Nasikh Mansukh dalam al-Quran - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Nasikh Mansukh dalam al-Quran




Naskh adalah mashdar dan berasal dari kata na-sa-kha, secara etimologi menurut al-Zarkasyi naskh bisa dipakai empat arti, yaitu pembatalan atau penghapusan (al-izâlah), pengubahan (at-tabdîl), pengalihan (at-tahwîl), dan penyalinan (an-naql). Nasikh merupakan fa’il atau subjek, dan mansukh merupakan suatu objek atau maf’ul. Secara terminologi, Para ulama mempunyai berbagai macam pendapat dalam mengartikan makna naskh.Menurut Ibnu Katsir salah satu Ulama Tafsir, naskh adalah penghapusan hukum dengan adanya dalil syar’i yang datang terakhir atau datang setelah itu.

Menurut al-Zurqani dalam Manahil Irfan menjelaskan, bahwa naskh dalam al-Quran adalah suatu proses penghapusan hukum syar’i dengan dalil syar’i yang datang setelah itu. Penghapusan ini adalah pencabutan kewajiban atas mukallafin. Bukan penghapusan dengan arti yang sebenarnya, karena sesuatu yang pernah terjadi tidak bisa dihapus. Sedangkan hukum syar’i adalah sesuatu yang diturunkan oleh Allah SWT yang ditunjukkan kepada manusia, baik itu berupa suatu hal yang bersifat perintah, larangan, dan pilihan. Dalil syar’i adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT dalam artian luas, baik yang terbaca maupun tidak, ini mencakup al-Quran dan Sunnah.

Mayoritas ulama mempunyai definisi yang berbeda-beda dengan makna yang hampir sama, perbedaan hanya terdapat pada lafal atau tata letak bahasanya. Namun ada beberapa perbedaan antara para ulama klasik dan kontemporer,, perbedaan ini terletak pada penerapan definisi tersebut. Ulama klasik berpendapat bahwa, naskh dalam al-Quran penghapusan hukum syar’i dengan dalil syar’i yang datang setelah itu. Namun ulama klasik mengartikan naskh dengan memasukkan ke dalam berbagai pengertian, seperti: pengkhususan mukhassis dengan suatu hal yang umum (‘am), pembatasan (taqyid) terhadap hal yang bebas atau luas (muthlaq), penjelasan (bayan) terhadap hal yang global (mujmal). Abu Zahroh berkata dalam bukunya: mayoritas ulama klasik dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in memahami naskh dalam bentuk pengkhususan (takhsis) pada suatu hal yang umum (‘am). Pembatasan (taqyid) pada suatu hal yang bebas (muthlaq). Hingga pengecualian (istitsna’) mereka sebut dengan penghapusan (naskh). Sedangkan ulama kontemporer lebih mempersempit batasan-batasan pengertian naskh, sehingga suatu hukum yang dihapus benar-benar dihapuskan oleh dalil yang syar’i dan datang setelahnya.

Dari beberapa definisi, penulis mengambil pendapat al-Zurqani dalam mendefinisikan naskh, definisi ini bisa diterapkan dengan beberapa poin: pertama, mansukh atau hukum yang dihapuskan berupa hukum syar’i. kedua, dalil yang menghapus hukum sebelumnya berupa dalil syar’i. ketiga, dalil yang menghapus itu datang setelah dalil pertama (yang dihapus). keempat, adanya pertentangan antara dua dalil dalam satu pokok masalah.


Urgensi pembahasan Nasikh Mansukh
Sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abi Abdil Rahman menceritakan bahwa pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib memasuki sebuah masjid di Kufah. Di masjid tersebut, ia melihat seorang lelaki yang sedang menjelaskan perkara agama kepada gerombolan orang-orang di masjid. Ketika Ali melihat orang tersebut mencampur adukkan perintah dan larangan. Ali pun bertanya kepadanya: “Apakah kamu tahu Nasikh dan Mansukh?” Lelaki itu menjawab, “Tidak”. Mendengar jawaban demikian, Ali berkata kepadanya: “(Kalau demikian) berarti engkau telah celaka dan mencelakakan (orang lain).”

Hadis ini menunjukkan akan urgensi Nasikh dan Mansukh. Beberapa sebab mempelajari Nasikh Mansukh, Pertama, karena objek kajiannya yang luas dan panjang, sehingga memiliki beragam metode dan cabang kajian. Kedua, selain itu permasalahan ini memiliki bahasan yang sangat rumit dan mendalam yang sering menjadi perselisihan antar ahli fiqh dan pengkaji studi al-Quran. Ketiga, bahwa seseorang yang mempelajari Nasikh-Mansukh secara mendalam akan mampu membuka tabir sejarah penerapan hukum Islam, sehingga mereka mampu mengetahui kebijaksanaan Allah dalam memberikan pembelajaran terhadap umat manusia. Keempat, pondasi penting dalam memahami ajaran Islam dan mengetahui hukum-hukum yang benar, terutama dalam permasalahan dalil-dalil yang dari luarnya terlihat bertentangan

Mengidentifikasi berarti menentukan atau menetapkan suatu identitas. Maka identifikasi naskh dalam al-Quran harus benar-benar diperhatikan. Manna’ Qattan menjelaskan berbagai macam cara untuk mengetahui Nasikh dan Mansukh: Pertama, Adanya suatu riwayat yang jelas dari Nabi Muhammad SAW atau dari Para Sahabat. Kedua, Ijmak umat bahwa ayat ini yang telah terhapus (mansukh), dan ayat ini yang menjadi penghapusnya (nasikh). Ketiga, Mengetahui sejarah ayat yang datang terlebih dahulu  dan ayat yang datang setelah itu (asbab nuzul). Tidak dapat dikatakan naskh atas dasar ijtihad, atau perkataan seorang mufassir.

Pembagian Naskh menurut sumbernya (mashdar) menjadi empat bagian pokok: Pertama, Penghapusan al-Quran dengan al-Quran (naskh al-Quran bi al-Quran). Metode penghapusan al-Quran dengan al-Quran adalah salah satu metode yang disetujui dan diperbolehkan oleh para Ulama. Karena ayat dalam al-Quran adalah suatu keutuhan, ayat al-Quran semuanya mutawatir karena bersumber langsung dari Allah SWT. Jika ayat al-Quran bisa dihapuskan maka selayaknya dihapus dengan ayat al-Quran itu sendiri.

Kedua, Penghapusan al-Quran dengan Hadis atau Sunnah (naskh al-Quran bi al-Sunnah), Metode ini dibagi menjadi dua bagian: a. Penghapusan al-Quran dengan Hadis Mutawatir (naskh al-Quran bi al-Sunnah al-Mutawatir), dalam metode ini terjadi perbedaan pendapat dalam praktiknya. Menurut Imam Malik, Imam Hanafi, dan Imam Ahmad mereka berpendapat bahwa penghapusan al-Quran dengan Hadis Mutawatir diperbolehkan. Pendapat kedua yaitu Imam Syafi’i dan Ahlu Dhohir berpendapat bahwa Hadis Mutawatir tidak bisa menghapus ayat al-Quran. Karena tidak ada lagi yang lebih mulia daripada al-Quran itu sendiri. b. Penghapusan al-Quran dengan Hadis Ahad  (naskh al-Quran bi al-Sunnah al-Ahadiyyah), Hadis Mutawatir derajatnya lebih tinggi daripada Hadis Ahad, dan mayoritas Ulama tidak setuju dengan metode penghapusan ayat al-Quran dengan Hadis Ahad.

Ketiga, Penghapusan Hadis atau Sunnah dengan al-Quran. Mayoritas Ulama setuju dengan metode ini. Al-Quran lebih kuat dari Hadis, maka al-Quran bisa menghapus hukum yang terkandung dalam suatu Hadis.
Keempat, Penghapusan Hadis dengan Hadis, metode ini dibagi menjadi empat bagian: 1. Penghapusan Hadis Mutawatir dengan Hadis Mutawatir. 2. Penghapusan Hadis Ahad dengan Hadis Ahad. 3.Penghapusan Hadis Ahad dengan Hadis Mutawatir. 4. Penghapusan Hadis Mutawatir dengan Hadis Ahad. Tiga bagian pertama menurut logika dan syariat  dibolehkan dan bisa terjadi. Bagian keempat yaitu penghapusan hadis mutawatir dengan hadis ahad banyak ditentang oleh para ulama, dikarenakan hadis mutawatir lebih kuat daripada hadis ahad.

Pembagian Naskh ditinjau dari lafal dan praktiknya dibagi menjadi tiga bagian: Pertama, Penghapusan hukum dan ayat (naskh al-Hukm wa al-Tilawah ma’an), contoh, terdapat pada salah satu Riwayat Sayyidah Aisyah mengatakan: al-Quran telah menjelaskan bahwa jika seorang bayi telah menghisap sepuluh isapan yang diketahui maka akan menjadi mahromnya. Kemudian ayat ini dihapus dengan lima isapan yang diketahui telah menjadikan bayi tersebut mahrom dari ibu susuannya.

Kedua, Penghapusan Ayat dan Hukum masih tetap ada (naskh al-Tilawah ma’a baqoi al-Hukm), contoh: ayat tentang hukum rajam. Hukum rajam dijatuhkan kepada para pezina baik laki-laki maupun perempuan yang telah menikah. Ayat ini tidak tercantum dalam mushaf utsmani, kecuali jika kita merujuk kepada riwayat-riwayat.

Ketiga, Penghapusan Hukum dan Ayat masih tetap ada (naskh al-Hukm ma’a baqoi al-Tilawah). Contoh dalam surat al-Baqarah ayat240 yang dihapus dengan ayat 234. Ini dalam permasalahan masa ‘iddah. Pada ayat pertama dikatakan bahwa masa iddah adalah satu tahun, kemudian datang ayat setelahnya yang menjelaskan bahwa masa iddah adalah 4 bulan dan 10 hari. Dalam contoh ini terdapat perdebatan, dua ayat ini bisa termasuk dalam pengkhususan (takhsis) bukan naskh. Jika wanita hamil maka masa iddahnya adalah satu tahun, dan masa iddah bagi yang tidak hamil adalah 4 bulan 10 hari. Namun ayat pertama tidak bisa digunakan sebagai dalil bagi masa iddah yang hamil, karena habisnya masa iddah bagi orang yang hamil adalah ketika ia melahirkan ini terdapat pada surat al-Thalaq ayat 4, dan bukan satu tahun.    
  
Perdebatan Ulama seputar Nasikh-Mansukh
Mengikuti pembagian al-Qaradhawi, kita bisa mengelompokkan pandangan ulama seputar Nasikh-Mansukh ke dalam tiga kelompok besar:

Pertama, kelompok yang mengatakan adanya naskh dalam al-Quran, kelompok ini memperluas makna naskh tersebut, sehingga sangat mudah sekali berkata bahwa ayat ini dihapus dengan ayat ini dalam surat ini.

Kedua, kebalikan dari kelompok pertama, bahwa kelompok ini menginkari adanya naskh dalam al-Quran secara keseluruhan. Ini adalah perkataan Abu Muslim al-Ashfahani, dan Imam Razi. Ulama kontemporer seperti Muhammad Abduh, Khudri Bek juga berkata demikian.

Ketiga, pendapat yang tengah, yaitu dikatakan naskh jika dilandaskan dalil yang benar dan jelas. Sehingga akal bisa lebih menerima dan hati tenang. Pendapat ini yang banyak diambil oleh para ulama, selain tidak menolak naskh mentah-mentah namun menerima dengan harus adanya dalil yang kuat serta tidak terlalu mudah menggolongkan suatu ayat sebagai ayat yang terhapuskan.    

Syubhat tentang Nasikh dan Mansukh
Penghapusan dalam al-Quran itu ada, maka Allah SWT menghapus suatu hukum dan digantikan dengan hukum lainnya, jika memang terjadi penghapusan dalam al-Quran maka Allah SWT tidak mengetahui isi dalam al-Quran itu sendiri. Sedangkan telah dinyatakan bahwa al-Quran itu kitab yang benar hingga akhir zaman, dengan adanya penghapusan ayat dalam al-Quran berarti menghapus sifat al-Quran tersebut.

Maka dijawablah syubhat tersebut: Adanya penghapusan al-Quran itu sama sekali tidak mengubah sifat Allah SWT yang Maha Mengetahui. Sesungguhnya Allah SWT telah mengetahui bahwa hukum yang dihapus itu terbatas waktunya dan bukan hingga akhir zaman. Dibalik semua ini pasti banyak hikmah yang ada. Penetapan hukum itu ada yang terjadi secara bertahap atau yang sering kita sebut Tadarruj.  Proses tadarruj ahkam seperti contoh hukum khamr. Pada zaman dahulu khamr dibolehkan dalam Islam namun hukum tersebut dihapuskan secara perlahan agar orang Arab tidak kaget untuk menerimanya.

Hikmah adanya naskh, Allah SWT menurunkan suatu kejadian tentu ada hikmahnya, seperti naskh. Allah SWT menghapus seluruh agama yang datang sebelum agama Islam, ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang komplit. Seluruh urusan dunia dan akhirat semua diatur dalam Islam, Islam mengatur kehidupan manusia dari bagun tidur hingga tidur lagi. Naskh atau penghapusan sebagian hukum yang ada dalam Islam juga ada hikmahnya. Beberapa hikmah yang bisa diambil dari Nasikh Mansukh dalam al-Quran. Ketika dihapusnya suatu hukum yang sulit dan diganti dengan mudah pertanda bahwa Allah SWT menyangi umatnya. Sedangkan ketika yang mudah diganti dengan yang sulit, maka ditambahnya pahala bagi yang mengerjakannya.


Hikmah lainnya, bagi seorang Muslim hendaknya ditanamkan dalam hati kita bahwa ayat al-Quran antara satu dengan lainnya berkesinambungan, maka dengan adanya ayat yang dihapus atau menghapus bukan berarti suatu kontra, namun ini adalah suatu rahmat Allah SWT. Sehingga ketika kita sudah beriman kepada Allah SWT, kita akan mengikuti apa yang Allah SWT telah turunkan. Hal ini memang sempat dipertanyakan oleh orang-orang kafir saat itu, namun al-Quran kemudian menjawab bahwa penurunannya yang berangsur-angsur adalah untuk memantapkan hati Nabi Muhammad, otomatis juga berdampak pada pemantapan hati kaum Muslimin lainnya. Setelah Nabi wafat, tak ada lagi perubahan baik berupa pengurangan maupun penambahan dalam hukum Islam dan alasan apapun untuk mengurangi atau menambah hukum dalam Islam tidak dibenarkan. Ini tanda bahwa Allah SWT menjamin kebahagian manusia di dunia dan keselamatan mereka di akhirat, karena Islam datang sebagai solusi dan bukan suatu kesulitan. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Tidak ada komentar: