PERAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN -- CAKRAWALA/edisi-2/Lentera Qurani/ensiklopedia - IKPM KAIRO

Senin, 07 Desember 2015

PERAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN -- CAKRAWALA/edisi-2/Lentera Qurani/ensiklopedia

PERAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Oleh: Fitri Fauziah Arief

*** 
            Jasa perempuan dalam kehidupan ini tidak dapat dipungkiri. Keberadaan perempuan menjadi suatu keniscayaan yang bersifat aksioma, untuk mejadi salah satu penjamin kelestarian kehidupan melalui mekanisme reproduksi. Di antara indikator yang menguatkan gagasan ini adalah terdapat pada Surah An-Nisa/4: 1. Rangkaian proses reproduksi manusia tidaklah semata-mata hasil kerja dari perempuan saja, akan tetapi ia hanya sebagai wadah pertemuan antara sel perempuan (ovum) dengan sel laki-laki (spermatozoa), baik secara alamiah maupun dengan bantuan rekayasa genetika, sehingga terjadilah pembuahan dalam uterus. Dengan begitu, laki-laki pun memiliki peran aktif dalam menjaga serta melestarikan keutuhan umat manusia.
            Menarik untuk dicermati, bahwa Allah swt menyetarakan derajat antara laki-laki dan perempuan sebagai unsur kemanusiaan, serta memberikan penghargaan yang sama ketika mereka melakukan suatu aktivitas ibadah dan amal shaleh. Masing-masing dari keduanya akan memperoleh pahala apabila melakukan kebajikan, dan tentu sebaliknya, mendapatkan dosa apabila melakukan keburukan. Hal ini dapat ditemukan melalui pesan-pesan al-Qur’an, di antaranya adalah Surah An-Nahl/16: 97 dan Gafir/40: 40. Namun begitu, ada perbedaan antara keduanya dalam mewujudkan peran di wilayah publik maupun domestik. Hal ini sulit dihindari karena beberapa faktor, antara lain karena perbedaan kodrat dan bahkan perbedaan budaya dimana peran laki-laki lebih mendominasi hampir disegala aspek.
            Terlalu lugu rasanya, jika hanya memandang sebelah mata terhadap peran, kedudukan, dan aktivitas perempuan sebagai makluk tak bermakna dan tak berdaya. Perlu direnungkan, ada jargon yang sudah menjadi adagium dan begitu mudah diucapkan oleh lisan, yaitu “Dibalik laki-laki sukses ada sosok perempuan yang hebat.” Hemat penulis, sulit rasanya menolak adagium seperti ini dikarenakan peran perempuan yang sangat signifikan. Telah banyak diketahui kiprah perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam bidang kesejahteraan sosial dan bahkan peran perempuan pada komunitas terkecil dalam struktur masyarakat (keluarga) sekalipun. Sehingga tidak pada tempatnya apabila superioritas pada semua bidang didominasi oleh laki-laki.
            Al-Qur’an pun sebagai pedoman hidup manusia, ikut berperan aktif dalam mengapresiasi terhadap perempuan. Mulai dari penamaan sebuah Surah secara khusus yang bermakna perempuan, yaitu An-Nisa/4, sebaliknya, tidak kita dapatkan Surah khusus untuk laki-laki (ar-rijal) sebagai antonim dari perempuan (an-nisa), sampai kepada larangan membuat masalah terhadap mereka. Cermatilah firman Allah swt pada Surah An-Nisa/4: 19 dan At-Talaq/65: 6-7. Terdapat perintah untuk ber-mu’asyarah bi al-ma’ruf (berinteraksi dengan baik). Menurut para ahli Tafsir, dalam ayat ini, adalah dengan memperbaiki pergaulan dengan baik, bukan saja hanya untuk menggauli (berinteraksi)  secara biologis dengan perempuan yang sudah menjadi istrinya dengan baik (ma’ruf) ataupun dalam memelihara hak-haknya. Akan tetapi, juga dengan memperbaiaki pergaulan sehari-hari, baik dalam ucapan maupun tindakan. Sampai kepada, saat menemukan ketidaksempurnaan pada dirinya, baik dari segi bawaan fisik, cara bertingkah laku atau yang lainnya, maka bagi para laki-laki (khususnya suami) untuk bersabar, tidak menjadikan penyebab kebencian pada dirinya, dan tetap berinteraksi dengan mereka secara baik.
            Oleh sebab itu, dari uraian di atas, maka penulis ingin mencoba menguraikan tentang peran perempuan dalam perspektif al-Qur’an, dikarenakan perannya yang tidak bisa hanya dipandang sebelah mata, juga dampaknya yang cukup signifikan bagi kehidupan baik pada wilayah domestik maupun sosial, dan juga tak kalah pentingnya, ia memiliki peran sebagai unsur dari keutuhan umat manusia. Namun, dikarenakan pembahasannya yang begitu luas, penulis hanya terfokus pada peran perempuan dalam keluarga, baik perempuan selaku seorang istri maupun sebagai seorang ibu.

Peran Perempuan dalam Keluarga

            Keluarga merupakan sebuah komunitas terkecil dalam struktur masyarakat, terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Keluarga (khususnya orangtua) sebagai komunitas pertama yang ditemui seorang anak yang baru lahir dan berfungsi sebagai alat transformasi nilai-nilai yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Hal ini terjadi, dikarenakan banyak terciptanya gesekan-gesekan ataupun interaksi antara orang tua dan anak sebagai ajang pembetukan sikap dan karakter. Itu sebabnya, Rasulullah saw mengingatkan betapa pentingnya peran aktif orang tua dalam membangun sikap dan karakter anak pada awal kehidupannya.

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanya yang mengantarkannya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi, seperti halnya hewan melahirkan hewan pula. Adakah kamu melihat padanya kekuarangan (keganjilan)?.
           
Sering diperbincangkan, pada kata “fitrah” dalam Hadits di atas sebagai suci, yang berarti kosong layaknya kertas putih (teori tabularasa). Namun, penulis sendiri tidak beranggapan demikian, tidaklah kata “fitrah” diartikan sempit, sebab Allah swt telah membekali manusia pada awal kehidupannya berbagai modalitas seperti instink (garizh), panca indra, serta akal pikiran untuk mampu mempertahankan kehidupannya, bahkan juga terdapat potensi keberimanan. Salah satu indikator yang menguatkan gagasan tersebut adalah terdapat pada Surah Al-A’raf/7:172 dan Ar-Rum/30: 30.
Selanjutnya, pada kata “abawahu” yang berarti orang tuanya, penyebutan keduanya secara bersamaan, baik laki-laki maupun perempuan, menunjukkan bahwa keduanya memiliki peran yang cukup andil dalam pembentukan sikap dan karakter keluarga, tanpa harus membeda-bedakan derajat antara keduanya. Hal demikian dapat kita temukan dalam pesan-pesan al-Qur’an Surah At-Tahrim/6: 66. Dengan demikian, kesalehan (kualitas) keluarga ditentukan dari kesalehan (kualitas) kedua orangtuanya.

Peran Perempuan Sebagai Istri

            Keberpasangan merupakan fitrah manusia, sulit untuk melepas dari belenggu naluri dasar kemanusiaan. Terlebih pada masa kematangan seksual dan keduanya saling membutuhkan. Naluri semacam ini adalah wajar adanya dan seyogyanya didukung sesuai petunjuk-petunjuk syari’at. Sebuah pernikahan yang berlangsung, ditandai dengan ijab kabul, maka semestinya peran sebagai suami dan istri dimulai. Kedua belah pihak, harus menyadari posisi, peran, dan kewajibannya masing-masing agar terbentuk rumah tangga yang harmonis. Secara tidak langsung, istri memiliki posisi yang strategis, antara lain karena banyak meluangkan waktu di rumah. Berikut merupakan peran perempuan sebagai istri.

1.   Menjadi Pasangan Biologis Suaminya.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa salah satu kebutuhan biologis manusia adalah melakukan aktivitas reproduksi. Allah swt menciptakan Hawwa yang kemudian menjadikannya sebagai istri Adam as, untuk mengobati rasa kesepiannya saat belum memiliki pasangan di awal kehidupan. Dari keduanyalah, dapat melahirkan anak-anaknya. Melalui aktivitas reproduksi inilah, generasi manusia tidak punah. Bahkan, yang demikian itu sangat dianjurkan oleh Allah swt sebagai wadah dalam rangka melanjutkan dan memelihara keturunan, sebagaimana dalam firman-Nya Surat al-Baqarah/2: 223. Juga, sebagai bentuk manifestasi akan legalitas kita sebagai umat Nabi Muhammad saw.

2.   Menjadi Pasangan Psikologis Suaminya.
Sebagaimana adagium di atas, istri yang baik (shalihah) adalah yang mampu berperan serta mengaktualisasikan dirinya secara baik dengan suaminya, sehingga memperoleh kesenangan secara psikologis. Itulah sebabnya agama menjadi pilihan dasar saat memilih pasangan hidup, dikarenakan agama erat kaitannya dengan moral (khusn al-khuluq). Terdapat riwayat mengatakat, kebahagiaan bagi seorang suami apabila mempunyai pasangan (istri) hidup yang shalihah, layaknya mahkota di atas kepala raja, ia menjadi milik berharga dan kebanggaan seorang suami. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Inginkah kamu aku beritahu suatu kebaikan yang didambakan untuk dimiliki oleh manusia (suami)? Jawabannya adalah perempuan yang shalihah, yaitu apabila suaminya memandangnya ia menggairahkan, jika suaminya menyuruhnya ia menaatinya, dan jika suaminya tidak di sampingnya ia memelihara dirinya.

            Hubungan interpersonal antara suami dengan istri selayaknya harus diupayakan berlangsung dengan hangat, bersahabat, saling menghormati, dan saling mempercayai. Seorang suami akan merasa bahagia jika faktor-faktor biologis dan psikologisnya dapat diperoleh. Sebagaimana firman Allah swt Surah An-Nisa/4: 34.

3.   Menjadi Administrator Rumah Tangga
Ada pepatah mengatakan, “Rumahku adalah Surgaku.” Dikarenakan rumah merupakan sarana tempat tinggal bagi keluarga untuk beristirahat, berkumpul, serta melakukan kegiatan personal antar anggota keluarga. Oleh karenanya, rumah selayaknya menjadi tempat tinggal yang menyenangkan bagi semua anggota keluarga. Bahkan dikatakan, rumah sebagai cerminan tuannya. Jika suami lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, maka istri memiliki peran yang sangat menentukan dalam menata tempat tinggal. Layaknya manager, ia memiliki wewenang dalam menata berbagai sarana yang diperlukan oleh semua anggota keluarga sehingga fungsional dan menyenangkan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab tentang bawahannya. Imam (kepala negara) pemimpin dan bertanggung jawab tentang rakyatnya. Suami menjadi pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab tentang mereka. Istri juga pemimpin dan bertanggung jawab dalam pengaturan rumah tangganya. Bahkan pembantu pun menjadi pemimpin dan bertanggung jawab tentang harta majikannya. Dan aku mengira Nabi akan melanjutkan bahwa laki-laki menjadi pemimpin dan bertanggung jawab tentang harta ayahnya. Jadi, setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab tentang yang dipimpinnya.


Peran Perempuan Sebagai Ibu

            Terdapat ungkapan menarik yang menyebutkan “al-um madrasah al-ula,” yang artinya ibu adalah sekolah pertama. Tidaklah berlebihan, ini menunjukkan betapa peran ibu sangat strategis bagi perkembangan sikap dan karakter anak-anaknya di awal kehidupan mereka. Ungkapan di atas, tidak hanya dapat dipahami sebagai pendidik pertama saat anak-anaknya lahir, akan tetapi, dimulai saat pemilihan pasangan hidup dan saat terjadinya konsepsi yang berproses menjadi janin yang kemudian lahir sebagai bayi. Secara garis besar, peran seorang ibu dapat dijelaskan beberapa diantaranya.

1.   Mengandung Anak.
Merupakan kodrat sekaligus anugrah yang diberikan Allah swt kepada seorang perempuan adalah mengandung anak. Fase ini dimulai saat terjadinya pembuahan dalam rahim yang ditandai oleh persatuan antara sel laki-laki dengan sel perempuan. Mengandung merupakan tugas yang sangat melelahkan, baik ia harus memperhatikan kesehatan dan keselmatan dirinya dan anak yang dikandungnya, mapun juga adanya perubahan-perubahan hormonal yang berpengaruh pada keseluruhan sistem tubuh. Hal ini sebagaimana difirmankan dalam al-Qur’an Surah Luqman/31: 14.
Kata “al-wahn,” pada ayat di atas dimaknai sebagai kelelahan atau terjadinya penurunan pada kekuatan fisik disebabkan antara lain karena janin bertambah besar dan berat sehingga tubuh sedikit banyak menopang berat yang berlebihan.

2.   Melahirkan dan Menyusui.
Setelah melalui fase mengandung, tugas seorang ibu terhadap anaknya belumlah usai, sebab masih ada tugas berat lainnya sedang menanti, bahkan semakin bertambah dikarenakan pada fase ini, waktu bagi seorang ibu sangatlah berharga, setiap detiknya sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak, baik psikis maupun psikologis. Setelah melahirkan, terjadilah peristiwa menakjibkan, sebab bersamaan dengan itu, seorang ibu memproduksi air susu yang siap dikonsumsi sebagai nutrisi pertama yang sehat bagi bayinya. Sebagaimana pesan ini tertuang dalam Surah al-Baqarah/2: 233.

3.   Merawat dan Membesarkan Anak.
Pada fase ini, tugas seorang ibu tidaklah seeksklusif pada saat mengandung, melahirkan, dan menyusui, dikarenakan merawat serta membesarkan anak dilakukan secara bersama-sama dengan keluarga. Meski demikian, peran seorang ibu tetaplah dominan terutama pada fase bayi. Pada fase ini, tidaklah perhatian seorang ibu terfokus pada perkembangan fisik saja, akan tetapi, meliputi semua aspek pertumbuhan, seperti perkembangan mental spiritual, social, kecerdasan, dan keterampilan hidup. Merawat serta membesarkan anak merupakan tugas yang mulia disebabkan ini merupakan perintah agama. Sebagaimana tertera dalam firman-Nya Surah An-Nisa/4: 9. Dikarenakan pentingnya perkembangan anak pada fase ini dalam merawat serta membesarkan anak, Rasulullah saw pun memberikan perhatian khusus pada fase ini, sebagaimana dalam sabdanya,
Kewajiban orangtua terhadap anaknya antara lain, mengajarinya baca-tulis, berenang,  memanah, dan tidak memberinya rizki kecuali yang baik (halal). Wallahu A’lam.
***

*(CAKRAWALA/Edisi-2/Lentera Qurani/Ensiklopedia)


Tidak ada komentar: