Jeratan setan dan hikmah - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Jeratan setan dan hikmah


“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Fathiir: 6).  Ayatt ini dengan jelas menjelaskan kepada manusia apa hakikat setan. Dia adalah musuh manusia yang harus di hindari godaannya karena tujuan mereka tidak lain mengajak manusia bersama mereka di neraka kelak.

Namun pemahaman maksud ayat ini beberapa orang berbeda pendapat. Sebagian orang memahami bahwa ayat ini  menyuruh manusia menjadikan setan sebagai musuh dan menyibukan diri untuk memeranginya dan akhirnya melupakan kecintaan kepada Allah SWT. Sebagian yang lainnya memahami maksud ayat adalah untuk menjadikan setan sebagai musuh dan Allah SWT sebagai kekasihnya, maka dia akan menyibukan diri dengan kecintaan kepada-Nya dan memusuhi secukupnya. Memerangi musuh yang sebenarnya adalah dengan menyibukan diri dengan kecintaan kepada-Nya karena jika menyibukan diri dengan memerangi musuh maka akan kehilangan kecintaan yang sebenarnya dan musuh akan mendapat apa yang mereka mau.

Setan selalu menjadikan manusia teman baik bagi siapa yang mau “berteman” dan menghinakan diri. Mereka selalu membuat makar-makar untuk menjebak manusia walaupun sejatinya makar mereka lemah, “Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” Cara untuk menghindari godaannya dengan tawakal dan beriman sesuai dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan-Nya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.”

Manusia yang menjadi pengikut setan berarti dia menghinakan dirinya di hadapan Allah. Padahal Allah memberikan derajat yang tinggi kepada manusia. Pada saat awal diciptakan manusia pertama yaitu Nabi Adam, Allah menyuruh malaikat dan seisi langit bersujud kepada Adam termasuk setan karena dia salah satu penghuni langit. Kedudukan yang tinggi ini patutnya disyukuri dengan menjaga kehormatan agar tidak terjerumus jebakan setan dan menjadi hamba yang hina.

Tidak hanya sebatas itu saja, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya di bumi. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat “Aku akan menjadikan khalifah di bumi.” Arti khlaifah seperti yang diungkapkan zamakhsari dalam kitabnya al-Kasyaf  adalah orang yang menggantiakn posisi orang lain. maksud ayat tersebut adalah Allah akan menjadikan manusia khalifah (wakil) Nya di bumi. Hal senada pun diungkapkan Jalalain (Jalaludin al-Mahaly dan Jalaludin al-Suyuthi) dalam tafsirnya.

Disinilah setan membisikan rayuan dengan menjadikan manusia budak dunia. Membujuk manusia untuk mencintai dunia dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta. Melupakan hak dan kewajiban setiap manusia terhadap hak dan kewajiban orang lain. walaupun manusia khalifah Allah di bumi tapi dia bukan Tuhan dan tidak akan sampai pada derajat itu dan bisa berbuat sekehendak hati. Ada batasan-batasan seorang manusia dan dibatasi antara hak dan kewajiban satu dengan yang lainnya. Hendaknya seseorang menyeru kepada kebaikan, menyuruh berbuat makruf dan mencegah kemungkaran sesuai firman Allah SWT “Dan hendaklah seorang diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kepada kebajikan dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang yang beruntung.”

Beberapa kemulian yang Allah berikan kepada manusia inilah  yang membuat kedengkian setan. Ditambah sifat sombong yang ada di dalam setan membuat dia menolak bersujud kepada Adam. Penolakan tersebut yang menyebabkan Allah mengeluarkannya dari surga dan mendapat laknat-Nya. Sejak saat itulah dia berjanji akan menggoda manusia sampai hari akhir dan menjadikannya teman di neraka.

Lalu untuk apa Allah SWT menciptakan setan kalau hanya bertugas menggoda manusia? Apa tidak sebaiknya setan tidak diciptakan sehingga manusia taat kepada Allah tanpa ada yang berbuat maksiat? Kenapa Allah menciptakan sifat sombong pada diri setan yang menyebabkan dia menolak bersujud kepada Adam karena merasa dirinya yang tercipta dari api lebih mulia daripada manusia yang tercipta dari tanah?

Beberapa pertanyaan ini mungkin pernah terbersit dalam benak. Jawabannya karena Allah SWT Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah tidak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia tanpa ada hikmah di baliknya. Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran: 191


 Hanya saja manusia cepat menyimpulkan sesuatu yang mana dia tidak mengetahui apa-apa. Manusia memang dikaruniai Allah SWT akal sehat, namun Akal sehat manusia terlalu pendek untuk memikirkan ciptaan dan hikmah yang terkandung dalam ciptaan-Nya. Banyak hikmah yang manusia tidak mengetahui salah satunya sebagai contoh adalah hikmah penciptaan setan.
Beberapa hikmah yang dituturkan Athaillah dalam bukunya al-Hikam yang kemudian di syarh oleh ‘Ajibah al-Husaini:

Pertama, hakikat manusia sebagai hamba Allah adalah lemah. Sesuai dengan keimanan manusia yang bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat. Maka, ketika musuh datang yaitu setan dia akan mencari pertolongan kepada yang Maha Kuat yakni Allah SWT sehingga seorang hamba akan selalu dekan dengan Tuhannya.

Kedua, menjadikan setan sebagai hujat kepada hambanya ketika manusia mengikuti bujuk rayunya dan akhirnya terjerumus ke dalam neraka. Tidak ada yang bisa menolongnya kecuali amal yang dilakukakan dan amalnya inilah menjadi saksi.

Ketiga, keberadan setan dan tugasnya menggoda manusia diumpakan sebagai sapu tangan. Sapu tangan inilah yang menghapus kejelekan, nafsu dan kecintaan terhadap dunia bagi siapa yang mengetahui hakikat setan sebagai manusia dan menjembatani diri.


Keempat, memunculkan keistimewaan dari dalam manusia di hadapan Allah SWT karena usahanya melawan dan menghindari makarnya setan. Wallahu a’lam. 

Tidak ada komentar: