Top Ad unit 728 × 90

Home

DUA BELAS BULAN PUASA, SANGGUPKAH?

    
     Sudah sangat lazim bagi kita memaknai hakikat puasa dengan hanya menahan diri dari makan, minum, serta berhubungan biologis antara suami istri dari sebelum fajar sampai terbenam matahari. Menurut Imam Ghazali ra dan Imam Qusyairi ra jenis puasa tersebut hanya sebatas tingkatan puasa bagi orang-orang awam. Tingkatan terendah dari tiga tingkatan puasa yang ada. Sedikit naik level di atasnya, tingkatan puasa khusus. Menjaga telinga, mata, mulut, serta anggota tubuh lainnya dari berbuat dosa. Artinya, semua anggota badan bersinergi dan bermufakat untuk melempar hawa nafsu yang tersembunyi dalam diri. Di atas keduanya, puasa khawasul khawas. Menahan diri dari memikirkan segala sesuatu selain Dzat Allah yang Maha tinggi. Dalam tahap ini, telah dianggap batal puasanya ketika hati telah berpaling kepada hal duniawi dengan sekejap melupakan ukhrowi. 
     Terlalu jauh untuk menggapai tataran tertinggi, mari sejenak berandai untuk meraih level di bawahnya. Paling tidak, perlahan mencoba meninggalkan segala definisi yang berbau ‘awam’ agar bisa sedikit naik tingkat. Menghinakan hawa nafsu yang selama ini kita manjakan dengan berbagai suguhan indah keduniawian. Melatih pancra indra untuk bekerja sesuai keinginan penciptanya. Menggeser makna kenikmatan yang terbiasa terlabel dengan kedzahiran yang hanya terasa oleh tubuh, menjadi kenikmatan batin yang memuaskan jiwa yang berkepanjangan. 
     Jika sudah begitu, maka hati kita akan mudah sekali tergerak untuk mengerjakan amal-amal baik yang bersifat positif. Perlahan hikmah-hikmah pengamalan puasa satu persatu mulai tersingkap dalam benak kita, dari segi spiritual (hubungan dengan Pencipta), sosial, kesehatan, hingga psikologis. Dalam kitab Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuhu Imam Ali Ahmad al-Jurjawi mengungkapkan bahwa dalam berpuasa, Allah mengajarkan manusia bagaimana sejatinya mengemban amanat dalam konteks ketaatan atas perintah serta kepatuhan terhadap larangan. Analoginya, ketika manusia menyendiri ketika siang hari di tempat yang terpencil sedang ia merasa lapar dan haus, maka dengan segala kemampuannya ia mencurahkan segala kekuatanya untuk melawan nafsu tersebut, sedang bila dipandang secara nafsu disaat itu mungkin baginya untuk makan dan minum tidak ada seorang yang mengawasi. Padahal Allah maha tahu. Kemudian bila orang itu menurutinya, sungguh orang tesebut telah mengkhianati amanatNya
     Ketika hari biasa, adakah kita pernah memikirkan bagaimana nasib saudara seiman dan semanusia kita yang terbiasa menahan lapar dan dahaga karena kemiskinan dalam kesehariannya. Jangankan untuk datang mengulurkan tangan serta membantu, terbesit pun kadang tidak. Kita lalai akan banyaknya rutinitas serta pemenuhan ego diri sendiri. Melalui puasa, Allah memaksa kita ikut membayangkan bahkan merasakan kondisi mereka. Dengan begitu, rasa kepedulian sosial kita meningkat karena terikat oleh satu hal yang sama-sama dirasakan, lapar. 
   Begitu juga dari sisi kesehatan dan psikologi. Dalam berpuasa, tubuh kita dikontrol untuk menerima asupan makanan yang baik dan termenej, sedang ketika hari biasa, ia menerima makanan yang sembarang disembarang waktu. Dengan demikian tentu metabolisme tubuh akan lebih terjaga. Pun ketika puasa pengendalian jiwa kita menjadi kunci atas pengekangan hawa nafsu serta rasa solidaritas sesama manusia. Melalui puasa Allah sejatinya ingin melihat hamba-Nya benar-benar menjadi seorang khalifah di atas bumi. Menjaga hubungan baik dengan Rabbnya serta memelihara keharmonisan sesamanya.
     Jika kehidupan dunia adalah wahana bagi manusia untuk benar-benar mengenal Tuhannya. Maka puasa adalah diklat khusus untuk mencapai makrifatullah. Manifestasi shiratul muntaha  untuk mencapai derajat mulia. Pengejawantahan hakikat tauhid. Berpuasa artinya kita berhadapan dengan berbagai pilihan kesenangan hawa nafsu. Tapi kita katakan tidak. Bukan karena makanan, minuman serta nafsu amarah itu tidak ada di hadapan kita. Tapi kita tidak memperdulikannya. Singkatnya, berpuasa itu kita membiarkan berbagai godaan hadir di depan kita, dan kita memilih untuk mengabaikannya.
Permasalahannya, adakah kita ingin mengenal Tuhan hanya ketika Ramadhan datang bersua? Lalu kembali menghamba kepada hawa nafsu yang sudah satu bulan kita menjadikannya musuh. Maka benarlah apa yang dikatakan ulama salaf bahwa sejelek-jelek orang adalah yang hanya mengenal Tuhan ketika bulan Ramadhan saja. Ketika ia pergi tak lebih sebatas angin berlalu. 
Pengekangan hawa nafsu terhadap semua anggota tubuh, membuang ego, menumbuhkan rasa kemanusiaan, serta kepedulian sejatinya merupakan haluan yang diinginkan Tuhan dari hamba-Nya. Karena itulah satu-satunya cara agar bisa mengenal Allah. Ketika manusia sudah bersih dari segala macam kotoran, maka ia layak untuk bersama Yang Maha Baik. Jika kita ingin tetap terus bersama Allah, mengimplementasikan prinsip puasa dalam totalitas hidup adalah jalannya. Masalahnya, mampukah kita ‘berpuasa’ selama dua belas bulan penuh? (Musta'inbillah)



DUA BELAS BULAN PUASA, SANGGUPKAH? Reviewed by sayidulqisthon nururrahman on 09.55.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.