Pengenalan dasar Waqaf dan Ibtida’ - IKPM KAIRO

Minggu, 15 Maret 2015

Pengenalan dasar Waqaf dan Ibtida’










Ketika manusia tersesat di jalannya pada masa jahiliyyah diliputi kegelisahan, kebingungan, dan keterasingan. Al-Quranlah yang telah mengenalkan kepada umat manusia hakikat manusia sebenarnya, peranannya dalam kehidupan, dan tujuan diciptakannya manusia. Dengan al-Quran Allah SWT mengenalkan kepada umat manusia jalan yang harus dipegang dari awal perjalanan hidup hingga akhir kehidupan. Tanpa al-Quran manusia tidak akan bisa merasakan kehidupan yang seimbang di alam ini karena telah tertera jelas di dalamnya fase-fase kehidupan secara lengkap mulai dari awal hingga akhir serta rambu-rambu dalam kehidupan umat manusia.


Perasaan nyaman, tenang, dan ketentraman akan mengalir dan menetap di lubuk hati paling dalam, dan perasaan ketika kehidupan akhirat menjadi tujuan utama dan tempat kembali. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan membaca, memahami, dan mencerna makna-maknanya sehingga menggoreskan garis-garis kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena pada dasarnya, Allah menjadikan al-Quran mudah bagi manusia yang senantiasa mentelaahnya dengan mengharap ridhoNya .


“Dan sekiranya al-Quran kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa arab niscaya mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut (al-Quran) dalam bahasa selain bahasa arab sedang (rasul), orang arab? Katakanlah, “Al-Quran adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (al-Quran) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS.Fussilat 44).


Tak diragukan lagi bahwa kitab al-Quran adalah mukjizat termulia yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW dalam bahasa arab untuk semua umat manusia. Bahasa arab mempuyai keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan bahasa lainnya. Allah ingin menyatukan umat manusia yang terdiri dari berbagai macam bentuk yang berbeda dan beraneka ragam bahasa dengan satu bahasa yaitu bahasa Arab.


Bahasa Arab merupakan bahasa terpilih karena merupakan bahasa perantaraan yang digunakan dalam al-Quran. Adapun salah satu faktor yang membuat keaslian bahasa al-Quran ini terjaga adalah sistem gramatikalnya yang komplek, detail, dan komprehensif. Dimana terdapat rumus-rumus baku dan penjelasan lengkap tentang setiap penggunaan dan makna huruf, dan kaliamt bahasa arab. Selain itu, ketepatan bahasa ini terus terpelihara dengan adanya kaedah-kaedah yang telah ditentukan oleh ilmu tajwid.


Seperti yang kita ketahui definisi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempuran dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran. Dan para ulama menyatakan bahwa hukum bagi yang mempelajari tajwid adalah fardhu kifayah, dan mengamalkan ilmu tajwid ketika membaca al-quran adalah fardhu ‘ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan mukallaf.


Oleh karena itu,  Dalam membaca al-Quran terdapat beberapa aturan yang harus dipenuhi sehingga bacaan al-Quran baik dan tepat. Hal tersebut sangat perlu disandarkan pada empat perkara utama yaitu fasohah (kelancaraan), muduud (panjang dan pendek), ghunnah (dengung), tarqiq dan tafkhim (tipis dan tebal).Disamping itu waqaf juga berperan penting dan ukuran fasohah yang harus dikuasai dalam bacaan al-Quran.

/>            Aturan-aturan (waqf) ini ditetapkan agar seseorang Qari tidak merusak makna al-Quran, sebab pemberhentian bacaan secara serampangan terkadang tidak hanya merusak makna, namun bisa menyebabkan seseorang murtad. Misal sederhana seorang Qari membaca لاإله إلاّالله, tiba-tiba berhenti pada lafadz لاإله saja dan tidak meneruskan bacaannya, maka bacaannya akan berarti “tiada tuhan”tanpa arti “kecuali Allah”. Kasus sederhana seperti ini menyebabkan kefatalan walaupun dalam segi qawly (ucapan).


 Syekh Muhammad ad-Dasuqi Amin Kahilah memaparkan bahwa pengetahuan dan kemahiran waqaf dalam bacaan al-Quran sangat dititikberatkan oleh para ulama, Hal tersebut dipaparkan dalam kitab “Al-Waqf wa-l-Ibtida’ wa atsaruha fi ikhtilafi-l-Mufassirin.”


Pembahasan waqf dan ibtida’ menjadi pembahasan penting di dalam buku ini. Didalamnya mencakup beberapa poin penting, Pertama, Definisi Ilmu waqaf merupakan suatu ilmu untuk mengetahui cara menyempurnakan bacaan dengan berhenti (waqaf) pada tempat-tempat yang telah ditetapkan ulama’ qura’ supaya dapat menyempurnakan makna di tempat-tempat tertentu dengan tidak mengubah makna.Urgensi mengetahui Ilmu waqaf ini guna mewujudkan bacaan yang tartil, sebagaimana tertera dalam surat Al-Muzzamil:4, dan mengantarkan pemahaman al-Quran sesuai dengan maknanya yang dimaksud. Dan juga pembahasan tentang pembagian waqaf .


Kedua, Definisi ibtida’ yaitu melanjutkan atau memulai kembali bacaan setelah berhenti sejenak untuk mengambil nafas ketika waqaf. Adapun pentingnya dalam ber-ibtida’ yang benar tidak dapat lepas dari urgensi waqaf itu sendiri yakni penjagaan dan pemeliharaan keutuhan makna ayat al-Quran yang dibaca agar sesuai dengan yang dimaksudkan.


Ketiga, Didalam kitab ini terdapat pembahasan syarat-syarat bagaimana mempelajari ilmu waqaf dan ibtida’ ini, yaitu dengan Talaqqi dan Musyafahah. Adapun syarat dua tersebut dipraktekkan ketika masa Rasulullah SAW terhadap shabat-sahabanya agar tidak menyebabkan kefatalan dalam menyampaikan isi yang terkandung dalam al-Quran.


Itulah sekilas penjelasan poin-poin yang terdapat dalam buku “Al-Waqf wa-l-Ibtida’ wa atsaruha fi ikhtilafi-l-Mufassirin. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca secara detail kitab tersebut dan juga bisa dirujuk kembali ke kitab-kitab tajwid dan ulumul quran. Sehingga bisa kita simpulkan hikmah terbesar dengan adanya ilmu tajwid dan ulumul quran yaitu untuk menjaga keotentikan kitab suci al-Quran.




Tidak ada komentar:

@way2themes