Kiat Kiat Menuntut Ilmu - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Kiat Kiat Menuntut Ilmu


Dalam perjalanan menuntut ilmu, seorang pencari ilmu tidak jarang menemui berbagai kesulitan. Adanya kesulitan tersebut, pada hakikatnya merupakan tanda bertambahnya pengetahuan. Pepatah Arab mengatakan, “Barang siapa yang tidak pernah merasakan kesulitan dalam mencari ilmu, ia berada dalam kebodohan sepanjang hidupnya.








Salah satu kesulitan yang biasa menimpa seorang pencari ilmu adalah kesukaran dalam menghafal. Diakui atau tidak, hal tersebut menghambat seorang pencari ilmu dalam menguasai sebuah ilmu. Salah satu bait syair Imam Syafi’i menyebutkan, solusi untuk menghilangkan kesulitan dalam menghafal adalah meninggalkan maksiat. Hafalan dan ilmu yang didapat, sedikit ataupun banyak, akan ternodai dengan adanya maksiat, sekalipun maksiat tersebut remeh nilainya. Oleh karena itu, tidak salah jika Imam Syafi’i mewasiatkan kepada kita untuk meninggalkan maksiat, karena hal tersebut dapat memudahkan seorang penuntut ilmu dalam menghafal.

Ilmu ibarat sebuah pisau. Semakin tajam jika terus digunakan dan akan tumpul jika dibiarkan saja. Apabila ilmu dibiarkan mengendap tanpa diamalkan, maka lambat laun ia akan hilang, sebab buah dari mengamalkan ilmu adalah lekatnya ilmu tersebut dalam ingatan seseorang.

Kemampuan setiap orang dalam menerima dan menyerap ilmu memang tidak sama. Meski demikian, hal tersebut seharusnya tidak membuat seorang penuntut ilmu terjebak dalam putus asa. Selain kuasa Allah yang memudahkan seseorang dalam mencari ilmu, banyak faktor yang mendukung untuk menguasai ilmu, bahkan dapat menguatkan hafalan.

Faktor pertama agar ilmu melekat dalam diri pencari ilmu adalah tulisan. Tulisan merupakan salah satu senjata seorang pencari ilmu, agar ilmu yang didapat tidak cepat terlupakan.  Selain itu, Syekh Hisyam Kamil dalam sebuah kesempatan menyampaikan, menjaga pandangan (ghaddu al-bashar) merupakan faktor lain yang mempengaruhi kuatnya hafalan seorang pencari ilmu. Batasan pandangan yang dimaksud seperti halnya seorang lak-laki memandang perempuan dari ujung kepala hingga ujung kaki dan sebaliknya. Lebih lanjut beliau juga menjelaskan bahwa pandangan merupakan salah satu pintu masuk tipu daya setan.

Faktor penting lainnya yang sering dilalaikan oleh seorang pencari ilmu adalah menghidupkan malam hari dengan ibadah. Dalam hal ini, jika seorang mampu membaca seratus ayat al-Quran saat bangun di malam hari, maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang taat kepada Allah (qanithin). Apabila hal ini dilakukan dengan istikamah, insya Allah seorang penuntut ilmu tidak akan menemui kesulitan berarti. Ini artinya, sebesar apapun upaya yang dilakukan, munajat kepada Allah memiliki ruang yang besar dalam setiap kemudahan yang didapat oleh seorang penuntut ilmu. Allah berfirman: “… Dan bertakwalah kepada Allah, dan Allah akan memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 282)

Beberapa hal yang telah disebutkan di atas, bukanlah faktor mutlak bagi seorang pencari ilmu untuk dapat menguatkan hafalannya atau mengurangi kesulitan dalam mencari ilmu. Faktor-faktor tersebut tidak lain hanya sebagian usaha yang dapat dilakukan oleh kita sebagai manusia dalam berikhtiar mencari ilmu. Setelah manusia berikhtiar, maka Allah SWT yang akan mengajarkan ilmu kepada hamba-Nya.

Memasuki ujian di termin ini, tidak sedikit dari kita yang memiliki masalah kesulitan dalam menghafal pelajaran ataupun menghafal al-Quran. Kiat mencari ilmu di atas, setidaknya dapat anda lakukan dalam setiap kondisi agar kita semua menjadi penuntut ilmu yang baik. Dalam edisi undur diri kali ini, IQRA menghadirkan konsep nasikh-mansukh dalam al-Quran; mengenal lebih jauh sosok Ibnu Katsir; memahami qiraat quraniyah; membaca wanita dalam syariat Islam serta bagaimana membumikan Islam dengan akhlak mulia. Semoga sukses dan selamat membaca!


Tidak ada komentar:

@way2themes