PERAN STRATEGIS MUSLIMAH DALAM ISLAM - IKPM KAIRO

Senin, 07 Maret 2016

PERAN STRATEGIS MUSLIMAH DALAM ISLAM

Oleh: Nur Iswanti

Allah Swt menciptakan wanita dengan kodrat kewanitaannya. Ia diberikan karunia sifat kelembutan dan kasih sayang agar bisa melaksanakan tugas utamanya. Karena itulah, Islam mengatur kehidupan wanita dengan aturan yang begitu rapi agar pelaksanaannya menjamin keberlangsungan masyarakat  secara baik.
Islam memuliakan wanita dengan memberi tugas utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Peran tersebut tentu tidak bisa dikatakan remeh. Betapa strategisnya wanita bila ia bertanggung jawab atas keberlangsungan generasi suatu bangsa. Hal ini sangat mudah dipahami karena wanita (ibu) adalah sekolah pertama  bagi anak-anaknya, sosok yang sangat dekat, yang pertama kali berinteraksi dengan sang anak.Ibu adalah sosok yang paling sering berinteraksi dengan mereka hingga akhir hayatnya.
Allah Swt tidak memberikan peran strategis tersebut kepada pada laki-laki. Karenanya, secara penciptaanpun laki-laki tidak diberi karunia untuk melahirkan, menyusui dan sifat kelemahlembutan. Allah Swt telah menempatkan laki-laki pada posisi yang membutuhkan tenaga atau fisik yang kuat. Oleh karena itu, laki-laki dibebani tanggung jawab mencari nafkah bagi keluarganya. Inilah konsep umum pembagian tugas antara laki-laki dan wanita dalam Islam.
Keadaan yang begitu indah tertata antara laki-laki dan wanita dalam Islam kini tengah dirusak oleh ideologi kapitalisme. Posisi ibu dengan peran strategisnya dianulir dengan pandangan baru yang mengusung kesetaraan dan persamaan peran antara suami dan istri.
Sungguh, menjadi ibu bukanlah sebuah pilihan. Menjadi ibu adalah hal yang wajib diterima dan disyukuri keberadannya sebagai makhluk Allah Swt yang berjenis kelamin perempuan. Tentu ini adalah sebuah kemuliaan bagi kaum wanita, bukan suatu kehinaan sebagaimana yang dituduhkan oleh Barat. Barat telah mengesankan perempuan hanya bisa memfungsikan dirinya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga saja (berperan di sektor domestik) sebagi perempuan yang tidak berdaya atau tidak berkualitas bahkan tidak punya prestasi.
Pandangan sekuler  tersebut  tentu sangat jauh dari kebenaran, bahkan bertentangan dengan dengan fakta, realita dan pengalaman kehidupan manusia. Bahwa optimalisasi  peran perempuan di sektor domestik merupakan investasi masa depan yang sangat berharga, khususnya dalam pengelolaan rumah tangga dan dalam mewujudkan generasi yang bermutu.
Sungguh ironis, jika seorang muslimah tega meninggalkan amanah Sang Pencipta tersebut, hanya karena silau dengan kemewahan yang semu yang dipropagandakan negara-negara Barat. Tak selayaknya para wanita berbondong-bondong terjun aktif di sektor publik, sedang tugas utama mereka di sektor domestik terbengkalai. Jika mereka pergi, adakah yang lebih baik dari wanita (sang ibu) yang menggantikan posisinya?

Tiang Negara Pencetak Generasi
Wanita yang sukses mengelola tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga pada hakikatnya telah menciptakan fondasi bagi tatanan kehidupan masyarakat. Keluarga yang harmonis dan kokoh serta lahirnya generasi yang bermutu adalah syarat utama kokohnya bangunan sebuah bangsa.
Dibalik seorang pemimpin yang handal pastilah berdiri seorang wanita yang telah menemaninya sejak dari dalam kandungan hingga ia memimpin masyarakat. Wanita itu tentu telah memberi corak kepada sang pemimpin sehingga kertas putih yang tadinya bersih kini penuh dengan goresan indah penuh makna dan hikmah atas bimbingan sang ibu.
Sebuah kisah teladan pernah terukir di masa kejayaan Islam dulu. Lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz adalah buah dari kemuliaan seorang ibu, Ummu Ashim. Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah kelima dan pemimpin yang bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Ia hafal Alquran sejak kecil. Matanya selalu banjir dengan rasa takutnya kepada Allah Swt. Ummu Ashim sendiri adalah wanita mulia yang dilahirkan oleh seorang ibu mulia- Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah  Ats-Tsaqafi, gadis yang pernah dipergoki oleh Khalifah Umar bin Khathab tengah menasihati ibunya agar tidak mencampurkan susu dangan air di tengah malam yang sunyi.
Betapa seorang wanita memiliki nilai strategis dalam melahirkan pemimpin dan genersi masa depan yang menentukan maju dan mundurnya sebuah bangsa. Maka layaklah muncul ungkapan masyhur bahwa wanita adalah tiang negara. Wanita menentukan maju mundurnya sebuah bangsa, inilah makna tiang negara.
Harus dipahami bahwa ungkapan tiang negara tidak bisa dimaknai sebagai bentuk tuntutan agar wanita berkiprah dalam urusan politik praktis (misalnya, menjadi penguasa). Peran strategis wanita juga tidak diukir dari seberapa besar kontribusinya secara ekonomi bagi bangsa. Peran-peran tersebut bisa dan telah dilakukan oleh kaum laki-laki.
Adapun perkara melahirkan generasi dan mengkokohkan bangunan keluarga, perannya lebih spesifik bagi wanita. Oleh karena itu, wanita menempati posisi penentu lahirnya generasi yang berkualitas. Hal ini didukung pula oleh fakta dimana seorang ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak-anak. Sejak awal kehadirannya (dalam rahim ibuhingga besar), ibulah yang paling memahami kondisi anak. Ibu pun memiliki ikatan batin yang paling kuat terhadap anak. Melihat hubungan tersebut, maka fungsi ibu sangat sulit digantikan pihak lain.
Sedemikian eratnya hubungan ibu dengan anak, maka apabila ibu mampu mendidiknya dengan benar, maka ibu telah mengantarkan menuju terwujudnya generasi dan pemimpin berkualitas.
Pendidikan yang dilakukan ibu akan membentuk pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat. Dengan interaksi antara ibu dan anak, pendidikan di rumah oleh ibu cukup berperan menorehkan sikap-sikap  dan karakter kepemimpinan yang tidak bisa dilakukan oleh lemabaga pendidikan dan lingkungannya.
Suksesnya sang anak pun sering tak lepas dari dorongan dan doa yang dipanjatkan sang ibu. Allah Swt mendengar doa ibu yang dipanjatkan untuk putra-putrinya. Semua ini menunjukkan bahwa wanita memiliki peran yang sangat strategis mencetak calon pemimpin masa depan.
Itulah bentuk amal salih yang dikehendaki oleh Allah Swt bagi wanita sebagaimana Allah telah menetapkan jenis amal salih bagi laki-laki. Keduanya akan mendapat balasan kebaikan dari Allah Swt. “Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun peremuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Kini, sudah saatnya kaum muslimah menyadari untuk tidak terjebak pada arus liberal yang dicptakan musuh-musuh Islam di balik baju modernisme. Harga diri sebagai muslimah terlalu tinggi dan terlalu berharga jika hanya digadaikan dengan dunia dan seisinya, karena wanita wanita memiliki peran yang sangat strategis untuk membangun masyarakat. Ditengah kesulitan yang dihadapi masyarakan modern saat ini, kembalinya wanita pada tugas pokoknya tentu menjadi perkarayang sangat urgen. Semoga kita semakin sadar, hanya dengan kembali kepada syariat Islam, kemuliaan wanita diraih, keberkahan bagi masyarakat pun akan terwujud. Wallahu A’lam bis-Shawab.

Tidak ada komentar: