Top Ad unit 728 × 90

Home

Introduksi Tafsir Tematik


Banyak cara yang ditempuh oleh para mufasir dalam menyajikan isi atau kandungan-kandungan dan pesan-pesan dari kalam Ilahi. Tafsir tematik atau dikenal juga dengan tafsir maudhu’i adalah salah satu jenis tafsir yang diminati oleh banyak orang. Corak penafsiran ini banyak diminati oleh umat Muslim karena mudah dipahami dan dianggap sesuai dengan kebutuhan zaman.

Tafsir tematik dalam istilah Bahasa Arab disebut juga Tafsir Maudhu’i. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu tafsir dan maudhu’i. Dengan demikian untuk memahami istilah tersebut, kita harus memahami arti dari masing-masing kata.

Tafsir secara etimologi diambil dari kata (al-Fasaru) yang berarti penyingkapan dan penjelasan. Sedangkan menurut Raghib al-Ashfahani dalam bukunya al-Mufradat ia berpendapat bahwa arti dari kata tafsir yaitu menjelaskan makna-makna yang ma’qul. Kata tafsir itu mubalaghah dari al-Fasar.

Allah berfirman : ولايأتونك بمثل إلّاجئنك بلحقّ وأحسن تفسيرا
Kata tafsir di sini bermakna penjelasan dan penjabaran dari sebuah ayat.

Jika diartikan secara terminologi  tafsir adalah sebuah ilmu yang menjelaskan tentang makna ayat-ayat al-Quran serta maksud yang diinginkan oleh Allah SWT dari makna ayat tersebut sesuai dengan kemampuan manusia.

Muhammad Ali Salamah dalam bukunya Manhaj al-Furqan fi Ulum al-Quran berpendapat bahwa arti kata tafsir adalah Ilmu yang membahas tentang al-Quran ditinjau dari maknanya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah SWT, serta sesuai dengan kemampuan manusia.

Kata maudhu’i secara etimologi diambil dari kata الوضع  yang berarti meletakkan sesuatu pada sebuah tempat, bisa juga diartikan dengan berdiam diri di suatu tempat.

Sedangkan jika diartikan secara terminologi, maudhu’i berarti urusan atau perkara yang berhubungan dengan kehidupan dalam hal akidah, sosiologi atau alam semesta yang disebutkan di dalam al-Quran.
Banyak pengertian tentang tafsir tematik ini setelah ia menjadi salah satu corak ilmu tafsir, di antaranya :
1.      Penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan intelektual, sosial ataupun alam semesta dari segi al-Quran.
2.      Sebagian dari ulama mengatakan: Tafsir tematik ialah pengumpulan ayat-ayat yang berbeda surat dalam al-Quran yang mempunyai kesamaan tema entah itu dilihat dari lafadhnya ataupun dari hukumnya. Lalu penafsirannya sesuai dengan tujuan dari al-Quran.
3.      Penjelasan suatu tema dari ayat-ayat al-Quran dalam satu surat atau beberapa surat.
4.      Ilmu yang membahas tentang perkara-perkara dalam al-Quran, yang mempunyai kesamaan dalam tujuan atau makna, dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang berbeda, dengan syarat-syarat tertentu.


Sejarah dan Perkembangan Tafsir Tematik
Istilah tafsir tematik muncul pada abad ke 14 H. Di mana ketika itu tafsir tematik menjadi salah satu maddah jurusan Tafsir fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar. Namun, sebenarnya corak dan unsur-unsur tafsir  ini sudah muncul sejak zaman Nabi Muhammad SAW pada masa penurunan wahyu.

Jenis dan Metode Tafsir Tematik
Tafsir tematik mempunyai dua jenis
Pertama, tafsir tematik umum yaitu yang mempunyai kesamaan dalam tujuan bukan pada maknanya. Contohnya seperti tafsir ayat ahkam.

Kedua, tafsir tematik khusus yaitu yang mempunyai kesamaan pada tujuan ataupun makna di setiap aspek dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Contohnya seperti pembahasan tentang Yahudi di dalam al-Quran.

Adapun metode yang digunakan dalam tafsir tematik ada tiga, yaitu:

1.      Tafsir Maudhu’i Wajiz: Metode yang digunakan sebagian mufasir dengan cara mengumpulkan ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan suatu tema untuk disampaikan dalam sebuah makalah, kajian, khutbah dan lain sebagainya. Usaha yang ditempuh dalam pengaplikasian metode wajiz ini ialah pengumpulan ayat-ayat al-Quran dari berbagai surat, serta pemahaman yang jeli akan unsur-unsur tema yang diusungnya.

2.      Tafsir Maudhu’i Wasith: Metode yang dipilih oleh sebagian ulama dengan cara melihat tema yang terkandung dalam sebuah surat. Contohnya, tema akidah dalam Surat Al-Syura, atau tema dari beberapa surat dalam al-Quran. Usaha yang harus ditempuh yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan tema yang akan dibahasnya dengan melalui beberapa tahapan dan pertimbangan.

3.      Tafsir Maudhu’i Basith: metode ini dilakukan dengan cara penyelidikan dan penyerapan serta pengkalkulasian akan sebuah tema. Mufasir mengumpulkan semua ayat-ayat yang berkenaan dengan tema tersebut dengan terperinci.

Urgensitas Metode Tafsir Tematik
Seiring berkembangnya zaman dan meluasnya permasalahan-permasalahan dalam kehidupan manusia, maka hal ini tidak akan terselesaikan keculai dengan merujuk kepada tafsir tematik.

Sebagai contoh, ketika seorang Muslim ditanya tentang hal-hal baru yang berkembang di zaman sekarang seperti ilmu psikologi, sosiologi, peradaban manusia, ilmu falak dan lain sebagainya, maka ia tidak akan bisa mendatangkan ayat-ayat al-Quran yang baru.

Dengan metode tafsir tematik ini, seorang mufasir bisa memunculkan aspek baru dari sisi I’jaz al-Quran yang abadi sepanjang zaman.

Corak tafsir tematik ini sangat cocok diaplikasikan pada zaman sekarang ini. Entah ia membahas dari segi kesamaan tema dalam al-Quran ataupun dari segi kesamaan tema dalam sebuah surat.

Syubhat
Terdapat beberapa syubhat mengenai pengelompokan al-Quran menurut tema tertentu. Pertama, mereka berpendapat bahwa Allah SWT telah mengecam orang-orang yang membagi al-Quran secara berkelompok-kelompok. Dalil yang mereka gunakan ialah kalam Allah SWT dalam Surat al-Hijr ayat 90-93.
       



Kedua, pengumpulan secara tematik berarti menghilangkan penataan urutan surat yang telah ada dalam Mushaf sejak masa kodifikasi hingga sekarang.

Ketiga, perbaikan atas kuasa Allah SWT. Kalaupun Dia berkehendak, maka sudah sejak awal Dia akan membuat al-Quran sesuai dengan tema masing-masing. 

Berikut jawaban untuk membantah syubhat-syubhat di atas. Pertama, makna عضين dalam ayat yang digunakan sebagai dalil oleh kaum orientalis adalah kelompok-kelompok atau bagian-bagian. Yaitu, kaum kafir membagi-bagi al-Quran ke beberapa bagian, bagian sihir, bagian kahanah, bagian syiir dan lain sebagainya.

Sedangkan pembagian al-Quran secara tematik tidaklah seperti yang mereka sangkakan. Karena pembagian ini mengelompokkan al-Quran sesuai temanya. Contohnya, tema Tauhid, pengokohan kenabian, hari kiamat, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya pengelompokan al-Quran secara tematik itu untuk mengetahui kebenaran-kebenaran dari setiap tema. Bukanlah pembagian atau pemisahan akan makna-makna yang terkandung dalam al-Quran. Dengan demikian, syubhat yang mereka tuduhkan dengan menggunakan dalil al-Quran tidaklah benar.

Kedua, perkataan bahwasanya pengelompokan al-Quran sesuai tema berarti pemisahan akan surat-surat yang ada di dalam al-Quran dan juga penghilangan urutan-urutan yang sudah tersusun rapi di dalam mushaf adalah perkataan yang batil.

Namun, yang dimaksudkan dari al-jam’u al-Maudhu’i ini adalah untuk kepentingan sebuah analisa dan dirasah ilmiyah. Untuk menunjukkan mutiara-mutira kehidupan yang tersimpan dalam al-Quran yang sesuai dengan zaman, dan memastikan adanya I’jaz Qurani.

Hal ini seperti pembahasan mengenai tartibu al-nuzul, yang dimaksudkan untuk kepentingan pembelajaran. dan memunculkan hukum-hukum yang benar, bukanlah untuk urutan tilawah. 

Ketiga, Allah SWT telah menjadikan al-Quran sesuai dengan tema dari awal pembuatannya. Hal ini dibagi menjadi dua di dalam al-Quran:

1.      Pembagian tema dalam satu surat, yang mana tidak ada pembahasan yang sama di dalam surat lain. Contohnya, Surat al-Fiil, Quraisy, al-Lahab, al-Ikhlas, Nuh, al-Jin, al-Qadr, dan al-Qariah.

2.       Sebuah tema yang terdapat pada banyak surat. Hal ini dimaksudkan untuk pembelajaran dan mempunyai banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.
Introduksi Tafsir Tematik Reviewed by ikpm cabang kairo on 13.02.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.