Cahaya Rantau - IKPM KAIRO

Kamis, 07 Mei 2015

Cahaya Rantau

Cahaya Rantau



Hembusan angin yang menerpa, alunan ombak yang menyapa, sinar sang surya yang seakan terus berkelana. Keindahan alam itu, menjadikan hidup ini lebih bermakna dan terasa.  Ya, ku ingin menjadi seperti angin yang tak terlihat tetapi memiliki peran  penting dalam kehidupan semua makhluk.  Menjadi ombak yang menghiasi lautan, serta menyingkirkan kotoran dan sampah yang merusaknya. Menjadi sang surya yang tak pernah bosan maupun lelah dalam memberikan cahayanya kepada alam semesta. Aku berada di atas kapal layar yang sedang berlabuh meninggalkan kampung halaman di sebrang sana, tanah kelahiranku. Kecamuk batin mulai menghinggapi fikiran. Aku berada pada posisi di mana harus meninggalkan keluarga tercinta dan sahabat-sahabat tersayang. Di sini mulai terangrangkai arah langkahku, dari bumi Saburai menuju tanah perantauan, ke bumi majapahit. Mengembara untuk mencari pengalaman hidup serta menemukan jati diri yang sebenarnya. Tepatnya aku ingin mengikuti ujian SBNMPTAN ke jenjang perguruan tinggi yang ada di Jawa Tengah, UIN Sunan Kalijaga.
Terlahir menjadi anak pertama adalah hal tersulit dalam hidup ini. Mempunyai dua orang adik. Laki-laki dan perumpuan, yang bernama Ahmad Arsya 3 SMA dan sibungsu Aisyah 2 SMP. Sedangkan aku bernama Kholid, lebih lengkapnya Muhammad Kholid, mungkin kedua orangtuaku memberi nama ini agar bisa meneladani sifat Rasulallah SAW, yang senantiasa sabar dan tabah dalam menyebarkan agama Islam. Tidak hanya itu, sifat tak kenal putus asa dalam menegakkan agama Allah juga tercantum dalam makna namaku walaupun tidak terlihat,. berharap bisa menjadi seperti Kholid bin Walid, dialah Saifullah atau Pedang Allah, yang semangat dalam berjuang untuk membela agama Allah. Ayahku hanyalah seorang petani yang bekerja tanpa kenal lelah maupun letih dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Sedangkan ibuku adalah motivatorku yang mengajar TPA di kampungku dengan penuh ikhlas serta sabar. Walaupun kami hanya hidup pas-pasan, dengan memiliki satu sawah dan dua sapi, tapi kami sangat bahagia dan bersyukur, karena Allah pasti selalu menambahkan rizkinya kepada hambanya yang senantiasa bersyukur.
Bersanding di samping pegangan besi puncak kapal layar yang sedang berjuang membawa jiwa ini menuju tempat persinggahan cita-citaku. Berdiri dengan penuh harap, sembari ku pandangi di sekeliling laut, ombak-ombak yang bergoyang ria diikuti ikan-ikan yang melompat kesana-kemari. Serta ku nikmati pemandangan bukit-bukit indah nan hijau. Terbisik  janji pada diri ini, di bawah langit yang luas, di atas laut nan dalam, serta disaksikan oleh gunung-gunung menjulang tinggi, sembari berkata “Bismillahirrahmanirrahiim, aku pasti bisa menjadi pejuang handal dan dapat dihandalkan, menjadi sang nahkoda sejati yang tak takut akan ombak maupun batu  karang menghadangnya, bisa menjadi mutiara bukan hanya mahal, tapi juga indah bila dipandang, serta manjadi pemenang bukan pecundang.”
Seseorang lebih tua dua tahun dariku, membangunkanku dari tidur  yang sesaat, seraya berkata “Mas, mas, bangun mas, kita sudah tiba di negri sebrang.”
Dengan gaya setengah sadar, aku dibuatnya kaget  “Owhhhh iya mas, makasih mas Adi Riadi.”
Dialah teman sebangku dalam busku, padahal berharap temenku adalah seorang bidadari cantik, tapi malah dapat mas Adi Riadi yang sudah bekerja sebagai karyawan  di salah satu perusahaan Kota Semarang. Akhirnya kitapun pergi menuju bus, untuk melanjutkan perjalanan. Senja menghilang bintangpun mulai terlihat, menunjukan akan datangnya malam.
Aku dan mas Adi masih saling berbagi cerita satu sama lainya, suatu ketika mas Adi bertanya kepadaku dengan nada agak sedikit serius “ Mas Kholid kenapa gak langsung kerja saja seperti saya, dari pada kuliah jauh-jauh hanya menghabiskan biaya dan ongkos banhkan meyia-nyiakan waktu.”
Seketika itupun bibir ini langsung tersenyum manis kepadanya, sembari berkata “Ini bukan masalah uang ataupun harta, bukan pula masalah muda ataupun tua. Tapi ini masalah cita-cita dan masa depan.”
 “Maksudnya gimana mas, saya masih belum paham, toh ujungnya mas nanti juga bakalan kerja, kan?”lanjut mas Adi.
 Akhirnya akupun menjawab dengan nada tenang sedikit puitis, “Jadilah seperti pohon kelapa, yang mana semua bagian dari pohon itu bermanfaat. Baik dari buahnya , daunya, batangnya, bahkan tangkainya sekalipun.”
Sembari  ku pegang pundak mas Adi, seraya berbisik “ Itu mas yang aku mau, bisa memiliki ilmu yang banyak, serta pengalaman yang beragam, biar bisa menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, orang-orang di sekitar kita, yang pastinya berguna untuk Nusa dan Bangsa.”
Mas Adipun akhirnya tersenyum senang dengan jawabanku, sembari berkata “Bener juga kamu Lid, kalau gitu sukses ya untuk ujian SBNMPTAN kamu di UIN Jogja. Semoga bisa diterima di sana, dan kelak pulang ke kampung halamanmu dengan segudang ilmu serta dapat membangun Bangsa kita.” 
“Aamiin ya Rabb, makasih mas ya atas do’anya.” Jawabku penuh harap diiringi denagan senang.
Mas Adi bertanya lagi kepadaku “memang cita-cita kamu mau jadi apa Lid?”
 Pertanyaan sama, seperti yang pernah diberikan guruku. Waktu duduk di kls 3 SMP. Dengan sepontanitas akupun menjawabnya “Ingin bisa menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.”
Mas Adipun terdiam sejenak, sejurus kemudian terucap dari bibirnya , ”Semoga cita-cita kamu tercapai Kholid.”
Akhirnya kamipun terlelap dalam kantuk karena larutnya malam.
Tiba sudah kaki ini menginjakkan sebuah universitas yang begitu besar dan megah, universitas itu terletak di pusat kota, Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga namanya. Dengan semangat yang membara ku persiapkan diriku untuk menjadi yang terbaik dalam mengikuti test ini. Lalu, sambil mencari tempat pelaksanaan ujian tersebut. Kemudian berkeliling dari ujung kampus keujung kampus  lainnya. Setelah sampai di tempat ruang ujian, tibalah saatnya untuk peperangan dimulai, sembari berdo’a kepada Sang Kholik yang maha perkasa lagi kuasa “Ya Allah, ya Rabbi, berikanlah yang terbaik dalam mengikuti ujian seleksi masuk Universitas ini, kalau memang baiknya diberi kelulusan maka luluskanlah. Tapi kalau sebaliknya, baiknya tidak  disini, maka jangan luluskan. Amiin.”
Waktu terus berputar bagai roda pedati, menggilas masa merubah zaman. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, rembulan pun menghilang menjadi matahari. Pengumuman yang sekian lama telah dinantikan dengan segenap harapku, akhrinya tiba juga. Hati ini mulai dag-dig-dug, mulutpun mulai berkomat-kamit mengucapkan kata-kata dzikir. Setelah tiba di papan pengumuman, aku mulai mencari nomor ujian dan namaku, dari atas kebawah, dari samping kesamping bahkan sebaliknya. Perasaan yang kian mulai gelisah tak karuan, karena nama dan nomor ujian yang tak tertempel di papan pengumuman, kekecewaan teramat mulai menyelimmuti, seakan terjatuh kedalam jurang nan dalam. Mungkin ini adalah jawaban Allah SWT untukku, karena aku yakin, Sang Kholik mempunyai rencana yang indah untuk hidup ini.
Tiiiit.... Tiiiit.... Di tengah-tengah kesedihan yang melanda tiba-tiba HPku berbunyi. Ternyata SMS dari adikku Arsya.
Assalamualikum mas. Penyakit ayah kambuh mas, semakin parah. Sekarang ayah di rumah sakit.
Terkejut saja hati ini membaca SMS dari adikku Arsya, bahwa ayah tercinta kami sedang berada di rumah sakit. Dan di waktu yang sama pula ujian SBMPTNku tidak lulus. Segera saja kubalas SMSnya tanpa memberi tahu dahulu tentang keadaanku saat ini.
            “ Wa’alaikumussalam, yang sabar ya dek, kita hanya bisa berdo’a, semoga ayah cepat diberi kesembuhan oleh Allah. Mas baik-baik saja kok di sini, yang penting pesen mas terus beri semangat untuk Ibu dan Aisyah.”
“Apa yang harus kulakuan?” bisikku dalam hati.
            “Jiwa kosong melayang, terombang ambing dalam pusaran gelombang, berdo’a tuk sebuah peluang, samapi bertemu titik jati diri  pemenang.” Ucapku   pelan untuk diri yang kian lara, agar terus semangat dalam menjalani hidup ini, karena setiap musibah dan cobaan pasti ada hikmahnya.
            “ Assalamualikum,” sapa seorang pemuda yang sebaya denganku. Dengan suara lembut, selembut pasir putih di pantai, diiringi dengan senyum yang merekah dari bibirnya.
            “ Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh,” sahutku sambil menebarkan senyum, walaupun seketika senyum itu langsung lenyap.
            “ kalau boleh tauhu, siapa namanya mas?” Tanya pemuda itu, dengan nada serius tapi sopan.
            “ Nama saya Muhammad Kholid, bisa dipanggil Kholid. Datang dari Negri Saburai, Kota Lampung namanya.” Jawabku dengan tenang, sembari berkata lagi kepadanya “ Mas sendiri siapa namanya, dan dari mana?”
            “ Malikul Harbi, bisa dipanggil Malik. Aku dari Salatiga mas, sekitar 3 jam dari UIN Jogja.” Jawabnya dengan nada medok khas jawanya. Sesaat kemudian melanjutkan kata-katanya “ gimana testnya mas, diterima tidak?” sambil matanya menatap tajam kearahku.
            “ Alhamdulillah mas, saya teleh mengikuti test ini semampu dan sebisa saya, walaupun__” terputus saja omonganku, karna Malik langsung menyambungya.
            “ Walaupun apa mas­? Tidak lulus ya,…” dengan gaya bercandanya, sambil memegang pundakku. Seraya berkata lagi “ Aku juga gak lulus mas, mungkin Allah punya rencana lain untuk kita mas.”
            “ Amiin ya Rabb. Karna saya yakin Sang Kholik tidak akan salah dalam penempatanya, dan percayalah bahwa rencananya jauh lebih indah untuk kita. Sebab ini semua bukanlah akhir dari segalanya.” Jawabku lantang kepada Malik, seakan tidak terjadi apa-apa.
            “ Sip mas, aku setuju dengan jawaban seperti ini. Kalau gitu, kita harus lanjutkan perjuangan kita. Allah hu akbar.” Sejurus kemudian berkata lagi “ Memang mas habis ini mau lanjut kemana?”
            “ Belum tahu nie, masih bingung dari tadi, soalnya saya maunya kuliah di Jawa, gak mau balik lagi ke Lampung. Karna pendidikan di sini condong lebih baik dari tempat saya mas, dari segi keagamaan serta keilmuanya.” Jawabku pada Malik.
            Allahu akbar……Allahu akbar….. Kumandang azan tiba-tiba menghentikan perbincangan panjang kami, karna  telah dipanggil oleh Tuhan kami untuk melaksanakan sholat ashar. Tak lama kemuadian kami langsung menuju masjid UIN Suanan Kalijaga. Tanpa adanya komando langsung menuju tempat wudhu, tuk membasuh anggota wudhu dengan mata air surga. Entah berapa lama aku bersujud dan bermunajad memanjatkan do’a cinta kepada Illahi Rabbi. Hingga tak menyadari para jamaah telah hijarah meninggalkan masjid.
 Terasa kesunyian, hanya hatiku yang masih tertunduk mengharapkan sinar dari Sang Kekasih (Allah) tuhan semesta alam, serta berdo’a untuk ayahku tercinta agar lekas cepat diberi kesembuhan. Mengarungi samudra perjuangan, berharap ombak tidak menghancurkan perahuku, angin tidak merobek layarku. Hingga pada akhirnya aku dapat meraih semua cita-citaku. Dan bisa menjadi perantau yang sukses di dunia maupun akhirat. Tak terasa waktu telah menunjukan jam 4 sore, akupun segera berdiri berjalan ke arah pintu keluar masjid, seketika fikiranku tertuju pada sebuah nama yang baru kukenal, Malik. Tanpa fikir panjang aku langsung berbalik kebelakang, dan ternyata ku dapati sosok Malik yang sedang tertunduk. Di tanganya memegang butiran tasbih dan terkalung di lehernya sorban berwarna putih. Tidak lama kemudian, dia berdiri menghampiriku, hingga raut wajahnyapun tampak jelas dari pandangan mata ini, lalu ia menyapaku dengan senyuman yang mengalun indah.
            “ Sudah lama nunggu aku mas,” Malik menyapaku disertai langkah kakinya yang menari-nari di atas permadani hingga sampai ke arahku.
            “ Enggak kok Lik, saya juga baru selesai, gimana kelanjutan cerita kita?” tanyaku kepadanya.
            “ Masalah kuliah tho mas, santai wae mas, kalau aku mau lanjut di STAIN Salatiga aja. Biar dekat dari rumahku, 1 minggu lagi ujian masuknya.” Jawab Malik dengan nada khas jawanya.
            “ Masih bisa daftar gak Lik, aku mau ikut ujianya. Biar cita-citaku tercapai kuliah di tanah jawa ini dan tidak pulang hanya dengan kegagalan.” Lanjutku kepadanya.
            “ Insya Allah masih mas, kalau gitu habis ini sampean ikut aku ke Salatiga, nanti tak ajak ke Ma’had STAINnya. Biar nanti mas langsung bisa langsung cari tau tentang ujianya, dan bisa tinggal dulu di sana,” ucap malik kepadaku.
            “Sungguh Allah maha perkasa lagi  kuasa. Aku dipertemukan dengan seseorang yang baik hati sekligus sholih. Semoga saja ini awal jalanku menuju sebuah kesuksesan, bisa menimba ilmu di Negri Majapahit ini.” Bisikku dengan tenang dalam hati.
            “ Ayo mas, kita berangkat.” Ajak Malik dengan semangat.
            “ Oke kalau gitu, aku ikut kamu. Syukron ya, sudah mau bantu saya Lik,” jawabku padanya yang tidak kalah semangatnya.
            Suasana Ma’had STAIN Salatiga yang tenang lagi nyaman mulai terasa, dengan satu mushola di ujunnya, bersampingan dengan rumah Bapak Pengasuh, dan dua gegung panjang berisi setiap gedungnya 5 kamar. Akupun mulai mencari tentang kabar ujian dan apa saja yang harus dipelajari. Setelah semua telah tercapai, saatnya tancap gas untuk maju satu langkah kedepan, dengan terus belajar dan belajar agar kesalahan yang pertama tidak terulang untuk kedua kalinya.
            Sang suryapun telah terbit denagn sinarnya yang mencubit-cubit pipi ini, seakan memberikan isyarat bahwa hari ini adalah hari istiewa untukku, sebab ujian test masuk STAIN Salatiga akan segera dilaksanakan. Tapi sebelum itu, kusempatkan diriku tuk berdo’a sejenak dalam sujudku di sholat duha, meminta pada Illah Rabbi supaya semua berjalan dengan lacar serta baik, dan supaya ayahku cepat diberikan kesembuhan. Setelah tiba di ruang ujian segera kuselesaikan test ini dengan hati-hati, jangan samapi ada satu pertanyaanpun yang tidak terjawab, apalagi sampai tertinggal.
            Akhirnya, pengumumanpun telah tiba. Ting,…ting… suara HPku berdering, ternyata ada panggilan dari sahabatku Malik, langsung kuangkat saja dengan cepat “ Assalamualikum Lik, gmn kabarnya, sudah lama kita tak berjumpa semenjak satu minggu sebelum ujian samapi sekarang pengummuman.” Cereosku cepat diiringi dengan senyum.
            “ Baik kok mas, maaf kalau aku gak ngasih kabar. Soalnya aku gak menggagung dan disisi lain lagi focus juga, biar bisa lulus mas. Sekarang samapean di mana, ayo kita lihat hasil test kita.” Jawabnya yang tak kalah cepatnya.
            “ Saya masih di Ma’had Lik, sebantar lagi mau kekampus. Kalau gitu kamu tunggu saja di dekat papan pengumuman.” Lanjtku padanya.
            “ Oke-oke mas, tak tunggu sampai bertemu ya,” kata Malik tegas.
            Langsung saja kaki ini mengarah pada papan pengumuan, seraya terlihat dari kejauhan sosok Malik yang sedang menungguku. “ Malik,” Sapaku keras dengan teriakan.
            “ Ya mas. Ayo sini, bakalan gak kecewa deh, karna kita lulus.” Sambut Malik dari kejauhan.
            “ Yang bener Lik,” sambil berjalan kearahnya dengan langkah yang cepat.
            Dan setibanya di sana, ternyata benar. Alhamdulillah aku lulus.









Tidak ada komentar: