Top Ad unit 728 × 90

Home

Melihat Islamofobia dengan Bijak III


Sikap yang Seharusnya dikedepankan oleh Umat Islam

Ketika ditanya tentang perasaannya saat muncul film ini, Habib Ali mengatakan, “Yang ada  saya ketika film ini muncul adalah, jika Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali RA masih hidup sekarang, apa yang akan mereka lakukan?”

Habib Ali mengingatkan seluruh umat Islam agar mengingat kembali apakah hakikat pengutusan Rasulullah SAW? Hakikat pengutusan Rasulullah SAW adalah sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan hanya rahmat bagi orang Muslim, dan juga bukan hanya rahmat bagi orang-orang baik. Tetapi Islam adalah rahmat bagi semesta alam, termasuk mukmin dan kafir; orang baik dan jahat; makhluk hidup dan mati, karena alam selalu didefinisikan oleh para ulama sebagai segala sesuatu yang wujud selain Allah. Oleh sebab itu, sikap kita harus mencerminkan sifat rahmat tersebut.

Sebagaimana telah jamak diketahui, Rasulullah SAW semasa hidupnya mengalami berbagai macam serangan kebencian. Namun perlu diperhatikan bahwa sikap beliau SAW tidak sama pada setiap peristiwa. Meskipun demikian, keseluruhannya merupakan manifestasi dari rahmatan lil ‘alamin. Bagaimanakah sikap kita seharusnya?

Al-Quran dan Hadis merupakan sumber hukum dalam Islam. Keduanya merupakan pedoman hidup setiap
Muslim. Ketika ingin bertindak, seorang Muslim seharusnya melihat dahulu apa yang al-Quran dan Sunah ajarkan. Dalam menghadapi serangan kebencian, al-Quran dan Sunah pun sudah memberikan manhaj yang sahih dalam bersikap.

Mufti Bosnia, Musthafa Ceric, mengingatkan bahwa Allah SWT telah mengajarkan kita untuk membalas dengan cara terbaik:

و لا تستوى الحسنة و لا السيئة، ادفع بالتى هى أحسن، فإذا الذي بينك و بينه  عداوة كأنه ولى حميم (فصلت:
34)

34. dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.


Dr. Usamah, seorang dosen fakultas hadis di Universitas al-Azhar, mengajak umat Islam untuk mentadabburi surat al-Anfal. Jika kita mentadabburinya, seakan-akan al-Quran sedang membicarakan peristiwa yang saat ini sedang terjadi. Allah SWT berfirman dalam surat al-Anfal:

و إذ يمكر بك الذين كفروا ليثبتوك أو يقتلوك أو يخرجوك و يمكرون و يمكر الله و الله خير الماكرين. و إذا تتلى عليهم ءاياتنا قالوا قد سمعنا لو نشاء لقلنا مثل هذا إن هذا إلا أساطير الأولين. و إذ قالوا اللهم إن كان هذا هو الحق من عندك فأمطر علينا حجارة من السماء أو ائتنا بعذاب أليم (الأنفال: 30-32)

30. Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

31. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya Kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau Kami menghendaki niscaya Kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala".

32. Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, adalah benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada Kami azab yang pedih".

Ayat pertama dari ketiga ayat di atas, mengisyaratkan serangan kebencian terhadap Rasulullah SAW. Ayat kedua, menggambarkan sikap orang-orang kafir yang melecehkan wahyu. Sedangkan pada ayat ketiga, mereka melecehkan Allah SWT, dengan menantang-Nya untuk menurunkan adzab. Dari sini dapat kita lihat bahwa pelecehan, penghinaan, atau serangan kebencian terhadap simbol-simbol sakral sudah terjadi sejak awal munculnya Islam dan al-Quran pun merekamnya.

Setelah tiga ayat di atas, ayat selanjutnya memaparkan hakekat keadaan orang-orang kafir tersebut. Kemudian diikuti dengan perintah untuk memerangi mereka, ketika tindakan mereka itu menimbulkan fitnah, lalu dilanjutkan dengan menjelaskan sistem pembagian harta rampasan perang, jika terjadi peperangan.

Hingga QS. Al-Anfal: 45, al-Quran mulai menjelaskan bagaimana sikap umat Islam seharusnya dalam menghadapi serangan kebencian ini. Allah SWT berfirman:

يا أيها الذين ءامنوا إذا لقيتم فئة فاثبتوا و اذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون. و أطيعوا الله و رسوله ولا تنازعوا فتفشلوا و تذهب ريحكم، و اصبروا، إن الله مع الصابرين. و لا تكونوا كالذين خرجوا من ديارهم بطرا و رئاء الناس و يصدون عن سبيل الله، و الله بما يعملون محيط (الأنفال:45-47)

45. Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya[620] agar kamu beruntung.

46. dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.


47. dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.


[620] Maksudnya ialah: memperbanyak zikir dan doa.

Dr. Usamah lebih lanjut menjelaskan bahwa tiga ayat di atas mengisyaratkan 6 langkah yang harus umat Islam lakukan ketika terjadi serangan kebencian. Allah SWT berfirman: “Wa Idzâ laqîtum fi`atan” yaitu apabila kalian, umat Islam, bertemu dengan sekelompok orang yang melakukan serangan kebencian, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah “Fatsbutû!”  berteguh hatilah, dengan menahan amarah, yang akan membuat sikap kita tidak terkontrol, atau  tahanlah diri kalian untuk melakukan tindakan dalam keadaan tidak dapat berpikir jernih, sehingga salah dalam bertindak.
Langkah yang kedua, “wa-dzkurû Allah katsîran la’allakum tuflihûn”. Sebarkanlah sifat rabbaniyah dalam masyarakat, dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sembari mencari ilham di balik maqâshid syari’ah dalam merespon serangan ini.

Langkah ketiga, “wa athî’u Allah wa al-rasûl”. Menghentikan semua tindakan yang bertentangan dengan syariat. Keempat, “wa lâ tanâza’u fa tafsyalû wa tadzhaba rihukum”. Jangan berpecah belah dan saling menyalahkan. Kelima, “wa-shbirû! Inna Allah ma’a al-shâbirîn”. Bersabarlah! Semua ini membutuhkan kesabaran.

Dan yang keenam, “wa lâ takûnû kal-ladzîna kharajû min diyârihim batharan wa ri`â`a al-nâs”. Janganlah terpengaruh dengan cara mereka membenci kita, Dengan menyerang orang-orang yang tidak berdosa dengan niat sombong, atau ingin menunjukkan kekuatan. Karena hal itu bukanlah akhlaq seorang muslim.

Selain al-Quran, dalam Sunah Rasulullah SAW telah memberikan berbagai contoh dalam merespon serangan kebencian. Rasulullah SAW adalah orang yang paling banyak mendapat serangan kebencian dari Ahli Kitab maupun kafir Quraisy. Dengan berbagai macam serangan kebencian tersebut, Rasulullah SAW mempunyai sikap yang berbeda pada setiap peristiwa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah, para kafir Quraisy seringkali menghina dan melaknat Rasulullah SAW dengan menjulukinya sebagai mudzammam (yang dicela-cela). Geram dengan perbuatan mereka, para Sahabat pun protes atas sikap Nabi SAW yang acuh, dan para Sahabat sangat ingin membalas. Namun beliau menjawab, “Apakah kalian tidak kagum bagaimana Allah menghindarkanku dari celaan dan laknat mereka? Sesungguhnya mereka mencela dan melaknat mudzammam, sedangkan aku adalah Muhammad (yang dipuji-puji).” Pada peristiwa ini, Rasulullah SAW mengacuhkan hinaan mereka.

Di kesempatan lain, Beliau SAW menjawab seperlunya hinaan tersebut. Diriwayatkan dalam Musnad al-Humaidy dari Aisyah RA, suatu hari datang beberapa orang Yahudi kepada Rasulullah SAW sambil mengucapkan, “al-Sâmu ‘alaika ya Aba al-Qâsim! (Semoga kematian menimpamu, wahai Abu Qasim!).” beliau pun dengan tenang menjawab“wa ‘alaikum" (dan semoga bagimu juga demikian).” Aisyah RA yang ketika itu berada di samping beliau SAW, tidak terima dengan hal itu, ia pun menjawab “wa ‘alaika al-sâm wa al-la’nah" (dan semoga kau teracuni dan terlaknat).” Tidak setuju dengan respon Aisyah RA, Rasulullah SAW menegurnya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal.” Heran dengan sikap Rasulullah SAW, Aisyah RA pun berkata, “Apakah engkau tak mendengar apa yang mereka katakan, wahai Rasulullah? Mereka mengatakan ‘semoga kau teracuni’” Rasulullah SAW menjawab, “Dan aku sudah menjawab ‘dan semoga bagimu juga demikian’” . mengomentari hadis ini, Dr. Usamah mengatakan, di sini Rasulullah SAW ingin menunjukkan, bahwa Beliau SAW menyadari apa yang mereka katakan, dan mampu untuk menjawabnya.

Dalam Mu’jam Kabir karya Thabrani, diriwayatkan kisah masuk Islamnya Zaid bin Su’nah, yang diriwayatkan oleh Zaid sendiri. Zaid bin Su’ah adalah salah satu ulama Yahudi saat itu. Suatu hari ia melihat seorang badui mengendarai keledai datang kepada Rasulullah SAW melaporkan keadaan kaumnya, ia mengajak kaumnya untuk masuk Islam dengan menjanjikan kepada mereka, bahwa mereka terselamatkan dari kafakiran. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, kaumnya terkena kafakiran. Akhirnya, orang badui itu takut jika Nabi SAW tidak segera menolong mereka, mereka akan keluar dari Islam karena tamak, sebagaimana mereka masuk islam karena tamak. Mendengar ini, Zaid pun mendatangi Rasulullah SAW, menawarkan untuk meminjamkan uang kepada Rasulullah SAW, untuk membantu kaum badui tersebut. Dengan jaminan beberapa karung kurma dan dalam batas waktu tertentu. Karena terpaksa, Nabi SAW pun menerimanya.

Dua hari sebelum waktu pembayaran, Zaid mendatangi Nabi SAW dihadapan para sahabatnya. Ia datang, dan tiba-tiba menarik kerah baju Rasulullah SAW sembari berkata, “Kembalikan hak ku, hai Muhammad!” lalu menghina Nabi SAW dan kabilahnya. Zaid kemudian melirik ke arah Umar RA, ia melihat di wajah Umar RA kemarahan yang tak tertahankan. Umar berakata, “Wahai musuh Allah, bagaimana kau melakukan hal ini kepada Rasulullah SAW? Demi Allah, Jika bukan karena segan dengan orang yang dihadapanmu, maka aku telah memenggal kepalamu.” Lalu Nabi SAW melihat kepada Umar dengan tenang dan tersenyum berkata, “Wahai Umar, aku dan dia lebih membutuhkan dari selain itu. Tidakkah kau menyuruhku untuk membayar hutangnya dengan baik dan menyuruhnya untuk meminta haknya dengan baik pula? Pergilah wahai Umar dengannya! Bayarlah hutangnya dan tambahkan baginya 2 sha’ kurma.” Pada peristiwa ini beliau SAW merespon kebencian dengan kebaikan.

Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menghukum orang yang mencelanya dengan membunuhnya, Ka’b bin Asyraf. Mengomentari hadis ini, Habib Ali mengatakan, bahwa yang memperhatikan sejarah akan mengetahui, sesungguhnya Ka’b telah menghina Nabi SAW sejak lama, dan nabi membiarkannya. Hanya saja saat itu ia menghina Nabi SAW dan mulai bergerak mengumpulkan pasukan untuk mengadakan penyerangan. Komentar ini sesuai dengan yang diisyaratkan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah. Sikap Nabi SAW di sini masih tetap menunjukkan ke-rahamatan lil ‘alamin-annya. Karena jika Rasulullah SAW membiarkannya dan terjadi peperangan, maka akan memakan banyak korban. Ini sesuai dengan kaedah irtikâb akhaffu al-dhararain (melakukan bahaya terkecil).

Imam Muslim dan Nasa`i meriwayatkan, bahwa beliau memnyuruh Ibnu Rawahah dan Hassan bin Tsabit untuk membalasnya. Sebagaimana yang terjadi, ketika orang-orang kafir Quraisy bersyair menghina Rasulullah SAW. Habib Ali mengatakan, bahwa syi’ir pada zaman itu bagaikan stasiun  televisi pada zaman sekarang. Penghinaan yang ditujukan kepada Rasulullah SAW disini, dapat merusak reputasi dakwahnya. Maka diperlukan adanya counter untuk mencegah hal itu.

Dengan demikian, Rasulullah SAW tidak pernah menggenalisir sikapnya dalam menghadapi serangan kebencian. Semuanya beliau SAW hadapi sesuai dengan maslahat dan kebutuhan. Perbedaan sikap ini mengajak kita untuk jeli melihat sebab di balik setiap sikap. Rasulullah SAW acuh, ketika hinaan itu tidak ada pengaruh bagi dirinya dan dakwahnya. Rasulullah SAW menjawab secukupnya, ketika ingin menunjukkan bahwa beliau SAW menyadari apa yang mereka katakan dan mampu untuk menjawabnya. Rasulullah SAW membalas serangan kebencian itu dengan sentuhan cinta, ketika hal itu dapat menggerakkan hati mereka. Rasulullah SAW menghukum, ketika hinaan ini menyebabkan kepada banyaknya korban yang akan berjatuhan. Rasulullah SAW me-counter untuk menghindari pencemaran nama baik.

Mufti Bosnia, Musthafa Ceric,  juga menghimbau, agar umat Islam tidak melupakan asal dari kata iman, Islam, dan ihsan dalam hadis Jibril. Islam adalah agama penebar “al-amn” atau rasa aman, yaitu manifestasi dari kata “iman”. Islam mencintai “al-salâm” atau perdamaian, sebagai manifestasi dari kata “Islam”. Islam senantiasa menyebarkan “al-hasan”atau kebaikan, sebagai manifestasi dari kata “ihsan”. Jika makna dari 3 kata ini tidak termanifestasikan dalam sikap umat Islam, maka secara tidak langsung, umat Islam telah mendustakan ajaran agamanya sendiri.

Dari peristiwa ini, hikmah yang dapat kita ambil adalah, bahwa kontinuitas serangan kebencian ini menambah keyakinan kita akan kebenaran agama ini. al-Quran sejak 14 abad yang lalu telah mengabarkan akan adanya kontinuitas ini.

Semakin sering Islam dihina, maka akan semakin banyak orang yang ingin tahu hakekat Islam. Inilah yang banyak membawa orang-orang Barat berbondong-bondong masuk Islam.

Peristiwa ini juga mengingatkan kita, agar lebih mengenal Rasulullah SAW, serta lebih gencar dalam mengenalkannya kepada seluruh manusia. Sehingga hinaan-hinaan yang muncul setelahnya, dapat dijawab oleh orang Barat sendiri. Wallahu a’lam.[]
Melihat Islamofobia dengan Bijak III Reviewed by Mas Anam on 13.55.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.