Top Ad unit 728 × 90

Home

Syaikh Mahfudz at- Tarmasi (ulama Indonesia yang mendapat banyak gelar dari Syekh Yasin al Fadani)


Siapa yang tidak kenal Indonesia? Negara maritim yang penuh kekayaan alam dengan berbagai macam suku dan bahasa, Negara yang diberi banyak kenikmatan oleh Allah swt namun banyak yang tak menyadarinya. Banyak ulama yang mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu Negara pusat peradaban islam. Perkataan ini tidak muncul pada saat baru-baru ini saja, melainkan sejak dahulu ketika banyak ulama Indonesia yang berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan karya serta dakwah penyebaran ilmunya.   
 
  Syaikh Mahfudz at- Tarmasi adalah salah satu ulama besar yang memiliki banyak keahlian. Sejak usia tiga 
puluh tahun dia mukim, belajar dan berkarya di Mekkah. Melihat berbagai kelebihan yang dimilikinya, 
Syaikh Yasin al- Fadani tak ragu menyematkan beraneka gelar ke beliau.


            Mahfudz at- Tarmasi lahir pada tahun 1842. Nama belakangnya dinisbahkan kepada daerah asalnya, Tremas Pacitan. Anak dari Kyai Abdullah, pengasuh pesantren tremas pacitan yang pernah berguru di tanah suci, dan cucu dari Kyai Abdul Manan, seorang alumnus Pondok Tegalsari.


            Disaat kecil Mahfudz at- Tarmasi belajar kepada ayahnya. Dengan sang ayah, Mahfudz at- Tarmasi antara lain belajar ilmu tauhid, membaca Al Quran dan ilmu fiqh. Tidak dengan ayahnya saja, beliau juga belajar kepada kakeknya walau hanya sebentar. Karena kecintaannya pada ilmu, beliau pergi ke Semarang untuk belajar kepada K.H. Sholeh Darat. Dalam perkembangannya sang ayah berpikir bahwa perlu generasi pelanjut untuk menggantikannya. Pesantren Tremas yang berkembang pesat perlu kader pemimpin. Sebagaimana dirinya yang pernah belajar di Mekkah, maka hal yang sama juga diinginkannya kepada dua putranya yaitu Mahfudz at- Tarmasi dan Muhammad Dimyathi.


            Atas rencana sang ayah, yaitu memintanya belajar ke Tanah Suci, Mahfudz at- Tarmasi dan Muhammad Dimyathi sangat senang. Maka, berangkatlah kedua bersaudara itu ke tanah suci. Pada saat Mahfudz at- Tarmasi berangkat ke Tanah Suci, umur beliau sudah mencapai pada usia 30 tahun, namun semangatnya dalam menuntut ilmu tetaplah tinggi, terlebih keinginannya untuk belajar di tanah suci karena dekat dengan baitullah dan tidak jauh pula dengan makam Rasulullah saw. Sejak di tanah suci, Mahsudz at- Tarmasi mempunyai keinginan untuk menetap disana sampai akhir hayatnya. Disana, kedua saudara tersebut belajar kepada banyak ulama di Mekkah dan Madinah, dari berbagai macam ilmu beliau pelajari dari satu syekh ke syekh yang lain. Shahih Al- Bukhari dan Shahih Al- Muslim sudah dikhatamkannya kepada Syekh Al- Imam al- Hasib wa al- Wari’ an- Nasib asy- Sayyid Husain bin Muhammad bin al- Husain al- Habsyi (ulama ahli hadist pada zaman itu), Mahfudz at- Tarmasi lalu dikenal sebagai ahli hadist, beliau mempunyai otoritas untuk mengajarkan kitab Shahih Al- Bukhari, beliau adalah mata rantai sanad yang ke- 23 dari penulis kitab tersebut.


            Mahfudz at- Tarmasi seorang ulama yang produktif dalam dunia tulis menulis, seluruh karyanya lebih dari 20 judul buku ditulis dengan bahasa arab, hampir seluruh pesantren di Indonesia memakai kitabnya sebagai rujukan, bukan hanya pesantren, bahkan universitas ternama di timur tengah banyak pula yang memakai kitabnya, contoh kitab- kitab beliau yang masyhur seperti Al- minhah al- Khairiyyah fi Arba’in Haditsan min Ahadits Khair al- bariyyah (kitab tentang 40 hadits nabawi), Mauhibah dzi al- Fadhl Hasyiyah Syarh Mukhtasar Bafadhl (kitab tentang ilmu fiqh), Nail al- Ma’mul bi Hasyiyah Ghayah al- Wushul fi Ilm al- Ushul (kitab tentang ilmu ushulul fiqh), dan Hasyiyah Takmilah al- Minhaj al- Qowim ila al- Faraidh (kitab tentang ilmu faraidh).


            Mahfudz at- Tarmasi termasuk sedikit dari ulama Indonesia yang diizinkan untuk mengajar di Masjidil Haram, ilmu dan kealimannya dikenali dunia internasional. Banyak tokoh ulama di Indonesia yang menjadi muridnya seperti Hasyim Asy’ari (Tebuireng Jombang), Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas Jombang), Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), Shaleh (Tayu Pati), Asnawi (Kudus), Dahlan (Kudus), dan lain-lain.


            Ketika Mahfudz at- Tarmasi dan Muhammad Dimyathi sedang berada di tengah-tengah belajar di Mekkah, datang kabar dari Indonesia bahwa ayah mereka – Kyai Abdullah – Wafat. Maka salah satu diantara mereka harus ada yang pulang kembali ke Indonesia untuk meneruskan perjuangan ayahnya, karena Mahfudz at- Tarmasi sudah bertekad untuk tetap tinggal di Mekkah hingga akhir hayatnya, maka Muhammad Dimyathi yang kembali ke Indonesia.



            Syaikh Mahfudz at- Tarmasi wafat pada tahun 1920 di Mekkah. Atas pengakuan Syekh Yasin al- Fadani (ulama Indonesia berasal dari padang), beliau mendapat banyak gelar seperti ‘Allamah (sangat alim), Al Muhaddist (ahli hadist), Al Musnid (mata rantai sanad hadist), Al Faqih (ahli fiqh), Al Ushuli (ahli ushul), dan Al Muqri’ (ahli qiraat). Dari gelar-gelar tersebut kita dapat mengetahui atas ilmu yang beliau miliki, kita dapat berbangga atas jasa beliau yang mengharumkan nama Indonesia, namun bukan suatu kebanggaan apabila kita berbangga atas prestasi beliau tetapi kita tidak dapat meneladani usaha yang beliau kerjakan untuk umat muslim. Seiring berjalannya waktu makin banyak ulama di Indonesia yang menghilang karena wafat, maka kita sebagai pelajar Indonesia di mesir harus bisa, berani, dan siap untuk meneruskan perjuangan mereka di Indonesia, semoga kita semua dapat istiqomah dalam belajar kita di negri kinanah ini, amin.(aanFathan)

Syaikh Mahfudz at- Tarmasi (ulama Indonesia yang mendapat banyak gelar dari Syekh Yasin al Fadani) Reviewed by Albi Ramadhan on 07.40.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by IKPM KAIRO © 2014 - 2015
Designed by Themes24x7

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.