Mabadi’ Asasiyah li Fahmi al-Quran.” - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Mabadi’ Asasiyah li Fahmi al-Quran.”

Memahami al-Quran tidaklah dapat dilakukan seseorang tanpa ia memiliki alat. Abu al-A’la al-Maududi dalam hal ini, menulis karya  untuk membantu kita memahami al-Quran dalam karyanya “Mabadi’ Asasiyah li Fahmi al-Quran.”


Mengawali  pembahasannya, dalam bukunya  ia membedakan antara uslub wahyu dan uslub yang digunakan manusia dalam menulis. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan  maklumat penting yang harus dimiliki  seseorang sebelum memahami al-Quran, dilanjutkan dengan hakikat al-Quran sendiri hingga berakhir pada seputar perbedaan dalam menafsirkan al-Quran.

Secara umum, buku-buku yang kita baca lebih membahas pada hal tertentu sesuai dengan judulnya. Namun akan kita temukan al-Quran dengan uslub yang belum pernah digunakan dalam buku-buku. Semuanya dituangkan tidak hanya sekali akan tetapi diulang-ulang serta dengan uslub yang bermacam-macam. Untuk mendapatkan ajaran yang ada dalam al-Quran, maka kita harus mengimaninya. Hal ini berbeda dengan mereka yang tidak beriman atau mempercayai al-Quran atau mempelajarinya hanya untuk memberikan syubhat. Orang-orang seperti ini  tidak akan menemukan hakikat yang diajarkan al-Quran. Adapun hal penting yang harus dimiliki seseorang dalam memahami al-Quran ialah kita harus mengetahui dari jenis apakah kitab al-Quran itu? Bagaimanakah penurunannya? Apakah pembahasan yang ada di dalamnya? Apakah maksud atau tujuan dalam al-Quran sendiri? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya dapat dijawab dan diketahui oleh seorang yang ingin memahami al-Quran. Kesalahan mereka yang jatuh dalam syubhat tidak lain karena tidak adanya pengetahuan yang dimiliki tentang al-Quran. Tidak hanya itu, kita juga harus mengetahui hakikat al-Quran sendiri.

Dalam masalah ini Abu al-A’la al-Maududi menuliskan beberapa poin, pertama, Allah menciptakan alam dan manusia di dalamnya, memberikan akal yang dengannya manusia dapat membedakan hak dan batil, serta memberikan manusia kebebasan untuk memilih  antara keduanya. Kedua, ketika Allah telah memberikan hal tersebut, maka ketika itu pula Ia menekankan bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain-Nya. Selain itu,    Ia  pun menjadikan akhirat tujuan dalam kehidupan manusia. Barangsiapa melanggarnya ia masuk dalam ajaran yang tidak dikehendaki  Allah.

Ketiga, Allah tidak menciptakan manusia kecuali ia dapat membedakan hak dan batil, namun sebagian dari mereka tidak mengikuti ajaran yang benar. Keempat, Allah memilih seorang di antara manusia  untuk menunjukan ajaran yang sesuai dengan perintah-Nya. Kelima, diutuslah rasul di setiap umat, akan tetapi tidak semua beriman kepadanya. Di antara mereka ada yang mengimaninya dan sebaliknya. Terakhir diutuslah Nabi Muhammad guna menunjukan umat Islam pada ajaran Allah dengan al-Quran yang merupakan kitab umat Islam. Di dalamnya terdapat petunjuk Allah yang diturunkan pada Nabi Muhammad.

 Pembahasan dan  fokus al-Quran ialah manusia, tentang apakah yang menjadi sebab kebahagiaan dan kerugiannya. Al-Quran diturunkan untuk membawa manusia pada ajaran yang diinginkan Allah.

Di akhir pembahasan, Abu al-A’la Maududi  juga menuliskan metode seseorang dalam mempelajari al-Quran lebih detail baik secara global (ijmali) atau terperinci (tafsili) bagi mereka yang ingin mendalami al-Quran. Secara global, seorang yang ingin mempelajari al-Quran harus melepaskan pemikiran yang tidak berkaitan dengan al-Quran. Selain itu, ia juga harus menjernihkan pikirannya dari segala hal yang memungkinkannya jatuh dalam syubhat. Kemudian membuka akalnya dengan hati terbuka dan kesadaran akan sebuah tujuan suci, yaitu memahami al-Quran.

Dengan hal ini, seorang yang ingin memahami al-Quran harus mengulang-ulang tanpa henti dalam mempelajarinya. Tidak hanya itu, setelah seorang mempelajarinya secara global, maka ia harus mempelajari secara terperinci, dengan menetapkan dalam pikirannya setiap segi yang diajarkan al-Quran pada saat mempelajarinya.  Inti dari bagaimana kita bisa memahami al-Quran ialah bahwa seorang tidak akan dapat menemukan permata dalam al-Quran pun ruhnya selama ia tidak melakukan apa-apa yang datang dari al-Quran.  Wallahu A’lam bi al-Shawab.


Tidak ada komentar:

@way2themes