Keindaha Bahasa Al-Qur'an - IKPM KAIRO

Selasa, 30 Agustus 2016

Keindaha Bahasa Al-Qur'an




Al-Quran diturunkan kepada bangsa Arab sebagai bukti kerasulan Muhammad SAW. Masyarakat Arab tercengang dan terkagum-kagum akan pesona bahasa yang begitu indah, dan kemudian tunduk pada Dzat yang menurunkan al-Quran. Namun tidak sedikit mereka yang tetap berkeras hati dan mengingkarinya, bahkan berusaha menandingi keindahan bahasa al-Quran, tetapi tidak satupun berhasil.

Keindahan bahasa al-Quran ini juga menjadi fokus utama kajian al-Quran para ulama, meski hingga kini mereka belum mencapai kesepakatan final dalam menentukan nilai kemukjizatan al-Quran yang paling dominan.

Al-Khattabi (w. 388), dalam bukunya Bayan I’jaz al-Quran menyatakan bahwa kemukjizatan al-Quran ada pada balaghah dan keindahan susunan kalimatnya. Menurut al-Khattabi, poin balaghah al-Quran terletak pada suatu lafal, yang apabila lafal tersebut diganti dengan lafal lainnya, maknanya akan berbeda dan keindahan lafal tersebut hilang. Pendapat senada juga dikatakan oleh al-Rumani (w. 384), seorang ulama semasa al-Khattabi. Al-Khattabi menyatakan ada tujuh nilai kemukjizatan al-Quran. Namun, dari semua nilai kemukjizatan tersebut, menurut al-Rumani, balaghah al-Quran adalah nilai kemukjizatan al-Quran yang utama.

Adapun al-Baqilani (w. 403 H), seorang pemikir di akhir abad IV, menyatakan bahwa nilai kemukjizatan al-Quran ada pada tiga sisi, yaitu informasi tentang hal-hal gaib; kisah-kisah dan sejarah masa lampau; keindahan susunan bahasa al-Quran. Sedangkan al-Jurjani (w. 471 H), meski tidak menyebutkan secara implisit tentang dimensi kemukjizatan al-Quran, menyatakan bahwa keindahan susunan kalimat al-Quran adalah nilai kemukjizatan utama. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa nilai utama kemukjizatan al-Quran terletak pada keindahan susunan bahasanya.

Adapun al-Baqilani (w. 403 H), seorang pemikir di akhir abad IV, menyatakan bahwa nilai kemukjizatan al-Quran ada pada tiga sisi, yaitu informasi tentang hal-hal gaib; kisah-kisah dan sejarah masa lampau; keindahan susunan bahasa al-Quran. Sedangkan al-Jurjani (w. 471 H), meski tidak menyebutkan secara implisit tentang dimensi kemukjizatan al-Quran, menyatakan bahwa keindahan susunan kalimat al-Quran adalah nilai kemukjizatan utama. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa nilai utama kemukjizatan al-Quran terletak pada keindahan susunan bahasa al-Quran.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika pemahaman terhadap bahasa Arab menjadi syarat utama dalam menafsirkan al-Quran. Imam Alusi dalam tafsirnya “Ruh al-Ma’ani” menegaskan bahwa kemampuan bahasa Arab merupakan syarat mutlak bagi seorang mufasir. Hal tidak lain karena bahasa merupakan kunci untuk memahami al-Quran yang diturunkan dengan Arab fasih. “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (al-Syu’ara’: 193-195).

Kemampuan bahasa inilah yang menjadikan sosok mufasir abad ke-21, “Al-Sya’rawi”, mampu menyingkap makna dan kandungan ayat-ayat al-Quran yang begitu luas. Hal ini bisa dilihat bagaimana ia menafsirkan al-Quran. Pertama, penerapan kosakata bahasa ketika ia mengartikan lafal “قروء” pada surat al-Baqarah ayat 228  وَالْمُطَلَّقَاتِ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوْءٍyang selama ini menjadi perdebatan para ulama fikih apakah kata tersebut bermakna haid atau bersuci. Ia menjelaskan bahwa maksud kata tersebut adalah bersuci. Hal ini karena kosakata sebelumnya adalah “ثلاثة” dengan ta’ marbuthoh, yang identik dengan laki-laki, sedangkan haid identik dengan perempuan “ثلاث”.
Kedua, pengunaan kaidah nahwu dalam surat al-Baqarah ayat 273; لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْباً فِي الأَرْضِ  Menurutnya, ketika kita melihat jâr wa majrûr dalam ayat tersebut, kita harus tahu bahwa ayat di atas saling berkaitan. Apakah yang diberikan kepada si miskin? Di sini yang diberikan adalah nafkah, yaitu nafkah bagi orang miskin yang berjihad di jalan Allah SWT.

Ketiga, penerapan ilmu sharaf, misalnya dalam surat al-A’raf ayat 56; إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ Ia berkata bahwa kata قَرِيب ber-wazan فعيل bermakna مفعول, sebagian orang memahami bahwa makna قَرِيبٌ bermakna فاعل atau قارب seperti  رحيم و راحيم  yang artinya rahmat Allah SWT merupakan sesuatu yang mendekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Padahal maksudnya tidak begitu, melainkan rahmat adalah kedekatan dan kebaikan adalah yang mendekatkan kepadanya (rahmat).

Oleh karena itu yang dimaksud فعيل adalah sesuatu yang dikerjakan (مفعول).
Kempat, penerapan ilmu bayân, seperti pada surat al-Baqarah ayat 187; (هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ). Menurut al-Sya’rawi, Allah SWT memberikan kita perumpamaan hubungan suami-istri seperti pakaian untuk menutup tubuh. Seakan istri pakaian untuk suami dan suami pakaian untuk istri. Baju aslinya adalah penutup aurat. Maka seakan suami menutup aurat istri dan sebaliknya saling bertukaran.
Kelima, penerapan ilmu ma’ânî seperti pada surat al-Maidah ayat 9; (إِنَّمَا الْخَمْرُ وَ الْمَيْسِرُ وَ الْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ). Di sini al-Sya’rawi menjelaskan, ketika kita mendengar kalimat إِنَّمَا, ketahuilah bahwa para ulama menamainya dalam bahasa Arab أداة القصر  (pengkhususan) seperti perkataan kita إنما زيد مجتهد. Dalam hal ini kita hanya menisbatkan zaid kepada jihad. Tetapi jika kita berkata مجتهد زيد  إنما, maka hanya jihad yang kita nisbatkan kepada zaid. Pengkhususan manusia kepada sifat dinamakan قصر موصوفا علي صفة. Oleh karena itu, ketika Allah SWT berfirman إِنَّمَا الْخَمْرُ وَ الْمَيْسِرُ وَ الْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ, yang dimaksud adalah sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan.

Keenam, penerepan ilmu bâdî’ seperti pada surat Yunus ayat 21; (قُلِ اللهُ أَسْرَعُ مَكْرًا). Di sini al-Sya’rawi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan musyâkalah al-ta’bîr, maksudnya adalah bahwa kalian harus mengambil (memakai) relasi antara fâ’il dan fi’il. Tetapi jangan menggunakan dari ayat tersebut nama Allah SWT. Janganlah kamu mengatakan bahwa Allah penipu, karena menipu merupakan siasat yang tersembunyi yang kamu kerjakan sesamamu. Tetapi kamu tidak akan sekali-kali bisa menipu (Allah SWT)  yang lebih perkasa dari pada tipu daya kamu, dan kamu tidak bisa mengelak apa yang dihendaki (Allah SWT) terhadap dirimu.

                Dari contoh-contoh di atas kita dapat melihat bagaimana al-Sya’rawi dengan kepiawaian dan kemahiran bahasanya mampu menyingkap makna ayat-ayat al-Quran. Ia mampu menjelaskan dan menyederhanakan kata dan kalimat yang sulit dipahami terkhusus orang awam. Lebih dari itu, melalui pemahamannya terhadap bahasa, ia mencoba memperbaiki umat lewat ayat-ayat al-Quran ditafsirkan. Ia juga menjawab tuduhan para Orientalis terhadap kalimat-kalimat al-Quran yang menurut mereka bertentangan dan tidak masuk akal.

Metode bahasa yang diterapkan al-Sya’rawi mendapat banyak pujian. Salah satunya Rajab al-Bayumi dalam bukunya “Al-Sya’râwî Jaulatun fi Fikrihi al-Maushu’î al-Fashîh”. Menurutnya, hal yang pertama dilakukan oleh al-Sya’rawi dalam penyampainnya adalah pendekatan bahasa. Banyak orang lain yang lebih menguasai bahasa lebih darinya, namun pendekatan bahasa al-Sya’rawi terhadap al-Quran, seakan ia (al-Quran) hidup dan dapat dipahami serta dimengerti, diraba denyut nadinya, didengarkan isyaratnya. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Umar Hasyim, dalam buku “Al-Imâm Al-Sya’râwî Mufassiran wa Dâ’iyatan” . Menurutnya, hal yang pertama al-Sya’rawi sampaikan adalah menjelaskan asal dan definisi kalimat, kemudian menjelaskan maksud makna kalimat tersebut dalam konteks al-Quran. Ustman Ahmad, salah seseorang yang menulis metode al-Sya’rawi dalam bukunya “al-Syaikh Muhammad Mutawallî al-Sya’rawî wa Manhajuhu fi al-Tafsir” mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadikan al-Sya’rawi banyak mengunakan pendekataan bahasa dalam penafsirannya.

Pertama, al-Sya’rawi memandang bahwa pemahaman bahasa merupakan hal yang urgen dalam memahami al-Quran. Hal ini untuk mengetahui  makna dan maksud lafal dari segi kalimat dan susuna kata. Kedua, untuk menyingkap I’jâz al-Lughowî dalam al-Quran. Ketiga, bahasa menurut al-Sya’rawi merupakan alat untuk menjawab paradigma dan tuduhan terhadap al-Quran. Keempat, penafsiran ayat ahkam dan syariat yang membutuhkan penjelasan dan kesimpulan, serta mengetahui mana yang lebih benar dalam pendapat, hanya melalui pemahaman bahasa (nahwu dan i’rab).

 Dari sini kita dapat sedikit mengambil kesimpulan, bahwa pemahaman sesorang terhadap bahasa Arab, memberikan nilai plus dan kemudahan dalam memahamai ayat-ayat al-Quran. Bukan hanya itu, pemahaman bahasa merupakan kunci bagi setiap orang yang ingin memahami Kalam Allah SWT dan Sunah Rasulullah SAW. Selain itu, kita dapat melihat bahwa eksistensi al-Quran tidak pernah habis. Setiap zamannya akan bermunculan para ulama pembaharu yang mencoba menyingkap makna al-Quran dengan metode yang tentunya akan berbeda-beda, karena Allah SWT telah berjanji bahwa al-Quran akan terjaga hingga hari akhir nanti, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9). Wallahu a’lam bi al-Shawab.


Tidak ada komentar: