Top Ad unit 728 × 90

Home

Pendapat para ulama mengenai bid’ah


Dewasa ini sering terdengar orang dengan latahnya melakukan pelafadzan bid’ah pada beberapa hal yang dianggap mewakili kata tersebut. Entah karena memang telah memiliki pengetahuan akan hal itu, atau sekedar ikut-ikutan terhadap segala macam informasi serta media yang telah dibacanya. Sebenarnya apakah itu bid’ah? Secara etimologi bid’ah adalah hal baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Sedangkan secara epistimologi Abdul Malik ibn Abdul Rahman al-Sa’dy menyebutkan bahwa bid’ah adalah segala perbuatan, kepercayaan atau perkataan yang belum ada dalam al-Quran, hadis, ijmak, qiyas ataupun tidak termasuk dalam kaidah umum Islam juga hal-hal yang bertentangan dengannya.

Maka dengan pengertian ini jelas bahwa bila ada sesuatu yang baru dapat dilihat terlebih dahulu, jika ianya terdapat dalil yang membenarkan dalam Kitab, hadis, ijmak atau pun qiyas maka ia berlaku dalam syariat. Apabila tidak terdapat dalam sumber dalil yang telah disebutkan, maka dilihat terlebih dahulu apakah masuk ke dalam kaidah Islam secara umum atau tidak? Jika masuk ke dalamnya, maka ia termasuk dalam syariat dan bukan bid’ah. Akan tetapi jika tidak termasuk, maka ia merupakan bid’ah dan sesat.

Pengertian dan pembagian tersebut bersandar dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dalam shahihnya tentang bid’ah, “Barang siapa mengerjakan sesuatu yang bukan berasal dari al-Quran maka ditolak. ”Juga diriwayatkan oleh Muslim, “Barang siapa mengerjakan sesuatu yang tidak Kami perintahkan maka ditolak. ”Hadis tersebut menyebutkan bahwa hal tersebut tidak mempunyai tempat, akan tetapi ia dibagi menjadi dua:

a.       1.  Kejadian yang ditolak, yang mana bertentangan dengan agama melihat dari lafadz hadis.
b.     2. Kejadian yang diterima, yaitu kejadian yang sesuai dengan agama melihat dari mafhum mukhalafah dari hadis. Sehingga dapat dipahami dalam hadis tersebut bahwa barang siapa yang mengerjakan sesuatu yang diperintahkan atau termasuk didalamnya maka ia diterima. Sedangkan maksud dari ‘perintah’ dalam hadis tersebut adalah agama secara keseluruhan termasuk dalam hal ibadah dan muamalat.

Sedangkan dalam syara’ bid’ah  adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan asas Islam dan dasar-dasar syariat merupakan bid’ah buruk, sedangkan yang sesuai dengan norma-norma agama merupakan bagian dari syariat itu sendiri.

Pendapat para ulama mengenai bid’ah

Para kibar ulama telah memberikan pengertian mengenai bid’ah yang menjurus kepada kesesatan dengan berbagai perbedaan cara pandang.

Imam Ghazali misalnya dalam kitab Ihya Ulumuddin setelah membahas masalah makan di atas meja makan mengatakan, “Saya mengetahui bahwa kalaupun makan menggunakan tangan lebih diutamakan daripada makan di atas meja makan, tidak lantas menjadikan makan di atas meja makan makruh atau haram karena belum ada larangan mengenainya. Dan jika dikatakan bahwa dia merupakan bid’ah setelah zaman Nabi SAW, maka tidak semua yang bid’ah dilarang. Sedangkan bid’ah yang tidak diperbolehkan adalah yang bertentangan dengan sunnah atau bertentangan dengan perintah syara’ yang tidak gugur sebab musababnya, bahkan di beberapa kondisi hal itu diwajibkan jika berubah ‘illahnya. Sedangkan pada masalah meja makan tidak lain hanya mengangkat makanan dari atas tanah untuk memudahkan ketika menyantapnya.”

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam kitab Minhaj al Sunah al Nabawiyah setelah membahas mengenai ijmak sahabat tentang shalat tarawih berjamaah yang bertentangan dengan pendapat Ubay ibn Ka’ab. Ketika itu diriwayatkan oleh Bukhari dan Malik bahwa Umar ibn Khattab mengatakan, “Inilah nikmat bid’ah.” Selanjutnya Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa jika ijmak tersebut ketika belum dilakukan tetaplah dikatakan sebagai bid’ah, karena apapun yang baru akan dilakukan pertama kali dinamakan bid’ah secara etimologi dan bukan secara syara’-seperti menyukai apa yang tidak disukai oleh Allah, mewajibkan apa yang tidak diwajibkanNya, mengharamkan apa yang tidak diharamkanNya- maka jangan melakukan sesuatu yang diyakini sebagai hal yang bertentangan dengan syariah, karena jika melakukan yang haram disertai dengan ketakinan akan keharamannya maka ia bukan termasuk bid’ah.

Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam Fath al Bari ketika mensyarah perkataan Umar ibn Khattab, “Inilah nikmat bid’ah.” Bahwa bid’ah hakikatnya adalah apa yang tidak pernah terjadi sebelumnya, sedangkan yang ditetapkan dalam syariah terhadap apa yang bertentangan dengan sunnah termasuk bid’ah madzmumah, jika dilihat dalam syara’ ia baik maka termasuk bid’ah hasanah, jika termasuk buruk maka ia bid’ah mustaqbahah, jika tidak termasuk di antara mereka maka ia termasuk yang diperbolehkan, dengan ini bid’ah terbagi dalam lima hukum.

Belum pernah dilakukan bukan berarti haram

Jika Nabi SAW dan para sahabatnya tidak pernah melakukan hal tersebut, maka bukan berarti hal itu bukan termasuk syariat dan diharamkan, karena pertama, masih menurut Abdul Malik ibn Abdul Rahman al-Sa’dy bahwa tidak adanya hal tersebut bukan berarti menjadi dihalalkan atau diharamkan, akan tetapi ia temasuk dari hal-hal yang aslinya diperbolehkan. Sehingga, tidak menjadi dalil bahwa ia tidak diperbolehkan selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Kecuali jika kaidah atau asas Islam menolaknya atau bertentangan dengan nash-nash yang ada, maka ia termasuk bid’ah.

Kedua, terdapat suatu perkataan yang masyhur di abad pertama hijriyah, “Jika perbuatan itu baik dilakukan, maka pilihlah yang baik untuk kita lakukan.” Hal ini mengisyaratkan akan pembatasan syariat Islam. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya bahwa perkataan tersebut bukan berarti menunjukkan ketidakmampuan menghukumi segala perbuatan berdasarkan kaidah dan asas Islam, baik dari segi muamalat atau beberapa praktek ibadah yang belum disebutkan dalam syara’.

Pemberian lafadz bid’ah

Dalam kitab al Bid’ah fi al Mafhum al Islamiy al Daqiq disebutkan bahwa pemberian lafadz bid’ah terhadap apa yang disebutkan dalam hadis dhaif atau segala sesuatu yang menjadi sumber ikhtilaf para ulama atas hukumnya merupakan kesalahan yang nyata. Karena jika berdasarkan pada dua hal tersebut, maka menjadikan para fuqaha Islam-dari masa sahabat sampai setelahnya- orang-orang yang melakukan bid’ah sebab setiap mujtahid melihat kuat tidaknya pendapat yang telah disampaikan atas masalah tertentu. Maka jika Aisyah berbeda pendapat dengan Ibn Abbas atas penetapan hukum, menjadikan mereka termasuk dari ahlu bid’ah yang akhirnya menyalahkan satu sama lain dan hal itu tidak akan pernah terjadi.

Belum pernah ada dalam sejarah bahwa para fuqaha memberikan lafadz bid’ah terhadap fuqaha lainnya, malah yang terjadi sebaliknya. Madzhab apapun akan menganjurkan untuk melakukannya terlepas dari pendapat yang mewajibkannya. Seperti madzhab Abu Hanifah yang berpendapat bahwa menyentuh kulit perempuan yang bukan muhrim tidak membatalkan wudhu,  akan tetapi juga mensunnahkan untuk memperbarui wudhu setelah tersentuh terlepas dari pendapat yang mewajibkannya.

Seperti itu pula yang terjadi terhadap hal-hal yang disebutkan dalam hadis dhaif, tidak lantas dicap sebagai bid’ah. Karna hadis dhaif sendiri disebut seperti itu karena terdapat kecacatan dalam  sanad atau matan sehingga tidak dapat dijadikan sebagai sumber yang tepat, kalaupun hadis tersebut memang benar adanya maka yang dimaksud dengan bid’ah bukanlah makna secara syara’ tetapi makna bahasanya.

Pengamalan hadis dhaif dalam keutamaan amalan

Dalam hal ini jumhur ulama berpendapat bahwa diperbolehkan untuk melakukan amalan yang disebutkan dalam hadis dhaif atas keutamaannya, sebagai bentuk kehati-hatian akan adanya hadis shahih tentang amalan yang sama. Akan tetapi tidak diperbolehkan untuk melakukannya jika hadis tersebut dhaif dalam segi periwayatannya.

Contoh hadis dhaif yang boleh dilakukan, “Jika dating kepada kalian seorang yang mulia, maka muliakanlah ia.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud-seperti yang dinukil oleh al Qarafiy dalam kitab Ihya Ulumuddin- bahwa ia hadis dhaif.

Karena dalam akhlak seorang muslim yang dianjurkan dalam Islam adalah menghormati orang yang mulia kedudukannya di mata Allah SWT.

Sedangkan contoh hadis dhaif yang tidak dilakukan, “Janganlah kalian menyibukkan hati dengan menyebut dunia saja. ”Imam Suyuthi mendhaifkan hadis tersebut dalam kitab al Jami’ al Shagir. Sedangkan dalam hal ini lebih didahulukan seorang mukmin untuk tidak menyibukkan hatinya dengan memikirkan dunia saja.

Sedangkan pendapat lain yang mengatakan bahwa hadis dhaif dalam keutamaan amalan dilakukan, tidak serta merta dilakukan secara mutlak. Akan tetapi terdapat di dalamnya beberapa syarat yang terdapat dalam kitab Tadrib al Rawiy; pertama, bukan termasuk hadis yang derajat kedhaifannya fatal, seperti tidak adanya perawi yang dhaif karena pernah berbohong. Kedua, amalan tersebut termasuk dalam kaidah dan asas Islam secara umum. Ketiga, disebutkan untuk tidak meyakini bahwa amalan tersebut telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW akan tetapi mengamalkannya secara hati-hati. Maka dianjurkan untuk tidak melakukannya secara kontinyu agar orang awam tidak meyakininya sebagai amalan yang wajib jika ia merupakan amalan yang terlihat, jika termasuk amalan batin maka tidak apa melakukannya terus-menerus. Jika hilang darinya salah satu dari syarat tersebut di atas maka tidak diperbolehkan untuk   melakukannya.
Demikianlah sekilas mengenai pengertian bid’ah dan pembagiannya. Tentunya pembahasan ini masih jauh dari apa yang seharusnya dibicarakan, akan tetapi diharapkan cukup dapat menggambarkan mengenainya. Wallahu a’lam bi shawab.


Pendapat para ulama mengenai bid’ah Reviewed by ikpm cabang kairo on 12.41.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.