Ibnu Katsir: Ulama Jenius dari Tanah Damaskus - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Ibnu Katsir: Ulama Jenius dari Tanah Damaskus


Nama lengkapnya adalah ‘Imaduddin Abu Fidâ  Isma’il ibnu Katsir bin Dla’i ibnu Katsir bin Zarâ` al-Qausi al-Qurasyi al-Busrawi al-Damsyiqi al-Syafi’i. Menurut ahli sejarah beliau dilahirkan di Mijdal, daerah Bashrah sebelah timur kota Damaskus pada tahun 701 H. Namun, sejauh ini belum ada yang menetapkan hari dan bulan beliau dilahirkan. Ia hidup pada abad ke-8 di masa Dinasti Mamalik. 






Ayahnya bernama Syihabuddin Abu Hafsh Umar bin Katsir dilahirkan tahun 640 H. Abu Hafsh  adalah seorang ulama, ahli fikih, penceramah, ahli bahasa, syiar, dan adab. Sosok seorang ayah memang sangat berpengaruh dalam keluarga. Figur ayahnya yang banyak mempengaruhi kepribadian Ibnu Katsir untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan dan mendapatkan derajat yang tinggi, sehingga beliau terkenal dengan Imam di segala disiplin ilmu. Pada bulan Jumadil Ula tahun 703 H, Ibnu Katsir ditingal oleh ayah tercintanya. Semenjak ayahnya wafat, peran ayah digantikan oleh kakak kandungnya. Sejak ditinggal ayahnya, Ibnu Katsir mulai banyak bergelut dalam keilmuan yang langsung diajarkan oleh kakaknya.

Pada tahun 707 H, Ibnu Katsir pindah ke Damaskus untuk menambah ilmu pengetahuan.  Sesampainya disana ia bertemu dengan banyak ulama dan syekh terkenal seperti Imam Nawawi, Syekh Burhanuddin Ibrahim Abdurrahman al-Fazzari, Ibnu Taimiyah, Syamsuddin al-Dzahabi, Ibnu Qayim dan banyak ulama lainnya. Dengan kecerdasannya, pada usia sebelas tahun ia sudah mengkhatamkan hafalan  al-Qurannya di bawah bimbingan Syekh Syamsuddin Abi Abdillah, seorang imam masjid di kota Batikh. Ibnu Katsir mewarnai hidupnya dengan beragam keilmuan baik ilmu agama maupun sejarah. 

Dengan kecerdasan, pemahaman yang baik, kekuatan hafalannya dan kepandaiannya dalam memilih guru, di masa mudanya, dengan waktu yang tidak lama dan atas izin Allah, Ibnu Katsir mampu menguasai ilmu Fikih dan Hadis, sehingga tak sedikit ulama di zamannya yang memuji kepandaiannya. Ibnu Katsir juga sempat mulazamah dengan Syekh Jamaludin Yusuf bin Zaki al-Mazzi (742 H), seorang ulama Suriah yang mengarang kitabTahdzibu al-Kamil. Syekh al-Mazzi inilah yang kemudian menjadi mertuanya, setelah menikahkan salah seorang putrinya bernama Zainab Binti al-Hafidz al-Mazzi. 
Dalam kitab Bidayah wa Nihayahia menyebutkan bahwa istri dan ibu mertuanya adalah seorang hafidzah al-Quran. Dari hasil pernikahannya, Ibnu Katsir memiliki keturunan sebanyak lima orang yang semuannya dididik untuk menyibukkan diri dalam bidang keilmuan, khususnya Hadis, Fikih dan Sejarah. Beliau sengaja mengabadikan namanya pada anak terakhirnya dengan harapan anaknya tumbuh menjadi seorang pakar di berbagai bidang keilmuan.

Ibnu Katsir selain aktif mendalami keilmuan beliau juga mengisi hari-harinya dengan mengajar di Masjid dan Madrasah. Beliau selalu mengamalkan ilmu yang didapatnya kepada siapapun dan tidak mengenal batasan, karena itulah murid yang menimba ilmu kepadanya pun tidak terhitung. Di antara murid yang diajarnya rata-rata sudah menjadi ulama besar dan telah mendapat izin untuk berfatwa, seperti  Sa’aduddin an-Nawawi, Syahabuddin bin Hijjy, Ibnu al-Jazariy, dan Imam Zarkasyi.

Kecintaan Ibnu Katsir kepada ilmu tentu membuatnya selalu ingin berkarya dan membagi ilmuanya. Ibnu Katsir memiliki karya yang sangat banyak, terutama dalam bidang Hadis karena beliau terkenal sebagai pakar Hadis di zamannya. Selain Hadis, ada beberapa kitab Tafsir dan Sejarah. Di antara karya-karya beliau, Tafsir al-Quran al-Adzim, Fadhail al-Quran, Qaidah Ibnu Katsir fi al-Qiraat dan Muqadimmah fi Qiraat. Karya dalam Hadis pun lebih banyak dari tafsirnya seperti, al-Baits al-Hatsist fi Ikhtishar Ulum al-Quran, Takmil fi al-Jarh wa al-Ta’dil, Jami’ Masanid wa Sunan al-Hadi , Musnad Syaikhaini Abi Bakar wa Umar, Thabaqat al-Syafiiyah dan masih banyak karya lainnya. Adapun karyanya dalam bidang Sejarah adalah al-Bidayah wa al-Nihayah.

Ibnu Katsir memiliki pengaruh yang besar dalam bidang keilmuan di zamannya. Hampir sebagian besar memuji kepribadian Ibnu Katsir khususnya pada kitab-kitab yang telah ia tulis semasa hidupnya seperti tafsir, Hadis dan bidayah wa nihayah. Seorang gurunya, Syekh al-Dzahabi berkata, “Ibnu Katsir memiliki kualitas yang tinggi dalam ilmu Rijal, Matan, dan Fikih. Ia banyak mengembara untuk mencari ilmu lalu menuliskannya.” Ibnu Katsir menghabiskan waktunya untuk belajar, mengajar dan berkarya. Hingga di akhir hayatnya ia kehilangan kedua matanya (baca: buta) yang diperkirakan semenjak tahun 767 H, tujuh tahun sebelum ia meninggal. Tidak ada riwayat pasti yang menjelaskan penyebab Ibnu Katsir kehilangan kedua matanya, akan tetapi diperkirakan bahwa Ibnu Katsir kelelahan karena sepanjang hidupnya ia habiskan hanya untuk menuntut ilmu, mengulang pelajaran, menulis, berdiskusi dan berfatwa. Meskipun ia buta, akal pikirannya tetap mampu membagikan ilmu kepada sesama. Inilah yang membuatnya banyak dikenang banyak orang.

Ahli sejarah sepakat bahwa Ibnu Katsir meninggal di Damaskus tahun 774 H, sebagian besar menetapkan hari Kamis, bulan Sya’ban. Beliau dikuburkan di pemakaman Sufiyyah, Damaskus, di sisi makam guru yang ia hormati dan cintai, yaitu Syekh Ibnu Taimiyah.




Tidak ada komentar: