OTENTISITAS AL-QURAN dan PENGARUH MODERNISASI - IKPM KAIRO

Kamis, 05 Mei 2016

OTENTISITAS AL-QURAN dan PENGARUH MODERNISASI

OTENTISITAS AL-QURAN dan PENGARUH MODERNISASI
Oleh: Fairuz_Hammurabbi HR



Al-Quran merupakan kitab samawi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat jibril selama kurun waktu dua puluh dua tahun dua bulan dan dua puluh dua hari, tiada keraguan maupun kejanggalan di dalamnya, yang penuh akan kemukjizatan dan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia munuju jalan kebenaran. Menjadi faktor paling kokoh dalam agama Islam, menjadi hidayah bagi orang-orang yang bertaqwa, yang menyongsong kehidupan manusia munuju kebahagiaan dan ketenangan di dunia maupun di akhirat. Ialah satu-satunya kitab suci yang terlepas dari segala macam distorsi maupun interpolasi. Al-Quran menegaskan adanya kebenaran tunggal dan mutlak yang melampaui dunia, dan juga mewaspadai segala macam spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai zhann, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau dibuktikan oleh siapapun.

Al-Quran yang pada dasarnya berupa bacaan, bukan tulisan ataupun teks. Sejak zaman dahulu istilah membaca al-Quran yang dimaksud ialah membacanya dengan cara hafalan, sedangkan tulisan hanyalah sebagai pengingat dan penunjang dari bacaan tersebut. Proses transmisi pengajaran al-Quran dari generasi ke generasi, yaitu seorang Muqri’ atau guru al-Quran membacakan kepada murid melalui hafalannya. Proses semacam ini atau yang disebut dengan istilah isnad, membuktikan akan keotentikan al-Quran dan menyangkal segala kekeliruan serta pemahaman para orientalis yang berusaha merusak kesucian kitab suci al-Quran.

Namun, para kaum kafir tidak mau dan tidak akan pernah percaya akan kebenaran al-Quran, mereka iri-dengki akan keunggulan agama Islam dan selalu berusa menghancurkannya melalui fondasi-fondasi yang sangat sakral bagi kaum muslimin, khususnya pada  kitab suci al-Quran itu sendiri. Sebut saja para Orientalis-Missionaris Yahudi dan Kristen, mereka selalu menghujat dan mencela al-Quran dan tidak akan pernah menyerah untuk memerangi dan menghancurkan Islam, sebagaimana tertulis dalam al-Quran Surat al-Baqarah ayat 120 yang menerangkan bahwa, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga engkau mengikuti agama mereka”.

Upaya penyerangan mereka ialah dengan cara merubah serta mengotak-atik kitab suci al-Quran agar kaum muslimin bingung dan keblinger akan kitab suci mereka sebagaiman yang telah terjadi dalam agama mereka, Yahudi maupun Kristen, yang telah mengubah serta merevisi kitab sucinya sendiri, sehingga akhirnya mereka pun tidak yakin akan agama yang dianutnya. Mereka yang berkedok sebagai cendikiawan dan pakar, serta ahli dalam setiap bidang, mencoba memutar-balikkan fakta dan sejarah khususnya al-Quran beserta isi maupun kandungannya, membuat yang batil menjadi benar, dan kebenaran menjadi relative.
           
Padahal kebenaran itu merupakan sesuatu yang absolute dan pasti, dan untuk mengetahuinya, seseorang membutuhkan rujukan yang otentik pula, sedangkan tiada kitab yang lebih absah kecuali al-Quran. Maka seyogianya sebagai seorang mukmin harus merujuk kepada kitab suci yang meraka yakini, mentadabburi, mempelajari serta mendalaminya, sebagaimana Allah berfirman, “Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”, (Q.S an-Nisa: 82), dan juga, “Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S Muhammad: 24).

Modernisasi ataupun modern yang berarti sesuatu yang baru dan selalu dikaitkan dengan segala aspek kehidupan. Di negeri barat, modernisasi diartikan berupa aliran, pemikiran, aktifitas, dan segala macam upaya untuk mengubah paham-paham lama agar dapat disesuaikan oleh ilmu pengetahuan modern. Pengaruh modernisasi sangatlah kuat dirasakan oleh para cendikiawan muslim dunia, karena ideologi masyarakat muslim pada zaman sekarang sudah mulai terkontaminasi oleh ideologi dan paham-paham mereka, sehingga dalam tatanan kehidupan mereka pun sudah berubah dan tidak berlandaskan lagi pada kitab suci al-Quran, seperti pemahaman modern telah melanda masyarakat luas khususnya di Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Mereka mengartikan modern sebagai kehidupan yang maju, dengan gaya hidup yang baru dan dengan ideologi yang baru pula. Sehingga mereka pun berpendapat, apabila suatu masyarakat ataupun negara mau dianggap maju maka ia harus mengikuti negara yang telah maju, dengan kata lain mesti mengikuti Barat, karena menurut mereka Barat maju dan Islam mundur. Model paham seperti ini sudah sangat banyak tersebar, padahal sesungguhnya Islam itu tidak mundur, hanya saja pemahaman maju dan mundurlah yang telah diubah oleh orang barat yang mana mereka tidak memiliki iman, tidak percaya akan wahyu, serta tidak mempunyai sandaran yang paten dalam menempuh hidup mereka.

Salah seorang cendikiawan muslim dan ahli pemikiran Prof. (Madya) Dr. Syamsuddin Arif, M.A pernah mengatakan yang tercatat dalam bukunya yang berjudul Orientalis & Diabolisme Pemikiraan, (Jakarta, GemaInsani, 2008, Cet. Ke-I), “Orang kita kan memang suka barang impor, suka latah dan ikut-ikutan. Seringkali tanpa mengerti maksud dan latar belakangnya. Orang Barat sekuler, ikut sekuler, mereka liberal, ikut liberal, mereka kritik Bible, kita kritik al-Quran. Nanti mereka hancur, kita pun ikut hancur”.

Oleh karena itu, sepatutnya sebagai seorang pelajar yang bertekad untuk berdakwah di jalan Allah harus mengetahui, memahami, serta mengamalkan kandungan al-Quran. Tidak sampai di situ saja, ia pun harus terus menghafalkan dan mengajarkannya kepada masyarakat dan generasi-generasi setelahnya agar dapat mengetahui cara beradaptasi terhadap kemodernan dengan berlandaskan al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Sebagaiman salah seorang ulama al-Azhar pernah mengungkapkan bahwa, “laysa Azhariyyan man lam lahfadzi l-Quran”, bukanlah seorang pelajar al-azhar apabila ia belum menghafal al-Quran.

Wallahu A’lam Bis-showab.



Tidak ada komentar: