Kiprah Politisi Santri Dalam Membangun Bangsa - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Kiprah Politisi Santri Dalam Membangun Bangsa



Negri tercinta Indonesia sudah lama terpuruk ke dalam jurang multi krisis, terus menghantam sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia, seakan tak nampak lagi ujung krisi berkepanjangan ini. Terasa miris hati ini melihat kenyataan bangsa Indonesia, sektor-sektor negara dan bangsa sudah kacau balau dan sudah tidak karuan lagi., tak menentu arah tujuannya. Padahal semestinya harus jelas apa yang menjadi preoritas pembangunan bangsa dan negara. Malah justru yang terjadi sebaliknya, kepentingan golongan dan kelompok tertentu menjadi dominan dan target utama langkah perjalanannya. Sudah saatnya, untuk mengalihkan perhatian dengan dorongan hati nurani yang bersih dan ikhlas pada nation building yang kita cita-citakan.

Kenyataanya negri yang lemah dan tak berdaya, tidak membuat miris hati para pemegang kekuasaan. Mereka terus mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan yang merugikan bangsa dan Negara. Suara hati tidak lagi menjadi ukuran segala sesuatu. Keadaan ini merupakan warisan penguasa masa lalu yang rakus dengan kekuasaan, kekayaan Negara habis di lahapnya tanpa punya rsa risi kepada rakyatnya yang sedang tertimpa kesusahan mencari nafkah hidup. Hasil-hasil alam Indonesia yang melimpah  disimpan dan di bawa lari dengan alat kekuasaan, siapapun orangnya tidak ada yang berani melawan makhluk seram yang bernama penguasa pada waktu itu. Katakanlah Rezim Suharto yang telah lama berkuasa selama 32 tahun, selama itu pula menyisahkan masalah demi masalah yang tertimbun lama dan terbungkus baju kekuasaan yang sangat rapih dan dahsyat pada waktu itu. Ketika gendering reformasi di lantunkan dan menuntut adanya pergantian kekuasaan elit, maka menguaklah sisi-sisi negative negeri ini yang sangat memilukan.

Gendering reformasi tidak dapat dielakkan kemudian terjadilah peralihan kekuasaan dengan mengemban beban-beban negeri ini yang sangat berat. Perpindahan kekuasaan dari yang satu ke yang lainnya, sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa bagi bangsa Indonesia, khususnya rakyat kecil yang stok hidup hari ini dan hari esok sangtalah pas pasan, malah menambah beban kehidupan yang sudah berat dan tak kuat dipikul lagi. Rakyat kecil selalu kena getahnya dalam setiap permasalahan yang menimpa negeri kita tercinta. Kesulitan demi kesulitan terus menghimpit kehidupan rakyat kecil. Katakanlah Rezim Suharto yang telah lama berkuasa dan banyak menyisahkan penyakit-penyakit yang susah dihilangkan dalam jangka waktu yang relatif pendek.

Dengan banyak bermunculan politisi-politisi yang notabene dari golongan santri dengan gaya keagamaan yang sangat kental, lahir dari didikan pesantren yang ramai dengan nuansa keagamaan yang menyejukkan hati, memberikan benih-benih harapan bagi bangsa Indonesia yang sudah lama terpuruk dalam jurang kesengsaraan, khususnya rakyat kecil yang selalu terkena kebijakan-kebijakan penguasa yang sangat tidak berpihak pada kelangsungan hidupnya dan umumnya bangsa Indonesia dari sabang sampe merauke. Rasanya bangsa ini sudah kering dari spiritualitas keagamaan, secara tidak sadar bangsa ini sudah dan sedang di giring pada kondisi dimana agama tidak terlalu dominan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan lebih pada kebaratan dalam nation building. Maka peran politisi yang memiliki latar belakang santri sangatlah dinantikan kiprahnya di pentas nasional demi terciptanya negeri yang kuat dan kokoh serta mempunyai akhlak yang mulia.

Sudah lama negeri ini dipegang golongan nasionalis secular yang gersang dengan angina keagamaan dan lebih cenderung membawa negeri ini jauh dari jangkauan agama,bahkan menghadapkan kiblatnya kebarat. Peran agama yang semakin termarginalkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara karna ulah kepemimpinan nasional, hanya akan membawa pada kehancuran moral bangsa dan kebobrokan para elit. Ini terbukti dengan kekacauan yang semakin semrawut dan tak pernah selesai dari tingkat elit sampai bawah.karena orientasi pendidikan yang di kejar adalah kepintaran dan kejiniusan semata tanpa harus diisi dengan norma-norma keagamaan. Ini merupakan bukti kongkrit dari konsep pembangunan bangsa (nation building) yang di gelindingkan kaum nasionalis sekuler yang berkiblat pada barat. Dan di bawah kekuasaan golongan nasionalis sekuler kesenjangan ekonomi antara golongan menengah keatas dengan golongan bawah sangat mencolok kepermukaan, justru yang ada adalah hirarki ekonomi. Hal ini hanya menciptakan keadaan yang menguntungkan pada satu pihak dan kerugian di pihak lain. Terbukti dengan semakin miskin dan susahnya rakyat kecil dalam mengarungi kehidupan, kesulitan demi kesulitan terus menghimpit seakan hanya tinggal berapa nafas lagi untuk menghirup kesegaran hidup ini.

Rasanya bangsa ini merasa bosan dengan menyaksikan ulah para yang selalu mempermainkan dan nampaknya sangat sulit untuk memihak pada rakyat kecil khususnya umat islam. Umat islam yang berjumlah mayoritas di negeri ini terasa perannya sangatlah minim, sehingga termarginalisasi dari peran membangun bangsa dan tidak ikut mengarahkan pembangunan bangsa Indonesia.

Sampai saat ini kekuasaan masih di pegang kelompok nasionalis sekuler yang sebelumnya mereka sangat gencar meneriakkan pembelaamya pada rakyat kecil, ternyata sekarang cenderung menunggangi rakyat yang sudah lemah dan tidak berdaya lagi, bahkan kelihatannya nasionalisme kelompok nasionalis sekuler luntur dan runtuh karena di duga ketahuan telah bersekutu dengan antek-antek asing, sehingga kepentingan bansa dan Negara dienyahkan begitu saja demi terpenuhiny keinginan setan.

Sudah saatnya kelompok nasionalis muslim untuk tampil ke pentas nasional mentranformasi diri menjadi kekuatan penolong rakyat secara kongkrit. Apalagi dengan situasi seperti ini mengharuskan untuk cepat pada proses pemulihan krisis bangasa dan Negara. Katakanlah mereka yang disebut sebagai politisi santri seperti Nurkholid Madjid, Amien Rais, Din Syamsudin, Hidayat nurwahid, dan Gusdur. Mereka terlahirkan dari didikan pesantren yang penuh dengan nuansa keagamaan yang kental. Para tokoh-tokoh ini menempuh jalannya masing-masing dalam memperbaiki bangsa dan Negara saat ini. Ada yang melalui organisasi sosial dengan terus menajamkan kepekaan pada keadaan yang terus berkembang saat ini, ada juga yang melebur para politik praktis dengan jalan tersebut dapat langsung memperjuangkan aspirasi umat islam dan bisa mentransformasikan kekuatan muslim. Bagaimanapun bangsa Indonesia sangat mengharapkan peralihan kekuasaandan di harapkan kaum santri dapat menggantikan golongan nasionalis sekuler yang sudah dianggap gagal dalam mengemban amanat perjuangan membangun bangsa dan Negara yang berkemajuan.

Agenda pembangunan bangsa dan Negara memerlukan kerja kolektif antar sesame, menyatukan misi dan visi bersama demi terciptanya kekuatan sinergis yang dapat mengegolkan cita-cita bersama.  Dan saat ini kita dihadapkan pada suatu keadaan yang menuntut keseriusan sikap, karena itu merupakan taruhan bangsa yaitu pemilu 2004. Pada saat itulah akan terjadinya kompromi politik antar tokoh-tokoh Indonesia, menyamakan sikap dan persepsi tentang nation building.

Menjelang pemilu 2004 bukan hanya puluhan partai yang ikut kontestan, calon presidenpun ikut meramaikan perhelatan demokrasi ini. Tokoh-tokoh dari kalangan islam tak ketinggalan untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden. Kita patut bergembira dengan maraknya tokoh-tokoh islam mengajukan atau diajukan sebagai calon preside, hal itu pertanda semakin terbukanya partisipasi demokrasi, sehingga pemilu 2004 semakin meriah dan bergairah sebagai pesta demokrasi. Dalam alam demokrasi siapapun berhak untuk mencalonkan dan di calonkan. Namun ada sedikit catatan bahwa semakin banyak partai dan calon yang mengatasnamakan aspirasi umat islam hanya akan memecah suara, yang kemudian menuai kegagalan. Maka jika para tokoh islam berjalan sendiri-sendiri dan terus mengedepankan egoism, maka golongan nasionalis sekuler akan memenangkan pesta demokrasi, dan lagi lagi umat islam menuai kekalahannya untuk kesekian kalinya.

Jumlah umat islam merupakan mayoritas dari penduduk bangsa Indonesia, kekuatan-kekuatan umat islampun sangat berpengaruh di Republik tercinta ini. Kekuatan-kekuatan politikpin sama sangat potensial, kendati sangat disayangkan saluran politik umat tersebar ke berbagai partai secara melebar sehingga tidak merupakan energy politik yang menyatu dan kuat. Melihat keadaan bangsa Indonesia yang belum dewasa dalam dalam berpolitik dan berdemokrasi dan tingkat partisipasi yang masih negatif pada level bawah, serta semakin menyebarnya aspirasi politik umat islam, sehingga dikhawatirkan tidak menyatunya umat islam, maka diharapkan politisi-politisi yang notabene santri untuk menyiapkan beberapa langkah untuk menyukseskan harapan dan cita-cita bersama.

Pertama; melakukan penguatan berupa peningkatan kualitas dan perluasan gerak sehingga islam menjadi arus utama bangsa ini.

Kedua; menyatukan visi dan misi dalam mensukseskan kepemimpinan nasional dari kalangan nasionalis muslim atau santri

Ketiga; menyatukan kekuatan-kekuatan umat islam, sehingga menjadi kekuatan yang sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan Negara.
Keempat; kaitannya dengan pemilihan presiden, maka diusahakan dapat menghasilkan calon pemimpin nasional yang disepakati bersama.

Namun sesungguhnya yang sangat dikhawatirkan adalah sifat egoisme yang mungkin mucul dikalangan tokoh santri sendiri. Sikap ingin menang sendiri, ingin duduk di kursi kekuasaan sendiri adalah sangat berbahaya. Dalam kondisi Negara yang sudah semakin terpuruk, jika memang mereka mempunyai visi yang sama, yaitu memperbaiki kondisi bangsa yang sudah morat-marit, maka satu sama lain sudah selayaknya untuk saling berkerja sama. Negara adalah beban bersama yang harus di pecahkan bersama-sama pula. Negara bukanlah milik golongan tertentu, namun Negara milik semua.

Jika dalam pemilihan presiden kelak menuntut agar umat islam hanya mengajukan satu calon saja, yang mungkin dapat menyuarakan semua golongab, maka sudah selayaknya bagi mereka yang tidak mendapatkan kepercayaan untuk rela undur diri. Tidak ngotot untuk maju kedepan, terlalu berambisi untuk menjadi presiden. Karna sikap seperti ini hanya akan merugikan umat islam secara umum.

Pemilihan umum 5 tahun yang lalu dapat dijadikan cerminan dalam pemilu mendatang. Bagaimanapun sikap-sikap partai waktu itu dapat membentuk poros tengah demi mengahadang partai lain yang dianggap kurang anspiratif. Kenyataannya, kerjasama seperti ini dapat terwujud dan bahkan membuahkan hasil gemilang.

Tidak mustahil, jika mereka memiliki kepedulian besar terhadap bangsa dan Negara, mereka juga akan mampu membuat kerjasama seperti ini dimasa yang akan dating.

Bagaimanapun juga, kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Ikhlaskanlah hati ini untuk tidak menjadi pengusa. Dan jika memang kebetulan rakyat ini memberkahi kepercayaan kepadanya untuk duduk di kursi kepresidenan, atau di cabinet atau di lembaga lainya, maka janganlah kecewakan rakyat. Jadilah pemimpin santri yang baik dengan tetap membawa norma dan nilai islam. Karean kekuasaan adalah amanat Tuhan yang akan di pertanyakan kelak di akhirat.

Bagaimanapun keberadaan politisi santri dan kiprahnya di pentas nasional sangat berarti, karena itu sebagai penyeimbang antara kekuatan nasionalis sekuler dan nasionalis kaum santri.

“Dengan banyak bermunculan politisi-politisi yang notabene dari golongan santri dengan gaya keagamaan yang sangat kental, lahir dari didikan pesantren dengan nuansa keagamaan yang menyejukkan hati, akan memberikan benih benih harapan bagi bangsa Indonesia yang sudah lama terpuruk dalam jurang kesengsaraan”

Tidak ada komentar: