Taman Harapan - IKPM KAIRO

Rabu, 30 Maret 2016

Taman Harapan

Ada saatnya seseorang jatuh di titik terbawah. Kehilangan, kekecewaan, penyesalan, menyalahkan, mengutuk, mencaci,semua perasaan itu menjadi satu. Tak terhitung berapa lagi perasaan yang bercampuk di dada.Membuat seseorang merasakan dirinya sudah mati, namun bukan raganya, tapi jiwanya.
Harapan, satu-satunya yang ia cari. Mencari secuil harapan di gelap sang malam, diantara terik matahari, di kerumunan manusia itu. Manusia yang tidak pernah puas dan selamanya tidak akan puas. Harapan yang menjadi impian. Harapan itu ada.
*****
16 Juni 2015
“Semua barang-barang sudah masuk semua?” Tanya mama dengan tangan yang masih sibuk dengan koper besarku sejak malam kemarin.
“Sudah ma. Aku udah ngecek tiga kali.”  Jawabku singkat.
“Awas kalo ada barang yang ketinggalan.” Nadanya sedikit mengancam.
Aku hanya tersenyum kecil saja. Mama tahu benar kebiasaanku yang selalu ketinggalan barang saat bepergian jauh. Sifat ceroboh yang kata mama warisan dari papa, tapi aku tahu mama selalu bisa diandalkan di saat-saat seperti ini.
“Jangan malam-malam tidurnya.” Kata-kata terakhir sebelum pintu kamar tertutup rapat.
Anggukan sudah menjadi jawaban seperti biasanya. Suara kaki langkah mama semakin menjauh dan akhirnya hilang. Tandanya aku sekarang sendiri menikmati nyanyian malam dan tarian bintang. Menatapnya dari ujung jendela, seperti malam-malam sebelumnya. Entah kenapa satu minggu terakhir ini mataku tidak bisa diajak kompromi. Ia menolak untuk memejamkan mata. Mungkin ia ingin merekam dengan detail setiap detik keadaan di sekitar untuk disajikan bersama rindu akan suasana malam ini.
*****
18 juni 2015
Hidup adalah menyaksikan panggung kehidupan manusia yang tidak pernah berhenti. Saat kematian menjemput, di ujung dunia lain kehidupan baru menyapa. Kehilangan menghadap, saat itu mutiara ditemukan. Itulah takdir Tuhan, kita tidak tahu rencana Tuhan untuk kita. Hal bodoh adalah ketika menanyakan apa yang akan terjadi dan menyesali apa yang telah terjadi. Apa yang bisa kita lakukan ketika semua nasib umat manusia sudah tertulis di lauhul mahfud. Apa yang bisa kita lakukan ketika Tuhan sudah berkehendak. Tidak ada. Tidak ada. Kita hanya bisa mengusahakan semampunya. Tidak menanyakan hasil yang kita dapat, tapi proses seperti apa yang kita lakukan. Tidak bertanya bagaimana bisa terjadi tapi bagaimana menghadapinya. Hidup adalah untuk menghidupi kehidupan.
Udara pagi ini sangat berbeda. Aku tidak mencium harum embun di rumput liar. Tidak juga gemericik air dari bebatuan yang mengalir menuju sungai kecil di samping rumah. Sudah menjadi rutinitas setiap pagi, tapi pagi ini. Aku hanya menemukan jalanan yang masih sepi dari aktivitas. Imarat yang berderet menjulang tinggi. Satu dua pohon di pinggir jalan dan tukang sapu yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Aku tersadar sekarang, ini bukan negeriku.
“Ah, ini negara Nabi Musa.” Aku tersenyum kecil mengingat sekarang tanah yang ku pijak bukan tanah kelahiranku.
“Bagaimana tidurnya? Aku melihat tidurmu sangat pulas.” Suara berat terdengar dari belakang.
“Jelas saja. Perjalanan 11 jam menguras tenagaku. Maklum lah aku belum terbiasa dengan burung raksasa itu.” Jawabku kepada teman baru.
Ahmad namanya. Asal Banjarmasin keturunan konglomerat kayu. Ayahnya pengusaha sukses di Kalimantan dan ia pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. Jelas saja bepergian dengan pesawat menjadi hal biasa baginya. Lain dibandingkan diriku. Ah, memang hidup selalu berada di dua posisi untuk saling melengkapi. Pertemanan kami setahun yang lalu membuatku berada di sini. Pertemuan yang berujung pertemanan. Teman yang baik hati dan tidak sombong. Kepribadianya sangat mengagumkan. Jarang sekali menemukan orang kaya tapi baik hati karena kehidupan dunia selalu menyilaukan dan membutakan mata hati.
“Terima kasih teman.” Aku berkata dalam hati.
*****
19 Juni 2015
Pagi ini masih terlihat sepi. Pagi keduaku di negeri kinanah. Jam menunjukan pukul 05.00 waktu setempat. Subuh sudah beranjak 2 jam lalu dan malam sudah terganti,namun tetap saja sepi masih berkawan. Maklum masuk bulan Ramadhan wilayah Mesir menyebabkan shubuh lebih cepat dari biasanya. Musim panas menyebabkan siang lebih lama dari hari biasa. Ini merupakan ujian pertamaku. Untung mama menyiapkan semuanya dengan lengkap. Tahu benar kebiasaan anaknya yang suka sakit-sakitan.
“Rasanya kakiku kaku karena tidak berolahraga. Mungkin jalan-jalan sebentar bisa merenggangkan ototku sekalian keliling.” Aku tersenyum sendiri di sudut ruangan dekat jendela.
Tanpa kusadari ternyata Ahmad melihatku  dan seakan-akan bisa membaca pikiran, dia mengerti apa yang akan aku lakukan.
“Kalo mau jalan-jalan jangan jauh-jauh nanti kesasar.” Katanya sambil tetap fokus dengan buku bacaannya.
Aku tersentak kaget karena dia tahu keinginannku.
“Jalan-jalan di sekitar sini saja kok. Kamu mau ikut?”
Oh, tidak terima kasih. Aku masih sibuk dengan bacaanku yang terbengkalai karena perjalanan kemarin.”
“Baiklah. Aku akan pergi sendiri.”
“Hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung telepon dan pulang sebelum jam 9.” Teman yang mengkhawatirkan temannya.
“Ok.” Aku lambaikan tangan sekaligus menutup pintu.
Waktu sehari aku rasa cukup untuk istirahat karena jetleg. Sekarang saatnya menikmati setiap centi kota bersejarah ini. Rasanya aku tidak mau melewatkan barang sedetik pun menikmati keindahan arsitektur dari zaman ke zaman. Entah kenapa aku sangat tertarik dengan sejarah Mesir. Ada keunikan tersendiri yang tidak dimiliki negara lainnya.
Aku susuri jalan setapak demi setapak. Kebetulan flat yang aku sewa dekat dengan pusat pemerintahan kejayaan islam di Old Cairo. Tidak heran dimana-mana banyak bangunan bergaya kuno yang masih terawat walaupun ada beberapa yang sudah termakan usia.
Rumah sakit Husein, kampus universitas al-Azhar dan masjid al-Azhar berdampingan tersusun rapi. Bangunan-bangunan itu tetap kokoh menjadi saksi perjalanan manusia dari generasi ke generasi. Jam di tanganku masih menunjukan angka 05.30 waktu setempat tapi jantung kota ini masih terlelap. Aku sangat menikmati keadaan seperti ini. Tenang dan damai seperti kampungku.
Aku melirik  ke seberang jalan. Ada taman disana.
“Asik. Aku bisa duduk-duduk di taman itu.”
Terlihat jelas di sudut taman beberapa orang masih terdiam menikmati alam bawah sadarnya. Ada juga yang sudah menyantap syai hangat yang selalu menjadi teman. Tak kenal cuaca, mau dingin menggigil atau panas menyengat. Syai hangat selalu menjadi menu favorit. Itulah keunikan Mesir setelah aku amati dan tanya salah satu mahasiswa indonesia. Aku pun tidak tahu kenapa mereka suka sekali dengan syai. Seakan-akan menjadi hal wajib, seperti halnya orang Indonesia makan dengan sambal, harus selalu ada. Mungkin juga sudah tradisi dari turun temurun. Mungkin saja. Entahlah aku tidak terlalu paham.
Di sudut lainnya  sekelompok tuna wisma bergerombol dan tidur di salah satu sudut taman. Mereka tidur beralaskan tanah dan berselimut langit. Keadaan yang selalu membuatku bergetar. Iba rasanya tapi ini semua takdir yang Tuhan gariskan. Sebentar. Aku menangkap sosok yang tak asing lagi. Tiba-tiba darahku mengalir lebih cepat dan jantungku berdegup kencang. Aku merasakan kakiku tak bisa bergerak seakan dia mengisyarakatkan sesuatu.
“Jangan-jangan dia” Rasa panik semakin menjalar.
“Mungkin saja cuma kebetulan” Aku mencoba berdialog dengan diriku sendiri untuk menenangkan suasana.
“Tapi ….” Aku mematung dan terus menatapnya yang menghilang di ujung gang.
*****
20 juni 2015
Jodoh, kematian, rezeki adalah misteri Tuhan. Ketentuan-ketentuanNya yang tidak bisa dicampuri oleh siapapun. Aku pun paham itu. Tapi terkadang setan menggoda dan membisikan tipuannya agar kita tidak puas dengan ketetapan yang sudah Tuhan berikan. Tergantung manusia mau mengikuti hawa nafsu yang di bumbui rayuan setan dan akhirnya terjerumus ke dalam kenistaan atau berpegang teguh pada tali agama yang akan menuntun kita menuju kebahagian hakiki.
“Halo, assalamualaikum.” 
“Waalaikumsalam. Ini Rayan?”
“Iya Ma, ini Rayan. gimana kabar mama?” Aku bertanya seakan tidak terjadi sesuatu.
“Sehat Nak. Bagaimana keadaanmu di sana?”
“Sehat Alhamdulillah. Ma, boleh Rayan tanya sesuatu. Tapi mama janji harus jawab pertanyaan Rayan.”
“Papa. Di mana papa sekarang Ma?”
Suara telepon itu menggantung. Suara tangisnya tercekat di tenggorokan. Seakan ada kalimat-kalimat yang terkunci pintu besi. Pintu besi itu sudah terlihat mulai usang termakan usia tapi tetap kuat karena ketakutan masa lalu.
*****
Dear mama,
Bebanmu terlalu banyak untuk kau pikul sendiri. Maukah engkau membaginya kepada anakmu ini. Mungkin aku tidak paham tapi aku bisa merasakan nafasmu terasa berat. Ada sesuatu. Entah apa itu.
Apa masa lalu alasannya?
Masa lalu tergantung bagaimana kita berdamai dengannya. Ia baju lama kekecilan yang tidak bisa dipakai lagi. Layaknya untuk di simpan atau dimanfaatkan yang lain. Begitupun masa lalu, kita simpan atau di jadikan pelajaran bagi orang lain. Mungkin pilihan pertama menjadi pilihan mama saat ini. Apapun itu aku tetap menyayangimu, MAMA.

Cairo, 17 Juli 2015

Kumandang takbir di sudut Mesir.

Oleh: Puteri Rezeki Rahayu

Tidak ada komentar: