Sekilas tentang Ijtihad dan Taklid - IKPM KAIRO

Rabu, 04 Maret 2015

Sekilas tentang Ijtihad dan Taklid



Dilihat dari kemampuan dalam memahami teks-teks agama (al-Quran dan Sunnah), umat Islam terbagi menjadi dua: manusia yang berhak menyingkap hukum Allah SWT dari teks-teks agama , dan manusia yang tidak punya hak untuk hal tersebut. Golongan pertama disebut sebagai mujtahid, dan golongan kedua disebut sebagai mukalid.

1.   Ijtihad
Kata “Ijtihad” merupakan serapan dari bahasa Arab: “ijtihâd”.  Secara etimologis, ijtihâd berarti mengeluarkan kemampuan puncak dalam melakukan sesuatu. Dalam bahasa Arab, kata “ijtihad” ini tidak digunakan kecuali untuk mengisyaratkan pada pekerjaan yang berat. Secara terminologis, al-Amidi mendefinisikan ijtihad dengan: “Mengeluarkan kemampuan puncak dalam memprediksi hukum syariat, sampai pada batas sang mujtahid tidak mampu melakukan lebih dari yang ia lakukan”. [i]

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ijtihad bukanlah hal sepele yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Ijtihad hanya dibolehkan bagi mereka yang mampu. Jika orang yang tidak mampu melakukannya, maka ia akan tersesat dan menyesatkan.

  • Para ulama menggariskan syarat-syarat yang ketat bagi yang ingin berijtihad. Sebelum berijtihad, banyak hal yang harus dikuasai, diantaranya:
  • Seorang mujtahid harus mampu memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran tentang hukum syariat (ayât al-ahkâm) secara semantis[ii] dan teori[iii].
  • Seorang mujtahid harus mampu memahami hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat (ahâdîth al-ahkâm) secara semantis dan teori juga.[iv] Dan disyaratkan pula baginya untuk mengetahui status hadis-hadis tersebut. 
  • Seorang mujtahid harus mengetahui hukum Nasikh-Mansukhyang terdapat dalam al-Quran dan Sunah.
  • Seorang mujtahid harus mengetahui perkara-perkara yang hukumnya sudah disepakati oleh seluruh ulama (ijmak).
  • Seorang mujtahid harus mengetahui macam-macam qiyâsserta syarat-syaratnya, mengetahui ‘illah setiap hukum serta cara menggunakan teori qiyâs dalam berijtihad.[v]
  • Seorang mujtahid harus menguasai seluk beluk bahasa arab, seperti nahwu, shorfma’ânibayânbadî’, dan ilmu bahasa lainnya.[vi]
  • Seorang mujtahid harus menguasai ilmu Usul Fikih.
  • Seorang mujtahid harus mengetahui maksud, tujuan, dan hikmah dari hukum-hukum syariat (maqâshid al-syarî’ah)sebagai parameter dalam berijtihad.[vii]


Syarat-syarat di atas merupakan syarat mujtahid tertinggi. Sedangkan dalam ranah praktisnya, para ulama membagi mujtahid ke dalam beberapa tingkatan: pertama mujtahid muthlaq mustaqill, yaitu para mujtahid yang telah memenuhi syarat-syarat ijtihad di atas dan mempunyai metode sendiri dalam pengambilan hukum, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syaf’i, dan Imam Ahmad; keduamujtahid muthlaq ghair mustaqil, yaitu mereka yang memenuhi syarat mujtahid di atas, namun mengikuti metode salah satu mujtahidmuthlaq mustaqil, seperti al-Muzani dan al-Buwaithi; ketiga ashhab al-wujûh atau mujtahid al-takhrîj, yaitu mereka yang mampu mengeluarkan hukum perkara baru berlandaskan hukum perkara-perkara yang sudah ditentukan oleh pendahulunya; keempat mujtahidal-tarjîh, yaitu mereka yang mampu merajihkan antar pendapat-pendapat mujtahid pendahulunya, seperti: al-Qaffal dan al-Ishthakhri;kelima dhabathah al-madzhab, yaitu mereka yang mentahkik usul, furuk dan kaidah mazhab secara global, seperti al-Nawawi dan al-Rafi’i; keenam al-Musytaghil bi al-madzhab, yaitu mereka yang baru mentahkik usul, furuk, dan kaidah sebagian permasalahan mazhab.[viii]

2.   Taklid
Kata “taklid” merupakan kata serapan dari bahasa Arab“Taqlîd”.Secara bahasa, taqlîd berarti menautkan tali di leher. Sedangkan secara istilah, taqlîd berarti mengambil pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen yang diusung.[ix]
Hampir semua ulama sepakat bahwa taklid dalam masalah furuk wajib hukumnya bagi orang awam, dan haram bagi para mujtahid. Sebagian golongan selain Ahlusunah yang berpendapat bahwa taklid itu wajib, seperti Hasyawiyah; dan ada pula  yang mengharamkan taklid, seperti sebagian Muktazilah.[x]
Sebagaimana derajat para mujtahid yang bertingkat, mukalid pun juga demikian. Para ulama membagi mukallid menjadi dua: orang awam yang sama sekali tidak mengenal ilmu  ijtihad; dan orang yang memahami sebagian ilmu ijtihad. Keduanya diwajibkan untuk bertaklid. Orang pertama diwajibkan untuk bertaklid karea sama sekali tidak mengenal ilmu ijtihad, sedangkan orang kedua juga diwajibkan untuk bertaklid karena mereka belum mencapai derajat mujtahid.[xi]


[i] Wahbah Zuhaili, Ushûl al-Fiqh al-Islâmî, jilid II, (Damaskus: Darul Fikr, 2009), hal. 326.
[ii] Maksud dari semantik adalah ilmu yang berkenaan dengan makna-makna kosakata, susunan kalimat, dan makna yang terkandung dari suatu susunan kalimat.
[iii] Maksud dari teori disini: mengetahui ilat; memahami makna yang mempengaruhi hukum perkara; memahami manthuq dan mafhum; umum dan khusus; muthlaq dan muqayyaddalâlâh; serta korelasi dari setiap kaidah tersebut. 
[iv] Ibid., hal. 334.
[v] Sebagian ulama berpendapat bahwa syarat mujtahid hanya ini saja.
[vi] Syarat ini tidak bermaksud mewajibkan mujtahid untuk mendalami ilmu bahasa arab menyamai Imam Sibawaih. Tapi cukup sebatas mengetahui perkataan orang-orang arab dan adat-adatnya, dapat membedakan antara perkataan yang shorih, zhahir, dan mujmal, hakekat dan majas, umum dan khusus, muhkam dan mutasyabih, mutlaq danmuqayyad, nash dan fahw, lahn dan mafhum. Ini semua sebatas untuk memahami al-Quran dan Sunnah, serta benar benar mengetahui apa yang dimaksud oleh al-Quran dan Sunnah. Lihat, Ibid., hal. 336.
[vii] Ibid. hal. 332-337.
[viii] Abdul Fatah bin Saleh al-Yafi’i, al-Tamadzhub, hal. 60-61.
[ix] Wahbah Zuhaili, Ushûl al-Fiqh al-Islâmî, jil. II, hal. 401.
[x] Ibid., hal. 406-407.
[xi] Ibid., hal. 411.

Tidak ada komentar: