Melihat Islamofobia dengan Bijak II - IKPM KAIRO

Rabu, 04 Maret 2015

Melihat Islamofobia dengan Bijak II



Peran Umat Islam dalam Menyulut Isu Islamofobia

Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Kebenaran ajaran Islam, bukan berarti kebenaran semua tindakan pengikutnya. Jika pengikutnya bertindak sesuai ajaran, maka itu benar. Dan jika tidak sesuai ajaran, maka itu salah. Namun fenomena yang nampak di saat ini, umat Islam banyak menutup mata dari kesalahan yang ada pada tubuh umat Islam sendiri.

Habib Ali, dalam setiap pembicaraannya, sangat getol mengajak umat Islam untuk melihat kesalahan sendiri sebelum melihat kesalahan orang lain, atau yang sering ia sebut dengan “naqd al-dzat” . Terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam. Kesalahan-kesalahan ini, menurutnya,  ikut andil dalam munculnya film ini. Ditambah lagi, kesalahan mereka dalam merespon kemunculan film tersebut.

Salah satu kesalahan umat Islam yang dianggap ikut andil dalam munculnya film ini adalah tindakan beberapa oknum dalam umat  Islam yang radikal. Ketika disalahkan, mereka selalu bersandar pada teks-teks agama yang seakan-akan membenarkan tindakan mereka. Ini akibat dari interpretasi prematur terhadap al-Quran, bahkan tanpa merujuk ke hasil interpretasi para ulama terlebih dahulu.

Selain itu, muncul beberapa orang yang tampil di depan publik berbicara tentang ajaran Islam tanpa ilmu
yang memadai. Akibatnya, mereka memberikan pemahaman yang salah terhadap masyarakat. Khairi Ramadhan, presenter acara, “Mumkin” menceritakan pengalamannya, bagaimana ia kaget ketika mendengar seorang yang berlagak syekh, di salah satu stasiun televisi, mengatakan bahwa pernikahan Nabi SAW  dengan sembilan wanita adalah bukti atas kejantanannya.

Kurangnya umat Islam dalam mengenal Rasulullah SAW dan juga dalam mengenalkannya pada dunia, merupakan kesalahan yang paling tidak disadari oleh umat Islam, sehingga banyak orang yang mengenal Rasulullah SAW dari sumber yang salah.

Salah satu penyebab terbesar dari kesalahan ini semua adalah munculnya oknum-oknum ditengah masyarakat, yang mengenakan jubah ilmu tanpa menyelami lautan ilmu sebelumnya, sehingga pergerakannya akan menimbulkan fitnah yang besar dalam masyarakat. Imam Syaf’i berkata, “Lau sakata man lâ ya’lam, laqalla al-Khilaf” (Jika orang yang tidak mengetahui itu diam, maka hanya akan ada perselisihan). Maka jangan heran jika banyak orang Baratsalah dalam memahami Islam.

Setelah munculnya film tersebut, lagi-lagi banyak  umat Islam yang kurang bijak dalam menyikapi pelecehan tersebut. Sebagaimana yang terjadi di Libya, Mesir, Yaman dan beberapa negara lain, umat Islam menyerang kantor kedutaan Amerika. Bahkan di Libya, sampai menelan 3 korban, salah satunya adalah Dubes AS di negara tersebut. Mengingatkan kesemena-menaan ini, Grand Syekh Azhar, Ahmad Thayyib menghimbau, agar umat Islam tidak menyakiti orang-orang yang tak berdosa atas munculnya film ini.

Di Mesir, seorang tokoh yang menisbatkan dirinya pada paham salaf muncul di televisi dan menyobek-nyobek kitab Injil. Sunah Nabi mana yang mengajarkan demikian? Sikap mereka, seakan-akan membenarkan tuduhan-tuduhan orang kafir. Habib Ali mengatakan, “Ketika para pelukis kartun itu menggambar sosok Nabi dengan bom di atas kepalanya, kemudian setelah itu umat Islam marah dengan melemparkan bom ke kedutaan, seakan-akan mereka mengiyakan tuduhan itu.” Dalam artian, tindakan mereka itu, secara tidak langsung membenarkan isi kartun tersebut.

Tidak ada komentar: