Top Ad unit 728 × 90

Home

Mutiara Masisir

Oleh : Fatihul Muzakki


            Lewat pucuk-pucuk daun basah dengan embun pagi, cahaya mentari menusuk, kicauan burung menyemarakkan pagi  yang menyatu dengan bangunan megah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sementara itu segerombolan pemuda-pemudi memasuki kawasan kampus dengan semangat dan penuh harapan, sebagian yang lain sedang muroja’ah quran ataupun sekedar berbincang ria di pelataran kampus yang cukup masyhur di indonesia itu. Lengkap dengan ramainya ibu kota negara yang cukup menjadi saksi  perjuangan para duta bangsa, yang akan segera menghadapi imtihan qobul seleksi luar negeri. Seleksi berjalan dengan lancar, sesi demi sesi telah di jalani oleh para calon duta negeri yang siap berjuang. Dan akhirnya tepat ba’da isya proses seleksi yang membuat letih telah usai.
            Tepat pada 13 juni 2014, riuh kegembiraan telah tersebar di penjuru Indonesia, kabar yang telah ditunggu-tunggupun tiba, yang tiada bukan melainkan kabar yang sekian lama di nanti oleh para pejuang ilmu, yakni golden chance dipilihnya duta-duta negeri pertiwi yang akan meneruskan cita-cita bangsa, khususnya di bidang keilmuan. Yang akan mengarungi samudra ilmu di negeri piramida. Kitalah sebagai cikal bakal pemuda-pemudi harapan bangsa di masa mendatang.
Perjuangan dimulai tepat pada tanggal 12 oktober 2014. Bermula dari Bandara International Soekarno-Hatta Tanggerang Banten, sebagai  langkah awal para pejuang ilmu untuk mengubah Indonesia  menjadi lebih baik, dengan membulatkan tekad, niat dan semangat  serta membawa sebongkah amanat Bangsa yang akan di emban oleh para putra-putri kebanggaan bangsa.
            Mesir, Negara peradaban islam yang telah masyhur di dunia, terbesit pandangan gurun kuning bak lautan emas dengan tegaknya menara-menara tinggi sebagai kebanggaan daulat para kerajaan silam telah masuk dalam bayangan. Negeri para ilmuan sekelas Imam layst bin Sa’ad dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjadi penghias Negara seribu menara ini  bak mutiara berkilauan yang memiliki nilai jual tinggi akan keilmuanya, menjadi wadah pembentukan sikap independent, loyalitas, dan intelektualitas dalam berilmu.
            Al-Azhar asy-Syarif, nama agung yang menjadi mahkota bumi kinanah inilah pusat akan pembentukan benda berkilau yang bernilai tinggi. Banyak fakta akan keagungan Al-Azhar yang telah lahir seperti ilmuwan besar sekelas imam Imam Thantowi, Imam Sya’rowi, Imam Badawi  dan pemuka ilmu lainya serta mufti besar dari Azhar. Beliaulah penyokong tegaknya pilar keilmuan di mesir. Yang hingga kini tetap tegak dan kokoh dan tetap menjadi penyokong fatwa dunia. Dan  kini Dar al-Ifta’ fi ad-Diyar al-Mishriyyah dipimpin oleh Syekh Syauqi Ibrahim Abdul Karim ‘Allam Al-Malik yang mulai menjabat pada 11 Februari 2013 sebagai pengganti dari Syekh Ali Jum’ah Al-Syafi’i
            Langkah dan hidup sesungguhnya adalah di Al-Azhar Asy-Syarif yang harus di perjuangkan untuk mewujudkan para duta bangsa. Masisir bak kerang yang siap menahan rasa sakit demi menghasilkan benda berkilau yang dicari banyak orang, yakni mutiara keilmuan yang memiliki qimah ‘azimah di mata dunia. Kita sebagai mahasiswa Al-Azhar adalah generasi mata rantai tegaknya sebuah peradaban Islam yang luhur di Indonesia dengan membawa manhaj washatiah (adil, baik, tengah, dan seimbang), dilansir dari Ibnu Faris dalam kitab mu’jam Maqayis al-Lugha sebagai pondasi syiar islam dalam melawan penetrasi dan dominasi budaya barat yang telah merusak tatanan moral bangsa.
            . Allah telah memilih duta-duta negara Indonesia yang mampu mewujudkan impian Indonesia di masa mendatang, kesempatan yang telah di berikan untuk menyelami lautan ilmu di Mesir adalah kenikmatan yang patut disyukuri dengan memanfaatkan waktu sebaik baiknya dan bersungguh-sungguh untuk meraih ilmu yang telah tertata rapi di A-azhar ini.
            Indonesia membutuhkan intelektualitas masisir untuk mengembalikan posisi mereka sebagaimana yang diajarkan Islam, yakni sebagai pembimbing dan pemersatu umat untuk mewujudkan bangsa yang besar, kuat dan terdepan, bukan mengabdi pada bangsa lain. Masisir intelek yang berperan dan sanggup membimbing mereka. Intelektual yang mampu memetakan potensi dan memberi solusi yang benar untuk memecahkan berbagai persoalan umat. Indonesia membutuhkan para intelek sejati yang memahami ideologi Islam dan menanamkannya ke tengah-tengah umat. Itulah Intelek sejati.
            Banyak orang yang mendapatkan predikat Mumtaz di Al-Azhar, akan tetapi jiwanya tidak mencerminkan sebagai ilmuwan azhari. Suatu kelompok berjaya dan sebagian yang lain hanya sebagai pengaya, sebagian kecil berbahagia dan sisanya menanggung derita dan kecewa. Waktu, menit, detik, bahkan hari bukan hanya menjadi lamunan hampa belaka melainkan harus di perjuangkan. Sisa waktu yang di berikan Allah kepada kita untuk sejenak melangkah dan mengambil segudang ilmu dari negri para pemuka ilmu dunia dan kembali kepada bangsa.
            Untaian pertama yang akan terucap di mulut masyarakat setelah sekian lama mengayuh ilmu di bumi Mesir ialah “DAPAT HASIL APA DI SANA?”, apa yang akan kita jawab?. Buktikan dengan langkah gerakan bukan hanya berkedok alasan mumtaz di ijazah, berbusana bak ilmuan tetapi kosong isinya. Negara dan masyarakat tidak membutuhkan ijazah mumtaz untuk di perlihatkan, melainkan tindakan nyata yang kita berikan kepada masyarakat dan Negara tercinta. Pernyataan Prof. Dr. Abdul Fadhil Al-Qushi selaku Wakil Ketua Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional telah mengingatkan para mahasiswa Al-Azhar bahwa tujuan mencari ilmu bukanlah kedudukan yang tinggi di hadapan manusia akan tetapi ilmu yang bermanfaat untuk diabdikan ke masyarakat dan bangsa sehingga akan menunjukkan satu kata, yakni masisir berkualitas.
Perjuangan kita hari ini tak ada yang sia-sia, jika kita hari ini sibuk dengan berjuang, yakinlah masa depan kita akrab dengan kemenangan. Lebih baik puasa hari ini daripada puasa di masa depan, lebih baik susah sekarang daripada susah di masa depan. Dan untuk menjadi masisir berkualitas, tak perlu piala dan piagam memenuhi rak kita, cukup berjuang keras dan selesaikan dengan tuntas setiap jalan, karena Allah memiliki ujian dan jalan yang berbeda untuk masing masing hambaNya. Tiada kerang yang menghasilkan mutiara bernilai dan bermutu tinggi tanpa rasa sakit yang dirasakan oleh kerang.
Mutiara Masisir Reviewed by syamsul ma'arif on 03.45.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.