Menyebarkan Islam dengan Akhlaqul Karimah - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Menyebarkan Islam dengan Akhlaqul Karimah



Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Sahabat Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia”. Pada dasarnya Islam terdiri dari tiga pondasi utama yaitu aqidah, syariat, dan akhlaq. Ketiganya harus ada pada diri setiap orang yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang muslim yang beriman.

Seorang muslim yang baik dituntut untuk tidak hanya baik dalam hal ibadah kepada Allah, namun ia juga dibebani untuk berbuat baik kepada semua makhluq yang ada di sekitarnya. Hubungan horizontal (dengan makhluq) dan vertikal (dengan Sang Kholiq) harus seimbang.

Jika beribadah dilakukan pada waktu-waktu tertentu dan terkadang dapat ditinggalkan lalu diganti pada waktu yang lain jika ada udzur syar’i. maka beda halnya dengan berakhlaq. Ia harus dilakukan kapan saja dan dimana saja dan tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun juga. Karena hampir sebagian besar waktu manusia digunakan untuk berinteraksi sosial satu sama lain. Saat itulah peran akhlaqul karimah dibutuhkan.

Kebanyakan manusia menilai sebuah agama berdasarkan prilaku dan tindakan yang dilakukan oleh pemeluknya. Oleh karena itu kita berkewajiban untuk mendidik dan membina anak-anak kita dan keluarga kita agar bisa berakhlaq dengan akhlaq yang baik. Sehingga kita bisa berkontribusi pada agama kita dengan menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa inilah Islam, yang mengajarkan kepada kami untuk berakhlaqul karimah kepada semua orang, karena kami adalah umat yang diturunkan sebagai umat penyebar kedamaian di muka bumi ini.

Nabi Muhammad yang didalam al-Quran Allah katakan sebagai makhluq yang paling mulia akhlaqnya (Q.S al-Qalam: 4) masih meminta kepada Allah agar diberikan akhlaq yang baik dengan melantunkan doa kepada-Nya: “Ya Allah sebagaimana Engkau telah menciptakanku dengan bentuk yang sempurna maka perbaikilah akhlaqku”. Jika beliau SAW saja meminta seperti itu, maka sudah sepantasnya bagi kita yang masih jauh derajatnya disbanding beliau untuk meminta apa yang beliau minta. Karena sebaik-baik pemberian yang Allah berikan kepada kita adalah akhlaq yang baik.

Dengan berakhlaq yang mulia, seorang muslim bisa mencapai derajat para ahli ibadah yang beribadah kepada Allah siang dan malam, yang selalu berpuasa dan selalu memohon ampunan kepada Allah di waktu malam menjelang fajar. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim yang ibadahnya sedang-sedang saja, akan dapat mencapai dan menyamai derajat orang-orang yang selalu berpuasa dan selau melantunkan ayat suci al-Quran dengan akhlaqnya yang mulia dan kebiasaanya yang baik” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Akhlaq yang baik adalah kunci sukses terbentuknya sebuah masyarakat yang baik. Karena jika individu-individu yang ada dalam sebuah masyarakat sebagian besar berakhlaq mulia, maka sudah bisa dipastikan aka nada kerjasama yang baik antar individu. Saling tolong menolong dalam kebaikan akan terjadi dimana-mana dan dengan begitu, maka rahmat Allah akan turun pada masyarakat tersebut.

Begitu pentingnya masalah akhlaq ini, sampai-sampai Rasulullah pun tidak hanya meminta untuk diberikan akhlaq yang baik kepada Allah, tapi ia juga meminta kepadanya agar dijauhkan dari akhlaq yang buruk dengan doa yang selalu ia lantunkan “Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlaq, amal, hawa nafsu dan juga segala penyakit” (HR. Tirmidzi dan Thabrani).

Dalam kehidupan sehar-hari dan berinteraksi sosial dengan masyarakat, kita hendaknya mengutamakan dan selalu menggunakan akhlaq yang baik. Karena jika tidak, maka bisa-bisa kita terjerumus dan masuk dalam golongan orang-orang yang merugi di akherat. Ibadah kita mungkin baik, namun jika hal itu tidak dibarengi dengan akhlaq yang baik maka kita bisa menjadi orang yang bangkrut kelak di akhirat nanti.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabatnya pada suatu hari "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab; 'Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.' Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh berzina, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Dengan berakhlaq mulia, kita bisa mendapatkan keuntungan. Pertama, kita akan disukai dan dicintai oleh banyak orang, karena setiap manusia pasti suka dengan orang-orang yang berakhlaq mulia. Kedua, kita bisa ikut berperan menyebarkan nilai-nilai islam yang lurus yang sangat menjunjung budi pekerti yang luhur. Ketiga, kita bisa menjadi orang yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW dan menjadi orang yang paling dekat kedudukannya kelak di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda:"Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak bicara (kata-kata tidak bermanfaat dan memperolok manusia)." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling banyak bicara itu?" Nabi menjawab: "Yaitu orang-orang yang sombong." (HR. Tirmidzi)


Jika kita ingin berakhlaq mulia, maka tirulah akhlaq Rasulullah SAW yang sudah mendapat pengakuan dari Allah SWT sebagai makhluq yang paling mulia akhlaqnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Qalam, “Dan Sungguh engkau (Wahai Muhammad) mempunyai budi pekerti yang sangat mulia” (al-Qalam; 4). Beliau adalah sebaik-baik contoh dalam hal ini bagi kita semua yang ingin berakhlaq mulia. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Tidak ada komentar:

@way2themes