Top Ad unit 728 × 90

Home

BERGURU KEPADA SEJARAH

Oleh: Fitria Qurrata’aini

Kepemimpinan terbaik sepanjang sejarah Islam setelah Rasulullah Saw wafat, tentulah keempat Khulafaurrasyidin, Abu Bakar al-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Meski di setiap masa kekhalifahan terdapat pergolakan, tetapi pada masa inilah tonggak terpenting sejarah Islam dimulai sebagai rahmatan li -l‘alamin.
Sepeninggal Rasulullah Saw, riak-riak kecil mulai muncul pada masa Khulafa ar-Rasyidin. Tidak hanya itu, kecarut-marutan terjadi di setiap dinasti bahkan hingga kita harus menyaksikan pertumpahan darah sesama kaum muslimin. Jika kita korelasikan antara pergolakan yang terjadi pada zaman dahulu dengan kecarut-marutan yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini, kita akan menyadari satu hal. Ini semua merupakan potret sejarah dinasti Islam berabad-abad silam.
Mari kita perhatikan gejolak yang terjadi di berbagai negara yang berpenduduk mayoritas Islam. Mulai dari bergejolaknya Mesir, Suriah, Libya dan sekitarnya hingga berbagai masalah yang menimpa Tanah Air. Kita akan menyadari ternyata para penguasa negara pada zaman ini, tidak berbeda dengan para umara terdahulu. Kepiawaian para umara terdahulu tidak diragukan lagi, tetapi kekuasaan tidak dipungkiri menjadikan mereka kehilangan arah. Alhasil berbagai cara mereka gunakan untuk mempertahankan tahta kepemimpinan mereka.   
Hal ini tidak ubahnya dengan pergejolakan yang terjadi di berbagai negara saat ini. Di sini penulis mencoba untuk mengulang kembali sejarah para umara terdahulu yang sayangnya sering kita lupakan. Salah satu faktor mundurnya umat Islam serta berbagai kekacauan yang terjadi di berbagai negara saat ini, bisa jadi karena kita tidak pernah berguru pada sejarah sehingga tidak memetik pelajaran dari kejadian umat Islam pada masa lalu.
Tidak heran jika ada pepatah masyhur mengatakan esensi sejarah senantiasa berulang, hanya perilaku, waktu dan tempatnya yang berbeda, namun hakikatnya tetaplah sama. Tentu tidak ada kata mutlak dalam sejarah. Akan tetapi dengan adanya sejarah kita dapat bercermin bagaimanakah para umara pada masa kedinastian dan apa yang dapat kita petik untuk kepemimpinan masa kini.
Masa kekhalifahan Utsman menjadi awal dari munculnya berbagai fitnah dan adu domba di kalangan kaum muslimin. Setelah tujuh tahun pertama mengemban amanat sebagai Khalifah dengan tenteram, pada lima tahun terakhir kekhalifahannya merebak berbagai fitnah dan diakhiri dengan pembunuhan Sang Khalifah. Lima hari setelah terbunuhnya Utsman, kaum muslimin memiliki khalifah lagi yaitu Ali bin Abi Thalib. Ali berpendapat bahwa segala carut-marut yang terjadi pada masa Utsman akan redam dengan peggantian gubernur-gubernur yang diangkat oleh Utsman. Para Sahabat telah menasihati Ali untuk menunggu keadaan hingga reda, namun Ali bersikeras untuk menyegerakan pergantian para gubernur, akhirnya beberapa gubernur menolak dan salah satunya Muawiyah bin Abi Sufyan.
Muawiyah menolak untuk dicopot dari posisinya sebagai gubernur dan tidak ingin membaiat Ali hingga para pembunuh Utsman diadili terlebih dahulu. Kita tentu berharap, seandainya Muawiyah taat kepada Ali dan Ali pun mendengar nasihat para Sahabat, maka keadaan akan berbalik tenteram seperti semula. Namun, umat Islam sepertinya harus menyaksikan peperangan saudara antar sesama muslim pada perang Jamal dan perang Shiffin. Pada hakikatnya Ali dan Muawiyah sangat menghindari adanya peperangan, akan tetapi munculnya para pemberontak telah menyiram api fitnah sehingga terjadilah peperangan tersebut.
Dalam hal ini, Muawiyah sering diceritakan dalam berbagai buku sejarah sebagai pembangkang Ali. Tidak sedikit di antara kita yang membenci Muawiyah dengan kejadian ini, terlebih setelah munculnya para Alawiyyin –pembela  Ali. Padahal Muawiyah memiliki andil yang besar dalam membantu kaum muslimin sejak masuknya Islam hingga didirikannya Dinasti Umayyah. Kemampuan politik Muawiyah tidak diragukan lagi. Pengalamannya menjadi gubernur Syam pada dua periode khalifah -Umar dan Utsman- membuatnya paham dengan seluk-beluk kepemimpinan. Kepiawaiannya memimpin terbukti dengan berbagai kebijakan yang solutif dan kembali bersatunya umat Islam setelah pertempuran besar yang terjadi. Akan tetapi, berbagai kemajuan yang terjadi pada masa Muawiyah tertutupi dengan streotip Muawiyah sebagai pembangkang Ali.
Hal di atas tidak ubahnya dengan kejadian yang terjadi di Mesir belakangan ini. Akan tetapi penyulut adu domba yang terjadi yaitu awak media yang memiliki propaganda dan kepentingan bagi masing-masing kubu. Propaganda media mendominasi mindset khalayak pada zaman ini, hal ini terlihat saat pemakzulan Presiden Mesir sebelum ini terjadi. Tidak sedikit dari kita yang menganggap bahwa Presiden saat ini kejam karena telah memakzulkan Presiden sebelumnya. Justifikasi ini masih melekat dalam benak kita dan menjadikan penilaian kita terhadap Presiden saat ini kurang adil. Meskipun pemerintahan tahun ini dinilai memiliki banyak hutang, akan tetapi terbukti kerusuhan yang selama ini terjadi meredam dan perbaikan berbagai sarana terlihat.
Propaganda media pun sangat membantu menaikan reputasi para pemimpin saat ini. Nama Joko Widodo –Presiden RI periode ini– sangat melejit setelah menjadi pemimpin di daerah Solo, lalu menjadi Gubernur DKI Jakarta dan puncaknya menjadi orang nomor satu di tanah air. Namun, kecarut-marutan pada masa kepemimpinan ini telah tampak sejak sebelum dilantiknya hingga adanya berbagai aksi menuntut kemunduran Presiden. Akan tetapi, undang-undang mengharuskan Wakil Presiden sebagai pengganti dari Presiden terpilih. Hal ini tidak diinginkan oleh khalayak karena menginginkan kandidat tidak terpilih sebagai Presiden selanjutnya. 
Hal ini merupakan kejadian yang serupa dengan para umara pada masa Dinasti Umayyah. Kejadian ingin menggulingkan Khalifah, namun pengganti harus berasal dari golongan mereka merupakan hal yang terjadi di akhir masa Dinasti Umayyah. Sejarah selalu terulang, akan tetapi kita seolah-olah hanya membaca dan tidak mengambil pelajaran dari kejadian di masa lalu.
Seperti halnya para umara terdahulu yang melakukan segala cara untuk mempertahankan tahta kepemimpinannya, para pemimpin saat ini pun melakukan hal yang sama. Rakyat dibungkam dengan uang untuk menutup aib mereka. Jika membangkang maka dengan terpaksa harus dijebloskan ke balik jeruji besi atau bahkan diusir dari negaranya.
Turki merupakan salah satu negara yang memiliki pemimpin seperti ini. Untuk membungkam rakyatnya, pemerintah Turki berani menaikkan gaji dengan nilai yang sangat besar agar pegawai tidak membuka aib. Bahkan ulama sekelas Muhammad Fathullah Gulen, harus meninggalkan Turki karena tidak taat pada Presiden dan dituduh menyebarkan paham yang sesat.
Beralih ke masa Dinasti Abbasiyah, Politik Turki tidak jauh berbeda dengan umara Dinasti Abbasiyah. Abu Jakfar al-Manshur merupakan seorang pemimpin yang sangat menyokong keilmuan, sayangnya ia berhati keras, ambisius, dan bertangan besi. Siapapun yang mengusik kepemimpinannya akan lenyap di tangan al-Manshur. Abu Muslim al-Khurasani yang menjadi panglima pasukannya beralih menjadi musuh karena dianggap mengancam tahta kepemimpinannya. Ia pun terbunuh setelah sebelumnya dikepung di kediaman al-Manshur.

Inilah sejarah. Tidak heran jika lebih dari sepertiga al-Quran memuat sejarah. Dengan sejarah kita dapat memprediksi masa depan dan bercermin untuk perubahan yang lebih baik. Semoga umat Islam dapat mengembalikkan Islamic Golden Age.
BERGURU KEPADA SEJARAH Reviewed by Fairuz Hammurabi on 01.21.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.