Menjaga Lisan - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Menjaga Lisan


Salah satu kenikmatan Allah SWT yang tak terhingga adalah lisan. Dengannya kita dapat berbicara, makan dan minum. Meskipun lisan merupakan anggota badan manusia yang cukup kecil jika dibandingkan anggota badan lainnya. Akan tetapi, ia dapat menyebabkan pemiliknya dimasukkan ke surga atau sebaliknya dilemparkan ke dalam api neraka. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita sebagai seorang muslim memperhatikan apa yang hendak diucapkan dari lisan kita, karena bisa jadi perkataan yang kita anggap ringan dan sepele namun ternyata hal itu merupakan sesuatu yang mendatangkan murka Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya, dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Ada sebuah pepatah Arab mengatakan:“Tergelincirnya kaki itu lebih baik dari pada tergelincirnya lisan.” Dari pepatah tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa lisan sangatlah berbahaya jika kita tidak benar-benar menjaganya. Sebab dengan lisan apa saja bisa berubah, yang dahulunya teman bisa menjadi musuh, yang dahulunya baik bisa menjadi buruk. Ambil saja contoh dari sebuah pertemanan, ada tiga orang  anak laki-laki mereka sangat akrab sekali menganggapnya mereka bukan hanya teman biasa. Mereka bagai sahabat yang tidak terpisahkan karena mereka dahulu selalu bersama dari kecil hingga dewasa. Akan tetapi suatu ketika persahabatan mereka terputus dan berubah menjadi musuh. Hal ini disebabkan mereka tidak bisa menjaga lisan mereka, saling tuduh menuduh, menjelekkan satu sama yang lain sampai menyakiti hati yang lain.

Menjaga lisan sangatlah penting bagi kehidupan kita supaya tidak terjadi salah faham dan menyakiti hati orang lain. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat al-Isra ayat 36 yang berbunyi:“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” Ayat di atas menjelaskan bahwa janganlah kamu katakan aku melihat padahal kamu tidak melihat, jangan pula katakan aku mendengar sedang kamu tidak mendengar, jangan pula katakan aku tahu sedang kamu tidak mengetahui, karena sesungguhnya Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas semua hal tersebut, begitu juga  apa yang kita bicarakan dengan lisan kita sendiri.

Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara kita untuk menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain yaitu dengan mengatakan perkataan yang baik atau jika tidak, maka diam adalah lebih baik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan


 yang baik atau jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitulah cara Rasulullah mengajarkan, jika kita hendak berkata maka berpikirlah terlebih dahulu. Apabila tampak adalah kebaikan maka ucapkanlah perkataan tersebut, namun jika yang tampak adalah keburukan atau bahkan kita ragu-ragu, maka tahanlah diri kita dari mengucapkan perkataan tersebut. Kemudian Rasulullah juga mengingatkan kita dalam sabdanya: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Al-Tirmidzi). Oleh karena itu, termasuk di antara baiknya Islam seseorang adalah ketika ia menjaga lisannya dan meninggalkan perkataan-perkataan yang tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya atau bahkan perkataan yang dapat mendatangkan bahaya bagi dirinya. 

Adapun salah satu bahaya besar jika kita tidak menjaga lisan adalah menyebabkan pelakunya dimasukkan ke dalam api neraka, meskipun itu hanya perkataan yang dianggap sepele oleh pelakunya. Begitu juga bahwa perkara yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk neraka adalah perkataan yang keluar dari lisannya. Hal yang termasuk maksiat dalam perkataan yang perlu kita hindari seperti perkataan yang mengandung kesyirikan, persaksian palsu, menuduh berzina, perkataan dusta, ghibah dan adu domba. 

Sebagaimana telah di jelaskan sebagian di atas. Kemudian yang akan kita dapatkan dalam menjaga lisan adalah surga. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara  kedua rahangnya lisan dan apa yang ada di antara kedua kakinya kemaluan aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari) Dari Hadis tersebut, kita sebagai seorang Muslim sudah selayaknya menjaga lisan kita dari hal-hal yang membahayakan agar mendapat rida Allah SWT.

Manusia adalah apa yang diucapkannya. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya berucap dengan sopan. Selain utuk menjaga perasaan sesamanya, kata-kata adalah cermin hati seseorang. Dari kata-kata, yang diucapkan atau ditulis, kita bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh orang tersebut. Kalimat-kalimat yang mengekspresikan kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, ketegaran dan lainnya menunjukkan si pengucap atu penulis sedang dalam kondisi tersebut. Lebih dari itu, melalui kata-kata, kita juga bisa menilai dan memahami kepribadian orang yang menuturkan kalimat tersebut.

Melalui tulisan singkat ini, kita sudah mengetahui manfaat menjaga lisan serta akibatnya. Dengan demikian,  kita harus berpikir terlabih dahulu atau menyaring perkataan kita sebelum kita mengucapkannya, apakah perkataan tersebut mendapatkan rida Allah SWT atau malah mendapat murka Allah SWT. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar: