Memahami Kaidah Qiraat Quraniyah - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Memahami Kaidah Qiraat Quraniyah

Turunnya al-Quran dalam tujuh huruf merupakan kemudahan bagi umat Islam dalam membaca al-Quran. Perbedaan dialek dari setiap bangsa Arab menjadikan bacaan al-Quran setiap kaum berbeda sesuai dengan apa yang mereka dapatkan dari para Sahabat. Pembacaan al-Quran seperti inilah yang biasa disebut qiraat. Hal ini telah dipelajari oleh umat Islam setelahnya hingga qiraat menjadi sebuah disiplin ilmu.



Qiraat secara etimologis merupakan bentuk jamak dari al-Qiraah yang berarti bacaan. Sedangkan secara terminologis qiraat merupakan sebuah ilmu untuk mengetahui cara pelafalan kalimat al-Quran serta perbedaan di dalam bacaannya yang dinisbatkan kepada penukil qiraat tersebut.

Al-Quran dan qiraat merupakan dua entitas berbeda yang memiliki kaitan erat. Al-Quran adalah wahyu yang turun kepada Rasulullah, sedangkan qiraat ialah perbedaan dalam melafalkan al-Quran dan cara membacanya. Lebih dari itu, dalam qiraat juga disyaratkan adanya talaqqi dan musyafahah dengan para syekh, sehingga sanad yang bersambung sampai Rasulullah tidak terputus.

Hukum mengikuti qiraat adalah sunah mutaba’ah, sedangkan kiyas di dalamnya batil. Diterimanya sebuah qiraat berdasarkan pada atsar, dengan tidak ada penambahan ataupun campur tangan dari siapapun dalam qiraat ini. Selain itu, tidak ada kiyas dalam qiraat, karena qiraat bertumpu pada penukilan riwayat yang mutawatir. Dengan demikian, kiyas dalam qiraat batil dan kita tidak dapat mengiaskan satu bacaan dengan bacaan lainnya.

Ketentuan-ketentuan dalam Qiraat
Para ulama memberikan syarat-syarat khusus dalam qiraat. Syarat inilah yang menjadi batasan mutawatir dari para qurra’. Ibnu al-Jazari dalam “al-Nasyr fi al-Qiraat al-Asyr” menyebutkan tiga syarat dalam hal ini. Pertama, setiap qiraat harus sesuai dengan bahasa Arab walaupun dalam satu segi. Kedua, harus sesuai dengan salah satu Mushaf Utsmani walaupun memiliki berbagai kemungkinan, dan tentunya harus memiliki sanad mutawatir dari Rasulullah SAW.

Maksud dari syarat pertama, sesuai dengan bahasa Arab, qiraat tersebut harus sesuai dengan kaidah Nahwu baik fasih ataupun yang lebih fasih, yaitu disepakatinya kaidah tersebut sekalipun terdapat perbedaan di dalamnya. Adapun maksud dari syarat kedua, bukan mushaf yang telah dimusnahkan pada masa Ustman bin Affan, melainkan sesuai dengan salah satu mushaf yang telah disebarkan ke berbagai wilayah Islam ketika itu.

Kedua persyaratan tersebut belum bisa diterima jika sanad dalam qiraat tersebut tidak mutawatir. Ibnu Jazari berpendapat, sanad merupakan hal terpenting dalam qiraat. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa qiraat syadz lahir dari ketiadaan mutawatir dalam penukilan riwayat, sekalipun qiraat tersebut menggunakan bahasa yang lebih fasih dan makna yang kuat.

Adapun jika dilihat dari segi sanad, terdapat enam macam periwayatan dalam qiraat. Pertama, mutawatir, yaitu riwayat yang diriwayatkan oleh sekumpulan para rawi dan tidak mungkin sepakat untuk berbohong di dalamnya. Kedua, masyhur, yakni riwayat sahih yang diriwayatkan oleh para rawi, sesuai dengan rasm Utsmani dan kaidah bahasa Arab, akan tetapi riwayat ini tidak mencapai derajat mutawatir karena tidak diriwayatkan oleh banyak rawi.

Ketiga, ahad, yaitu riwayat yang memiliki sanad sahih akan tetapi tidak sesuai dengan rasm Utsmani dan kaidah bahasa Arab. Dalam arti lain, riwayat ini tidak masyhur dan tidak mutawatir. Keempat, syadz, yaitu riwayat yang tidak sahih sanadnya. Kelima, maudhu’, yaitu hadis palsu atau menisbatkan hadis bukan kepada perawi aslinya. Keenam, syabih bi al-mudraj yaitu memberikan penambahan dengan penafsiran ayat pada riwayat tersebut. 

Dari berbagai macam riwayat ini, tidak ada perbedaan pendapat dari para ulama, bahwasanya al-Quran harus memiliki
sanad yang mutawatir. Al-Quran merupakan mukjizat yang menjadi pondasi umat Islam. Oleh karena itu, sanad yang tidak mutawatir tidak dapat dikatakan sebagai al-Quran. walaupun terdapat perbedaan pendapat dari para ulama mengenai makna mutawatir dalam al-Quran itu sendiri.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, salah satu dari macam-macam qiraat dilihat dari segi sanadnya yaitu syadz. Secara bahasa, syadz berasal dari kata syadza-yasyudzu, sedangkan secara istilah, Sya’ban Muhammad Ismail dalam buku “al-Qiraat Ahkamuha wa Mashdaruha” menjelaskan, qiraat syadz adalah qiraat yang tidak memenuhi tiga rukun qiraat.

 Dengan pengertian seperti ini, dapat dipahami bahwa qiraat selain mutawatir termasuk qiraat syadz. Di sisi lain, sebagian ulama mengatakan bahwa qiraat tidak harus mutawatir, melainkan cukup dengan riwayat sahih masyhur disertai dua syarat lainnya. Pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama lainnya, salah satunya Musa Syahin Lasyin dalam bukunya “Al-La’ali al-Hisan fi Ulum al-Quran.” Dalam pandangannya, riwayat sahih masyhur tidak mencukupi syarat qiraat yang diterima.

Dalam hal ini, Sya’ban Muhammad Ismail menjelaskan bahwa syarat diterimanya qiraat dengan sanad mutawatir merupakan pendapat jumhur ulama dari para Ushuliyyin; Fuqaha; Muhadditsin dan Qurra, sedangkan pendapat yang mengatakan diterimanya qiraat dengan sanad sahih masyhur merupakan pendapat yang lemah, sebab menyamakan al-Quran dan selain al-Quran. Hal ini sesuai dengan definisi al-Quran yang telah disepakati ulama, yaitu kalam Allah yang dinukil secara mutawatir. Dengan demikian, bacaan apapun dalam al-Quran, jika tidak dinukil secara mutawatir, tidak bisa disebut al-Quran.

Selanjutnya, jika dilihat dari diterima atau tidaknya qiraat, terdapat tiga karakteristik qiraat. Pertama, qiraat yang diterima bacaannya seperti qiraat yang dibaca saat ini, yaitu qiraat yang memiliki sanad mutawatir, sesuai dengan rasm Utsmani dan kaidah bahasa Arab. Kedua, qiraat yang diambil dengan sanad ahad, sesuai dengan kaidah bahasa Arab tetapi lafalnya berbeda dengan rasm Utsmani. Qiraat ini diterima dengan syarat tidak boleh membaca al-Quran dengan qiraat ini, karena pengambilan qiraat dengan riwayat ahad tidak bisa dijadikan sandaran.

Ketiga, qiraat yang dinukil dengan riwayat tsiqah ataupun tidak dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, maka tidak diterima walaupun sesuai dengan rasms Utsmani. Qiraat yang kehilangan salah satu rukunnya, yaitu tidak mutawatir, tidak sesuai dengan rasm Utsmani serta tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab disebut qiraat syadz. Qiraat seperti ini tidak boleh dibaca dan tidak bisa dikatakan al-Quran.
Lebih lanjut, perbedaan qiraat juga mengakibatkan perbedaan pendapat dalam pengambilan suatu hukum. Imam Haramain mengatakan qiraat syadz tidak boleh dipakai seperti halnya pendapat Imam Syafi'i. Perkataan ini diikuti oleh Abu Nasr al-Qusyairi, dan Ibnu al-Hajib.

Sedangkan Abu Thib, Husain, Ruwayani dan Rafi'i membolehkan penggunaan qiraat syadz. Para ulama tersebut memperkuat pendapatnya dengan perkataan Imam Abu Hanifah yang membolehkan penggunaan qiraat Ibnu Mas’ud dalam pengambilan suatu hukum. Adapun Imam Nawawi berpendapat bahwa hukum membaca qiraat syadz baik dalam salat ataupun lainnya tidak boleh. Para ulama menyetujui hal ini dan mengatakan bahwa qiraat syadz bukanlah al-Quran.

Adanya perbedaan dalam qiraat tidak terlepas dari faktor-faktor yang menyebabkan munculnya berbagai qiraat dalam al-Quran. Di antara sebab tersebut: pertama, kembali pada para Sahabat yang berbeda dalam membacakan al-Quran, berdasarkan apa yang telah Rasulullah SAW bacakan kepada mereka. Kedua, kembali ke Mushaf Utsmani yang disebar ke berbagai wilayah. Ketiga, ketika pengumpulan al-Quran pada masa Utsman, tidak sempurna mendapat kesepakatan dari seluruh Sahabat, akan tetapi masih terjadi perbedaan dalam kemutawatiran riwayat dari al-Quran. Keempat, tulisan (khat) Arab pada setiap mushaf yang disebar juga menjadi salah satu faktor perbedaan qiraat dalam al-Quran.

Dari seluruh faktor ini, hal mendasar yang menjadi penyebab perbedaan qiraat kembali pada definisi tujuh huruf (sab’atu ahruf). Adanya perbedaan dalam qiraat al-Quran bukan merupakan perbedaan tadhad akan tetapi perbedaan tanawwu'. Dengan demikian, perbedaan yang ada tidak mengubah al-Quran seperti yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW. Tujuh huruf yang terdapat dalam al-Quran mencakup berbagai qiraat dengan sanad yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

Munculnya beragam qiraat juga tidak terlepas dari para Qurra dengan talaqqi dan musyafahah yang mereka lakukan dengan para Sahabat. Para Qurra inilah yang mempelajari qiraat al-Quran dan kemudian membacakan berbagai qiraatnya kepada umat Islam setelahnya.

Telah disepakati oleh para ulama bahwa qiraat yang dibacakan oleh tujuh imam merupakan qiraat mutawatir. Ketujuh imam tersebut yaitu Nafi' al-Madani; Ibnu Katsir al-Makki; Abu Amru bin Ala al-Bashri; Abdullah bin Amru al-Syami; Ashim bin al-Najud al-Kufi; Hamzah al-Kufi; dan Kisai al-Kufi. Adanya qiraat beserta beragam metodenya tidak terlepas dari para qurra’ yang melakukan musyafahah dengan para Sahabat. Para qurra’ ini kemudian membacakan kepada generasi setelahnya hingga sampai kepada umat Islam saat ini. Wallahu A’lam.




Tidak ada komentar: