Imam Nawawi Al-Bantani, Sang Tokoh Kitab Kuning - IKPM KAIRO

Selasa, 17 Maret 2015

Imam Nawawi Al-Bantani, Sang Tokoh Kitab Kuning


Oleh : Nuansa Garini

                Lahir dengan nama Abu Abd al-Mu’ti Muhammad ibn Umar Al-Tahara Al-Jawi Al Bantani, anak kiyai haji Umar keturunan ke 12 Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Beliau dikirim oleh ayahnya ke berbagai pesantren sejak umurnya delapan tahun, pergi haji di umur lima belas tahun, kemudian belajar di Makkah selama tiga tahun sebelum kembalinya ke Indonesia guna berjihad.
              
  Sekembalinya ke Indonesia, beliau melihat kebodohan masyarakat Banten dan penjajahan Belanda atas mereka, dengan semangat  jihad patriot dan nasionalisnya yang begitu besar, beliau mulai berdakwah keliling Banten yang tentu saja meresahkan pihak Belanda, hingga akhirnya Belanda membatasi gerak-geriknya, dan beliau tidak boleh lagi berkhutbah. Dengan peneknan ini Syekh Nawawi kembali lagi ke Makkah untuk memperdalam keilmuannya.
                Diantara guru yang berpengaruh adalah Syekh Yusuf Sumbulawaini, Syekh Ahmad An-Nahrowy, Syekh Abdul Hamid Al-Daqistany, lalu ada juga Syekh-Syekh lainnya yang berpengaruh semasa ia belajar di Madinah seperti Khotib Duma Al-Hambali. Dengan bekal dan bimbingan para ulama Makkah dan Madinah, serta dari rihlah ilmiyahnya ke Mesir dan Syria inilah ia memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan kegamaan yang memadai dan kemudian menjadi pengajar di lingkungan Masjidil Haram.
                Beliau memiliki banyak  murid, mereka meiliki peran penting terrhadap Indonesia, seperti KH. Ahmad Dahlan (pelopor Muhammadiyyah), KH. Hasyim Asy’ary (pendiri NU dan Pon-Pes Tebu Ireng), KH. Arsyad Thawil (yang di buang Belanda ke Manado karena peristiwa gugur Cilegon), dan lain-lain.
                Syekh Nawawi juga giat menulis buku. Ia termasuk penulis yang melahirkan banyak karya, juga banyak menulis kitab tentang persoalan agama. Paling tidak, ada 34 karya Syekh Nawawi tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books karya Yusuf. Beberapa kalangan bahkan menyebutkan bahwa Syekh Nawawi telah menulis lebih dari 100 judul buku dari berbagai disiplin ilmu. Sebagian karya Syekh Nawawi diterbitkan di Timur Tengah. Dengan karya-karyanya ini, ia ditempatkan sebagai Sayyid Ulama Hijaz hingga kini. Selanjutnya, kitab-kitabnya itu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan di Malaysia, Filipina, Thailand, dan juga di Timur Tengah.
                Karya-karya Syekh Nawawi memang sangat berpengaruh bagi pendidikan pesantren. Sampai tahun 1990, diperkirakan terdapat 22 judul tulisan beliau yang masih dipergunakan di pesantren. Selain itu, 11 karya populer lainnya sering digunakan sebagai kajian di pesantren-pesantren. Maka dari itu beliau mendapat gelar tokoh kitab kuning.

Tidak ada komentar: