Istighfar - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Istighfar


“Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah 39)

Ayat al-Maidah di atas mengambarkan betapa mulia dan penyayangnya Allah SWT kepada setiap hamba-Nya. Yaitu, barangsiapa pernah melakukan kekhilafan maka Allah SWT akan mengampuninya jika ia bertaubat dan memperbaiki diri. Salah satu bentuk taubat adalah istighfar; memohon ampun  kepada Allah SWT atas segala dosa, kesalahan, maksiat, yang dilakukan selama ini disengaja maupun tidak disengaja.

Kekhilafan itu sendiri terjadi karena besarnya hawa nafsunya manusia yang cenderung lalai dan berbuat maksiat. Ketika ia (hawa nafsu) tidak dikontrol maka selamanya manusia alam terjerumus dalam dosa. Maka ketika manusia berbuat dosa bersegeralah bertaubat dan beristighfar agar Allah SWT mengampuni dosa-dosanya.

Definisi istighfasr itu sendiri menurut Al-Raghib al-Asfahani ia adalah “Meminta (ampun) disertai ucapan dan perbuatan, bukan hanya sekedar dengan lisan semata.” Oleh karena itu Imam Ghazali pernah berkata, “Yang termasuk taubatnya pendusta adalah istighfar yang hanya di lisan saja tetapi hatinya tidak ikut serta. Karena hatinya tidak berniat untuk memohon ampun.” Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya doa yang paling utama adalah doa yang keluar dari hati yang bersungguh-sungguh dan tekun. Itulah doa yang didengar dan diijabah, walaupun doanya sedikit.” (HR. al-Hakim)

Oleh karena itu, istighafar bukanlah hanya sekedar melafalkan “Astaghfirullah”, tetapi juga disertai dengan ketundukan hati meminta ampunan pada Yang Maha Pengampun, menyesali segala dosa dalam lisan dan hati dengan penuh kesadaran dan  keikhlasan. Selalu berusaha dan memiliki tekad yang kuat agar tidak mengulangi dosa serta melakukan perbaikan dan kebijakan baik kepada Allah maupun kepada sesama.

Disamping itu, istighfar merupakan bentuk ketaatan kepada Allah sehingga dapat memudahkan rezeki dan membukakan jalan keluar dari setiap masalah dan kesulitan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan melapangkan setiap kesusahannya, memberi jalan keluar pada setiap kesukarannya dan memberinya rezeki tanpa diduga-duga.” (HR Abu Daud dan Nasai)

Ia (istighfar) juga dapat menghindarkan kita dari azab Allah. Dalam firman-Nya: “Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)  

Bagi seorang yang beriman, ia akan selalu beristighfar dalam setiap hembusan nafas, tidak menyia-nyiakan kesempatan dan mempergunakan detik demi detik untuk mendekatkan diri, memohon ampunan-Nya, mengaharapkan rahmat dan kasih sayang Allah. Istighfar juga satu cara bermunajah dan mendekatkan diri kepada Allah. Wallahu A’lam.





Tidak ada komentar:

@way2themes