- IKPM KAIRO

Rabu, 23 Maret 2016

KRISIS KEPEMIMPINAN
 Kurangnya Implementasi Ajaran Islam Secara Kaffah
Oleh: Syamsul Bachri

           Beberapa waktu yang lalu baru saja diwacanakan sebuah fatwa yang fenomenal dari MUI mengenai hukum pemimpin yang ingkar janji. Banyak kalangan yang menaggapi fatwa MUI dengan positif untuk menjadi pijakan kesadaran masyarakat akan krisis kepercayaan dalam kepemimpinan sekarang ini, tetapi tidak sedikit pula kalangan yang menanggapinya dengan nada negatif dengan anggapan bahwa fatwa MUI ini bermuatan politis. Padahal telah jelas didalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Allah Swt mengharamkan surga bagi pemimpin yang wafat dalam keadaan menipu rakyatnya. Ma’qil bin Yasar r.a berkata: “Saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga.”
Fatwa MUI ini merupakan jawaban dari pertanyaan masyarakat yang mulai gerah dengan atmosfer kepemimpinan di tanah air. Begitu mudahnya para calon pemimpin menebar janji kepada masyarakat, dan pada akhirnya janji itu bagaikan kertas kosong yang tertiup angin. Pencitraan demi pencitraan terus dibangun melalui media-media demi kepentingan politik semata, walaupun tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Di dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim dikatakan “Hampir-hampir tak ada seorangpun yang melaksanakan amanah sehingga dikatakan ‘sesungguhnya di tengah-tengah bani fulan terdapat seorang laki-laki yang sangat amanah, sehingga dikatakan kepada seseorang: ‘alangkah sabarnya, alangkah cermatnya, alangkah pandainya. Padahal didalam hatinya tidak ada iman walaupun sebesar biji sawi.
Ada beberapa faktor penyebab krisis kepemimpinan, seperti sistem pemilihan pemimpin yang tidak sesuai dengan syari’at Islam dan kehidupan masyarakat dalam sebuah negara itu sendiri. Jamak diketahui bahwa sistem dalam pemilihan pemimpin dalam Islam adalah menggunakan sistem syura, dimana terdapat majelis syuro yang diisi oleh beberapa orang terpercaya, jujur dan amanah. Tetapi dalam beberapa dekade ini- semenjak revolusi Perancis- sistem demokrasi yang diusung oleh Barat mulai berkembang pesat hampir diseluruh dunia.
Sistem demokrasi yang menganut paham bahwa kekuasaan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, bertentangan  dengan paham Islam bahwa kekuasaan hanya milik Allah Swt. Oleh sebab itu keputusan penuh dalam pemilihan pemimpin ada ditangan rakyat. Apabila baik kehidupan suatu bangsa, maka baik pula pemimpin yang dilahirkannya dan begitu pula sebaliknya.
Pemimpin suatu bangsa adalah cerminan dari perilaku bangsa itu sendiri. Bangsa yang belum siap untuk menerapkan demokrasi akan melahirkan kepemimpinan yang cacat, dimana suara dapat dibeli dengan mudahnya. Hingga muncullah banyak calon-calon pemimpin yang haus jabatan dan kekuasaan, padahal gunungpun tak sanggup memikul amanah. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab: 72)
Rasulullah Saw sendiri melarang umat Islam untuk meminta jabatan, karena jabatan atau amanat bukan untuk dikejar dan dicari melainkan diberi. Seperti yang tertera dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Said (Abdurrahman) bin Samurah r.a. berkata: “Rasulullah Saw telah bersabda kepada saya: Wahai Abdurrahman Ibn Samurah, jangan menuntut kedudukan dalam pemerintahan, karena jika kau diserahi jabatan tanpa minta, kau akan dibantu oleh Allah untuk melaksanakannya, tetapi jika dapat jabatan itu karena permintaanmu, maka akan diserahkan ke atas bahumu atau kebijaksanaanmu sendiri. Dan apabila kau telah bersumpah untuk sesuatu kemudian ternyata jika kau lakukan lainnya akan lebih baik, maka tebuslah sumpah itu dan kerjakan apa yang lebih baik itu.” Tetapi sungguh miris di zaman sekarang, orang-orang berlomba menjadi penguasa. Semakin berkuasa seseorang semakin besar pendapatan yang didapat, semakin tinggi jabatan seseorang semakin dihormati di dalam masyarakat. Apapun caranya dilakukan untuk memperoleh kekuasaan, obral janji dan money politic pun menjadi hal yang biasa.
Pada akhrinya,akan terjadi krisis kepercayaan di tengah-tengah masyarakat. Janji-janji yang menjadi kebiasaan banyak pemimpin ketika berkampanye menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Masyarakat perlahan mulai muak dengan janji-janji palsu yang selalu diobral tanpa bukti nyata yang jelas. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin dapat berpengaruh luas kedalam sistem kepemimpinan suatu bangsa, dimana masyarakat akan  mulai berpandangan penuh curiga dalam segala hal yang dilakukan pemimpin. Omongan pemimpin pun akan sulit didengarkan dan wibawa seorang pemimpinpun akan jatuh dalam pandangan masyarakat. Krisis tersebut tampak dari atmosfer politik yang selalu mempengaruhi kepemimpinan dan membentuk suatu kebijakan yang dihasilkan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Untuk mengatasi krisis kepemimpinan di zaman sekarang, masyarakat butuh seorang figur sebagai teladan kepemimpinan yang efektif. Menurut Warren Bennis dalam bukunya yang berjudul On Becoming A Leader, para pemimpin memiliki peranan yang berarti dalam menciptakan pandangan hidup masyarakat. Warren Bennis menulis beberapa hal berkaitan dengan kepemimpinan efektif, diantaranya: pemimpin harus dapat menguasai wilayah kepemimpinannya dan sekitarnya, harus dapat memahami hal-hal dasar didalam kepemimpinan,  harus dikenal banyak orang, harus mengetahui pengetahuan tentang dunia,  harus bisa mengatur negara berdasarkan insting,  harus dapat mengerahkan kemampuan diri,  harus mau untuk berupaya keras,  selalu mencoba sesuatu, bergerak melewati kekacauan, menarik orang-orang berpihak padanya, dan mengetahui bahwa organisasi dapat membantu dan menghambat.

Oleh karena itu, untuk melahirkan pemimpin yang ideal, suatu bangsa harus menerapkan ajaran Islam dengan baik terlebih dahulu. Implementasi ajaran Islam secara kaffah dalam kehidupan masyarakat akan melahirkan pemimpin yang sesuai dengan ajaran Islam pula. Di dalam ajaran Islam sendiri setiap Individu dituntut untuk menjadi pemimpin dari ruang lingkup yang kecil, seperti menjadi pemimpin  keluarga maupun pemimpin dalam ruang lingkup yang besar seperti pemimpin negara. Masing-masing individu akan dimintai pertanggungjawabannya dalam memimpin.

Tidak ada komentar: