﻭَﺃَﻳْﺪِﻳَﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮَﺍﻓِﻖِ ﻭَﺍﻣْﺴَﺤُﻮﺍ ﺑِﺮُﺀُﻭﺳِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺭْﺟُﻠَﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﻴْﻦِ

“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu
dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata
kaki.” (QS. Al Maidah: 6) [6]

Penulis Tuhfatul Ahwadzi rahimahullah menjelaskan
bahwa seandainya Jarir masuk Islam lebih dulu
sebelum turunnya surat Al Maidah di atas, maka
dapat dipahami kalau mengusap khuf itu sudah
dihapus dengan ayat Al Maidah tersebut. Namun
Islamnya Jabir ternyata belakangan setelah turun
surat Al Maidah tadi. Dari sini dapat diketahui
bahwa hadits mengusap khuf itu masih tetap
diamalkan. Sedangkan yang dimaksud mencuci kaki
(bukan mengusap khuf) dalam surat Al Maidah di
atas berlaku untuk selain yang mengenakan khuf .
Oleh karena itu, sunnah di sini menjadi pengkhusus
bagi ayat di atas. Demikian kata An Nawawi. [7]

Dalil yang menjelaskan disyari’atkannya mengusap
khuf diriwayatkan lebih dari 80 sahabat radhiyallahu
‘anhum , di antara mereka adalah sepuluh sahabat
yang diberi kabar gembira masuk surga. [8]

Ibnul Mubarok rahimahullah mengatakan, “Tidak ada
beda pendapat di kalangan sahabat akan bolehnya
mengusap khuf. Karena setiap riwayat yang
menunjukkan kalau mereka mengingkari bolehnya
hal itu, dalam riwayat lainnya menunjukkan
kebalikannya yaitu mereka membolehkan mengusap
khuf.” [9]

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Aku
tidak mengetahui riwayat dari salaf yang
mengingkari bolehnya mengusap khuf kecuali dari
Malik. Namun riwayat shahih dari Imam Malik
adalah beliau membolehkan mengusap khuf.” [10]

Hukum Mengusap Khuf
Hukum asal mengusap khuf adalah boleh. Menurut
mayoritas ulama , mencuci kaki lebih afdhol (lebih
utama) daripada mengusap khuf. Mengusap khuf
adalah rukhsoh (keringanan) dalam ajaran Islam.
Allah subhanahu wa ta’ala amat menyukai orang
yang mengambil rukhsoh (keringanan),
sebagaimana Dia suka jika seseorang menjauhi
larangan-Nya. Namun menurut ulama Hambali,
mengusap khuf itu lebih afdhol karena itu berarti
seseorang mengambil rukhsoh dan kedua-keduanya
(antara mengusap khuf dan mencuci kaki saat
wudhu) adalah suatu hal yang sama-sama
disyari’atkan. [11]

Hikmah Mengusap Khuf
Hikmah mengusap khuf adalah untuk
mendatangkan kemudahan dan keringanan bagi
setiap muslim. Kesulitan yang dihadapi barangkali
adalah kesulitan untuk melepas khuf dan mencuci
kedua kaki, apalagi saat musim dingin atau ketika
mendapati cuaca yang amat dingin. Begitu pula
kesulitan tersebut bisa jadi didapati ketika safar
yang biasanya terjadi ketergesa-gesaan sehingga
sulit untuk mencuci kaki secara langsung. [12]

Syarat Bolehnya Mengusap Khuf
Syarat yang harus dipenuhi agar dibolehkan
mengusap khuf adalah sebelum mengenakan khuf
dalam keadaan bersuci (berwudhu atau mandi [13] )
terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits Al
Mughiroh bin Syu’bah, ia berkata, “Pada suatu
malam di suatu perjalanan aku pernah bersama
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku sodorkan
pada beliau bejana berisi air. Kemudian beliau
membasuh wajahnya, lengannya, mengusap
kepalanya. Kemudian aku ingin melepaskan sepatu
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau
berkata,
ﺩَﻋْﻬُﻤَﺎ ، ﻓَﺈِﻧِّﻰ ﺃَﺩْﺧَﻠْﺘُﻬُﻤَﺎ ﻃَﺎﻫِﺮَﺗَﻴْﻦِ ‏» . ﻓَﻤَﺴَﺢَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ
“ Biarkan keduanya (tetap kukenakan). Karena aku
telah memakai keduanya dalam keadaan bersuci
sebelumnya .” Lalu beliau cukup mengusap khufnya
saja. [14] Syarat ini yaitu mengenakan khuf dalam
keadaan sudah bersuci dengan sempurna adalah
syarat yang disepakati oleh para ulama. [15]
Adapun syarat yang dikatakan oleh sebagian ulama
bahwa khuf tersebut harus menutupi kaki (yang
wajib dibasuh saat wudhu), harus kokoh dan kuat
digunakan untuk berjalan, maka tentang hal ini
telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah
dalam fatwanya akan lemahnya pendapat tersebut.
[16]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Mengusap
khuf disebutkan secara mutlak. Dan diketahui
bahwa cacat ringan secara adat yang didapati pada
khuf seperti adanya belahan, sobekan, lebih-lebih
lagi jika khuf tersebut sudah lama dikenakan dan
para sahabat di masa dahulu kebanyakan miskin,
yang tidak mungkin mereka terus menggunakan
khuf baru.” [17] Pendapat yang tepat adalah masih
bolehnya mengusap khuf yang cacat (seperti ada
sobekan) selama masih disebut khuf dan selama
masih kuat untuk digunakan berjalan. [18]
Bagian Mana yang Diusap?
Bagian khuf yang diusap bukanlah seluruh khuf,
atau bukan pula pada bagian bawah yang biasa
menginjak tanah atau kotoran. Yang diajarkan
dalam Islam, ketika berwudhu bagian khuf yang
diusap adalah bagian punggung khuf (atas). Jadi
cukup bagian atas khuf yang dibasahi lalu khuf
diusap (tidak perlu air dialirkan), sebagaimana
definisi “mengusap” ( ﻣَﺴْﺢِ ) yang sudah disebutkan
di awal.

Dalilnya adalah hadits dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺑِﺎﻟﺮَّﺃْﻯِ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﺃَﺳْﻔَﻞُ ﺍﻟْﺨُﻒِّ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﺎﻟْﻤَﺴْﺢِ ﻣِﻦْ
ﺃَﻋْﻼَﻩُ ﻭَﻗَﺪْ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻳَﻤْﺴَﺢُ
ﻋَﻠَﻰ ﻇَﺎﻫِﺮِ ﺧُﻔَّﻴْﻪِ .
“ Seandainya agama itu dengan logika semata, maka
tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap
daripada bagian atasnya. Namun sungguh aku sendiri
telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengusap bagian atas khufnya .” [19]
Jangka Waktu Bolehnya Mengusap Khuf
Keringanan mengusap khuf di sini bukan
selamanya, ada masanya yang dibatasi oleh ajaran
Islam. Bagi orang yang mukim, jangka waktu
mengusap khuf adalah sehari semalam (1×24 jam),
sedangkan untuk musafir selama tiga hari tiga
malam (3×24 jam).
Dari Shafwan bin ‘Assal, ia berkata,
ﻓَﺄَﻣَﺮَﻧَﺎ ﺃَﻥْ ﻧَﻤْﺴَﺢَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺨُﻔَّﻴْﻦِ ﺇِﺫَﺍ ﻧَﺤْﻦُ ﺃَﺩْﺧَﻠْﻨَﺎﻫُﻤَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻃُﻬْﺮٍ
ﺛَﻼَﺛﺎً ﺇِﺫَﺍ ﺳَﺎﻓَﺮْﻧَﺎ ﻭَﻳَﻮْﻣﺎً ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔً ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻗَﻤْﻨَﺎ ﻭَﻻَ ﻧَﺨْﻠَﻌَﻬُﻤَﺎ ﻣِﻦْ
ﻏَﺎﺋِﻂٍ ﻭَﻻَ ﺑَﻮْﻝٍ ﻭَﻻَ ﻧَﻮْﻡٍ ﻭَﻻَ ﻧَﺨْﻠَﻌَﻬُﻤَﺎ ﺇِﻻَّ ﻣِﻦْ ﺟَﻨَﺎﺑَﺔٍ
“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan kepada kami untuk mengusap khuf
yang telah kami kenakan dalam keadaan kami suci
sebelumnya. Jangka waktu mengusapnya adalah tiga
hari tiga malam jika kami bersafar dan sehari
semalam jika kami mukim. Dan kami tidak perlu
melepasnya ketika kami buang hajat dan buang air
kecil (kencing). Kami tidak mencopotnya selain ketika
dalam kondisi junub. ” [20]
Dari Syuraih bin Haani’, ia berkata, aku pernah
mendatangi ‘Aisyah, lalu akan menanyakannya
mengenai cara mengusap khuf. ‘Aisyah menjawab,
“Lebih baik engkau bertanya pada ‘Ali bin Abi
Tholib, tanyakanlah padanya karena ‘Ali pernah
bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kemudian aku bertanya kepada ‘Ali, lantas ia
menjawab,
ﺟَﻌَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﺛَﻼَﺛَﺔَ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ
ﻭَﻟَﻴَﺎﻟِﻴَﻬُﻦَّ ﻟِﻠْﻤُﺴَﺎﻓِﺮِ ﻭَﻳَﻮْﻣًﺎ ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔً ﻟِﻠْﻤُﻘِﻴﻢِ
“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam enjadikan
tiga hari tiga malam sebagai jangka waktu mengusap
khuf bagi musafir, sedangkan sehari semalam untuk
mukim .” [21]
Kapan dihitung 1×24 jam (bagi mukim) atau 3×24
jam (bagi musafir)?
Hitungannya adalah dimulai dari mengusap pertama
kali setelah berhadats. Demikian pendapat Imam
Ahmad, Al Auzai, An Nawawi, Ibnul Mundzir, dan
Ibnu ‘Utsaimin. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam katakan “musafir mengusap” atau “mukim
mengusap”. Ini menunjukkan bahwa waktu
permulaan sebagai hitungan memulai mengusap
adalah ketika mengusap khuf pertama kali.
Demikian pemahaman tekstual (zhohir) dari hadits.
Wallahu a’lam . [22]
Contoh: Ahmad berwudhu sebelum memulai safar
pada pukul 06.00. Pada pukul 09.00, wudhu Ahmad
batal karena hadats kecil (kentut). Namun ia
berwudhu pada pukul 12.00 saat akan
melaksanakan shalat Zhuhur. Maka pada pukul
12.00 mulai hitungann 3×24 jam bagi Ahmad. Jadi
setelah 3×24 jam (pukul 12.00 tiga hari berikutnya),
masa mengusap khuf bagi Ahmad usai.
Cara Mengusap Khuf
Setelah berwudhu secara sempurna lalu
mengenakan khuf, kemudian setelah itu tatkala
ingin berwudhu cukup khuf saja yang diusap
sebagai ganti dari mencuci (membasuh) kaki.
Keringanan seperti ini diberikan bagi orang mukim
selama 1×24 jam dan bagi musafir selama 3×24
jam. Namun ketika seseorang terkena hadats besar
(yaitu junub), wajib baginya melepas sepatunya
saat bersuci. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam
hadits Shafwan di atas. [23]
Pembatal Mengusap Khuf
Berakhirnya waktu mengusap khuf.
Terkena junub.
Melepas sepatu. [24]
Jika khuf dilepas –dan masa mengusap khuf belum
selesai- kemudian berhadats, maka tidak
diperkenankan mengenakan khuf dan mengusapnya,
karena ketika itu berarti seseorang memasukkan
kakinya dalam keadaan tidak suci.
Jika salah satu pembatal di atas ada, maka tidak
diperkenankan mengusap khuf. Wajib baginya
ketika berhadats, ia berwudhu lagi, lalu ia mencuci
kakinya secara langsung saat itu. Kemudian
setelah itu, ia boleh lagi mengenakan khuf dan
mengusapnya. [25]

Catatan penting: Jika salah satu pembatal
mengusap khuf di atas terwujud tidak berarti
wudhunya batal jika memang masih dalam keadaan
suci. Demikian pendapat An Nakho’i, Al Hasan Al
Bashri, ‘Atho’, Ibnu Hazm, pilihan An Nawawi, Ibnul
Mundzir dan Ibnu Taimiyah. [26]
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

References:
Ad Durul Mukhtar, Al Hish-faki, Mawqi’
Ya’sud (sesuai cetakan).
Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, terbitan
Kementrian Agama Kuwait.
Al Mughrib fii Tartiibil Mu’rob, Abul Fath
Nashiruddin bin ‘Abdis Sayyidin ‘Ali bin ‘Ali
bin Al Mathrizi, terbitan Maktabah Usamah
bin Zaid, cetakan pertama, 1979.
Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq, tahqiq: Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al Albani, terbitan
Muassasah Ar Risalah, cetakan ketiga, 1430
H.
Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, terbitan Darul Wafa’, cetakan
ketiga, 1426 H.
Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin
Asy Sayyid Salim, cetakan Al Maktabah At
Taufiqiyah.
Subulus Salam, Muhammad bin Ismai’l Al
Amir Ash Shan’ani, tahqiq: Muhammad
Shabhi Hasan Hallaq, terbitan Dar Ibnul
Jauzi, cetakan kedua, Muharram 1432 H.
Tuhfatul Ahwadzi, Muhammad bin
‘Abdirrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuri
Abul ‘Alaa, terbitan Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
Riyadh-KSA, 8 Jumadil Ula 1432 H (11/04/2011)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
[1] HR. Bukhari no. 39.
[2] Subulus Salam, 1/233.
[3] Al Mughrib fii Tartiibil Mu’rob, 2/266.
[4] Ad Durul Mukhtar, 1/281.
[5] HR. Abu Daud no. 162. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[6] Lihat HR. Ibnu Majah no. 543. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits tersebut shahih.
[7] Tuhfatul Ahwadzi, 1/264
[8] Ad Durul Mukhtar, 1/286
[9] Subulus Salam, 1/235.
[10] Idem.
[11] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 37/262.
[12] Idem.
[13] Sebagaimana pendapat mayoritas ulama selain
Syafi’iyah. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 37/264.
[14] HR. Ahmad 4/251, Bukhari no. 206 dan Muslim
no. 274.
[15] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 37/264.
[16] Fiqih Sunnah, 1/47.
[17] Majmu’ Al Fatawa, 21/174.
[18] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/154.
[19] HR. Abu Daud no. 162. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[20] HR. Ahmad 4/239. Syaikh Syu’aib Al Arnauth
mengatakan bahwa penjelasan mengenai mengusap
khuf dalam hadits ini dinilai shahih lighoirihi (dilihat
dari jalur lain). Sedangkan sanad ini hasan dilihat
dari jalur ‘Ashim.
[21] HR. Muslim no. 276.
[22] Shahih Fiqh Sunnah, 1/152.
[23] Fiqih Sunnah, 1/48.
[24] Fiqh Sunnah, 1/ 48 dan Shahih Fiqh Sunnah,
1/155.
[25] Shahih Fiqh Sunnah, 1/155
[26] Shahih Fiqh Sunnah, 1/156

Tidak ada komentar: